Udara malam hari diatas kapal pesiar Lexus LY 650 terlihat sangat indah dan romantis. Yacht mewah keluaran dari brand ternama Toyota. Exelin berdiri menatap hampara laut luas dengan mata yang tidak berhenti menitikan air mata. Exelin teringat bagaimana keluarganya dulu yang terlihat sangat harmonis. Akhirnya hancur karena adanya orang ke tiga yang masuk ke dalam rumah tangga kedua orang tuanya. Kalau teringat akan hal itu, rasanya hati Exelin hancur. Exelin terduduk dan menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Amar menatap Exelin dalam diam. Membiarkan Exelin sendiri dulu untuk beberapa saat. Entah kenapa di hati kecilnya ia ingin melihat Exelin tersenyum. Tapi ia sadar bagaimana ia sudah menorehkan luka di hati Exelin. Wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya. Yang seharusnya ia jaga dengan sepenuh hati. Tapi sayang egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya.
Amar berjalan menghampiri Exelin. Merengkuh tubuh Exelin ke dalam pelukannya. Exelin masih menangis terisak di dalam pelukan Amar. Pria yang sekarang sudah menjadi suaminya.
“Maaf,” ucap Amar di telinga Exelin. Exelin semakin sesak dadanya mendengar kata maaf terlontar dari mulut Amar. Luka yang sudah di torehkan Amar kepadanya tidak bisa dengan mudah untuk ia maafkan.
Amar mengangkat tubuh Exelin. Ia bawah ke dalam kamar tidur di dalam kapal pesiar miliknya. Ia kira Exelin akan suka ia bawah ke sini. Namun dugaannya salah. Ia melihat banyak luka di mata Exelin. Wanita yang ada di rengkuhannya saat ini malahan terlihat seperti mayat hidup. Hidup tapi layaknya seperti orang mati yang tidak ada semangat untuk hidup lagi. Kesalahannya yang sudah ia lakukan tidak akan pernah bisa termaafkan.
“Aku benar-benar sangat jahat. Karena kekuasaan aku di butakan. Menganggap wanita baik-baik seperti Exelin menjadi pemuas nafsuku. Mainan baru yang kapanpun bisa aku permainkan. Penyesalanku mungkin terlambat aku akui. Karena luka yang aku torehkan begitu dalam di hati Exelin. Tanpa terduga Exelin sudah mulai menyentuh hati nurani ku. Dengan semua kejujuran perkataannya selama ini. Wanita apa adanya yang baru pertama aku temui. Dengan jujur ia melontatkan ketidak sukaannya pada seseorang. Tanpa adanya kepura-puraan dalam dirinya. Hidup bersamanya beberapa hari ini, membuat diriku mulai mengerti dan memahaminya sedikit demi sedikit tentangnya,” batin Amar.
Amar membaringkan tubuh Exelin di atas tempat tidur. Ia pun ikut naik di atas tempat tidur. Berbaring di sebelah Exelin. Amar menatap Exelin yang sedang menatap langit-langit Yatch dengan tatapan kosong.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Amar dengan intonasi suara yang terdengar lembut. Exelin menatap Amar yang sedang menatapnya.
“Peluklah aku sebentar sebelum kau nantinya akan menyiksaku. Biarkanlah aku merasakan kenyamanan berada dalam pelukanmu untuk sesaat. Sebelum aku lupa merasakan kehangatan dalam sebuah hubungan,” ucap Exelin. Amar yang mendengar apa yang di ucapkan Exelin, hatinya terasa sakit dan sesak.
“Perasaan apa ini? Kenapa hatiku terasa sakit mendengar perkataan Exelin,” batin Amar. Amar menatap Exelin dalam diam. Merengkuh Exelin dalam pelukannya. Exelin membenamkan wajahnya di d**a Amar. Menangis dalam diam.
Amar mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Exelin. “Tidurlah! Semua akan baik-baik saja. Maafkan aku Exelin, karena sudah menorehkan luka yang terlalu dalam di hatimu,” ucap Amar.
“Tolong jangan bicara lagi, Amar,” ucap Exelin dengan bibir bergetar menahan tangis yang dari tadi coba ia tahan.
“Jangan kasihani aku, Amar. Aku sadar aku siapa. Aku cuma wanita yang kau nikahi cuma untuk memuaskan nafsumu. Bukan cinta ataupun rasa sayang yang membuatmu menikahiku. Benar katamu aku tidak jauh beda dengan seorang jalang. Yang membedakanku cuma status pernikahan kita. Mungkin ini sudah takdir yang di gariskan Tuhan untukku. Yang terpenting buatku saat ini adalah kesembuhan ibu. Tidak penting kebahagiaanku. Karena aku sudah lupa caranya untuk bahagia,” ucap Exelin.
“Sudah, tidurlah! Jangan bicara lagi,” ucap Amar. Exelin mencoba memejamkan matanya di pelukan Amar. Tak berselang lama, Exelin pun tertidur.
“Jangan bicara seperti itu lagi, Exelin. Hatiku terasa sakit. Tak sepantasnya aku berbicara seperti itu padamu. Aku tidak menyangka kalau perkataanku sampai membuatmu seperti sekarang ini. Tanpa kau sadari aku sudah bergantung padamu. Untuk melihat wanita lain saja aku seperti tidak ada minat sama sekali. Entah apa yang aku rasakan ini padamu. Apa karena kau sekarang adalah istriku? Atau rasa kasihan yang aku rasakan untuk saat ini padamu. Aku bingung dengan perasaanku sendiri, Exelin,” ucap Amar dalam hati.
Amar pun ikut tertidur dengan tetap memeluk Exelin. Benih-benih cinta tanpa sadar sudah tumbuh di hati Amar untuk Exelin. Namun kehancuran hati Exelin tidak bisa dengan mudah di susun kembali seperti layaknya sebuah pazell.
*****
Di sebuah Apartemen mewah yang berletak di tengah-tengah kota Bandung. Jonathan dan Rio sedang membicarakan tentang informasi yang sudah ia dapatkan. Jonathan dengan serius berbicara empat mata dengan Rio di ruang kerja Rio. Karena kepergian Exelin dari cafe miliknya, Rio jadi malas untuk mengelola cafe miliknya. Ia lebih memilih untuk mengurusi perusahaan keluarganya.
“Bagaimana, apa ada informasi?” tanya Rio dengan serius.
“Ada! Tentang ibu Exelin. Aku sudah menemukan keberadaannya. Ibu Exelin sekarang sedang di rawat di rumah sakit Albert karena penyakit kanker. Setelah aku cari tahu, ibu Exelin telah melakukan operasi pengangkatan sel kanker yang ada di tubuhnya. Karena semangat hidup ibu Exelin, ibu Exelin bisa melewati masa kritis. Dan keadaannya semakin membaik. Di tambah lagi pengobatan yang di berikan Amar pada ibu Exelin. Sepengetahuan ku, Amar benar-benar memberikan yang terbaik buat ibu Exelin. Aku curiganya Amar menjerat Exelin dengan dalih membantu pengobatan ibu Exelin. Jadi Exelin mau tidak mau menikah dengan Amar,” ucap Jonathan. Rio yang mendengar perkataan Jonathan, semakin di buat geram dengan kelakuan Amar yang semena-mena pada Exelin.
Jonathan memperlihatkan foto ibu Exelin yang terbaring lemah. Terlihat jelas bagaimana ibu Exelin berusaha untuk tetap hidup demi putri yang sangat di kasihaninya. Tiba-tiba Rio seperti melihat wajah yang sangat familiar saat melihat foto ibu Exelin. Ia mencoba mengingat-ingat di mana dia pernah melihat wajah orang yang mirip dengan ibu Exelin itu. Rio terdiam saat teringat sebuah foto yang ada di ruang kerja sang papa. Foto yang selalu ia pandangi dengan tatapan penuh penyesalan.
“Ada apa ini sebenarnya? Ada hubungan apa papa dengan ibu Exelin. Aku tidak bisa terus-menerus seperti ini. Aku harus mengetahui semuanya sekarang juga,” batin Rio. Rio beranjak dari duduknya. Meninggalkan Jonathan sendiri tanpa pamit. Rio berlari keluar dari apartemen miliknya dengan banyak pertanyaan di benaknya. Jonathan yang di tinggal sendiri oleh Rio semakin terheran-heran dengan sahabatnya itu.
“Kalau kau bukan sahabatku, akan aku bunuh kau saat ini juga, Rio. Seenak sendiri aku di tinggalkan setelah dapat informasi,” gumam Jonathan di ruang kerja Rio.
Rio masuk ke dalam lift yang membawanya langsung ke parkiran apartemennya. Setelah lift terbuka, Rio langsung menuju mobilnya. Dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sang papa.
“Semoga dengan berbicara dengan papa aku bisa mendapatkan jawaban untuk semua pertanyaanku. Meskipun aku malas bertemu dengan papa,” ucap Rio.
Rio teringat wajah sedih Exelin saat menatapnya di pesta pernikahan Amar dan Exelin. Hati Rio terasa sakit saat mengingatnya. Ingin rasanya dia bawa pergi Exelin dari Amar. Melindungi Exelin dengan segenap jiwanya. Rio menyesal meninggalkan Exelin. Jika ia tetap mengawasi Exelin, dia tidak akan kehilangan Exelin untuk saat ini.
????
Sebuah kebenaran memang kadang sangat menyakitkan.
Adakalanya sebuah kebenaran itu bisa membuat bahagia.
Adakalanya sebuah kebenaran semakin membuat seseorang itu hancur.
Karena mengetahui sebuah kebenaran yang kadang kala tidak seperti bayangan.
????