Kehamilan Exelin sudah menginjak delapan bulan. Ruang geraknya semakin dibatasi oleh Amar. Bukan tanpa alasan ruang gerak Exelin di batasi oleh Amar. Karena awal mulanya Exelin sering mengeluh capek setiap habis melakukan pekerjaan.
"Sudah siap, Sayang?" tanya Amar pada Exelin. Amar dan Exelin berencana untuk pulang ke Indonesia. Karena Exelin ingin melahirkan di Indonesia. Axelina juga sangat merindukan sang ibu yang kesehatannya semakin membaik. Meskipun Part 25
Kehamilan Exelin sudah menginjak delapan bulan. Ruang geraknya semakin dibatasi oleh Amar. Bukan tanpa alasan ruang gerak Exelin di batasi oleh Amar. Karena awal mulanya Exelin sering mengeluh capek setiap habis melakukan pekerjaan.
"Sudah siap, Sayang?" tanya Amar pada Exelin. Amar dan Exelin berencana untuk pulang ke Indonesia. Karena Exelin ingin melahirkan di Indonesia. Exelin juga sangat merindukan sang ibu yang kesehatannya semakin membaik. Meskipun Exelin masih belum bisa memaafkan sang papa, Exelin tetap berterima kasih kepada sang papa karena sudah merawat sang ibu dengan baik.
"Sudah, Sayang. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Kita tinggal berangkat saja," ucap Exelin pada Amar.
"Hati-hati kalau jalan," ucap Amar memperingatkan sang istri yang berjalan tergesa-gesa.
"Hehehe...!! Maaf, Sayang. Aku terlalu bersemangat pulang ke Indonesia," ucap Exelin pada Amar. Amar yang mendengarnya cuma geleng-geleng kepala karena perilaku absurd istrinya. Semenjak Exelin hamil, banyak perubahan yang terjadi pada diri Exelin. Salah satunya yaitu sifat manja Exelin yang keluar setelah hamil.
Setelah semuanya siap, Exelin dan Amar berangkat menuju bandara untuk terbang ke Indonesia menggunakan pesawat Jet pribadinya.
Terlihat jelas di wajah cantik Exelin betapa bahagianya dia mau bertemu dengan ibunya. Senyum tidak pernah lepas dari wajah cantiknya.
"Sepertinya kamu bahagia sekali, Sayang?" tanya Amar pada Exelin. Exelin mengangguk mantap. Dia benar-benar merasa sangat bahagia. Karena Kalau boleh jujur, Exelin sangat merindukan sang ibu. Satu-satunya orang tua yang sangat dikasihi Exelin. Exelin menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Buat Exelin bahu sang suami adalah tempat sandaran yang selalu membuat Exelin nyaman. Amar mencium puncak kepala Exelin penuh sayang.
"Nanti setelah kita sampai, kita langsung ke rumah kita sendiri, Sayang. Aku sudah mempersiapkan satu rumah untuk kita tinggali di Indonesia. Dan letaknya juga dekat di antara kedua rumah Papa dan Mama," ucap Amar pada Exelin.
"Tinggal dimana saja tidak masalah sayang, yang terpenting selalu bersamamu," ucap Exelin. Amar yang mendengarnya, merasa hatinya menghangat.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama akhirnya Exelin dan Amar sampai juga di bandara Soekarno Hatta dengan selamat. Terlihat jelas Bagaimana bahagianya Exelin. Setelah turun dari pesawat, Exelin dan Amar Jalan berdampingan menuju mobil jemputan yang sudah berada di depan lobby. Tanpa diduga, ternyata yang menjemput Exelin dan Amar adalah Tuan Alexander. Papa dari Exelin.
"Sayang, apa memang sengaja kamu menyuruh papa yang menjemput?" tanya Exelin penasaran.
"Aku menyuruh Riko, Sayang. Untuk menjemput kita di bandara. Sangat nggak sopan kalau sampai aku menyuruh papa mertuaku untuk menjemput aku dan istriku di bandara," ucap Amar pada Exelin.
"Iya juga sih, Sayang. Tapi kenapa Papa yang menjemput kita. Apa dia merencanakan yang tidak-tidak pada kita berdua?" ucap Exelin penuh tanda tanya di benaknya.
“Pikiranmu terlalu jelek dengan orang tuamu sendiri,” ucap Amar. Exelin tersenyum mendengar apa yang barusan di katakan oleh suaminya.
"Bagaimana kalau seumpama papamu mendengar perkataanmu barusan?" tanya apa sayang Amar sambil tersenyum ke arah Exelin.
"Dengar ya tidak apa-apa. Paling nanti sampai rumah papa cerita ke ibu. Kalau anaknya sampai berpikiran orang tuanya mau memisahkan putri dan menantunya," ucap Exelin masa bodoh. Amar yang mendengarnya tidak bisa menahan tawanya.
Alexander menatap putri dan menantunya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Alexander berdiri dengan gagah. Menatap lurus ke depan dengan dua tangannya yang ia masukkan ke kedua kantong celananya. Yang tak lupa kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.
"Sudah lama papa tidak bertemu denganmu, Princess. Kamu sekarang terlihat sangat dewasa," ucap Alexander dalam hati. Dia sangat merindukan putrinya. Putri yang sangat dia kasihi. Karena sebuah kesalah pahaman membuat dirinya harus jauh dengan sang putri tercinta. Dia berharap keluarganya bisa utuh lagi seperti sedia kala. Terlebih lagi sekarang putrinya sedang mengandung cucu pertamanya. Sang pewaris kerajaan bisnis Alexander.
Amar dan Exelin menghampiri Alexander dan tidak lupa mencium tangan Alexander. Mata Alexander berkaca-kaca saat anak dan menantunya mencium tangannya.
"Maaf sudah membuat Papa menunggu lama," ucap Amar pada Alexander dengan sopan.
"Tidak, Papa barusan saja datang. Pasti kalian bertanya-tanya kenapa Papa yang menjemput kalian," ucap Alexander sambil menyunggingkan senyum di wajahnya.
"Hehehe... Iya Pa. Sepengetahuanku yang menjemput adalah si Riko. Karena si Adam sedang bersama kami," ucap Amar pada Alexander.
"Awal mulanya memang Papa tanya pada Adam. Setelah itu baru Papa menghubungi Riko kalau biar Papa saja yang akan menjemput kalian di Bandara," ucap Alexander. Alexander menatap sang putri dengan tatapan rindu seorang ayah pada putrinya.
"Apakah kamu tidak merindukan Papa Princess?" tanya Alexander pada Exelin yang masih menundukkan kepalanya. Exelin menatap Alexander dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Alexander merentangkan tangannya. Exelin yang melihatnya langsung menghampiri Alexander dan memeluknya.
"Princess papa," ucap Alexander sambil berderai air mata. Dia sangat merindukan putrinya. Yang sekarang akhirnya Putrinya sudah ada di pelukannya. Putri yang sangat dia kasihi dengan sepenuh hati.
"Maafkan aku, Pa," ucap Exelin dengan tulus pada Alexander. Amar yang melihatnya pertemuan anak dan papa yang sudah lama tidak bertemu juga ikutan terharu.
“Semoga kebahagiaan selalu bersama keluargaku dan keluarga besarku,” batin Amar.
????