Republik Maladewa adalah sebuah negara kepulauan yang terdiri dari kumpulan atol (suatu pulau koral yang mengelilingi sebuah laguna) di Samudra Hindia. Maladewa terletak di sebelah selatan-barat daya India, sekitar 700 km sebelah barat daya Sri Lanka.
Negara ini memiliki 26 atol yang terbagi menjadi 20 atol administratif dan 1 kota. Maladewa merupakan negara dengan populasi dan luas wilayah terkecil di kawasan Asia. Tinggi rata-rata permukaan tanah di Maladewa adalah 1.5 meter di atas permukaan laut, hal ini menjadikannya negara dengan permukaan terendah di seluruh dunia. Puncak tertinggi Maladewa hanya 2.3 meter di atas permukaan laut sehingga dikenal juga sebagai negara yang memiliki puncak tertinggi paling rendah di dunia.
Keadaan ekonomi Maladewa bergantung pada dua sektor utama, yaitu pariwisata dan perikanan. Negara ini sangat dikenal memiliki banyak pantai yang indah dan pemandangan bawah laut yang menarik ± 700.000 turis setiap tahunnya. Penangkapan dan pengolahan ikan menjadikan Maladewa salah satu eksportir ikan ke beberapa negara Asia dan Eropa.
Maldives (Maladewa), yang terdiri dari 1.200 pulau kecil, menjadi salah satu tujuan utama. Meskipun sebagian besar resor Maladewa sudah relatif privat, dengan satu properti per pulau, ada beberapa pilihan bagi wisatawan yang ingin meningkatkan kualitas.
Tanpa ada yang tahu, Amar mempunyai usaha di sektor perikanan di Maldives. Sifatnya yang arogan yang terlihat dari luar bertolak belakang saat ia terjun langsung dalam menangani bisnisnya. Exelin menatap punggung Amar yang sedang berbicara dengan pekerjanya. Pakaian formalnya ia tanggalkan. Amar terlihat kasual dengan memakai kaos oblong berwarna putih dan celana pendek selutut.
“Tuan, keikutsertaan anda dalam gabungan para pengusaha perikanan Indonesia pada TEI 2020 ini merupakan bagian dari upaya strategis KKP untuk mempromosikan produk perikanan berkualitas, membuka dan memperkuat network dengan para buyers, sekaligus untuk meningkatkan ekspor seafood Indonesia. Kerjasama anda dengan berbagai negara, sekarang sudah mulai terlihat sangat pesat perkembangannya,” ucap Stevanus. Kaki tangan Amar yang dia percaya untuk memantau bisnisnya di Maldives.
“Syukur kalau begitu. Paling tidak semuanya bisa berjalan sesuai rencana awal. Bagaimana untuk resort-resort kita?” tanya Amar.
“Resort juga sangat ramai, Tuan. Banyak para wisatawan asing yang menyewa dari berbagai negara,” ucap Stevanus.
“Lanjutkan pekerjaanmu,” perintah Amar.
“Baik, Tuan,” ucap Stevanus sebelum berlalu dari hadapan Amar. Amar menoleh ke arah Exelin yang sedang menatap ke laut. Rambutnya yang di biarkan tergerai terkena angin membuat Exelin semakin terlihat mempesona.
“Sedang apa?” tanya Amar mengagetkan Exelin. Exelin menoleh ke arah Amar yang sedang menatapnya.
“Menatap laut. Pemandangan Maldives begitu indah. Dulu sempat aku ingin kesini bersama pasanganku, eh ternyata aku kesini bersamamu. Laki-laki yang paling aku benci seumur hidupku,” ucap Exelin dengan sinis ke arah Amar. Amar yang sudah terbiasa dengan tingkah Exelin yang seperti itu kepadanya, cuma ia tanggapi dengan tersenyum simpul.
“Mau ikut aku tidak. Aku akan memperlihatkan pemandangan yang lebih indah lagi dari ini,” ucap Amar.
“Kalau aku tidak ikut kau juga pasti memaksaku untuk ikut. Jadi buat apa aku menolak,” ucap Exelin.
“Tuh, pinter,” ucap Amar. Amar menarik tangan Exelin. Menggandeng tangan Exelin berjalan berdampingan di tepi pantai. Sesekali Amar menatap Exelin yang terlihat lelah. Amar tiba-tiba berhenti dan berjongkok dan menyuruh Exelin untuk naik di punggungnya.
“Naiklah, aku akan menggendongmu. Karena perjalanannya masih jauh,” ucap Amar.
Exelin sempat kaget dengan perlakuan manis Amar padanya. Exelin tanpa berbicara langsung naik ke punggung Amar. Amar yang merasa Exelin sudah naik, Amar berdiri dan mulai berjalan sambil menggendong Exelin.
“Nanti kita bercinta di tengah laut yah,” ucap Amar.
“Dasar m***m. Pikiranmu tidak jauh-jauh dengan s**********n dan d**a besar,” ucap Exelin.
“Aku belum pernah mencoba bercinta ditengah laut. Mungkin sensasinya berbeda,” ucap Amar.
“Dasar gila, pria m***m gak punya otak,” ucap Exelin.
“Meskipun begini-begini aku juga suamimu,” ucap Amar.
“Suami untuk saat ini. Kalau kau sudah bosan dengan tubuhku, kau juga pasti langsung menceraikanku. Pernikahan kita itu bukan pernikahan pada umumnya. Pernikahan yang cuma di dasari oleh keserakahanmu sebagai seorang pria. Ingin menikmati tubuhku dan kau terpuaskan,” ucap Exelin.
Amar merasa tertampar mendengar perkataan Exelin. Meskipun memang itu sebuah kenyataan. Semakin kesini, Amar mulai menerima Exelin sebagai istrinya. Meskipun mulut Exelin sering terdengar pedas kalau berbicara. Amar menyadari kalau apa yang di lakukan Exelin kepadanya karena dia sendiri yang memulainya.
“Tutup saja mulutmu. Lama kelamaan kau ini sangat cerewet melebihi mamaku,” ucap Amar.
“Memang kita mau kemana? Dari tadi jalan tidak sampai-sampai,” tanya Exelin penasaran.
“Diam saja. Nanti kau akan tahu sendiri kalau sudah sampai tempatnya,” ucap Amar. Exelin menikmati pemandangan Maldives yang sangat indah. Hamparan laut luas yang sangat bersih dan penduduknya yang sangat ramah.
“Apa kau pernah mengajak wanita ke tempat ini?” tanya Exelin.
“Baru kau wanita pertama yang aku ajak kesini. Aku paling tidak suka ada wanita yang ikut campur di dalam bisnisku,” ucap Amar.
“Terus kau kenapa membawaku ikut bersamamu dalam urusan bisnismu?” tanya Exelin ingin tahu.
“Setatusmu sekarang adalah istriku. Jadi kau akan ikut bersamaku. Jika aku meninggalkanmu, bisa-bisa kau akan kabur dariku. Kau tahu kan aku sudah mengeluarkan uang banyak untuk pengobatan ibumu. Jadi aku tidak mau rugi,” ucap Amar.
“Dasar licik,” ucap Exelin. Amar yang mendengarnya tersenyum lebar. Bicara dengan Exelin bisa membuat Amar terhibur. Meskipun harus mendengar umpatan-umpatan yang keluar dari mulut Exelin yang pedas bagai cabai.
“Nanti kalau urusanku di Maldives selesai, kita akan jalan-jalan ke Swiss. Kita mengunjungi nenekku disana,” ucap Amar.
“Apa kepalamu barusan kejedot tembok, ucapanmu dari tadi terdengar manis. Aku saja yang mendengarnya ingin rasanya aku muntah,” ucap Exelin.
“Kau ini aneh. Aku bersikap manis kepadamu, kau kira aku habis kejedot tembok. Aku menyiksamu, kau bilang aku jahat dan tidak punya perasaan. Aku kura dirimu itu manis, lemah lembut, wanita yang lemah. Ternyata dugaanku selama ini salah. Kau wanita bermulut cabai dan keras kepala,” ucap Amar.
“Tapi sayangnya wanita bermulut cabai ini yang membuatmu terobsesi dengan tubuh indahnya,” ucap Exelin tidak mau kalah.
????
Cinta datang tidak ada yang tahu
Dua anak manusia yang mulai saling membutuhkan satu sama lain
Rasa benci tanpa sadar mulai berubah menjadi rasa cinta
Namun luka tetap tertoreh dalam hati
Menggengam untuk menjaga
Melepaskan untuk merelahkan
Cinta yang murni tidak semulus angan
Cobaan dan rintangan silih berganti
Atas nama cinta
Atas nama sayang
????