Disya merebahkan tubuhnya di atas kasur seraya mendengarkan lagu Dear Future Husband di I-Phone miliknya melalui earphone.
Dan dia menjumpai bait lagu yang bagus, lalu ia jadikan quotes dan mempublikasikan bait lagu tersebut di akun Instagramnya.
@disyaariana: Nih, untuk Bang Olan @orlandoedwardo kalau kita udah nikah, Bang Olan janji ya gak akan selingkuh dari Disya. Disya janji bakal setia sehidup semati bersama Bang Olan. Jiaahhh.....
Setelah mempublikasikan di Instagramnya, Disya langsung senyum-senyum gak jelas seraya menunggu comment atau tidak like/love postingannya di i********: oleh Orlando.
Ting...
Suara notification di ponselnya berbunyi, lantas ia mengecek Instagramnya, dan ia sudah mendapatkan dua belas love dari teman Instagramnya. Termasuk love dari Orlando. Dalam hati Disya menjerit bahagia. Bagaimana tidak, ia selalu bahagia bila Orlando merespon tag-nya.
@orlandoedwardo: Iya terserah. Ke balkon gue sekarang! @disyaariana
Kontan, tubuh Disya langsung terduduk a di atas ranjangnya. Ke balkon?! Seriusan ini Bang Olan-nya ngajak ke balkon?! Kira-kira, kenapa Bang Olan mau ngajak dirinya ke balkonnya? Tumben.
@disyaariana: Hah? Ngapain bang? Tumben ngajak Disya ke balkon? @orlandoedwardo
Disya melamun, perasaannya langsung senang. Senyumnya langsung mengembang sempurna di bibir tipisnya.
Apa jangan-jangan Bang Olan mau katakan cinta ke Disya di balkon kamarnya?!
Memikirkan hal itu, Disya dilanda rasa bahagia yang membuncah. Lalu, gadis itu melangkah lebar ke arah lemarinya. Memilih baju-baju yang cocok di lemari miliknya tersebut.
Lalu, matanya jatuh ke arah dress berwarna biru tosca. Sebelum ia berganti baju, tiba-tiba ponselnya bergetar. Di layar ponselnya tercantum notification i********:.
@orlandoedwardo: Menurut lo? @disyaariana
Disya terkikik, dengan gerakan cepat, gadis itu menari-narikan jarinya di atas layar ponselnya.
@disyaariana: Dapat cium dari Bang Olan, mungkin. hehe... bentar bang ini lagi siap2 @orlandoedwardo
Setelah membalas comment-nya, Disya langsung mengganti pakaian. Saat ia telah selesai berganti pakaian, ia langsung bergegas keluar kamarnya menuju balkon Orlando. Ternyata, Orlando telah berdiri di balkonnya seraya menatap langit tak berbintang.
"Bang Olan!" Panggil Disya, membuat Orlando mengalihkan pandangannya, menatap Disya yang sedang tersenyum lebar ke arahnya.
Orlando mengernyitkan dahinya, bingung kenapa gadis aneh ini memakai dress. Biasanya dia selalu memakai kaos, dan celana hot pants. Atau tidak, memakai piyama bila di malam hari.
"Kenapa pakai pakaian yang kayak begitu?" Tanya Orlando dengan heran. Menatap Disya dari bawah ke atas lalu pandangannya turun lagi dari atas ke bawah.
Disya menatap pakaiannya. "Ada yang salah dengan pakaian Disya, ya, Bang?"
Orlando menggeleng, "tidak. Hanya saja, buat apa lo pakai pakaian begitu? Lo ada janji kencan sama pria, ya?" Tanya Orlando. Dari telinga Disya, ia mendengar dari nada suara Orlando seperti sarat cemburu.
Disya mengedip centil ke arah Orlando, lalu ia mencoba lompat dari pembatas balkon rumahnya dengan rumah Orlando. Sayang, ia tidak bisa melompat karena dress di bawah lutut ini sungguh membuatnya susah untuk mengangkang. Bila ia terus berusaha melompat pembatas balkon, yang ada dia nanti jatuh. Dan ia tidak mau jatuh di depan Orlando. Sakitnya tidak seberapa, tapi malunya itu, loh.
"Bang Olan! Bantuin Disya lompat, dong, susah nih."
Orlando mendengus sebal. "Salahnya sendiri pakai pakaian seperti itu, susah sendiri, kan, akhirnya." Ujar Orlando tidak peduli.
Disya merengut, "ih, Bang Olan! Bantuin dong."
"Malas."
Disya menatap Orlando dengan tatapan berkaca-kaca, melihat hal itu membuat Orlando langsung luluh dan membantu Disya melompati balkon pembatas rumahnya dengan rumah gadis itu.
"Kaki kanannya naik, setelah itu dilanjutkan dengan kaki kirinya. Baru lo lompat di punggung gue, paham?" Ucap Orlando, memberikan aba-aba kepada gadis masa kecilnya.
Disya mengangguk, lalu ia mencoba menuruti aba-aba dari Orlando. Sedangkan pria itu memutar tubuhnya, memberikan punggungnya agar gadis itu jatuh di dalam punggungnya.
"Bang mutar balik, gak enak kalau peluk punggung Bang Olan."
"Mau atau nggak sama sekali."
Disya merengut, "ih, Bang Olan! Disya maunya peluk d**a bidangnya. Bukan punggung."
Orlando memutar tubuhnya, lantas, Disya langsung melompat pembatas balkon, sayangnya kakinya terpeleset di pembatas balkon, membuat ia terjatuh dan Orlando segera menahan tubuh Disya agar tidak ambruk di lantai. Namun, mereka sama-sama terjatuh. Disya jatuh di dalam d**a Orlando, sedangkan Orlando jatuh ke lantai membuat punggungnya terasa sakit. Apalagi, badan Disya sungguh berat seperti badannya badak bercula. Nggak, deh, hanya bercanda.
Bukannya berangkat dari punggung Orlando, malah Disya asik dengan mengendus baju kaos Polo milik Orlando yang sungguh wangi. Wangi musk yang masuk melalui indera penciuman Disya. Sedangkan Orlando menghidu leher Disya yang sungguh wangi. Dan, wanginya sungguh memabukkan.
"Astaga.... Disya, Orlando! Kalian ngapain?!"
Suara milik bundanya Disya membuat keduanya langsung menjauhkan tubuhnya masing-masing. Di balkon Disya, Namira berdiri sedang menatap mereka dengan tatapan shock. Sedangkan Ardigo menatap keduanya dengan tatapan tajam.
Orlando menggaruk tengkuknya dengan gerakan salah tingkah. Sedangkan Disya menundukkan wajahnya, tidak siap menatap kedua orang tuanya.
"Tante, om... Lando...."
Belum sempat Orlando menjelaskan kepada dua paruh baya yang ada dihadapannya, malah Ardigo memotong penjelasan Orlando.
"Kamu mencoba menggoda anak saya, ya?" Tuding Ardigo membuat Orlando langsung melongo dibuatnya. Sedangkan Disya tersenyum geli dalam diamnya.
Orlando menggelengkan kepalanya, "sungguh, saya tidak pernah mencoba untuk menggoda anak om." Aku pria itu dihadapan ayah dan bundanya Disya.
"Bohong!" Ardigo masih tidak mempercayai pria itu.
"Memang bohong, Bang Olan, Yah. Tadi Bang Olan mencium pipi Disya." Kali ini, Disya membuka suaranya.
Orlando mendelik ke arah Disya dengan dingin, sedangkan Disya pura-pura tidak melihat Orlando yang sedang meliriknya dengan kesal.
Namira menggelengkan kepalanya, heran dengan sikap putrinya yang selalu membuat Orlando kesal setiap harinya karena ulah atau tingkah Disya yang semena-mena. Bukannya Namira tidak tahu kalau Disya itu sedang berbohong, sedangkan Orlando dia sudah berkata jujur, karena Disya sedari tadi menahan tawanya saat ia berkata pada Ardigo bahwa Orlando berbohong, padahal dialah yang berbohong pada ayahnya.
"Disya! Kamu jangan bohong, Bunda gak suka."
Disya mempautkan bibirnya, "ih, Bunda. Siapa yang bohong, sih? Masa bunda belain Bang Olan daripada anaknya sendiri. Bunda kejam." Rajuknya kesal.
Namira melototkan matanya ke arah Disya, sedangkan Disya membalas pelototan bundanya dengan memeletkan lidahnya. Kurang ajar.
Namira menggeram dengan kesal karena Disya melawan. Namun, dia berusaha bersikap sabar karena Disya sifatnya masih labil. Padahal umurnya sudah tua.
"Ar, sebaiknya kita masuk ke dalam aja, biarkan mereka berdua di sana." Ucap Namira sambil menggenggam tangan Ardigo. Ardigo menoleh, menatap Namira dengan tatapan bahwa ia tidak bisa meninggalkan putrinya dengan pria seperti Orlando.
"Tapi...."
"Mau makan? Aku bikinkan masakan yang enak, deh. Asalkan kita meninggalkan mereka berdua, biarkan masalah ini mereka yang urus. Karena kita tidak berhak ikut campur urusan anak muda." Namira mulai bernegosiasi seraya menatap Ardigo dengan matanya yang berbinar-binar.
Ardigo mendesah pasrah. "Baiklah," putusnya. Namun sebelum pria itu masuk ke dalam, ia menatap Orlando. "Awas saja kalau kamu berniat macam-macam pada anak gadisku. Kepalamu hilang dalam sekejap."
Namira menggelengkan kepalanya, heran dengan sikap Ardigo yang masih posessif kepada putrinya.
"Baik."
Lalu Namira dan Ardigo pergi meninggalkan Disya dan Orlando dengan suasanya yang masih awkward.
"Bang Olan...."
"Pulang!" Usir Orlando sambil menatap Disya dengan dingin. Rahangnya mengeras, artinya Orlando sedang marah terhadap gadis masa kecil yang ada dihadapannya.
"Nggak, Disya mau minta maaf. Maafin Disya, ya."
"Nggak! Sekarang lo pulang!"
Disya menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. Di suatu sisi, ia merasa bersalah karena sudah mengatakan bahwa Orlando berbohong dihadapan ayahnya. Padahal, kesalah pahaman itu dimulai oleh dirinya sendiri.
"Bang Olan... hiks...." Disya memeluk punggung Orlando sambil menangis. Orlando memejamkan kedua matanya. Beberapa detik kemudian, ia menghempaskan tangan Disya yang menempel di perutnya. Membuat tubuh Disya menjadi oleng dan Disya langsung jatuh terduduk di atas lantai. Walaupun Orlando sudah tahu Disya jatuh, namun dia tidak peduli dan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya, meninggalkan Disya yang menangis sesenggukan di balkon kamar Orlando.
Walaupun masalahnya sepele, dia tidak suka bila dianggap bahwa ia berbohong atau pembohong. Karena dia tidak melakukan kebohongan.