AKADEMI KSATRIAN

1514 Words
   Suara kicau burung terdengar saling bersahutan tatkala mentari perlahan menampakan dirinya di ufuk timur. Sinar hangat pagi itu menjadi penyemangat tersendiri bagi kedua hawaki bersahabat. Argis telah bersiap-siap sedari langit masih tampak remang dengan cahaya jingga nya. Hari ini adalah hari keberangkatan mereka menuju Akademi Ksatrian Archadia yang terletak di pusat Kota Raja. Hari yang sangat ia tunggu-tunggu sedari dahulu tentunya.       Sementara Areez masih mengemas pakaian yang diperlukan selama menempuh pendidikan disana. Sebuah pedang peninggalan orang tuanya telah ia sisipkan didalam tas dengan rapi. Suara kuda bersahutan terdengar didepan rumah yang seketika membuat kedua hawaki muda itu saling berpandangan. "Mereka datang." Argis dengan tersenyum lebar "Ayo Areez. Jangan sampai kita ketinggalan." "Pastikan semua barang yang kau perlukan sudah terkemas Gis." Areez mengingatkan kembali sembari heran melihat sahabatnya kegirangan. Tok ... tok ... tok .... pintu rumah mereka diketuk oleh prajurit Archadia berseragam lengkap. Argis bergegas berlari untuk membukakan pintu. "Apakah benar ini rumah hawaki Areez Mattea dan Argis?" tanya prajurit yang berpakaian lengkap berlambang kuda di lengan kirinya. "Iya betul. Saya Argis." "Mana temanmu satu lagi?" tanya prajurit lanjut "Masih sedang bersiap, akan segera saya panggilkan." Argis seraya masuk kedalam memanggil Areez dan membawa barang-barangnya. Areez segera menyusul keluar dan mendekat ke arah prajurit itu. Dilihatnya prajurit yang membawa selembar surat ditangannya segera membuka untuk dibacakan dihadapan calon prajurit baru itu. "Sabda Ratu," Seketika Areez dan Argis berlutut dihadapan prajurit yang tengah membacakan isi surat. "Sabda Yang Mulia Ratu Zaina Hezekiah dari Archadia. Mengutus prajurit Kavaleri Archadia letnan satu kavaleri Roin Reyhan dan letnan satu kavaleri Syahdan Syah untuk menjemput dan mengantar hawaki atas nama Areez Mattea dan Argis Pietro ke Akademi Ksatrian Archadia, agar ditempa menjadi prajurit tangguh dan andalan Archadia." Prajurit berbadan tegap itu kembali melipat gulungan surat tugas nya. "Kami menerima." ucap Areez dan Argis bersamaan. "Baiklah ... ayo segera kita berangkat hawaki muda." Berangkatlah mereka bersama rombongan Kavaleri menuju Akademi Ksatrian.        Memakan waktu satu jam akhirnya mereka sampai di pintu gerbang pusat kota dimana Istana Chena Archadia berada. Suara hiruk pikuk kegiatan, mulai ramai terdengar dari penduduk Kota Raja. Aktivitas berdagang menjadi andalan mata pencaharian penduduk Archadia untuk menopang perekonomian. Setelah melewati gerbang utama perbatasan atau yang biasa disebut sebagai gerbang Pratama, mereka memasuki gerbang kedua yang tak kalah besar dengan gerbang Pratama.       Gerbang besar kedua ini disebut Gerbang Madia. Wilayah ini jauh lebih ramai karena pusat berbagai kegiatan niaga dan pendidikan sipil berada. Setelah melewati daerah kedua, mereka memasuki gerbang pusat atau yang biasa disebut dengan Golden Gate. Dimana di area ini adalah pusat pemerintahan, pusat kantor layanan pemerintah dan pusat markas pertahanan berada disana. Dari kejauhan, Istana besar kerajaan Archadia terlihat menjulang paling tinggi diantara bangunan sekitarnya. Bangunan megah itu berdiri dengan lima lantai diatas tanah berundak. Warna putih dari dinding marmer akan terlihat berkilau dari kejauhan.        Perjalanan berbelok ke arah barat tak jauh dari gedung Departemen Pertahanan yang berbentuk Octagon. Sebuah gapura besar bertulis AKADEMI KSATRIAN ARCHADIA dengan dua buah patung besar prajurit yang memegang Singa menyambut kedatangan mereka dengan gagahnya. Rombongan memasuki gerbang, melewati sebuah lapangan berumput hijau luas dan mengantarkan Areez beserta Argis ke sebuah bangunan yang bertulis HALLA KSATRIA UTAMA. Prajurit yang menjemput kedua hawaki tadi segera menyuruh Areez dan Argis untuk turun memasuki gedung.       Mereka sampai disebuah aula besar dengan beberapa hawaki berpakaian biasa sudah berada di dalam. Dua hawaki bersahabat itu segera membaur dan berbaris didalam rombongan yang berkisar lima puluh hawaki sepantaran mereka. Tidak menunggu lama, beberapa hawaki yang berpakaian militer lengkap memasuki ruangan. Seorang prajurit memberikan komando agar mereka berdiri dalam posisi siap sempurna. Areez melihat seorang hawaki dengan tanda empat bintang emas di bahunya maju keatas podium. Ketegasan dan kewibawaan tersirat jelas diwajahnya. "Selamat pagi!" ucapnya dengan keras "Selamat Pagi!" ucap para taruna hawaki tak kalah keras. "Kalau saya bilang Hei KSATRIA, maka kalian harus jawab dengan bangga KAMI KSATRIA! Kalau saya bilang KSATRIA ARCHADIA kalian harus jawab dengan lebih semangat HIDUP MATI KAMI UNTUKNYA, mengerti kalian?" ucap jenderal itu dengan lantang. "Siap mengerti!" ucap seluruh taruna. "Selamat datang taruna, selamat datang calon Ksatria Archadia masa depan. Saya Jenderal Ivonne kepala Akademi Ksatrian Archadia, menyambut kalian yang dengan suka rela mengabdi kepada bangsa dan kerajaan. Kalian akan dicetak menjadi calon prajurit handal sekaligus calon pemimpin Archadia, jadi manfaatkan sebaik mungkin ilmu yang diajarkan. Ikuti peraturan dengan disiplin, jika ada yang tidak siap saya persilahkan sekarang juga untuk undur diri." Jenderal Ivonne sembari memandang masing-masing wajah taruna baru dihadapannnya. "Apakah ada yang mau mundur?" "Siap TIDAK," ucap seluruh taruna. "Bagus, karena perjalanan kalian di Akademi ini nantinya akan sangat berat. Untuk menjadi prajurit tangguh, tidak ada yang namanya cengeng, tidak ada yang namanya lelah dan tidak ada yang namanya pantang menyerah. Semoga salah satu dari kalian hari ini, bisa membuat bangga kerajaan Archadia dimasa yang akan datang. HEI KSATRIA." ucap Jenderal Ivonne dengan heroik "KAMI KSATRIA," ucap taruna "Ksatria Archadia!!!" ucap Jenderal Ivonne lanjut "HIDUP MATI KAMI UNTUKNYA!" ucap taruna lanjut "Bagus ... selamat belajar dan selamat bergabung menjadi taruna di Akademi Ksatrian ini." Jenderal Ivonne seraya meninggalkan podium dan bergegas keluar ruangan. Sementara Areez dan Argis saling melirik memperhatikan beberapa prajurit berdiskusi dengan memegang beberapa lembar kertas ditangannya. Akhirnya seorang prajurit bertanda melati tiga di bahu dengan lambang naga di lengannya maju ke podium. "Selamat pagi," "Selamat pagi," jawab taruna "Perkenalkan saya Kolonel Eminent Jova, saya sebagai penanggung jawab pendidik teman-teman semua selama masa pendidikan umum dan pembentukan Ksatria disini. Selama tiga bulan teman-teman akan diberikan pendidikan umum tentang kenegaraan, tata kerajaan, politik, militer dasar, geografis, taktik serang dasar dan ilmu pertahanan. Setelah itu teman-teman akan diarahkan sesuai peminatan apakah akan ke Kavaleri, Infanteri Artileri, Archerion, Barakuda atau menjadi prajurit pilihan Eminent." ucapnya sembari mengambil nafas "Wah Eminent, susah rasanya masuk unit Eminent." ucap seseorang yang berdiri disamping Areez. "Memangnya Eminent itu prajurit apa?" tanya Areez polos. "Serius kawan? Kamu tidak tahu prajurit Eminent?" hawaki itu terheran-heran. "Nggak tahu." Areez sambil menggelengkan kepala "Prajurit Eminent adalah prajurit terkuat dan pilihan di Clan Ksatria. Mereka prajurit elit kerajaan." ucapnya dengan semangat "Oooh." ucap Areez dengan biasa saja "Apakah kamu berminat? Oh ya ngomong-ngomong namaku Deera Mahendra." ucapnya mengulurkan tangan sembari tersenyum. "Aku Areez Mattea." Areez menyunggingkan senyum sembari membalas jabatan tangan Deera. "Selamat berkawan sobat," ucap Deera "Yeah selamat berkawan," timpal Areez "Setelah kalian masuk ke peminatan, kalian akan diberikan pendidikan sesuai tugas dan fungsi masing-masing Ksatria selama tiga bulan, dilanjut training selama tiga bulan. Selama masa pendidikan peminatan kalian akan diberikan kakak asuh yang nanti akan diperkenalkan menyusul. Apakah jelas sampai saat ini?" tanya kolonel Jova "Siap jelas," ucap taruna "Baik, kalau begitu saya cukupkan dan silahkan menuju asrama kalian." ucap kolonel jova sembari meninggalkan podium, sementara seluruh taruna diarahkan menuju asrama. &&&&       Asrama taruna di Akademi Ksatrian tergolong lengkap. Fasilitas ruang belajar yang memadai, serta tempat tidur empuk yang berjejer menjadi pemandangan baru. Asrama itu dilengkapi dengan kamar mandi bersama. Disayap kanan asrama ada aula makan, dan disisi kiri ada pusat olahraga. Tempat tidur nomor tujuh belas menjadi tempat tinggal selama tiga bulan kedepan bagi Areez. Sementara nomor enam belas terisi oleh Deera dan nomor delapan belas oleh Argis. Setelah semua taruna merapikan barang bawaan masing-masing tak luput mereka pun saling berkenalan. "Semoga tiga bulan kedepan mangasyikan ya tinggal disini." ucap salah seorang taruna. "Memangnya tidak asyik kah tinggal disini?" tanya Areez. "Hei aku Siera Aldino." ucapnya sambil menjabat tangan Areez. "Aku Areez Mattea, ini Argis Pietro dan Ini Deera Mahendra." ucapnya memperkenalkan teman-temannya. Mereka pun saling berjabat tangan. "Kata hawanian, hidup di asrama Akademi bikin stress dengan segala aturan ketatnya," Siera memulai percakapan. "Aku rasa kalau kita saling mendukung bukankah itu akan terasa menjadi ringan," ucap Argis "Kita semua berharap seperti itu kawan. Halo aku Arsenio." ucap Arsen sambil menjabat tangan. "Aku dengar berita yang sedang ramai dari kemarin, tentang Putri Mahkota yang mendapat serangan kaum Odd. Oleh karena itu pertahanan disisi hutan Larangan semakin diperketat apakah itu benar?" tanya Deera "Oh ya?" Areez tersenyum seolah tidak tahu. "Iya ... omty ku yang bertugas di legiun Infanteri bercerita seperti itu juga. Tetapi katanya Putri Mahkota diselamatkan oleh hawaki yang hebat." Deera menambahkan. Sementara Argis dan Areez hanya tersenyum mendengar cerita dari teman-teman nya itu. "Emang gila si aku pikir. Satu hawaki melawan lima belas hawaki kaum Odd itu terlalu hebat." ucap Siera sembari keheranan. "Sebenarnya mereka tidak berbahaya, hanya saja mereka kelaparan dan tidak diterima oleh semua bangsa makanya mereka nekat berbuat seperti itu untuk bertahan hidup." jelas Areez sambil mengambil duduk di kasurnya. "Logis juga si," ucap Deera "Apapun alasan nya, entah itu untuk bertahan hidup sekalipun, yang namanya membunuh tetap saja tidak dibenarkan." tambah Siera. "Taruna!" teriak seorang prajurit yang tiba-tiba masuk ke kamar dan seketika membuat semua taruna berdiri. "Siap." ucap seluruh prajurit penghuni asrama A. "Sudah selesai merapikan kamar dan barang bawaan masing-masing? Setelah ini kalian silahkan ke luar asrama untuk dilakukan pemotongan rambut." ucap prajurit itu kemudian bergegas meninggalkan asrama. Sementara semua taruna hanya saling memandang kaget. "Ooh tidak, kenapa harus potong rambut segala si?" Siera menyayangkan jika gaya rambutnya yang sekarang harus diganti. "Sudahlah terima nasib saja." ucap Argis sambil tersenyum seraya keluar asrama diikuti oleh semua taruna untuk pemotongan rambut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD