Part 24

1024 Words
Semenjak Exelin dan Amar menikah sampai pernikahannya mau berjalan satu tahun, baru pertama kali ini Exelin bertemu lagi dengan kedua mertuanya. Bukan tanpa alasan kedua mertuanya tidak menjenguk Exelin. Alasan terbesarnya adalah karena Amar yang tidak memberitahukan keberadaannya selama ini. Mulai di Maldives sampai dia pindah ke Swiss yang sudah berjalan dua bulan, baru memberitahukan keberadaannya pada kedua orang tuanya. “Aku sudah tidak sabar bertemu dengan menantuku, Pa,” ucap Nyonya Pradipta yang tidak bisa menutupi kebahagiaannya. “Papa juga, Ma. Papa mendengar banyak perubahan dari anak kita dari relasi-relasi bisnis keluarga kita. Bagaimana Amar sekarang sungguh berbeda dengan Amar yang dulu. Perasaannya pada Exelin sudah merubah Amar menjadi pribadi yang lebih baik,” ucap Tuan Pradipta. Nyonya Pradipta yang mendengarnya juga ikutan bahagia. Karena anak semata wayangnya sekarang sudah benar-benar bahagia dengan wanita pilihannya. “Andai Tuhan memberikan cucu pada kita, Pa. Pasti kebahagiaan mama sudah lengkap. Apa tidak ada kabar tentang Exelin hamil apa tidak, Pa?” tanya Nyonya Pradipta penuh harap akan kehamilan Exelin. Dia ingin seperti teman-temannya arisan yang selalu menceritakan perkembangan para cucu-cucunya. Nyonya Pradipta pun juga ingin seperti itu. Membanggakan perkembangan cucunya pada teman-temannya. “Lihat saja nanti kalau kita sudah sampai di rumahnya Amar,” ucap Tuan Pradipta dengan senyum simpul di wajah tampannya. Meskipun umurnya sudah berkepala lima, Tuan Pradipta tetap kelihatan Tampan di usianya yang tahun ini menginjak lima puluh empat tahun. “Apa Amar membeli rumah lagi, Pa? Karena seingat mama jalanan rumah Amar bukan ke arah sini,” ucap Nyonya Pradipta. “Iya, Amar membeli rumah baru untuk istrinya. Dia tidak ingin kalau istrinya sampai kecapekan karena melakukan pekerjaan rumah. Amar terlihat begitu mencintai dan menyayangi anak Alexander itu,” ucap Tuan Pradipta sambil mengulum senyum di bibirnya. Dia tidak menyangka kalau Exelin adalah anak dari sahabatnya sendiri. Alexander Albert. Pemilik perusahaan Albert Corporation. Perusahan terbesar yang menguasai kerajaan bisnis di Eropa. Kisah percintaannya yang rumit dengan Elena, tidak pernah bisa di lupakan oleh Pradipta. Bagaimana perjuangan Alexander saat mendapatkan hati Elena. Terekam jelas di memori otak Pradipta. Karena persahabatannya yang terjalin baik, sampai akhirnya kedua anak mereka ikut menjalin persahabatan juga. Sampai akhirnya kemarin terjadi sebuah kesalah pahaman diantaranya karena Amar membawa kabur Exelin tanpa ada yang tahu keberadaannya. Menutup akses semuanya. Tapi Pradipta juga sangat salut dengan keberanian putranya dalam mengambil langkah untuk kehidupannya. Mempertahankan wanita yang sangat di cintainya tetap berada di sampingnya. Tanpa ada yang boleh memisahkan dirinya dan istrinya. Meskipun itu orang tua istrinya sendiri. “Aku tidak menyangka kalau menantu kita adalah anak dari Alexander dan Elena,” ucap Nyonya Pradipta. “Aku juga awal mulanya tidak percaya, Ma. Tapi kenyataannya memang seperti itu. Dari dulu percintaan Alexander dan Elena memang rumit. Karena kamu tahu sendiri kalau keluarga Alexander sangat membenci Elena. Padahal alasannya cuma sepele. Berawal dari Tuan Albert memberikan harta warisannya untuk Elena. Bukan ke Alexander atau ke anak-anaknya,” jelas Tuan Pradipta pada istrinya. Nyonya Pradipta yang mendengarnya sedikit terkejut. Karena dia baru tahu informasi tentang masalah itu. Mobil yang di tumpangi Tuan Pradipta dan Nyonya Pradipta berhenti di depan gerbang rumah yang bercat putih. Supir suruhan Amar turun dari mobil dan menempelkan telapak tangannya ke alat yang menempel di tembok gerbang. Pintu pun terbuka secara otomatis. Nyonya Pradipta berdecak kagum dengan arsitektur rumah Amar yang baru. Terlihat sangat megah dan indah. “Rumah Amar benar-benar indah, Pa,” ucap Nyonya Pradipta penuh kagum. “Anak siapa dulu, Ma,” ucap Tuan Pradipta dengan bangga. “Demi istrinya Amar bisa memberikan segalanya, Pa. Sampai-sampai untuk keamanannya pun di perhitungkan oleh Amar. Benar-benar rumah berteknologi, Pa,” ucap Nyonya Pradipta dengan bangga. Mobil masuk ke dalam pelataran rumah Amar yang terlihat luas. Penataannya benar-benar indah. Mulai dari taman bungga yang mengelilingi pelataran rumah. sampai tempat untuk bersantai di ruangan outdoor pun ada. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Tuan Pradipta dan Nyonya Pradipta turun dari dalam mobil dan menuju ke depan pintu utama rumah Amar. Tiba-tiba pintu otomatis terbuka dari dalam. Terlihat jelas wajah tampan Amar menyambut kedatangan kedua orang tuanya. Tuan Pradipta dan Nyonya Pradipta tersenyum hangat melihat putra sematawayangnya. Tapi tiba-tiba mereka heran tidak melihat menantunya. “Masuk, Pa, Ma,” ucap Amar mengajak kedua orang tuanya masuk kedalam rumahnya. Rumah Amar terlihat bersih dan terawat. Bukan karena Pradipta yang bersih-bersih. Tapi para pelayan yang di pekerjakan Amar di rumahnya. Amar ingin setiap hari rumahya bersih dan terawat. Karena dia ingin istrinya selalu menghirup udara yang bersih. Amar tidak ingin sampai istrinya terkena penyakit karena kurang bersih area rumahnya. “Dimana menantu kami?” tanya Tuan Pradipta dan istrinya secara bersamaan. Belum Amar menjawab, Amar mendengar suara istrinya yang sedang memanggilnya. Kedua orang tua Amar tersenyum mendengar nada manja menantunya kepada sang putra. “Sayang, aku tidak bisa membawa semuanya. Bantuin,” teriak Pradipta dengan nada yang terdengan manja. “Bentar, Sayang. Diam disana! nanti kamu jatuh. Aku tidak ingin sampai terjadi sesuatu sama kamu dan anak kita,” ucap Amar sambil berjalan ke arah sang istri. Tuan Pradipta dan Nyonya Pradipta langsung shock mendengarnya. Mereka berdua langsung teriak bersamaan karena bahagia. “Pa, kita akan punya cucu,” teriak Nyonya Pradipta. “Iya, Ma. Aku akan jadi kakek,” ucap Tuan Pradipta yang tidak kalah heboh dengan sang istri. Tanpa rasa malu keduanya menari bersama. Amar dan Exelin yang melihatnya ikut merasakan kebahagiaannya. Memang di sengaja oleh Amar tidak memberitahu kedua orang tuanya. Dia ingin memberikan kejutan saat mereka datang berkunjung. Tapi sayangnya dia sendiri yang keceplosan. Kedua orang tua Amar berjalan menghampiri sang menantu yang badannya sekarang terlihat berisi. “Bagaimana kabar kamu, Sayang,” ucap Tuan Pradipta dengan lembut. “Baik banget, Pa,” ucap Exelin sambil mencium tangan papa dan mama mertuanya. Pradipta mencium puncak kepala Exelin penuh rasa sayang. Buat Pradipta, Exelin seperti rubi di dalam keluarganya. Bersinar dengan caranya. Memberi warna tersendiri untuk keluarga Pradipta. “Cucu mama sudah berapa bulan, Sayang?” tanya Nyonya Pradipta ingin tahu. Karena di lihat-lihat perut menantunya sudah terlihat membuncit dan badannya kelihatan berisi. “Empat bulan, Ma,” ucap Exelin dengan penuh kebahagiaan. “Sehat-sehat ya cucu nenek di perut mama. Nenek sudah tidak sabar ingin menggendongmu,” ucap Nyonya Pradipta sambil mengusap perut sang menantu. Exelin begitu terharu dengan kehangatan kedua orang tua suaminya. Exelin tidak menyangka kalau kedua orang tua suaminya begitu menyayanginya seperti ini. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD