Malam semakin larut, Rio berjalan menaiki tangga rumahnya, mencari keberadaan sang papa. Rio berjalan menuju ke ruang kerja sang papa yang sayup-sayup terdengar perdebatan antara sang papa dan perempuan. Rio langsung membuka pintu, betapa kagetnya dia saat melihat sang papa mencekik leher sang tante dengan raut wajah sang papa yang terlihat sangat marah.
“Pa... Lepaskan tante!” perintah Rio.
“Tidak akan, Rio. Iblis ini harus mati di tangan papa. Gara-gara dia, mama meninggalkan papa. Mamamu salah paham sama papa, sampai akhirnya mamamu pergi entah kemana. Mamamu seperti hilang di telan bumi. Mama pergi bersama adik perempuanmu. Sebelum papa mempertemukanmu denganya,” ucap Alexander.
“Pa, kita perlu bicara. Lepaskan dia dulu. Karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama papa,” ucap Rio dengan serius. Alexander menatap putranya. Akhirnya ia melepaskan cekikannya pada adik perempuannya yang tidak tahu diri.
“Pergilah, jangan pernah kau perlihatkan batang hidungmu lagi di depanku!” ucap Alexander dengan lantang. Rena yang di lepaskan cekikannya langsung berlari pergi dari hadapan Alexander. Setelah Rena keluar, Rio mengunci ruang kerja sang papa. Ia ingin berbicara empat mata dengan sang papa.
“Duduklah!” perintah Alexander pada putranya.
Rio duduk berhadapan dengan sang papa dengan raut wajah serius.
“Ada perlu apa kau malam-malam pulang ke rumah?” tanya Alexander. Rio mengulurkan sebuah amplop yang berisikan foto ibu Exelin pada Alexander. Alexander mengernyitkan dahi tidak paham.
“Buka saja, pa. Barangkali papa mengenalnya,” ucap Rio. Alexander membuka amplop yang di berikan sang putra. Tangannya langsung bergetar saat melihat foto ibu Exelin. Hatinya hancur melihat wanita yang sangat di cintainya terlihat lemas tak berdaya di ranjang rumah sakit. Air matanya tidak kuasa lagi ia bendung. Rio yang melihat sang papa menangis semakin bertanya-tanya.
“Kamu dapat foto dari mana ini, Rio,” ucap Alexander.
“Apa papa mengenal wanita itu, pa?” tanya Rio.
“Lebih dari mengenal, Rio. Dia adalah wanita yang sangat papa cintai dengan sepenuh hati,” ucap Alexander.
“Maksud papa, papa selama ini sudah menghianati mama?” tanya Rio menahan marah mendengar perkataan sang papa.
“Papa tidak pernah menghianati mamamu. Maafkan papa selama ini telah menyembunyikan semua foto mamamu. Papa tidak ingin kamu menilai mamamu jahat. Karena semua itu karena papa,” ucap Alexander.
“Apa karena wanita di foto itu mama pergi sampai tidak menemuiku,” ucap Rio dengan intonasi tinggi.
“Jaga bicaramu Rio Alexander, ingat batasanmu. Kau tahu yang di foto itu siapa? Dia adalah mamamu sendiri, Elena Carla Alexander. Istriku,” ucap Alexander dengan lantang. Rio yang mendengar apa yang barusan di katakan sang papa tiba-tiba tubuhnya terasa lemas.
“Apa adikku bernama Exelin Carla?” tanya Rio dengan bibir bergetar menahan tangis.
“Iya, Exelin Carla Alexander,” ucap Alexander. Alexander teringat wajah putri cantiknya yang menurun dari sang istri. Jika adik tirinya Rena tidak membuat sebuah kebohongan besar dan menjebaknya, mungkin keluarganya akan bahagia sampai saat ini.
Rio tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia merasa tidak berguna sebagai kakak. Karena sampai tidak menyadari kemiripan di antara mereka berdua.
“Dari mana kamu mendapatkan semua foto-foto mamamu. Mamamu sekarang ada di mana, Rio?” tanya Alexander ingin tahu.
“Aku menyuruh anak buahku mencari tahu soal keluarga salah satu bartender ku yang ada di cafe,” ucap Rio.
“Maksudmu siapa, Rio?” ucap Alexander.
“Exelin,” ucap Rio. Alexander merasa ada pedang yang menacap pada jantungnya. Putrinya bekerja sebagai bartender untuk mencukupi kebutuhannya. Alexander meneteskan air mata. Hatinya begitu hancur membayangkan kehidupan anak dan istrinya.
“Dimana sekarang mama dan adikmu, Rio. Papa ingin bertemu mereka. Meluruskan semua kesalah pahaman papa dan mama,” ucap Alexander.
“Sebelum aku memberitahu papa, apa papa bisa menceritakan semuanya pada Rio,” ucap Rio.
“Papa akan menceritakan semuanya padamu,” ucap Alexander. Cerita pun mengalir dari mulut Alexander. Bagaimana awal rumah tangganya sampai hancur seperti sekarang ini.
“Saat usiamu masih 2 tahun, kamu di culik oleh salah satu musuh bisnis papa. Saat kita dulu masih tinggal di Singapura. Mamamu sempat mengalami depresi saat kehilanganmu. Terlebih lagi saat mamamu mendapat kiriman seorang mayat balita yang terbunuh dengan muka hancur. Kami saat itu merasa benar-benar hancur. Tapi entah kenapa papa tidak percaya kalau mayat itu adalah kamu. Papa menyuruh semua anak buah papa untuk mencari keberadaanmu dengan di bantu teman papa, Om Frans untuk menyelidiki soal penculikanmu. Berkat Om Frans, papa bisa menemukanmu. Om Frans, papa suruh merawatmu terlebih dahulu. Lebih tepatnya menyembunyikanmu dari musuh-musuh papa. Sampai suatu saat adik tiri papa, tante Rena menjebak papa. Papa di jebak di kamar hotel dengan wanita bayaran tante Rena. Foto-foto papa saat di hotel di kirim ke pada mamamu. Awal mulanya mamamu tidak percaya kalau papa melakukan hal itu. Wanita suruhan tante Rena di suruh mendatangi mamamu di rumah. Dan mengaku-ngaku kalau dia hamil anak papa. Saat perempuan itu datang Exelin sedang berada dengan mamamu. Semenjak itu Exelin berubah dingin pada papa. Mamamu memutuskan meninggalkan papa tanpa ada yang tahu dia pergi kemana. Membawa Exelin bersama dengannya. Tanpa mau mendengarkan penjelasan papa sama sekali. Padahal saat itu papa hendak mempertemukanmu dengan mama dan adikmu. Setelah sekian lama papa menyembunyikanmu. Mamamu terlalu pintar. Supaya keberadaannya tidak bisa terlacak. Semua pemberian papa ia tinggalkan semua di rumah. Tanpa membawa apa-apa. Mamamu tahu kalau setiap barang pemberian papa selalu ada chip yang tersimpan untuk memudahkan papa memantau mamamu dari jauh. Sejak kepergian mamamu semuanya berubah. Terlebih lagi dengan keluarga kita saat ini,” ucap Alexander pada Rio. Rio menghela nafas kasar mengetahui cerita tentang keluarganya.
“Sekarang beritahu papa dan mamamu, Rio,” ucap Alexander.
“Mama di rumah sakit Albert dan Exelin entah dimana dia sekarang. Suaminya membawa Exelin pergi,” ucap Rio dengan lemas.
“Mamamu sakit apa, Rio? Adikmu sudah menikah?” tanya Alexander.
“Kanker, pa. Exelinrela menjual dirinya demi bisa melihat mama bisa operasi dan mendapatkan pengobatan yang terbaik,” ucap Rio. Alexander yang mendengar perkataan Rio, seperti ada petir pada saat itu menyambar dirinya. Dirinya hancur mendengar sakit istrinya, dan pengorbanan yang di lakukan putrinya.
“Siapa yang menikahi adikmu?” tanya Alexander.
“Amar Pradipta,” ucap Rio.