"Dia pergi?" Vinelia menelusuri lorong rumah sakit dengan selang infus yang masih menempel di tangannya. Wajah wanita itu terlihat sangat pucat. Kantong matanya menghitam. Wajahnya terlihat sembab.
Sejak malam itu. Sejak Vinelia mendengar berita kepergian calon anaknya yang bahkan Vinelia belum tahu jenis kelaminnya. Dunia Vinelia berantakan.
"Haha, aku bahkan tidak bisa menjaga dia dengan baik." Vinelia menghentikan langkahnya di atap rumah sakit. Memegang pagar pembatas dengan sangat erat. Membiarkan angin malam menerpa kulitnya. Seperti ini terasa jauh lebih baik dibandingkan harus mengurung diri di ruang rawat inap nya.
"Maaf." Entah sudah berapa kali Vinelia mengucapkan kata itu. Air mata wanita itu mengalir setiap kali dia mengucapkannya.
"Maaf. Aku minta maaf." Vinelia menangis. Bahu wanita itu naik turun. Vinelia tidak tahu caranya berhenti menangis. Kehilangan itu membuat Vinelia sangat terpukul apalagi saat dokter mengatakan bahwa kemungkinan untuk Vinelia bisa kembali hamil itu sangat sedikit.
Hanya Vinelia yang tahu tentang ini karena Vinelia yang bertanya langsung pada dokter. Vinelia tidak tahu caranya untuk memberi tahu Lagaskar. Vinelia sangat yakin, Lagaskar akan sangat kecewa ketika mengetahui hal ini.
Lagaskar sangat menginginkan seorang anak. Lagaskar selalu mengatakan itu padanya bahkan saat dulu mereka masih ada di Universitas. Lagaskar selalu memimpikan keluarga yang utuh.
"Vinelia." Tanpa menoleh pun Vinelia sudah tahu siapa pemilik suara dingin itu.
"Masuk. Kamu bisa kedinginan." Suara Lagaskar terdengar semakin dekat. Vinelia berusaha untuk mengendalikan dirinya. Dia tidak ingin Lagaskar melihatnya menangis.
"Kamu udah pulang? Bagaimana kantor?" Vinelia membalikkan tubuhnya. Vinelia tersenyum pada Lagaskar.
"Kenapa ke atap? Aku sudah mengatakan berulang kali. Jangan pernah pergi ke atap. Kamu bisa masuk angin." Vinelia menggelengkan kepalanya. Wanita itu masih mempertahankan senyumnya.
"Aku nggak kedinginan. Aku suka langit, Lagaskar," ucap Vinelia. Tatapan Lagaskar tidak lepas sedikitpun darinya. Tatapan dalam penuh kelembutan yang selalu Vinelia sukai.
"Aku suka langit. Rasanya sangat tenang ketika menatap nya. Aku ingin disini untuk beberapa waktu." Vinelia terdiam ketika Lagaskar menariknya ke dalam pelukan pria itu. Pelukan yang sama hangatnya seperti biasa. Pelukan yang selalu membuat Vinelia ingin pulang. Vinelia selalu suka berada dalam pelukan Lagaskar.
"Oke, kamu boleh disini untuk beberapa saat. Kamu boleh menatap langit sepuasnya tapi berhenti menangis." Vinelia memejamkan matanya. Dia menyembunyikan wajahnya di pundak Lagaskar.
Hanya hening yang tersisa di antara mereka. Angin malam ini tidak terlalu kencang. Langit cerah bertaburan bintang.
Vinelia berusaha keras untuk tidak menangis lagi. Lagaskar tidak pernah suka melihatnya menangis. Pria itu akan merasa sangat kesal jika dia menangis.
"Lagaskar, maaf." Vinelia mengatakan hal itu bukan tanpa alasan. Dia tidak berhasil menjaga sesuatu yang sangat diharapkan oleh Lagaskar.
Andai saja Vinelia tidak terjatuh dan lebih hati-hati lagi, Lagaskar tidak akan kehilangan. Mereka tidak akan kehilangan anak mereka.
"Untuk apa?" tanya Lagaskar. Suara pria itu terdengar sangat lembut di telinga Vinelia. Lagaskar dingin. Lagaskar tidak berperasaan. Lagaskar bisa membunuh siapapun kapan saja namun Vinelia selalu percaya bahwa Lagaskar tidak akan pernah menyakiti nya.
"Semuanya. Aku membuat kamu harus merasakan kehilangan lagi. Seharusnya kamu tidak merasakan itu lagi. Aku sudah berjanji sama kamu untuk membuat semua hal tetap utuh tapi aku mengingkari janji itu. Maaf." Mata Vinelia kembali memanas.
"Aku benci kehilangan." Lagaskar melepaskan pelukan mereka namun pria itu menggenggam tangannya. Vinelia sama sekali tidak berani menatap wajah Lagaskar.
"Aku tidak akan memaafkan apapun yang terjadi di balik kehilangan ini. Vinelia, aku akan menemukan penyebab sebenarnya kamu jatuh dari tangga." Suara Lagaskar terdengar sangat menakutkan di telinga Vinelia.
Lagaskar tidak pernah main-main dengan apa yang dia ucapkan. Lagaskar selalu melakukan apapun yang dia ucapkan.
"Aku tidak akan melepaskan siapa pun yang membuat aku merasakan kehilangan. Aku tidak akan melepaskan penyebab anakku meninggal bahkan sebelum dia melihat dunia!" Vinelia menahan napasnya ketika Lagaskar menggenggam tangannya dengan sangat erat.
"Nyawa harus selalu di bayar dengan nyawa, Vinelia." Lanjut Lagaskar.
"Oke." Itu adalah jawaban yang sering Vinelia katakan pada Lagaskar. Vinelia sangat jarang menolak ucapan Lagaskar. Vinelia selama ini selalu mengikuti apapun yang di katakan Lagaskar.
Jika Lagaskar adalah seorang raja maka Vinelia adalah pengikut yang setia. Vinelia tidak pernah beranjak dari sisi Lagaskar walaupun dia tahu seburuk apapun sikap Lagaskar.
"Kita kembali ke kamar." Vinelia mengangguk. Lagaskar memeluk bahu Vinelia. Mereka melangkah bersama ke ruang rawat Vinelia.
"Kapan aku bisa keluar dari rumah sakit?" tanya Vinelia. Sebenarnya Vinelia sudah ingin meninggalkan rumah sakit sejak kemarin namun Lagaskar tidak mengizinkannya.
"Sampai aku mengizinkan kamu keluar," jawab Lagaskar. Pria itu membantu Vinelia duduk di ranjang nya.
Vinelia menatap Lagaskar dengan wajah cemberut. "Tapi aku ingin pulang. Aku ingin mengunjungi makam anak kita. Aku harus minta maaf sama dia Lagaskar," ucap Vinelia.
Lagaskar menarik kursi ke hadapan Vinelia. Dia duduk di sana. Menggenggam tangan Vinelia.
"Kamu harus sembuh total dulu baru boleh mengunjungi pemakaman. Bersabar untuk beberapa hari ke depan," ucap Lagaskar.
"Lagaskar, aku ingin bertemu dengan anakku."
"Kita pasti akan mengunjungi nya. Sekarang fokus pada kesehatanmu. Kita harus kembali ke Gold Land House."
Gold Land House adalah rumah utama keluarga Prabaswara. Mereka tinggal di sana. Vinelia sering kali mengatakan rumah itu sebagai rumah dinas karena segala aktivitas di sana penuh dengan aturan dan formalitas. Terkadang Vinelia bahkan sangat ragu hanya untuk bicara di rumah besar keluarga Prabaswara itu.
" Lagaskar, bolehkah aku kembali ke rumah Ayah sebentar sebelum aku kembali ke Gold Land House?" tanya Vinelia. Semenjak menikah dengan Lagaskar. Apapun yang ingin Vinelia lakukan itu harus mendapatkan izin dari Lagaskar.
Vinelia keberatan? Tentu saja tidak. Sejauh ini Lagaskar tidak pernah membuat Vinelia merasa terkekang. Mereka sudah menyepakati banyak hal sebelum menikah. Termasuk Vinelia yang harus meninggalkan pekerjaannya.
"Untuk berapa hari?" tanya Lagaskar.
"Tiga hari."
"Oke. Kamu boleh pulang. Tapi ingat Vinelia jangan lakukan hal bodoh."
"Kamu nggak ikut pulang?"
"Aku harus ke luar negeri. Pekerjaan sedang menumpuk. Tidak ada waktu untuk pulang." Vinelia menarik kedua sudut bibirnya. Kepalanya mengangguk berulang kali. Vinelia harus semakin terbiasa dengan kesibukan Lagaskar.
"Lagaskar, bisa janji sesuatu sama aku?" tanya Vinelia.
"Apa? Katakan."
"Aku tahu ini adalah impian kamu sejak dulu. Kamu selalu ingin berada di posisi kamu sekarang karena itu memang sudah seharusnya. Tapi bisakah kamu meluangkan waktu untuk diri kamu sendiri? Jangan lupa istirahat. Tidur jika waktunya tidur," ucap Vinelia. Dia selalu mengkhawatirkan Lagaskar sejak dulu. Sangat mengerikan jika Lagaskar sudah jatuh sakit. Vinelia akan selalu ketakutan.
"Tetap sehat Lagaskar." Vinelia membalas genggaman tangan Lagaskar. Mereka saling tatap satu sama lain. Lagaskar tersenyum tipis kemudian mengangguk.
"Aku janji, Vinelia." Vinelia bernapas lega namun tidak lama setelah itu Vinelia meringis pelan ketika merasakan sakit di kepalanya.
"Vinelia, aku panggil dokter!" seru Lagaskar. Vinelia menggelengkan kepalanya.
"Lagaskar, aku hanya ingin istirahat. Jangan panggil dokter."