“Sayang, kita lusa harus berangkat ke Swiss,” ucap Amar pada Exelin yang masih tertidur pulas. Amar sedikit heran dengan tingkah istrinya yang beberapa hari ini terlihat sangat aneh. Amar membangunkan Exelin dengan ciuman bertubi-tubi di wajah cantik Exelin. Exelin mau tidak mau terbangun dari tidurnya. Exelin mengerutkan dahi saat melihat sang suami sudah terlihat sangat rapi dan wangi.
“Mau kemana pagi-pagi gini, Sayang?” tanya Exelin pada Amar. Amar tersenyum mendengar perkataan sang istri yang mengira kalau masih pagi.
“Ini sudah siang sayang. Itu lihat jamnya sudah jam sebelas siang,” ucap Amar sambil mengacak-acak rambut istrinya karena gemas. Exelin menutup mulutnya saat dia menatap jam yang angkanya sudah menunjukkan angka sebelas siang. Exelin langsung bergegas untuk bangun dari tidurnya. Amar yang melihatnya geleng-geleng kepala.
Amar keluar dari kamarnya saat sang istri sedang mandi. Amar berjalan menuju ke dapur untuk membuatkan sandwich dan segelas coklat panas untuk sarapan Exelin. Beberapa hari belakangan Exelin selalu menginginkan sarapan yang dia buat. Meskipun Amar sedang sibuk, Amar pasti menyempatkan waktu untuk menuruti apa yang diinginkan sang istri.
Tiba-tiba ponsel Amar bergetar. Saat melihat siapa yang menghubunginya, Amar langsung mengangkatnya.
“Ada ap, Dam?” tanya Amar.
“Bos, semua persiapan keberangkatan anda dan Nona untuk ke Swiss sudah siap,” ucap Adam.
“Kerja yang bagus,” ucap Amar menutup panggilannya. Amar berjalan menuju meja makan sambil membawa sarapan untuk sang istri.
“Sayang.” Terdengar suara Exelin yang sedang mencari keberadaan Amar. Amar menghampiri Exelin sambil menyunggingkan senyum.
Amar menatap Exelin penuh cinta. Dengan pilihan baju yang pas, Exelin terlihat sangat cantik meskipun tanpa polesan di wajah cantiknya.
“Kamu terlihat sangat cantik, Sayang. Semakin membuatku terpesona,” ucap Amar dengan jujur. Pipi Exelin bersemu merah mendengar pujian yang keluar dari mulut sang suami. Amar tersenyum saat melihat Exelin salah tingkah karena mendengar pujian darinya.
“Kamu juga terlihat sangat tampan hari ini,” puji Exelin. Amar mencium puncak kepala Exelin. Dia sangat bahagia dengan kehangatan hubungannya saat ini dengan Exelin.
“Sarapan dulu, Sayang. Barusan aku bikinin sandwich dan coklat panas!” ucap Amar pada Exelin. Exelin menggandeng tangan Amar menuju ke meja makan. Amar dan Exelin duduk bersebelahan.
E saat menatap s**u coklat yang ada di depannya tiba-tiba perutnya terasa mual.
Hoeek...Hoeek
Exelin langsung berlari menuju ke kamar mandi sambil menutup mulutnya. Amar yang melihat sang istri tiba-tiba muntah, dia ikutan panik dan menyusul sang istri menuju ke kamar mandi.
Perut Exelin terasa mual dan kepalanya terasa pusing. Amar benar-benar panik melihat Exelin terlihat sangat lemas setelah muntah. Amar memijat tengkuk Exelin.
“Sayang, kita periksa kedokter sekarang! Aku tidak ingin sampai kamu sakit,” ajak Amar pada Exelin. Exelin menganggukkan kepala tanda dia mensetujui ajakan Amar. Amar tanpa menunggu lama, Amar langsung menggendong tubuh Exelin untuk dia bawa periksa ke dokter.
*****
Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, Amar dan Exelin sampai di rumah sakit. Amar langsung menuju ke ruang UGD dengan raut wajah cemas. A
Exelin merasa terharu melihat Amar yang terlihat mencemaskannya.
“Aku baik-baik saja. Jangan mencemaskanku,” ucap Exelin.
“Aku takut terjadi apa-apa denganmu,” ucap Amar.
“Apa bisa di bantu, Pak?” ucap seorang perawat rumah sakit.
“Istri saya tadi muntah sama pusing,” ujar Amar kepada seorang perawat yang bertanya padanya.
“Anda baringkan dulu istri anda di sana pak!” ucap perawat sambil menunjuk brankar rumah sakit. Amar langsung meletakkan Exelin ke tempat tidur rumah sakit. Amar tidak mau melepaskan tangannya dari tangan Exelin. Semua pasang mata di ruang UGD pada menatap iri dengan kemesraan Amar dan Exelin.
“Tenang, Sayang. Aku baik-baik saja. Jangan cemas seperti itu,” ucap Exelin menenangkan Amar. Amar tetap saja cemas melihat Exelin. Meskipun Exelin sudah menenangkan dirinya.
“Apa bapak bisa melepaskan genggaman tangan bapak pada istri bapak? Karena saya mau memeriksa istri bapak,” ucap salah satu perawat. Akhirnya mau tidak mau Amar melepaskan genggaman tangannya pada Exelin untuk di periksa oleh salah satu perawat tersebut. Setelah perawat memeriksa Exelin, perawat yang tadi memeriksa Exelin mengajak Amar untuk berbicara.
“Pak, Setelah ini istri bapak anda bawa ke ruang Spesialis kandungan. Saya akan memberikan surat pengantarnya,” ucap perawat tersebut. Amar bertanya-tanya dalam benaknya. Kenapa dia harus membawa sang istri untuk ke spesialis kandungan? Apa terjadi sesuatu dengan Exelin?
“Apa terjadi sesuatu dengan Exelin? Sampai-sampai Exelin harus di bawa ke spesialis kandungan?” batin Amar.
Amar menerima surat pengantar yang di berikan perawat tersebut dan dia membawa Exelin menuju ke ruang spesialis kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Saat sudah sampai di depan ruang spesialis kandungan, Amar memberikan surat pengantar tadi ke salah satu perawat yang berada di depan ruang spesialis kandungan. tidak berselang lama nama Exelin di panggil untuk masuk ke dalam untuk di periksa. Entah kenapa merasa gugup saat namanya di panggil. Exelin memegang tangan Amar dengan erat.
Exelin berjalan berdampingan bersama Amar. Saat mereka berdua masuk ke dalam ruangan, Amar dan Exelin langsung di sambut oleh seorang dokter spesialis kandungan.
“Selamat datang Tuan dan Nyonya Pradipta. Silahkan duduk,” ucap sang dokter sambil tersenyum ke arah Exelin dan Amar. Exelin dan Amar duduk berhadapan dengan dokter spesialis kandungan yang bernama Dokter Angela. Seorang dokter spesialis kandungan wanita yang terlihat masih muda.
“Setelah saya membaca diagnosa anda Nyonya Pradipta, untuk memastikannya saya akan melakukan pemeriksaan USG. Silahkan anda berbaring terlebih dahulu di sana,” ucap Dokter Angela sambil menunjuk sebuah ranjang rumah sakit. Exelin berjalan ke ranjang rumah sakit yang di tunjuk dokter Angela. Exelin berbaring di atas tepat tidur. Menatap sebuah layar yang tersambung dengan mesin USG yang ada di sebelahnya. Dokter Angela membuka area perut Exelin dan menempelkan sebuah alat yang sudah di beri jelly di atasnya. Exelin dan Amar menatap sebuah layar yang sudah di nyalakan oleh dokter Angela. Dokter Angela mulai memeriksa Exelin. Terlihat jelas gambar rahim Exelin di layar. Dokter Angela menjelaskan kalau di rahim Exelin sekarang tumbuh sebuah janin yang sudah berumur 12 minggu. Exelin dan Amar tidak bisa menutupi kebahagiaannya. Tak terasa air mata Amar menetes. Apa yang dia harapkan selama ini di kabulkan oleh Tuhan. Dokter Angela memberikan sebuah foto janin Exedan Amar kepada Amar. Amar menerimanya dengan tangan bergetar.
“Selamat atas kehamilan istri anda. Anda akan menjadi seorang ayah,” ucap dokter Angela dengan tersenyum hangat.
“Terima kasih banyak dokter,” ucap Amar dengan perasaan yang sangat bahagia. Wanita yang sangat di cintainya sekarang sedang mengandung anaknya.