Umur kehamilan Exelin sudah menginjak empat bulan. Amar semakin membatasi ruang gerak Exelin. Sampai-sampai Amar di Swiss membeli rumah baru dengan teknologi yang sangat canggih. Mulai dari lift yang menghubungkan kamarnya dengan lantai dasar dan keamanan rumah yang tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam rumahnya.
“Sayang, sini dulu,” panggil Amar kepada istrinya yang sedang melihat-lihat belanjaan yang barusan dia beli.
“Iya, Sayang,” jawab Exelin sambil menghampiri Amar yang duduk di sofa panjang yang ada di kamarnya. Exelin duduk di samping Amar.
“Apa ada masalah serius, Sayang?” tanya Exelin.
“Tidak, Sayang. Aku cuma ingin mengatakan hal yang perlu kamu ketahui,” ucap Amar. Amar mau tidak mau akan memberi tahu istrinya tentang keluarganya. Lebih tepatnya tentang Rio.
“Katakan saja. Ada apa sebenarnya? Jangan membuatku penasaran,” ucap Exelin.
“Rio adalah saudara laki-lakimu. Anak pertama dari Tuan Alexander dan Ibu Elena,” ucap Amar. Amar menatap Exelin dengan tatapan ingin tahu bagaimana reaksi istrinya setelah mengetahui sebuah kebenaran.
“Jangan bercanda. Aku tidak mempunyai kakak laki-laki. Aku adalah anak tunggal,” ucap Exelin tidak percaya akan perkataan sang suami.
“Ceritanya panjang, Sayang. Nanti tanyakan saja sendiri kepada kedua orang tua kamu. Biar mereka berdua yang menjelaskannya padamu. Sudah saatnya aku mempertemukanmu dengan ibu dan Rio,” ucap Amar.
“Maksud kamu, Sayang?” tanya Exelin tidak paham akan yang di katakan oleh sang suami padanya.
“Jadi begini, saat aku membawa kamu pergi dari hotel tempat kita resepsi dulu, Rio marah dan mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari kamu dan mencari informasi tentang keluarga kamu. Terus Jonathan memberikan foto ibu yang masih di rawat di rumah sakit. Saat Rio pertama kali melihat foto ibu, Rio teringat foto yang ada di ruang kerja ayahnya. Rio mendatangi ayahnya untuk menanyakan foto yang dia dapat dan foto yang ada di ruang kerja sang ayah yang sama. Dari situ terungkap sebuah kebenaran kalau kalian berdua itu bersaudara. Ayahmu dan Rio mencari keberadaan kita. Karena aku tahu alasan pencarian mereka untuk membawamu pergi meninggalkanku, aku mengelabuhi mereka selama ini. Sampai akhirnya aku merencanakan pertemuan dengan Rio. Awal mulanya dia marah dan ingin membunuhku. Tapi setelah aku memberitahunya kalau kita sekarang saling mencintai dan kamu sekarang sedang mengandung anakku, Akhirnya dia sedikit melunak dari emosinya. Setelah kami mengobrol panjang lebar, akhirnya aku berjanji untuk mempertemukan kamu dengan Rio,” jelas Amar pada Exelin.
“Apa itu memang benar, Sayang?” tanya Exelin memastikan perkataan yang barusan suaminya katakan kepadanya tentang kebenaran dirinya dan Rio.
“Buat apa aku berbohong, Sayang? Tidak ada untungnya juga aku membohongi istriku sendiri,” ucap Amar. Exelin berkaca-kaca. Dia tidak menduga kalau dirinya mempunyai seorang kakak. Amar yang melihat istrinya berkaca-kaca, Amar merengkuh tubuh istrinya kedalam pelukannya.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Exelin dengan tulus. Exelin mempunyai banyak pertanyaan di benaknya. Mulai dari kebenaran Rio sebagai kakaknya. Cerita rumit tentang kedua orang tuanya. Semua begitu membingungkan untuk diterima Exelin.
Amar mencium puncak kepala sang istri penuh rasa sayang. Amar sungguh bersyukur mempunyai Exelin di dalam hidupnya. Menjadi pelengkap untuk dirinya.
“Mama dan papa sekarang perjalanan kesini,” ucap Amar sambil tersenyum hangat. Exelin yang mendengarnya langsung membelalakkan mata. Karena dia belum memasak apapun untuk menjamu kedua mertuanya datang.
“Jangan bercanda! Aku belum memasak apapun untuk mama dan papa,” ucap Exelin.
“Tenang saja, Sayang. Aku sudah menyuruh Adam untuk memesan makanan,” ucap Amar dengan santai. Exelin yang mendengarnya merasa tidak suka.
“Jangan ngambek, Sayang,” rayu Amar pada istrinya yang terlihat kesal.
“Memangnya aku tidak bisa masak? Sampai-sampai harus memesan makanan di luar,” ucap Exelin dengan ketus. Amar menghela nafas melihat istrinya yang marah karenanya. Padahal dia niatnya baik. Dia tidak ingin sampai istrinya capek karena masak untuk kedua orang tuanya yang datang menjenguk.
“Bukan seperti itu, Sayang. Aku cuma tidak ingin sampai kamu capek masak. Kasihan nanti anak kita kalau kamunya capek,” ucap Amar dengan lembut. Exelin yang mendengar penjelasan Amar mau tidak mau menurunkan emosinya. Exelin menatap mata sang suami yang menyiratkan cinta dan ketulusan untuknya.
“Maafkan aku, Sayang,” ucap Exelin merasa bersalah. Amar mengarahkan telunjuknya ke bibir Exelin.
“Kenapa harus minta maaf. Tidak ada yang salah sama sekali. Aku seharusnya yang minta maaf karena tidak memberitahu kalau papa dan mama mau datang kesini,” ucap Amar. Amar tidak ingin sampai istrinya merasa bersalah kepadanya. Lebih baik Amar yang merasa salah demi melihat istrinya tetap tersenyum untuknya.
“Sekarang, dandan yang cantik. Pakai baju yang tadi aku belikan, Sayang,” ucap Amar dengan lembut. Exelin ikut tersenyum.
“Kalau dandan cantik takutnya nanti dikira badut,” ucap Exelin.
Semenjak hamil, Exelin tidak terlalu percaya diri. Karena bentuk badannya sekarang yang terlihat berisi. Padahal di mata Amar Exelin tetap sama. Cantik dan seksi.
“Siapa yang bilang istriku seperti badut? Minta berurusan dengan Amar Pradipta,” ucap Amar sungguh-sungguh.
“Tidak ada yang bilang seperti itu, Sayang. Aku saja yang kurang percaya diri untuk saat ini,” ucap Exelin pada Amar. Amar menangkup wajah Exelin dengan kedua tangannya. Menatap dalam mata istrinya penuh cinta.
“Aku tidak peduli dengan bentuk tubuhmu yang semakin berisi. Di mataku tetap sama. Istriku tetap wanita paling cantik yang pernah aku temui. Ibu untuk anak-anakku. Wanita terbaik yang di kirimkan Tuhan untukku. Masa bodoh orang bilang apa. Yang terpenting di mataku tetap sama,” ucap Amar sambil tersenyum hangat pada Exelin. Hati Exelin menghangat mendengar perkataan Amar kepadanya. Exelin tidak menyangka kalau suaminya mencintai dirinya sedalam itu. Menjadikan dirinya penting untuk hidupnya.
Exelin memeluk suaminya. Membenamkan kepalanya pada d**a bidang sang suami. Amar mencium puncak kepala Exelin.
“Aku bersyukur memilikimu, Sayang,” ucap Exelin dengan jujur.
“Aku juga beruntung memilikimu, Sayang,” ucap Amar balik. Amar mengajak Exelin melihat baju yang tadi dia beli saat pulang dari perusahaan tadi.
“Aku ingin melihat langsung baju yang aku beli tadi di tubuh seksimu,” goda Amar pada sang istri.
“Kalau nanti aku setelah melahirkan tubuhku tidak bisa kembali seperti awal gimana?” tanya Exelin.
“Tidak masalah buatku, Sayang,” ucap Amar dengan santai. Amar ingin tertawa mendengar perkataan sang istri yang dari tadi terdengar ngaco.
“Kamu pasti bohong, Sayang,” ucap Exelin tidak percaya. Suaminya seorang pengusaha yang sukses dan tampan. Dia pasti di kelilingi wanita-wanita seksi dan cantik. Membayangkannya saja hati Exelin terasa sakit. Dia tidak ingin kalau sampai sang suami beralih hati pada wanita lain.
“Buang pikiran jelek dari pikiranmu itu. Karena semua itu tidak akan terjadi,” ucap Amar meyakinkan sang istri.
Tuhan jaga cintanya kepadaku
Jangan biarkan cintanya berkurang
Dia pelita hatiku
Cinta sejatiku