Part 22

1078 Words
Kebahagiaan yang di rasakan Amar saat ini tidak bisa di ungkapkan. Dia sangat bahagia saat mendengar istrinya sedang mengandung darah dagingnya. Hal terkonyol setelah dia mendengar kalau dia akan menjadi seorang ayah adalah adalah perilakunya sekarang kepada sang istri. Amar tidak memperbolehkan Exelin melakukan apa pun saat di resort. Mulai dari memasak sampai membersihkan kamar Amar sendiri yang melakukannya. “Sayang, sudah! Aku ini hamil, bukan orang lumpuh yang harus berdiam diri tidak melakukan apa-apa,” ucap Exelin pada Amar dengan lembut. “Aku kan cuma tidak ingin sampai kamu capek, Sayang. Cuma itu saja,” ucap Amar. Exelin berdiri dari duduknya dan berdiri di hadapan Amar. Exelin mengalungkan tangannya di leher Amar. Menatap mata Amar dengan penuh cinta. Exelin mencium bibir Amar. Melumat dan mencecap bibir Amar. Amar yang terbuai dengan ciuman Exelin, dia langsung membalasnya. Ciuman panjang yang saling menuntut lebih. Amar mengangkat tubuh Exelin masuk ke dalam kamar tidurnya. Dia rebahkan tubuh Axelina dengan pelan di atas ranjang. Amar menatap mata istrinya yang sudah mulai berkabut karena hasrat ingin di puaskan. Amar mulai melucuti satu persatu pakaiannya dan pakaian Exelin. Amar tersenyum simpul saat melihat Exelin berpose menggoda di atas ranjang sambil mengedipkan matanya. Amar mulai menciumi setiap incih tubuh Exelin dan berhenti di dua gundukan kenyal yang terlihat menantang. Amar baru menyadari kalau kedua d**a Exelin ada perubahan semakin besar dan berisi. Dan untuk perut Exelin pun sekarang terlihat sedikit membuncit. Semakin terlihat seksi di mata Amar. Amar mulai meremas kedua gundukan kenyal favoritnya itu. Sambil mengulum puncaknya saling bergantian. Desahan keluar dari mulut Exelin. “Mulutmu begitu nakal, Sayang,” ucap Exelin di sela-sela desahannya. Permainan lidah Amar benar-benar membuat Exelin menggila. Amar memberi banyak tanda kepemilikan. Mulai area leher sampai kedua buah d**a milik Exelin. Amar dan Exelin saling menikmati permainan mereka berdua. Permainan panas yang saling mencurahkan cinta dan kasih sayang mereka berdua. Saling memuaskan satu sama lain. Peluh keringat bercucuran setelah bercinta menjadi saksi bisu keintiman mereka berdua. “Aku mencintaimu, Sayang,” bisik Amar di telinga Exelin. “Aku juga sangat mencintaimu, Sayang,” ucap Exelin sambil tersenyum hangat pada Amar yang masih mengungkung tubuhnya. “Nanti sore kita akan berangkat ke Swiss,” ucap Amar. “Baiklah,” ucap Exelin. Amar merebahkan tubuhnya di samping Exelin. Amar merengkuh tubuh Exelin ke dalam pelukannya. “Istirahatlah sekarang! Supaya nanti tidak capek,” ucap Amar dengan lembut. Amar mencium puncak kepala Exelin. Exelin merasa nyaman berada di dalam pelukan Amar. ***** Sore pun tiba. Exelin dan Amar bersiap-siap untuk menuju ke bandara. Exelin benar-benar mempersiapkannya dengan teliti barang-barang yang harus dia bawa untuk ke Swiss. “Kita berangkat, Sayang,” ucap Amar pada Exelin. Amar menggenggam tangan Exelin. Berjalan berdampingan menuju mobil yang akan membawa mereka menuju ke landasan pribadi milik Amar. Di perjalanan, Amar tidak pernah melepas tatapan matanya kepada sang istri. “Selalu terlihat cantik,” puji Amar pada Exelin. “Karena aku bahagia. Mangkanya aku terlihat cantik. Terlebih lagi ada suami yang sangat mencitaiku,” ucap Exelin sambil menatap mata Amar. Amar yang mendengar perkataan Exelin, hatinya terasa menghangat. Kata-kata yang paling Amar rindukan setiap dia harus berjauhan dengan sang istri karena sebuah pekerjaan. “Terima kasih sayang untuk semuanya,” ucap Amar dengan tulus. “Sama-sama, Sayang,” jawab Exelin. Perjalanan menuju landasan pribadi Amar tidak memakan waktu yang terlalu lama. Jarak antara landasan dan resort milik Amar hanya berjarak satu kilo meter. Mobil pun berhenti di dekat pesawat jet pribadi milik Amar. Terlihat Adam sudah menunggu kedatangan mereka berdua. Amar keluar lebih dulu dari mobil dan menghampiri sang istri yang mau keluar dari dalam mobil. Amar merengkuh tubuh Exelin. Dia tidak ingin sampai istrinya merasa kecapekan. Semenjak Exelin hamil, Amar sering membaca artikel-artikel tentang ibu hamil. Dari apa yang tidak di sukai ibu hamil sampai hal-hal yang membuat mood ibu hamil bagus pun Amar juga membacanya. “Hati-hati, Sayang,” ucap Amar pada Exelin. “Iya, Sayang,” jawab Exelin dengan tersenyum hangat pada Amar. Adam yang melihat keintiman Amar dan Exelin ikut merasa bahagia. “Akhirnya, ada juga yang bisa menjinakkan si Bos,” batin Adam. “Selamat sore, Bos, Nona,” sapa Adam dengan sopan. “Sore, Dam,” ucap Exelin sambil tersenyum ramah. Amar berjalan berdampingan bersama Amar menaiki tangga menuju ke dalam jet pribadi milik Amar. Exelin teringat bagaimana hubungannya Exelin dan Amar dulu saat pertama baru menikah. Amar memegang tangan Exelin dengan erat. Dia tahu apa yang sedang di rasakan istrinya saat ini. “Maaf,” ucap Amar penuh rasa bersalah. Exelin menatap wajah bersalah sang suami. “Aku sudah melupakannya,” ucap Exelin dengan memperlihatkan senyum di wajah cantiknya. Amar benar-benar merasa bersalah karena sudah menorehkan luka di hati istrinya. Luka yang tidak termaafkan. Kalau teringat saat-saat itu. Amar merasa dirinya tidak jauh berbeda dengan seorang binatang. Begitu jahatnya dia memperlakukan sang istri yang tidak berperi kemanusiaan. Amar duduk dalam diam. Menatap keluar jendela pesawat dengan banyak pikiran di benaknya. Exelin yang melihat sang suami diam saja ikut merasa bersalah. Karena tidak seharusnya dia teringat kejadian yang dulu suaminya pernah lakukan pada dirinya. “Aku sudah memaafkanmu, Sayang. Aku tidak apa-apa. Malah di pikiranku sekarang aku membayangkan bagaimana bahagianya keluarga kecil kita saat anak kita nanti lahir. Kamu menjadi ayah yang hebat dan aku menjadi ibu yang hebat,” ucap Exelin dengan tersenyum hangat kepada Amar yang terlihat bersalah. Amar menatap dalam mata Exelin. Mata yang meneduhkan penuh dengan cinta yang terpancar. “Terima kasih Tuhan engkau mempertemukanku dengan wanita terbaik yang ada di sampingku saat ini. Meskipun awal pernikahan kami kurang baik. Dia perempuan terbaik yang aku miliki dalam hidupku untuk saat ini. Aku berharang engkau selalu menjaga cinta di hati kami berdua, Tuhan,” ucap Amar dalam hati. “Sayang, aku pingin tidur,” ucap Exelin dengan manja. Amar tersenyum melihat istrinya yang sedang merajuk. Amar berdiri dari duduknya dan mengajak Exelin menuju kamar pribadi miliknya yang ada di pesawat jet pribadinya. Exelin membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Entah karena bawahan bayi, Exelin sekarang sering terasa capek badannya. Amar membuka baju yang menutupi perut Exelin yang terlihat sedikit membuncit. Amar mencium perut Exelin dan megajak bicara anaknya yang masih ada di dalam kandungan. “Hai sayang papa, bagaimana kabarmu di dalam perut mama? Papa berharap kamu selalu sehat ya nak. Papa sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu. Papa ingin melihatmu berada di samping mama dan papa. Papa sayang banget sama kamu nak,” ucap Amar penuh rasa sayang. Exelin yang melihatnya ikut terharu. Dia tidak menyangka kalau suaminya seperti itu ke anak yang sedang dia kandung. Exelin mengusap rambut Amar penuh sayang. “Aku mencintaimu, sayang,” ucap Exelin dengan jujur. “Aku juga mencintaimu, sayang. Rasa cintaku melebihi nyawaku sendiri,” ucap Amar pada Exelin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD