Semilir angin utara bertiup pelan di area taman kerajaan pagi itu. Suara kicau burung berwarna warni diatas pohon beringin putih yang mengelilingi sebuah kolam batu terdengar nyaring bersahutan seakan mereka sedang bergembira menyambut hangatnya sinar mentari pagi. Ratu Zaina dan kedua putri kerajaan yang ia angkat nampak sedang berbincang santai dibawah gazebo Tamansari sambil menikmati secangkir teh bunga Krisan hangat.
Sang Ratu mengangkat dua hawana pilihan yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri. Mereka ditemukan terdampar di tanah Archadia dalam keadaan sendiri dan terpisah dari keluarganya. Putri Adeena Hezekiah dan Putri Akyra Hezekiah sudah terkenal sangat baik budi perilakunya. Seluruh penduduk Archadia mengakui bahwa kedua hawana itu layak diangkat menjadi putri kerajaan karena perilakunya yang baik, pintar, bijaksana sekaligus sangat cantik.
Putri Adeena adalah putri pertama yang digadang-gadang akan diangkat sebagai Putri Mahkota kerajaan dalam waktu dekat. Wajahnya yang manis, berambut perak berkilau serta kecerdasan dalam ilmu tata negara dan kelembutan hatinya tidak diragukan lagi. Putri Kyra sebagai adiknya merupakan putri kedua kerajaan yang tidak kalah cantik dengan kakaknya. Putri Kyra merupakan hawana muda yang pintar, cantik, cerdik dan baik hati. Hanya saja dia lebih suka melakukan aktivitas fisik dan sering bergabung dengan prajurit Ksatrian untuk latihan perang bersama.
Pada dasarnya, Ratu Zaina tidak mempermasalahkan apa yang menjadi minat kedua putrinya asalkan mereka bisa bertanggung jawab terhadap pilihan yang diambil. Gelak tawa yang terdengar membuat suasana minum teh keluarga itu sangat hangat. Beberapa pengawal terlihat melakukan penjagaan dari jauh didekat gerbang keluar Tamansari. Sementara barisan pelayan dan dayang terlihat duduk dalam jarak yang lumayan dekat.
"Bunda Ratu, bolehkah hari ini hamba keluar istana untuk menikmati suasana sekitar kerajaan?" pinta Putri Adeena yang memang jarang keluar istana karena alasan keamanan dan persiapan akan penobatan nya menjadi putri mahkota.
"Hhmm ... apakah kamu merasa bosan anak ku? Dengan aktivitas padatmu dalam mempersiapkan hari penobatan yang semakin dekat ini?" Ratu Zaina menatapnya dengan tenang.
"Sejujurnya hamba hanya ingin melihat lebih dekat lagi bagaimana aktivitas rakyat kita dalam kesehariannya. Bukankah seorang calon Ratu harus tahu kebutuhan apa yang diperlukan rakyat serta harus selalu dekat di hati rakyatnya?" jawab Putri Adeena dengan tersenyum.
"Kau benar anak ku, sebuah kerajaan tidak akan kuat jika rakyatnya saja tidak mencintai kerajaannya. Aku tidak pernah melarangmu untuk berinteraksi dengan rakyat kita. Hanya saja aku khawatir dengan keamananmu diluar sana." Ratu memandang putrinya dengan tatapan tenang.
"Benar kakak, aku mendengar diluar masih sering terjadi serangan mendadak dari para perompak atau kerajaan kecil disekitar kita. Terlalu berbahaya jika kakak keluar tanpa pengawalan yang ketat." ucap putri Kyra yang memang lebih mengerti kondisi lapangan di luar kerajaan karena seringnya ikut latihan gabungan dengan para Ksatria. Disatu sisi, raut muka Putri Adeena nampak sedikit kecewa mendengar larangan dari ibu sekaligus adiknya.
"Kau kuizinkan keluar untuk melihat sekitar kerajaan, tetapi dengan catatan harus dengan pengawalan yang ketat," ucap Ratu Zaina tenang tetapi terdengar tegas.
"Tetapi bunda Ratu, jika hamba keluar dengan pengawalan ketat, apakah tidak akan menarik perhatian rakyat kita? Hamba berencana akan melakukan penyamaran sebagai rakyat biasa jika diperbolehkan. Agar hamba tahu kehidupan Archadian yang sebenarnya serta kesenjangan sosial seperti apa yang terjadi saat ini." Putri Adeena memohon.
"Ibunda, jika kakak bersikeras menginginkan seperti itu, izinkanlah hamba ikut menemaninya." pinta putri Kyra sedikit memohon, karena baginya melindungi sang kakak adalah kewajiban yang harus dia laksanakan seumur hidup.
"Anakku, bunda tidak akan mengizinkan kalian berdua keluar istana bersama. Baiklah Putri Adeena jika itu keinginanmu. Belajar sosial secara langsung itu memang perlu. Bawalah beberapa pengawal yang tangguh dengan penyamaran juga. Tapi ingat, kamu tidak boleh pergi ke arah hutan Larangan." Ratu Zaina akhirnya memberikan izin.
"Baik bunda Ratu, terimakasih."
Putri Adeena tersenyum lebar sembari melirik ke arah adiknya. Ia terlihat masih belum terima dengan keputusan ibunya karena tidak memperbolehkan dirinya ikut mengawal kakaknya.
Gerbang tinggi istana keputrian perlahan pun dibuka, terlihat Putri Adeena dengan beberapa pengawal pribadi dan pelayan pribadinya yang bernama Hesa nampak berjalan dengan penyamaran sempurna. Sang putri, pelayan dan pengawalnya memakai pakaian tradisional rakyat biasa. Walaupun sudah melakukan penyamaran sedemikian rupa, wajah cantiknya tetaplah tidak bisa ditutupi. Kecantikan alami seorang putri selalu terpancar dari calon penerus tahta Archadia itu.
Gadis berambut silver itu mulai berjalan-jalan santai disekitar Istana, melihat aktivitas di Grand Market yang merupakan pusat perdagangan kerajaan Archadia. Sementara para pengawal tetap memantau aktivitasnya dengan jarak yang dibatasi. Setelah bosan berkeliling di Grand Market, Putri Adeena berinisiatif untuk pergi ke arah utara dimana dia pernah mendengar sebuah danau yang sangat indah sekali berada di dekat hutan Larangan. Rasa penasarannya sudah sangat besar dimana banyak hawanian yang mengatakan danau itu merupakan salah satu surga kecil yang tersembunyi di Archadia dan air nya masih terjaga kesuciannya.
"Apakah tidak terlalu berbahaya tuanku?" Hesa tampak ragu dengan ide sang putri untuk pergi kesana.
"Ayolah Hesa, kapan lagi kita bisa mengunjungi kalau tidak hari ini. Aku dengar danau itu sangat indah sekali," Putri Adeena berusaha merayu..
"Memang benar kata orang danau itu sangat indah tuanku, tapi danau itu berada dekat dengan hutan Larangan. Sangat berbahaya untuk tuanku." Hesa mencoba mengingatkan.
"Untuk apa jika suatu keindahan tidak bisa dinikmati Hesa? Bukankah semesta menciptakan sebuah keindahan untuk dapat kita nikmati?" sang putri masih berusaha membujuk.
"Apa yang dikatakan Hesa benar tuanku. Disana terlalu berbahaya. Jumlah pasukan pengawalan pun tidak terlalu banyak. Kita tidak pernah tahu kemungkinan apa yang bisa terjadi mengingat danau itu berada persis disebelah hutan Larangan. Lagian sudah jelas pesan dari yang Mulia Ratu untuk tidak bersinggungan dengan wilayah itu tuanku." sambung Letnan Arian yang merupakan pimpinan pengawal pribadi Putri Adeena ikut mengingatkan.
"Letnan, asalkan kita tidak memberitahu yang Mulia, saya rasa semua aman. Ayooo berangkat." Putri Adeena sembari menarik tangan Hesa untuk segera menuju danau indah yang selalu membuatnya penasaran.
Letnan Arian hanya menggelengkan kepalanya dan menuruti apa kehendak junjungannya itu. Selembut-lembutnya seorang putri tetaplah ada sisi keras kepala di dirinya, pikir Letnan Arian. Akhirnya rombongan kecil itu bergerak menuju tempat dimana danau indah itu berada, Archadian biasa menyebut danau itu dengan nama Hollyspears.
Perjalanan lumayan memakan waktu lama karena hari itu rombongan Putri Adeena hanya bepergian menggunakan kereta kuda. Tibalah mereka dipintu masuk area danau yang ditandai dengan adanya dua pohon Oak sangat besar berdiri tegak seolah menjadi pintu gerbang yang menyambut kedatangan mereka. Suasana masih sedikit berkabut walaupun waktu sudah memasuki siang hari.
Dilangkahkan kaki mereka memasuki area yang masih terbilang alami. Rombongan Putri Adeena nampak kaget saat mencapai sisi danau. Danau berbentuk lingkaran seluas mata memandang mempunyai air berwarna biru dan bening bak kaca. Air dingin yang berkilauan membuat dasar danau terlihat sangat jelas, sesaat menyihir rombongan itu dengan kekaguman yang tiada tara. Ikan-ikan besar berwarna warni terlihat jelas berenang kesana kemari di dasarnya.
Hamparan rumput hijau dengan berbagai bunga harum berwarna warni laksana permadani mengelilingi di sekitaran danau itu. Semua mata dibuat takjub. Surga tersembunyi yang diceritakan Archadian memang benar adanya. Rasa damai menyelimuti Putri Adeena sejenak. Betapa tanah surga yang hawanian bilang tentang kerajaannya terbukti dengan adanya danau ini. Rasa damai yang mereka rasakan sebentar itu mendadak berubah ketika suara gemeresak terdengar dari arah rimbunnya alang-alang yang berada disekitar danau. Melihat gelagat mencurigakan, Letnan Arian memberikan kode kepada Putri Adeena untuk mundur beberapa langkah kebelakangnya.
"Tuanku, berdirilah dibelakang saya. Prajurit, ambil posisi bertahan." perintah Letnan Arian dengan sikap waspada yang seketika diikuti oleh pasukan pengawal lainnya.
Tuan Putri dan Hesa segera menurut dan mengambil posisi dibelakang Letnan Arian sembari harap-harap cemas bahaya apa yang sebenarnya sedang mengintai mereka. Masih menunggu suara gemeresak itu selesai dengan waspada, seketika keluarlah segerombolan Hawaki dari dalam semak bersenjata lengkap. Masih dengan keadaan kaget, spontan sang putri pun berteriak dengan kencang.
Aaarrgghhh ....
Seketika orang-orang aneh itu langsung bergerak menyerang rombongan sang putri dengan membabi buta.