"Terima kasih," ujar David tulus. Matanya menatap mata coklat Zira. Membuat kedua netra yang berbeda warna itu saling bertabrakan. David menelan salivanya kuat. Mata bulat Zira dengan bulu mata lentik karena pencapit bulu mata dan maskara itu seakan menghipnotisnya. Ada geleenyar aneh dalam diri David yang muncul. Dadanya yang sempat terasa sesak, kini perlahan mulai melonggar dan terasa lebih hangat. "Untuk?" Mata David sontak berkedip. Lelaki itu buru-buru mengalihkan pandangannya ke depan. "Hari ini." "Alah! Biasanya juga apa-apa saya yang bantu, Pak! Kaya gini aja baru bilang makasih," celetuk Zira. David yang awalnya merasa senang perlahan merubah raut wajahnya. Tangannya yang semula terkepal karena emosi itu perlahan terkepal larena kesal. Memang tidak ada untungnya bicara denga

