Part 09

882 Words
Malam semakin larut. Exelin tidak bisa memejamkan matanya lagi. Tatapannya nanar menatap langit-langit pesawat jet pribadi milik Amar. Exelin mencoba melepaskan dekapan Amar dari tubuhnya. Semakin Amar mendekatinya, hati Exelin semakin sakit. Air mata Exelin tidak berhenti menetes. Dadanya begitu nyeri jika teringat perlakuan Amar kepadanya. Yang tidak jauh berbeda memperlakukan seorang binatang. Exelin merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi. Jika papanya dulu tidak meninggalkan ibunya, ia tidak akan merasakan hal seperti ini. Exelin menyalahkan ayahnya atas apa yang sudah terjadi dalam hidupnya saat ini. Tiba-tiba kepala Exelin terasa pusing, dan hidung nya mengeluarkan darah. Ia merasa panik. Tubuh Exelin bergetar karena rasa takut melihat darah keluar dari hidung nya. Amar yang merasa tubuh Exelin bergetar bangun dari tidurnya. Amar sangat kaget melihat Exelin memegangi kepala dan hidung nya yang mengeluarkan darah. “Apa yang terjadi, Exelin?” tanya Amar merasa khawatir. Amar memakai celananya dan mengangkat tubuh Exelin ke kamar mandi. Membersihkan darah yang keluar dari hidung Exelin. Exelin pasrah di gendongan Amar. Amar membersihkan tubuh Exelin. Setelah bersih, Amar memakaikan handuk kimono di tubuh Exelin dan mengendong Exelin menuju tempat tidur. Amar menyandarkan badan Exelin di sandaran ranjang. “Apa kau memang sering seperti sekarang ini?” tanya Amar pada Exelin. Exelin menggelengkan kepalanya. “Baru pertama kali ini aku seperti ini,” ucap Exelin dengan lemah. Amar yang melihat Exelin seperti tidak mempunyai tenaga, ia keluar dari kamar mengambilkan Exelin makan. Tak berselang lama Amar kembali sambil membawa nampan yang berisikan makanan dan segelas s**u coklat. Amar duduk berhadapan dengan Exelin. Ia mengambil satu sendok bubur, ia tiup terlebih dahulu. Setelah itu ia menyuapi Exelin. Yang awal mulanya Exelin menolak di suapin oleh Amar. “Bukalah mulutmu. Makanlah bubur ini, paling tidak perutmu terisi dengan makanan. Supaya saat melawanku, kau punya tenaga,” ucap Amar. Exelin mau tidak mau membuka mulutnya. Amar menyuapi Exelin sampai buburnya habis. Amar menyodorkan segelas s**u coklat pada Exelin. “Istirahatlah dulu! Nanti kalau kita sudah sampai di Maldives, aku akan memanggilkanmu dokter supaya memeriksa keadaanmu saat ini,” ucap Amar. Exelin terkejut dengan apa yang barusan di ucapkan Amar. Bahwa mereka sekarang menuju Maldives. “Mau apa kita ke Maldives?” tanya Exelin penuh curiga. Amar yang melihat tatapan Exelin yang penuh selidik, ia menyunggingkan senyum simpul di wajah tampannya. “Aku ada urusan bisnis di Maldives. Jadi untuk sementara waktu, kita akan tinggal di Maldives. Terlebih lagi perusahaanku di Maldives sekarang lagi membutuhkanku,” ucap Amar menjelaskan. “Kau kan bisa berangkat sendiri, tidak perlu aku ikut denganmu,” ucap Exelin dengan sinis. “Buat apa aku menikahimu kalau aku ingin bercinta harus dengan wanita lain. Sepertinya kau ingin aku bercinta dengan wanita lain rupanya,” ucap Amar tanpa ekspresi. “Terserah kau mau melakukan apa. Aku tidak peduli sama sekali,” ucap Exelin. Amar menghela nafas kasar karena menahan geram kepada Exelin. Ia tidak habis pikir kalau Exelin sangat-sangat keras kepala. ***** “Tuan, ada kabar kurang baik,” ucap salah satu anak buah Rio. Rio mengerutkan dahi mendengar salah satu anak buahnya memberinya kabar. “Ada kabar apa?” tanya Rio. “Nona Exelin tidak ada di hotel tempat diadakan resepsi pernikahannya, Tuan. Kemungkinan terbesar nona Exelin di bawah pergi oleh Tuan Amar,” ucap Mikail. “Bagaimana bisa, Mikail. Kau aku beri tanggung jawab penuh untuk menjaga Exelin. Tapi apa kenyataannya ini? Exelin malah di bawa pergi oleh Amar,” ucap Rio dengan nada tinggi. “Kelihatannya Tuan Amar tahu kalau sedang diawasi, Tuan. Dan untuk mengecoh kita, Tuan Amar pergi menggunakan helikopternya meninggalkan hotel,” jelas Mikail pada Rio. “Suruh Jonathan kemari. Ada tugas untuknya!” perintah Rio pada Mikail. “Baik, Tuan,” ucap Mikail. Mikail undur diri meninggalkan ruangan Rio. “Dimana kamu sekarang, Exelin? Entah kenapa aku begitu khawatir kepadamu. Aku merasa ada kewajiban untuk menjagamu. Memastikan kamu baik-baik saja,” batin Rio. “Hallo, Honey, ada apa?” ucap Jonathan. “Sudah bukan waktunya lagi untuk bercanda, Jo,” ucap Rio serius menatap sahabatnya Jonathan. Semua orang mengira Jonathan dan Rio adalah sepasang kekasih. Padahal mereka adalah seorang sahabat. Jonathan adalah sahabat terbaik Rio dan kaki tangannya. Rio membuat sandiwara sebagai seorang Gay karena ingin membuat ayahnya marah dan membencinya. Sampai-sampai Exelin juga percaya kalau Rio adalah seorang Gay. “Sepertinya ada masalah serius?” tanya Jonathan. “Amar tahu aku menaruh anak buahku untuk menjaga Exelin. Jadi sekarang ia membawa Exelin pergi,” ucap Rio dengan serius. Jonathan tidak bisa menahan tawanya dengan tingkah sahabatnya ini. Bagaimana bisa dia memikirkan Exelin. Exelin sudah bahagia dengan suaminya. Jikalau Exelin di bawa suaminya itu hal yang wajar. “Hahahaha... Kau ini ada-ada saja, Rio. Exelin itu bersama suaminya, bukan bersama seorang penjahat. Sampai kau khawatirin seperti itu. Saudara bukan, adik bukan. Jangan-jangan kau menyukai Exelin selama ini,” ucap Jonathan penasaran. “Entahlah, Jo. Perasaan apa ini yang aku rasakan pada Exelin. Aku juga bingung dengan perasaanku. Yang aku harapkan cuma Exelin baik-baik saja dan tidak ada yang menyakitinya. Aku tidak ingin ada penolakan, Jo. Cari tahu asal usul Exelin. Mulai dari orang tuanya dan tempatnya tinggal. Aku ingin datanya lengkap yang aku terima. Dan lacak keberadaan Exelin sekarang,” perintah Rio. “Baiklah kalau itu perintahmu. Kasih aku waktu dua hari untuk mencari tahu semuanya,” ucap Jonathan. “Baiklah kalau gitu, aku akan menunggu informasi darimu,” ucap Rio. “Siap,” ucap Jonathan. Ia langsung pamit untuk langsung memulai pencariannya. ???? Sebuah kebenaran yang akan merubah segalanya Sebuah penyesalan yang akan selalu dia ingat Kebimbangan dalam perasaan Rasa sayang yang di rasa Ikatan yang terjalin Mendekatkan satu sama lain ????
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD