SANG PENYELAMAT

3749 Words
      Dua orang hawaki muda sedang mengendap-endap diantara pepohonan besar hutan Larangan. Berbekal anak panah dan tombak sederhana yang mereka buat, seekor rusa berbadan gempal terlihat masuk kedalam daftar buruan hari ini. Setelah mengambil posisi yang dirasa tepat, sebuah anak panah segera dipasang dan dibidiknya ke arah rusa gempal itu. Hawaki itu terlihat mengatur nafas dan menunggu momen yang tepat. Sebuah anak panah seketika melesat dengan cepat. Blezzzz .... Segerombol burung hitam beterbangan diatas kepala mereka. Rusa itu pun terkapar dengan anak panah menusuk kepalanya. "Gotchaaa!!" Teriak hawaki bernama Argis Pietro dengan girang yang sedari tadi menemani sahabatnya berburu rusa. Melihat target yang diburunya tergeletak, Areez Mattea hawaki yang menjadi eksekutor perburuan siang itu terlihat mengambil nafas panjang dan kembali mengalungkan busur panahnya ke badan. Segera mereka berdua menghampiri hasil buruan yang sudah tidak bergerak lagi. "Syukurlah Argis, hari ini kita bisa jual rusa ini dan makan enak." Areez berkata sembari mengikat hasil buruannya ke batang bambu yang sudah ia persiapkan. "Teman, lihatlah. Selalu tepat membidik mata, aku rasa seharusnya kau bergabung untuk menjadi prajurit di kerajaan ini. Bukannya menjadi seorang pemburu." Argis selalu heran melihat temannya enggan untuk bergabung menjadi prajurit. Padahal ia tahu, sahabatnya itu sangatlah jitu jika membidik sasaran. Kemampuan olah pedang dan beladirinya pun tak diragukan lagi. "Haha buat apa bergabung menjadi prajurit? Aku hanya ingin hidupku disini bermanfaat untuk Archadian lain. Sedangkan banyak jalan untuk hidup bermanfaat. Tidak harus selalu menjadi prajurit untuk bermanfaat." ujar Areez dengan santainya. "Hei sok tahu, kau pikir mengabdi kepada kerajaan tidak bermanfaat? Kau itu selalu saja banyak alasan jika aku beri masukan. Dasar keras kepala." Gerutu Argis kesal "Hahaha lagian kenapa tidak kau saja yang menjadi prajurit hhmm? Kulihat sedari pertama kita menginjakan kaki di daratan Aoland ini, kau selalu ikut mendaftar jika Akademi Ksatrian dibuka." Areez memandang sahabatnya dengan senyum meledek. "Nah itu dia masalahnya. Setiap kali daftar aku selalu gagal. Aku juga tidak tahu dimana letak kegagalanku, perasaan ujian fisik juga aku lulus semua." Argis sembari membantu mengikatkan rusa gempal itu ke bambu. "Hei jadi prajurit itu tidak hanya harus kuat fisik atau tenaga. Tapi juga harus kuat di ini nih." ucap Areez sambil menunjuk ke arah kepalanya sambil tertawa "Hhmm iya lah, Aku akui kalau masalah teori memang aku lemah. Yah mungkin nasibku harus hidup sama kamu Areez, jadi asisten pemburu hahaha." Argis terbahak-bahak. "Sudahlah jangan banyak cakap, ayo segera diikat dan kita bawa ke pasar. Lagian kalau berlama-lama di hutan ini juga tidak baik. Mau kau diserang sama kaum Odd*?" ucap Areez mengingatkan. "Wah dasar mulut kau ini, sudahlah tidak usah bahas kaum itu. Tak mau kepalaku terpenggal sia-sia disini." Argis segera membereskan peralatan perburuan mereka. Areez hanya tertawa geli melihat tingkah temannya. "Aaaaarrrgghh!!" Seketika Areez dan Argis menghentikan aktivitas mereka. Dua hawaki itu saling berpandangan tatkala samar-samar mereka mendengar teriakan seorang hawana. Rasanya suara itu tidak jauh dari lokasi perburuan dan terdengar dari arah danau Hollyspears. "Hei kau dengar itu kawan?" Argis dengan wajah menyelidik. "Yah aku dengar. Apakah wajar ada hawana berada di hutan Larangan?" Areez masih meyakinkan pendengarannya tadi. "Ayoo kita cari sumber suara itu." ajak Argis bergegas. "Ayo cepat Argis." Areez dengan segera berlari mencari sumber suara, mereka yakin seorang hawanian sedang dalam kondisi bahaya.        Suara denting pedang yang saling beradu dan teriakan-teriakan hawaki terdengar perlahan dari kejauhan. Prajurit pengawal Istana sedang bertarung mati-matian menjaga tuannya dari serangan kaum Odd yang tiba-tiba muncul dari dalam hutan Larangan. Bagaimana pun juga keselamatan calon Putri Mahkota adalah tanggung jawab penuh Letnan Arian selaku kepala pengawal Putri Adeena. Jumlah yang tak imbang membuat pasukan kerajaan sangat kewalahan. Tuan Putri dan pelayannya tampak ketakutan melihat serangan dari kaum yang berpenampilan menakutkan itu semakin membabi buta. "Tuanku lari tuanku!" teriak Letnan Arian yang terkapar terkena sabetan pedang di kaki kanan dan lengan kirinya.        Melihat pengawalnya satu persatu tumbang, sang putri dan pelayannya pun tak punya pilihan lain. Mereka segera berlari sekuat tenaga menjauhi area danau yang sekarang berubah menjadi medan tempur. Mengetahui bahwa target yang diserang adalah putri kerajaan, kaum Odd itu segera mengejarnya. Dengan susah payah sang Putri dan Hesa sebisa mungkin berlari dengan cepat. Tanpa diduga, seorang dari kaum Odd bisa mengejar dan segera menarik bahu Putri Adeena dari arah belakang. Sang putri jatuh tersungkur disusul pula pelayannya. Pemimpin kaum Odd yang menyerang itu segera tertawa sinis dan mendekati Putri yang sedang dalam kesakitan sekaligus ketakutan itu. "Jadi kau tuan putri kerajaan ini? Hhmm dirimu adalah harta berharga bagi kami hahaha." ucap pimpinan Odd tertawa penuh kemenangan. "Tolong lepaskan kami." pinta Putri Adeena sembari menahan rasa sakit akibat terjatuh. "Hai kawanan, ayoo segera bawa mereka untuk kita jual. Harga mereka akan segera membuat kita kaya raya hahaha." perintah pimpinan Odd sembari tertawa lebar. "Hiiiaaaatttt!!"         Areez melompat sembari menghunuskan pedang ke arah kaum Odd yang akan memegang tangan Putri Adeena. Kaum berwajah menakutkan itu pun kaget dengan kehadiran hawaki dari balik semak yang membuat mereka langsung memundurkan beberapa langkah. Begitupun dengan Putri Adeena dan Hesa yang tak kalah kaget dengan kehadiran hawaki yang sangat tampan sembari menghunus pedang panjangnya dari arah belakang mereka. "Argis, bawa dua hawana ini menjauh, cepat!!" perintah Areez dengan tenang. Dengan sigapnya Argis segera menuruti permintaan Areez. "Hei kalian berdua berdirilah, ayo ikuti aku cepaat!!" ajak Argis kepada dua hawana yang tak lain adalah Putri Adeena dan pelayannya untuk menjauh dari area itu.  Tanpa perkataan sedikitpun, sang putri dan pelayannya langsung mengikuti langkah Argis menjauh dari tempat dimana Areez berdiri. "Hei kau! Berani sekali membawa tawanan kami hah?" seru pimpinan Odd dengan geramnya. "Archadia adalah negeri damai. Kalian hanyalah pengacau kurang kerjaan yang tak layak menginjakan kaki di tanah ini. Beraninya kalian mengotori danau suci ini dengan pertumpahan darah!" Areez murka sembari memasang kuda-kuda bersiap menyerang.  Dari kejauhan, putri Adeena dan pengawal kerajaan tampak tertegun mendengar ucapan hawaki asing yang baru dilihatnya terlihat sangat murka karena danau suci yang selalu hawanian Archadia Agungkan hari ini terkotori dengan pertumpahan darah. "Kurang ajar sekali kau, serang dia!" perintah pimpinan kaum Odd ke anak buahnya.        Pertarungan tak terelakan lagi antara satu hawaki melawan lima belas hawaki kaum Odd. Dengan gesit Areez bergantian bertahan dan melakukan p*********n terhadap segerumbulan pengacau itu. Permainan pedang nya yang lincah dan cepat menandakan ilmu pedangnya bukan kelas kaleng-kaleng lagi. Satu persatu kaum Odd berguguran dengan keahlian olah pedang yang dimiliki Areez. Dari kejauhan Putri Adeena dan Hesa saling berpandangan, harap-harap cemas melihat pertarungan yang sangat sengit.         Putri Adeena memberikan kode kepada Hesa agar tidak memberitahukan statusnya kepada hawaki yang ada disebelahnya. Dari kejauhan Letnan Arian melihat kemampuan bertarung Areez dalam menghadapi kaum Odd sambil menahan rasa sakit. Kelincahan dan kegesitan dalam bertarung menandakan ia bukan hawaki biasa. Puncaknya Areez menghadapi pimpinan kaum Odd yang dengan mudah ia taklukan. Dalam keadaan tersungkur, hawaki muda itu segera menginjak leher pimpinan kaum Odd yang terlihat sangat kesakitan. "Ampun ... ampuni kami, kami menyerah." ucap pimpinan kaum Odd dengan mulut yang sudah memuntahkan darah dan tampak tak berdaya lagi melawan Areez. "Enyahlah dan jangan berani-berani mencoba membuat rusuh di tanah ini lagi. Jika aku melihatmu dan anak buahmu berkeliaran disini, tak akan segan aku cincang tubuhmu." Areez geram sambil melepaskan pijakan kakinya.  Pimpinan dan gerombolan kaum Odd itu meminta maaf dan segera melarikan diri masuk ke dalam hutan. Dengan nafas masih memburu, Areez segera membersihkan darah yang melumuri pedangnya dan segera menyarungkan pedang warisan orang tuanya kembali. "Luar biasa kawan!" teriak Argis dari kejauhan sembari menghampiri sahabatnya. "Kau tak apa kawan?" Argis sedikit khawatir sembari memeriksa luka sabetan pedang di lengan kanan yang sedari tadi Areez pegang. "Aku tak apa kawan. Apakah kedua hawana tadi selamat?" tanya Areez dengan nafas terengah-engah. "Yah mereka selamat. Mereka disana." tunjuk Argis ke arah Putri Adeena dan pelayannya berada. Areez melirik ke arah dimana Putri cantik dan pelayan nya berada. Mata mereka bertemu untuk pertama kali, tetapi Areez segera mengalihkan pandangan ke arah hawaki-hawaki yang terluka. "Baiklah, ayo kita bantu hawaki ini. Mungkin ada yang terluka parah." ajak Areez sembari berjalan walau sedikit terpincang.        Argis dan Areez segera memeriksa satu persatu pasukan kerajaan yang bertempur tadi. Beberapa yang terluka segera Areez beri pertolongan pertama dengan memberi balutan untuk mengentikan perdarahan. Mereka berkumpul ditengah sembari kembali memeriksa keadaan sekitar untuk dipastikan aman. "Apakah semuanya baik-baik saja?" Putri Adeena terlihat cemas melihat banyak pengawalnya yang terluka.  Setelah selesai membalut lengan Letnan Arian, dengan rasa kesal Areez segera mendekat ke arah dua hawana yang tak dikenalnya itu. "Apakah kau sadar apa yang kau lakukan disini? Apakah kau tidak tahu Ratu Archadia memberikan perintah untuk tidak mendekati danau ini? Kau hampir membahayakan nyawa teman-temanmu ini dan juga aku hawana!" teriak Areez dengan kesal.       Terkejut dengan ucapan dan respon yang keluar dari mulut hawaki yang tak dikenal nya itu membuat Putri Adeena tertegun sejenak. Hesa yang melihat kejadian itu hanya tersenyum melihat ekspresi junjungannya, karena selama tinggal di Istana tidak pernah ada hawanian yang berani memarahi apalagi membentak tuannya seperti itu. "Maaf, bisa kah kau tidak berteriak seperti itu? Aku hanya ..." Putri Adeena sedikit terbata mengingat teriakan hawaki tampan yang baru dikenalnya itu sangat menakutkan. "Hanya apa? Aku tahu danau ini memang indah, tapi danau ini tidak aman karena tepat bersebelahan dengan hutan Larangan. Kaum Odd bisa saja memenggal kepala kalian semua." Areez sembari menahan rasa sakit dilengannya "Kau terluka?" Putri Adeena sembari memperhatikan lengan Areez yang berdarah. "Sudahlah ini tidak penting, ayo segera bawa teman-temanmu keluar dari sini. Akan kita bantu antar sampai di klinik terdekat." Argis menengahi perseteruan antara Areez dan hawana berambut perak itu.       Akhirnya setelah situasi terkondisikan, rombongan mereka beranjak meninggalkan area danau menuju klinik di desa terdekat. Beberapa hawaki yang tidak bisa berjalan karena terluka di kaki dinaikan ke atas kuda milik Areez yang sedari tadi diikatkan di sebelah pintu masuk hutan Larangan. Tanpa memerlukan waktu lama mereka tiba di klinik desa terdekat dari danau Hollyspears.         Petugas yang berjaga dengan mudah mengenali Putri dari Ratu nya nampak kaget. Segera mereka memberikan pertolongan pertama dengan semestinya. Salah satu petugas rawat segera menghubungi Istana dan mengabarkan bahwa rombongan tuan Putri mendapat serangan di sekitar danau Hollyspears.       Ratu Zaina yang mendapat kabar bahwa calon Putri Mahkota mendapat serangan tanpa menunggu waktu lama segera menyusul ke klinik tempat dimana putri dan pasukan kerajaan mendapatkan perawatan. Sembari meringis kesakitan, Areez memperhatikan petugas yang sedang sibuk menjahit lengannya yang tampak menganga. Hawaki itu baru menyadari bahwa luka sabetan pedang yang ia dapatkan lumayan dalam. Pujian dari beberapa petugas rawat mengalir ke arah Areez yang berani mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan hawanian lain yang tak dikenalnya. "Hei minumlah ini agar kau tak terlalu merasa sakit." Putri Adeena memberanikan diri berbicara dengan hawaki yang memarahinya sambil menyerahkan segelas teh hangat. "Terimakasih." Areez menerima gelas dari tangan lembut hawana itu dan segera meneguknya. "Aku yang seharusnya berterimakasih. Maafkan atas kelancanganku berkunjung ke danau itu." Putri Adeena mengambil duduk disebelah Areez dengan raut muka sedih merasa bersalah. "Hai hawana, kau tak perlu meminta maaf kepadaku. Tapi kau harus meminta maaf kepada mereka yang terluka karena mungkin ajakan mu ke danau itu sudah membahayakan nyawa mereka." ucap Areez dengan santai. "Yah ini semua memang salahku." Putri Adeena sembari menundukan kepala tanda penyesalan terdalam. "Tapi kau tidak perlu sesedih itu. Karena engkau pun sudah membantu mereka sampai di klinik ini untuk segera mendapat pertolongan, kau juga berjasa menyelamatkan nyawa mereka." Areez memandang wajah hawana yang baru ia sadari sangat cantik itu dengan tersenyum. Tet ... tet ... tet ... tet .... terdengar suara terompet yang menjadi tanda jika seorang Ratu kerajaan Archadia datang ke suatu tempat. Putri Adeena dan Areez sontak kaget mendengar suara terompet itu. "Apakah yang Mulia Ratu kebetulan sedang lewat disini?" tanya Areez heran ke arah Putri Adeena.       Putri Adeena hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Seketika beberapa prajurit bersenjata lengkap masuk kedalam klinik. Dari arah balik pintu sang Ratu muncul dengan memakai gaun biru yang membuat ia terlihat berwibawa. Seketika Areez dan semua petugas rawat di klinik bangun dan memberikan penghormatan. Segera sang Ratu berjalan mendekati Putri Adeena yang sedari tadi dicari keberadaannya. "Putriku, apakah kau baik-baik saja?" Ratu Zaina khawatir melihat keadaan putrinya.  Sementara Areez dan Argis tampak menelan ludah dan saling mendekat tatkala tahu hawana yang ia tolong adalah Putri Kerajaan Archadia. "Syukurlah hamba tidak apa-apa yang Mulia. Kalau tidak ditolong oleh seorang teman baru, mungkin hamba sudah menjadi tawanan kaum Odd atau bahkan mati." jelas Putri Adeena sembari melirik ke arah Areez. "Heh dia siapa si?" Argis berbisik ke arah Hesa. "Huss dia ... dia, jangan sembarangan kamu. Beliau adalah tuanku Putri Adeena. Sang Putri Mahkota Archadia." jelas Hesa tersenyum. Argis hanya menelan ludah setelah mengetahui jati diri hawana berambut perak itu. "Oh ya? Siapa hawanian baik yang sudah menolongmu dan menolong para pengawalmu wahai putriku?" tanya Ratu sembari memegang tangan Putri Adeena. "Itu mereka yang mulia." Putri Adeena menunjuk ke arah Areez yang masih meringis kesakitan dan Argis yang tampak menundukan kepala tak berani menatap wajah sang Ratu beserta putri nya. Sang Ratu pun tersenyum dan segera mendekat ke arah mereka berdua. Areez dan Argis segera membungkukan badan dihadapan Ratu Zaina dengan penuh rasa hormat. "Aku secara pribadi sebagai seorang ibu sekaligus mewakili kerajaan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada kalian berdua yang telah bertaruh nyawa untuk menyelamatkan putriku." ucap Ratu Zaina sembari tersenyum. "Semampu hamba Yang Mulia, sudah menjadi tugas kami untuk saling melindungi sesama warga Archadia apalagi dalam keadaan diserang. Mohon beri kami ampunan karena tidak mengetahui bahwa yang kami tolong adalah Tuan Putri Archadia." ucap Areez tenang. "Jasamu sungguh besar hawaki, apa yang harus aku berikan untuk membalas semua jasamu hari ini?" Ratu Zaina menatap kedua wajah hawaki yang tertunduk itu dengan tenang. "Kami tidak mengharapkan jasa apapun Yang Mulia. Kami tulus menolong dan membantu."Ucap Argis yang diteruskan dengan anggukan dari Areez. "Bolehkah aku tahu nama kalian?" Ratu Zaina nampak penasaran. "Saya Argis Pietro Yang mulia, dan teman hamba yang bertarung habis-habisan ini bernama Areez Mattea." jelas Argis memperkenalkan diri. "Maaf yang Mulia, bolehkah hamba memberikan pendapat?" sela Letnan Arian. "Oh tentu saja boleh Letnan, silahkan." "Hawaki baik ini sangat hebat sekali. Dia seorang diri melawan lima belas kaum Odd bertubuh besar. Kalau boleh saya sarankan." Letnan Arian sembari turun dari ranjangnya mendekat ke arah Ratu Zaina berada "Angkat mereka sebagai prajurit Archadia Yang Mulia." Letnan Arian sembari tersenyum ke arah Areez dan Argis. Seketika Areez dan Argis sangat terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Letnan Arian. Sementara Ratu Zaina dan Putri Adeena tersenyum mendengar usulan dari pimpinan pengawal putri nya itu. "Hawaki muda, apakah kalian setuju untuk bergabung menjadi prajurit kerajaan?" Ratu Zaina memberikan penawaran. "Kami menerima yang Mulia." jawab Argis dengan tersenyum sekaligus memberikan hormat tanpa ragu. Sementara Areez kaget mendengar ucapan Argis dan hanya memilih diam. "Baiklah, kerajaan akan bangga mempunyai prajurit baik dan tangguh seperti kalian. Bersiaplah dalam dua hari kedepan kalian akan dijemput untuk dibawa ke Akademi Ksatrian. Kepadamu Areez, sekali lagi terimakasih telah menyelamatkan putriku." Ratu Zaina sembari menepuk bahu Areez.       Areez memberikan penghormatan terdalam kepada Ratu junjungannya itu. Rombongan dan Ratu segera meninggalkan klinik setelah mengucapkan terimakasih dan memberikan santunan kepada petugas rawat. Tatapan mata Putri Adeena dan Areez bertemu sesaat sebelum Putri berambut perak itu menghilang dibalik pintu. Tatapan yang aneh dan sejenak membuat aliran darah Areez berdesir kencang. Semua prajurit yang terluka kembali ke pusat kerajaan bersama rombongan Ratu Zaina. Areez, Argis dan seluruh petugas klinik melepas iring-iringan Ratu Zaina didepan klinik dengan penuh penghormatan.       Didalam kereta kencana, sang Putri memandang wajah Areez yang bisa dibilang sangat tampan untuk seorang Hawaki. Apakah dia mempunyai perasaan lebih dengan hawaki yang baru bertemu dan berbicara sesaat itu? Hanya memendam dalam hati yang bisa ia lakukan sekarang, sampai saat dimana jawaban tentang perasaan nya hari itu akan terjawab suatu hari. Rombongan sang Ratu menghilang dari pandangan mereka dan seketika Areez memukul kepala sahabatnya itu dengan keras. Cetaaak!!! "Oouch kenapa si kamu?" Argis kaget sembari meringis kesakitan. "Kamunya tuh yang kenapa? Main terima saja tawaran yang mulia ckckck." Areez sembari kembali menuju ke dalam klinik. "Yah bagus kan? Apa salahnya menerima tawaran yang baik. Apalagi yang mulia Ratu langsung yang memberikan penawaran. Itu namanya rizki kawan." Argis mengikuti langkah Areez "Ya itu kan kamu yang minat untuk menjadi prajurit. Aku lebih nyaman hidup bermasyarakat biasa seperti ini. Tidak banyak aturan, tetapi tetap bermanfaat." Areez sembari merapikan barang-barangnya dari ruang perawatan. "Setidaknya hidup kita akan lebih terjamin kawan, dan yang lebih penting kamu itu berpotensi. Mana ada si pemanah dan petarung hebat seperti kamu di Archadia ini? Hanya kamu yang bisa mengalahkan lima belas orang kaum Odd sekaligus selama aku hidup disini. Bahkan pengawal calon Putri Mahkota itu saja mengakui kehebatan mu. Bukankah itu akan lebih bermanfaat jika kamu bisa berbagi ilmu beladiri mu di ksatrian?" Argis menatap heran sahabatnya itu. "Apa yang dikatakan temanmu itu benar hawaki muda. Tenaga dan ilmu mu akan lebih bermanfaat kalau kau bisa membuat kuat pertahanan negeri ini." sambung petugas klinik yang terlihat senior sedang membereskan peralatan kliniknya. "*Omty, terimakasih telah memberikan pertolongan kepada saya. Hari ini kami mendapat rusa dari hasil berburu. Untuk mengobati aku apakah cukup dengan harga rusa itu?" tanya Areez. "Hhmm kau ini keras kepala juga ya? Sudah sana kalian pulang dan bawa rusa buruan kalian. Berlatih dan belajarlah dengan sungguh-sungguh di Ksatrian nanti. Jangan menjadi prajurit yang nanggung-nanggung. Jika kelak kamu menjadi prajurit yang berhasil, itu sudah lebih dari cukup untuk membayar pengobatanmu hari ini." ucap petugas klinik dengan tersenyum.  Areez dan Argis pun tersenyum mendengar ucapan petugas klinik itu, yang membuat mereka lebih senang lagi adalah hasil rusa buruan hari ini akan jadi mereka jual di pasar. "Omty, bolehkah aku tahu nama Omty?" tanya Areez dengan sopan. dengan tersenyum petugas klinik itu pun menghampiri Areez dan Argis "Namaku Kora. Hawanian disini biasa memanggilku Omty Kora" "Saya Areez dan ini teman saya Argis. Saya tidak akan melupakan jasa Omty hari ini" ucap Areez dengan tersenyum. "Kami pamit Omty" ucap Argis Sementara Omty Kora hanya tersenyum sembari menganggukan kepala melepas kepergian dua hawaki muda tersebut.                       &&&&       Musik malam telah terdengar memenuhi setiap sudut ruang Istana Chena Archadia. Hidangan berbagai menu makan malam telah terjejer rapi di meja oval besar di sebuah ruangan terbuka dengan nuansa warna hijau zamrud. Ruang makan itu terdiri dari dua belas kursi besar berbahan kayu mahoni dan berada didekat kolam ikan di tengah Tamansari kerajaan. Jika bukan urusan kerajaan, sang Ratu memang lebih senang memilih tempat makan malam di sekitar danau itu daripada di ruang makan utama Istana. Terlihat Ratu Zaina dan Putri Kyra telah bersiap duduk di ruang makan tersebut untuk mulai bersantap malam. "Putriku, dimana kakakmu? Kenapa belum bergabung duduk disini?" Ratu Zaina menanyakan keberadaan Putri Adeena yang memang belum bergabung bersama mereka. "Maaf ibunda, hamba belum bertemu dengan kakak sedari tadi. Hamba izin untuk memanggil kakak terlebih dahulu agar segera bergabung." Putri Kyra sambil memohon diri untuk memanggil kakanya.        Ratu Zaina hanya menganggukan kepala dan Putri Kyra segera berjalan menuju Bangsal Keputrian tempat kakaknya berada. Pengawal yang berjaga segera membuka pintu gerbang ketika melihat kedatangan Putri Kyra sedikit tergesa. Gemericik air mancur di halaman Bangsal Keputrian menambah suasana damai malam itu. Putri Kyra segera mengetuk pintu kamar besar milik kakaknya yang bernuansa emas. Tok ... tok ... tok .... "Masuk," Terdengar suara Putri Adeena dari dalam kamarnya. Putri Kyra segera masuk dan terheran melihat kakaknya yang sedang berdiri mematung memandang bulan purnama yang terlihat sangat indah diluar jendela. "Hhmm sudah kuduga. Pasti ada yang salah." Putri Kyra sembari berjalan mendekat ke arah kakaknya. "Dengan mu?" sang kakak heran mendengar pertanyaan adik satu-satunya. "Bukan lah, tetapi dengan mu. Kamu kenapa kakak? Apakah ada yang sedang kamu pikirkan sehingga membuatmu tampak tak tenang malam ini? Bunda telah menunggumu di ruang makan." tanya Putri Kyra penasaran dengan kondisi kakaknya. "Aku sedang tidak terlalu ingin makan dik." ucap Putri Adeena dengan wajah lesunya.  "Apakah kamu sakit kak? Hhmm atau jangan-jangan karena hawaki itu kamu jadi tidak nafsu makan?" ledek Putri Kyra sembari tersenyum "Apa? Hawaki siapa? Ngarang kamu." Putri Adeena terlihat salah tingkah. "Hahaha nah itu kelihatan mukamu memerah. Aku dengar katanya tadi siang kakak habis diselamatkan oleh hawaki hebat. Letnan Arian cerita dengan penuh semangat lho tentang hawaki itu." Putri Kyra sembari tersenyum melihat ekspresi kakaknya yang terlihat tersipu malu. "Entahlah, aku harap juga tidak ingin memikirkan nya, rasanya aneh tapi nyata." Putri Adeena tersenyum mengambil duduk disisi tempat tidur. "Nah betulkan kau kepikiran dengan dia? Hahaha." ledek Putri Kyra dengan tawa lebarnya. "Huussh seorang putri tidak boleh tertawa seperti itu dik. Mmmm tapi jangan pernah kamu ceritakan kepada bunda Ratu ya tentang hal ini." Putri Adeena memohon "Hahaha tenang kakak, tidak akan aku cerita dengan bunda perkara kakak ku yang sedang dimabuk asmara. Asalkan kakak segera ke ruang makan sekarang. Ayolah, bunda sudah menunggumu Putri Mahkota Adeena." Ajak Putri Kyra sembari tesenyum dan menarik lengan kakaknya. "Aku belum penobatan adik ku. Baiklah adik ku sayang, ayoo kita makan." Putri Adeena segera beranjak dari duduknya untuk menuju ruang makan.       Terang Purnama bersinar di ufuk barat. Semilir angin malam tak enggan memainkan rambut panjang Putri Adeena yang sedang menikmati suara gemericik air mancur dan suara katak yang bersahutan di taman bangsal keputrian setelah makan malam usai. Seperti sebuah pertanda, dengan keyakinan angin menerbangkan rasa rindu terhadap Hawaki yang menolongnya tadi siang. "Areez ... Areez ... Areez Mattea."       Nama itu tak lelah terngiang-ngiang ditelinganya. Pertemuan yang tak disengaja dan heroik itu sangat membekas di hati sang putri. Apalagi saat Areez memarahinya karena terlalu kesal dengan sikapnya yang membahayakan banyak hawanian. Dari sikap marahnya seorang Areez, Putri Adeena bisa merasakan terselip rasa khawatir yang teramat sangat terhadap keselamatannya.        Sementara di sebuah rumah sederhana dipinggir batas kerajaan, terbaring hawaki yang tak bisa memejamkan matanya sedari tadi. Entah rasa apa yang membuat perasaannya gundah malam itu. Areez hanya menghela nafas panjang memikirkan dirinya harus bersiap untuk masuk ke Akademi. Pertentangan dalam hati masih bergulir dalam jiwanya antara akan mengabdikan dirinya pada kerajaan sebagai seorang prajurit atau tetap hidup sederhana tanpa ada aturan ketat yang berlaku.        Dilihatnya Argis telah memejamkan mata sedari tadi. Suara dengkuran yang keras membuatnya tertawa setiap melihat raut muka sahabat karibnya itu. Sahabat yang ia punyai dan satu-satunya, telah ia anggap sebagai saudara sendiri. Pertemuan mereka adalah anugerah yang tak terkira pikir Areez. Betapa masa sulit setelah perang besar memisahkan mereka dari keluarga masing-masing, dan mereka pun bertemu sebagai seorang pencari tanah perlindungan di daratan Aoland. Janji mereka untuk saling membantu apapun yang akan terjadi adalah hal mutlak yang tak akan Areez ingkari sebagai hawaki sejati.        Cita-cita sebagai prajurit adalah cita-cita besar Argis. Menurutnya jika ia bisa menjadi prajurit, peluang untuk mencari keluarganya sangatlah besar. Walaupun ia tahu kemungkinan terburuk apa yang dialami keluarganya. Mantaplah hati Areez untuk menerima tawaran sang Ratu hanya semata-mata untuk membantu sahabatnya itu. Yah sahabat sekaligus keluarga baginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD