Saat ini aku dan Dhara sudah berada di dalam mobil. Mobil yang aku kendarai menuju jalan pulang. Di tengah-tengah perjalanan aku baru teringat bahwa kami berdua belum makan malam. "Dhara," panggilku yang hanya dibalas dengan deham, "mau makan? Mumpung kita belum masuk tol."
"Mas mau makan?" aku enggak mau sebenarnya, tapi kalau aku enggak makan, dia pastinya juga enggak makan karena itu aku berbohong dengan menganggukkan kepala.
"Kita makan dulu ya."
"Iya. Mau makan itu," dia menujuk ke sebuah restauran seafood yang berada di depan sana, "makan disitu ya?"
"Iya, boleh."
Setelah memarkirkan mobil kami berdua turun lalu masuk ke dalam restauran itu. Aku dan Dhara memesan cumi goreng tepung, udang saus padang, ikan gurame bakar, dan tentunya dua gelas air jeruk. "Pesannya kami siapkan dulu ya," ucap pelayan restauran ini dengan ramah. Aku dan Dhara mengangguk mempersilahkan.
Setelah itu, kami berdua dilanda keheningan. Aku ingin membuka topik pembicaraan, tetapi perempuan itu sudah lebih dahulu membuka ponselnya lalu fokus dengan benda itu. Aku melirik ke layarnya, dia seperti sedang mengirim pesan dengan seseorang. "Siapa?" tanyaku mulai penasaran.
Perempuan itu menoleh ke arahku lalu kembali menatap layar ponselnya. "Fajar," jawabnya singkat.
Aku berdeham lalu semakin penasaran saat pesan yang diterimanya bertubi-tubi. "Ngomongin apa? Revisi konsep lahan tadi?" Perempuan itu mengangguk.
"Iya. Dia juga nanyain aku udah sampai atau belum."
"Perhatian ya sama bosnya," jawabku datar. Aku aja sama karyawanku tidak pernah seperhatian itu. Berbicara hanya untuk hal-hal yang berhubungan dengan kantor. Mengirim pesan hanya dalam keadaan yang benar-benar genting.
"Iya," ucapnya singkat setelah itu kembali lagi fokus dengan ponselnya.
"Ponselnya bisa diletakan dulu?" tanyaku mulai tidak nyaman dengan suasana hening seperti ini, "biar kita punya waktu berdua," ucapku dengan tatapan lebih lekat. Seakan mengerti dengan perubahan raut wajahku, Dhara langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Besok saya enggak bisa mengantarmu. Dari pagi sampai sore saya banyak kerjaan. Pergi sendiri bisa kan? Atau mulai besok mau saya pekerjakan supir pribadi aja?" tanyaku memberikan saran. Kalau aku tiba-tiba memberikannya supir pribadi, takutnya dia tidak nyaman dan merasa aku terlalu mengaturnya.
"Iya, gapapa. Aku bisa sendiri kok."
"Jangan marah ya?"
Dia menggeleng cepat. "Enggak. Aku sekarang udah paham, pekerjaan aku ya pekerjaan aku. Pekerjaan Mas ya pekerjaan Mas. Kita bertanggung jawab dengan pekerjaan kita masing-masing," tangannya bergerak untuk menggengam tanganku, "aku udah cukup dewasa untuk mengerti itu."
"Bukannya saya enggak memerdulikan kamu. Kalau saya punya waktu luang, pasti saya mau mengantarmu lagi," ucapku memberikan penjelasan.
"Iya, Mas. Paham."
"Saya sebenarnya enggak sesibuk itu. Hanya saja besok setelah mengajar, saya ada rapat dengan pimpinan fakultas. Jadinya kemungkinan saya bisanya sore," ucapku terpotong saat Mbak-mbak pelayan mendatangi meja kami dengan membawa dua gelas air jeruk. Setelah mbak-mbak itu pergi, barulah aku melanjutkan pembicaraanku, "kalau kamu mau, sore saya antar."
Dhara menggeleng cepat. "Aku bisa sendiri. Udah enggak trauma lagi kok," dia menyeruput air jeruknya, "aku gapapa. Tenang aja."
"Hati-hati ya. Kalau bisa jangan pulang terlalu malam."
Dhara mengangguk cepat. "Iya, Mas."
?
Aku keluar dari ruang pertemuan dengan pikiran yang bercabang-cabang. Pasalnya tadi Pak Halfan selaku ketua program studi memintaku agar menyalonkan diri sebagai Kaprodi selanjutnya. Sejujurnya dalam hati yang paling dalam, aku menginginkan jabatan ini. Perlu waktu beberapa tahun sampai akhirnya aku dipertimbangkan oleh Pak Halfan untuk menyalonkan diriku sebagai penggantinya. Namun, banyak hal yang perlu aku pertimbangkan.
Salah satunya adalah Dhara.
Sesampainya di ruanganku, aku langsung mengambil ponselku lalu menghubungi Dhara. Aku harus berbicara tentang permasalahan ini secepatnya karena Minggu depan akan diadakan rapat mengenai calon Kaprodi selanjutnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, kenapa Mas?"
"Kamu di mana?"
"Baru pulang. Mas di mana?"
"Baru mau on the way perjalanan pulang."
"Oh, iya iya."
"Mau dibelikan apa? Martabak?"
Sebelum membicarakan perihal masalah itu, aku harus membuatnya senang agar nanti saat berbincang denganku hatinya sedang riang dan tentunya membuat peluang disetujui lebih besar.
"Enggak mau apa-apa. Sebentar dulu," Dhara seperti berbicara dengan Luna, adik perempuannya, "Mas, Luna mau soto ayam. Nanti kalau lewatin, tolong belikan ya."
"Iya," aku menyambungkan ponselku dengan perangkat mobil lalu membiarkan suara Dhara menggema melalui speaker mobil. Setelah itu aku menjalankan mobilku keluar dari pekarangan kampus, "Dani mau makan apa dia?"tanyaku setelah beberapa saat Dhara terdiam.
"Katanya dia mau makan soto ayam juga, Mas."
"Iya, nanti saya beli dua."
"Ibu mau makan apa?"
"Ibu udah aku beliin ayam bakar. Tadi dia pesan sebelum aku pulang."
"Kamu mau makan apa? Udah beli juga?"
"Makan, Mas. Itu aja. Cepat pulang ya."
Tiba-tiba panggilannya diputus sepihak olehnya. Dasar ya perempuan itu, suka malu-malu.
Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a.
Di k********a kalian bisa mendapatkan
1. Ebook Lengkap (59 part)
2. Bagian Tambahan Ekslusif di karyakarsa
Sudut Pandang Aarav (10 part)
Sudut Pandang Dhara (3 part)
Sudut Pandang Fajar (1 Part)
Sudut Pandang Penulis (3 Part)
Hanya dengan Rp44.000 kalian bisa akses semua partnya.
Cara belinya:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ Mr. Scary and Our Journey _ TheDarkNight_)
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".