Part 08

955 Words
Malam semakin larut, Exelin terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia teringat tadi dia masuk ke kamar mandi dan berendam. Ia sedikit bingung kenapa dia sekarang berada di tempat tidur. Tapi ia merasa asing, tempat tidur yang ia tiduri saat ini berbeda dengan tempat tidur hotel. Exelin mencoba menenangkan pikirannya. Menatap ke sekelilingnya dan dia yakin kalau memang benar dia sekarang tidak berada di hotel lagi. . “Sudah bangun, istriku sayang,” ucap Amar mengagetkan Exelin yang sibuk dengan pemikirannya sendiri. “Jangan memanggilku istri dengan mulut kotormu itu, Amar. Aku bukan istrimu. Aku cuma sekedar b***k s*x milikmu. Terlalu tinggi aku dengan predikat istri. Aku tidak jauh beda dengan jalang yang biasanya kau beli dengan uangmu,” ucap Exelin tersenyum miris. Exelin tersenyum getir meratapi keadaannya saat ini. Amar merasa tercubit dengan perkataan yang terlontar dari bibir Exelin. Meskipun kenyataannya memang benar seperti itu. “Makanlah dulu! Dari pagi kau belum makan apa-apa,” ucap Amar. “Aku tidak lapar,” ucap Exelin. Exelin memunggungi Amar yang sedang mengajaknya berbicara. Ia sudah muak mendengar perkataan Amar. Exelin sudah benar-benar tidak percaya lagi dengan Amar. Kepercayaannya sudah hancur setelah Amar mengambil paksa mahkota yang dari dulu ia jaga dengan sepenuh hati. “Jangan keras kepala, Exelin. Kalau kau sakit, aku juga nantinya yang repot,” ucap Amar menahan geram. “Budakmu ini tidak akan mati, Amar. cuma karena tidak makan seharian,” ucap Exelin tanpa ekspresi yang terlihat di wajah cantiknya. Amar sudah benar-benar tidak bisa menahan kemarahannya. Amar melampiaskan ke tubuh Exelin. Amar mendorong tubuh Exelin sampai terlentang di atas tempat tidur. Amar merobek pakaian yang di kenakan oleh Exelin. Exelin yang mendapat perlakuan seperti itu cuma diam tanpa perlawanan. Exelin menatap Amar dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Mulutnya diam tanpa kata. “Rasakan ini Exelin. Memang benar kau budakku. Aku sudah membelimu dengan mahal. Kau juga tidak jauh beda dengan para jalangku yang pernah aku beli untuk memuaskanku,” ucap Amar. Setelah melepas pakaiannya, Amar langsung mengarahkan juniornya ke lubang kewanitaan Exelin dengan sekali hentakan. Amar melakukannya dengan sangat kasar. Exelin cuma bisa menahan sakit karena permainan kasar Amar. Amar semakin mempercepat permainannya sambil meremas kedua buah d**a Exelin dengan kasar. Exelin menitihkan air mata menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. “Milikmu memang benar-benar nikmat, Exelin. Bercinta denganmu benar-benar membuatku gila,” ucap Amar di sela-sela permainannya. Exelin diam, menyerahkan tubuhnya untuk di jamah Amar. Amar menatap Exelin dalam diam. Tidak ada kebahagiaan yang terpancar di wajah cantik Exelin. Diam tanpa ekspresi. Amar mencoba mengalihkan pikiran-pikirannya. Ia selesaikan acara ber cintanya dengan Exelin dengan menyemburkan spermanya di rahim Exelin. Exelin cuma diam menatap Amar yang selesai mendapatkan pelepasannya. “Jangan memancing kemarahan ku, Exelin. Supaya kau juga tidak tersakiti Karenaku,” ucap Amar. Amar menatap kedua d**a Exelin yang memerah karena remasan yang sudah ia lakukan. Amar mengusap ke dua buah d**a Exelin dengan lembut. Memijat nya dengan perlahan. Exelin memejamkan mata saat ia merasa mulut Amar menggulum p****g susunya secara bergantian. Mencium setiap inci buah d**a Exelin. Darah Exelin berdesir merasakan sengatan aneh dalam tubuhnya. Tapi Exelin menampik semua itu. Amar tersenyum miring saat ia merasa tubuh Exelin mulai menerima sentuhan-sentuhan yang dia berikan. Saat Amar melakukan pijatan di kedua buah d**a Exelin, Amar merasa kedua buah d**a Exelin mengeras dan menantang. Terlihat sangat menggoda dengan ukuran d**a Exelin yang penuh dan kenyal. Amar menghisap p****g s**u Exelin secara bergantian. Amar menatap Exelin yang cuma memejamkan mata menahan hasrat dalam dirinya. Setelah puas bermain-main, Amar merebahkan tubuhnya di sebelah Exelin. Menarik tubuh Exelin ke dalam pelukannya. Menghirup dalam-dalam wangi bunga lavender dari tubuh Exelin. Exelin cuma pasrah dengan apa yang sudah di lakukan Amar padanya saat ini. “Tuhan, entah apa rencanamu. Akankan rumah tangga ku sampai akhir akan seperti ini. Menjadi boneka suamiku sendiri. Apakah aku tidak berhak untuk di cintai, Tuhan. Sampai-sampai kau membuat skenario seperti ini,” batin Exelin. Seorang istri hanya ingin mendapatkan pengakuan dan diperlakukan dengan baik oleh suaminya. Bukan malah mendapatkan perlakuan yang tidak baik. Yang menyisahkan trauma mendalam bagi orang wanita tersebut. Salah satunya adalah Exelin. Wanita cantik yang harus pasrah akan takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan. Menikah dengan pria yang tidak dia cintai sama sekali. Namun apa daya. Dia hanya sebuah boneka hidup yang harus melayani suaminya jika suaminya menginginkannya. Dirinya merasa kotor dan tidak suci lagi. “Entah apa yang sebenarnya aku rasakan ini, Exe. Setiap aku dekat denganmu, membuatku tidak berdaya untuk tidak menjamahmu. Padahal aku hanya ingin bermain-main saja denganmu. Aku hanya sekedar ingin menikmati tubuhmu saja. Namun entah apa yang aku rasakan ini. Aku benar-benar tidak tahu dan tidak bisa berpikir secara logis akan diriku sendiri. Sihir apa sebenarnya yang sudah kamu lakukan kepadaku ini. Aku benar-benar merasa sudah gila karenamu,” batin Amar. Amar menatap wajah Exelin yang berada dalam pelukannya saat ini. Dia merasa nyaman saat berada di dekat wanita yang dia beli itu. Wanita yang sudah menolak pesonanya. Tatapan mata yang terpancar akan kebencian. Kebencian yang sangat besar. Dia tidak melihat tatapan kebahagiaan di mata Exelin. Wanita yang saat ini menjadi istri sahnya. Istri yang hanya dia buat main-main semata. Exelin yang pura-pura tertidur, dia hanya bisa menahan rasa sakit dalam hatinya. Rasa sakit akan perlakuan suaminya kepada dirinya. Dia untuk saat ini hanya bisa pasrah akan keadaan yang dia rasakan. Sudah tidak penting lagi perasaannya. Yang terpenting hanya nafsu Amar semata. ???? Cinta datang tanpa ada yang tahu Dua anak manusia yang di persatukan oleh takdir Benci dan cinta berjalan bersamaan Menguatkan dan menghancurkan secara bersamaan Harapan dan asa dari sebuah hubungan Saling membutuhkan tanpa sadar mereka rasakan Saling tergantung satu sama lain Meskipun benci tetap ada Cinta perlahan tumbuh tanpa sadar Pada dua insan yang terjebak Pada ikatan pernikahan ????
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD