LEGIUN EMINENT

1212 Words
  Sebuah kendaraan dinas menjemput Areez dan Jodie di Bangsal Taruna Eminent untuk mengantarnya menuju Markas Besar Legiun Eminent. Setelah semua koper yang dimasukan kedalam mobil dipastikan tidak ada yang tertinggal, mereka segera berangkat menuju OCTAGON yang merupakan sebutan untuk gedung Markas Besar Legiun Pasukan Naga itu.        Tak memerlukan waktu lama, mobil telah tiba di halaman Markas Besar dengan dua patung Naga emas menyambut mereka. Segera mereka turun menuju ke dalam gedung berlantai tiga itu untuk pelaporan administrasi. Mereka duduk diruang utama sembari menunggu petugas administrasi selesai mereview berkas mereka. "Kolonel Areez, Mayor Jodie, diperkenankan untuk masuk ke ruang Jenderal Muda segera," ucap prajurit berpangkat Korporal Pertama. "Baiklah," ucap Areez dan Jodie bersamaan. "Ada apa Jenderal Muda memanggil kita?" tanya Jodie penasaran "Entahlah, sebaiknya segera saja kita kesana agar segera tahu apa yang akan terjadi." Areez tak ingin larut dengan rasa penasarannya sendiri. Mereka menaiki tangga menuju lantai tiga, tempat Jenderal Muda Eminent berada. Tok ... tok ... tok ..... Areez mengetuk pintu kayu besar yang berada dihadapannya. "Masuk." Areez dan Jodie segera masuk dan terlihat Jenderal Muda Eminent sedang duduk dikursinya, menyelesaikan beberapa berkas yang perlu ditanda tangani. "Jenderal." Areez dan Jodie bersamaan memberikan hormat. "Ya silahkan duduk kalian," perintah Jenderal Muda Imada. Sementara Areez dan Jodie mengambil duduk. "Jenderal memanggil kami?" tanya Areez memulai pembicaraan. "Benar Areez, aku sengaja memanggil kalian. Banyak rekomendasi dan permintaan dari beberapa Departemen baik Eminent maupun Kementerian Pertahanan untuk meminta kalian bergabung. Jujur saja saya bingung untuk menempatkan kalian dimana kalau begini caranya. Oleh karena itu aku panggil kalian kemari agar kalian bisa menentukan sendiri, kalian ingin ditempatkan di Departemen mana." jelas Jenderal Muda Imada. Jenderal berbintang empat itu tampak pusing sambil menyerahkan daftar Departemen yang meminta Areez dan Jodie untuk bergabung. Melihat daftar nama-nama Departemen yang panjang, Areez dan Jodie hanya saling berpandangan. "Maaf Jenderal. Selama pendidikan, secara pribadi saya telah berfokus di Legiun Eminent. Alangkah lebih baik jika kami ditempatkan di Departmen dibawah Legiun Eminent saja jenderal," ucap Areez "Saya pun setuju demikian Jenderal. Kami telah ditempa untuk menjadi seorang Eminent. Jika kami ditempatkan diluar Eminent, kami takut kemampuan kami tidak terasah setiap hari." Jodie menambahkan. "Kalian makin bikin saya pusing saja. Aku rasa kalian bagaikan sepasang panah. Jodie kau sebagai busurnya dan Areez kau sebagai anak panahnya, harus selalu bersama. Baiklah, kalian akan aku tempatkan di Departement Khusus Anti Teror Eminent. Ini surat tugas kalian. Areez sebagai Komandan Utama Pasukan Khusus Anti Teror dan Jodie kau sebagai Wakil Komandan Utama Pasukan Khusus Anti Teror. Kalian bertanggung jawab langsung kepada Kepala Departemen Anti Teror Eminent, Brigadir Jenderal Eminent Ervar. Mengerti?" tanya Jenderal Muda Imada. "Siap mengerti jenderal." ucap Areez dan Jodie bersamaan dengan senyum terkembang di bibirnya. "Baiklah nanti staf khusus akan mengantar kalian ke Pusat Ksatrian Eminent, sekarang kalian boleh meninggalkan ruangan saya," ucap Jenderal Muda Imada. Setelah memberikan hormat, Areez dan Jodie meninggalkan ruangan dan segera menuju mobil penjemput mereka.       Markas Besar Legiun Eminent sangat luas sekali. Sebagai pusat pertahanan Legiun Eminent, semua fasilitas telah tersedia lengkap disana. Setelah melewati gedung utama Departement Anti Teror yang berlantai tiga, mobil membawa Areez dan Jodie ke sebuah rumah dinas tak jauh dari gedung Pusat Anti Teror.        Rumah dinas khusus Pasukan Anti Teror Eminent terletak disisi barat gedung utama Department Anti Teror. Graha Utama Ksatrian Eminent Anti Teror tertulis megah di pintu gerbang yang melengkung. Ditengahnya berdiri patung prajurit dengan memegang bola dunia berwarna emas yang mengartikan pasukan anti teror diharapkan menjadi pasukan penjaga perdamaian dunia.        Mobil memasuki jejeran rumah bertingkat dua yang sangat luas. Sampai akhirnya mobil berhenti pada rumah bernomor tujuh belas dan delapan belas. Entah kenapa dari masa menjadi taruna, Areez selalu mendapatkan angka tujuh belas. Mungkin itu nomor keberuntungan pikirnya. Dua orang prajurit berpangkat Letnan Satu menghampiri Areez setelah turun dari mobil. Begitupun dengan Jodie telah disambut oleh seorang Letnan Dua di rumahnya. Mereka memberikan penghormatan kepada Areez dan Jodie bersamaan. Setelah Areez dan Jodie membalas hormat, mereka pun segera memperkenalkan diri. "Selamat datang Kolonel Areez Mattea dan Mayor Jodie Azzan, perkenalkan saya Letnan Satu Davee sebagai ajudan khusus Kolonel Areez." Lettu Davee memperkenalkan diri dengan tersenyum. "Dan perkenalkan saya Letnan Dua Deva, sebagai ajudan khusus Mayor Jodie." ucap Letda Deva "Wow terimakasih, senang berkenalan dan mendapat teman seperti kalian. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik dalam pelayanan kepada Kerajaan," ucap Areez "Seharusnya kami yang berterimakasih karena telah diberi kesempatan menjadi ajudan khusus salah satu hawaki hebat yang dimiliki Legiun Eminent." ucap Letda Deva yang telah mengetahui sepak terjang Areez dan Jodie. "Ahh tidak usah terlalu berlebihan seperti itu. Kita semua sama sebagai pelayan Kerajaan," Ucap Mayor Jodie "Kawan sepertinya kita harus berpisah sejenak untuk beristirahat di rumah masing-masing sekarang." ucap Areez yang sudah merasakan letih di badannya. "Yah benar kawan, sampai jumpa besok di kantor," ucap Jodie. Dan akhirnya mereka memisahkan diri. "Maaf komandan, izinkan saya menjelaskan tugas dan tanggung jawab saya disini. Segala administrasi akan saya urus Kolonel. Pada dasarnya saya siap mengabdikan seluruh hidup saya untuk komandan, legiun dan kerajaan. Jadi komandan tidak usah merasa sungkan jika memerlukan apa-apa." Jelas Lettu Davee "Terimakasih kawan, prinsip saya bekerja itu serius tapi santai. Sekarang kau boleh istirahat." ucap Areez sambil menepuk bahu Lettu Davee. "Komandan, rumah ini diberi sepuluh prajurit khusus untuk pengamanan. Mereka akan berjaga bergiliran setiap hari. Saya siap 24 jam disini komandan. Dan pengurus rumah sudah disiapkan berjumlah delapan hawanian. Dua juru masak, dua juru taman, dua juru kebersihan, dan dua juru mudi," jelas lettu Davee "Wow ramai juga ya, baiklah Letnan saya akan membersihkan diri terlebih dahulu kalau seperti itu. Selamat sore," ucap Areez "Selamat sore komandan, selamat beristirahat," ucap Lettu Davee &&&&         Keseharian sebagai komandan utama pasukan anti teror membuat Areez sedikit lebih sibuk. Segala urusan luar daerah dan dalam menjadi makanan sehari-harinya. Pelatihan secara hard skill dan soft skill terus dilakukan. Pengembangan ilmu anti teror dan taktik Aggashe yang Areez canangkan mulai di aplikasikan dalam latihan rutin semua legiun. Undangan pelatihan pun selalu bergulir setiap hari. Beberapa usaha p*********n yang diterima oleh kerajaan Archadia dari kerajaan-kerajaan kecil disekitar berhasil ditumpas oleh tim anti teror.       Pembersihan kaum Odd di sekitar hutan Larangan pun akhirnya terlaksana dengan hasil banyak dari kaum Odd yang tertangkap atau bahkan terbunuh sehingga hutan Larangan diakuisisi sepenuhnya oleh kerajaan Archadia. Warga Archadia bisa menikmati danau Hollyspears dengan aman tanpa merasa takut akan gangguan atau serangan dari kaum Odd. Kondisi kerajaan sekarang jauh lebih aman dengan dibasminya para perompak dan pengacau yang suka membuat kerusuhan dan keonaran. Perlengkapan persenjataan pasukan anti teror terus diperbaharui dari ide emas Jodie yang memang mahir dalam teknologi anti teror.        Berbagai penghargaan dan pujian mengalir kepada kepemimpinan Areez dalam memperkuat pertahanan kerajaan. Selama satu tahun masa kepemimpinan Areez di Department Anti Teror Eminent banyak membawa perubahan keamanan yang meningkat begitu pesat. Dia pun mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Brigadir Jenderal Eminent dan mengepalai Department Anti Teror Legiun Eminent. Sedangkan Jodie mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Kolonel dan menjadi komandan utama pasukan anti teror Legiun Eminent.       Satu tahun berfokus dalam profesinya tak terasa nama Putri Mahkota Adeena perlahan menghilang dari pikirannya. Bukan menghilang tapi lebih tepatnya tidak terlalu memikirkan perasaan tidak jelasnya kepada Putri Mahkota. Selama satu tahun mereka tidak pernah bertemu kembali karena seringnya dinas luar daerah yang Areez lakukan. Upacara kenegaraan pun jarang ia hadiri, bagi hawaki muda itu hidupnya sekarang kini hanya untuk Legiun Eminent dan kerajaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD