Hidup Exelin benar-benar hancur setelah kehormatannya di ambil secara paksa oleh suaminya sendiri. Ia merasa kalau dirinya sekarang sudah sangatlah kotor. Terlebih lagi suaminya sudah menganggapnya seperti seorang jalang. Setelah mendengar hinaan Amar kepadanya, sejak saat itu Exelin mulai membenci Amar. Mendengar suaranya saja, Exelin sudah tidak sudi. Ia lebih baik memilih tuli dari pada harus mendengar suaranya. Hati Exelin sudah benar-benar sakit, karena Amar. Entah apa yang akan di lakukan Exelin untuk bertahan hidup dengan Amar.
“Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku egois, pergi sejauh mungkin dari hidup Amar. Melihat ibu pengobatannya di hentikan oleh Amar,” batin Exelin. Membayangkannya saja hati Exelin sudah sangatlah sakit. Karena buat Exelin, ibunya adalah segalanya. Satu-satunya keluarga yang Exelin miliki.
Exelin mendengar pintu terbuka. Exelin menghela nafas kasar saat tahu siapa yang datang. Ia sudah muak melihat Amar. Laki-laki yang sudah menikahinya kemarin, yang sudah mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan. Tapi semua itu cuma tipu muslihat Amar untuk memiliki dirinya. Menjadikannya b***k pemuas nafsunya. Bukan menjadi istri yang harus ia jaga dengan sepenuh hati. Mengorbankan jiwa raganya demi melihat istrinya bahagia tanpa kekurangan suatu apapun. Pernikahan impian Exelin yang tidak akan pernah terwujud. Mungkin cuma angan saja dirinya bisa bahagia dengan Amar. Karena pernikahannya dengan Amar cuma sekedar formalitas saja.
“Cepatlah bangun, papa dan mama menunggu kita makan siang,” ucap Amar pada Exelin.
“Bagaimana aku bisa bangun kalau tanganku masih kau ikat,” ucap Exelin dengan datar. Amar yang mendengar perkataan Exelin, ia berjalan mendekat ke arah Exelin. Melepaskan ikatan di tangan Exelin. Amar menatap pergelangan tangan Exelin yang merah karena ulahnya tadi malam. Amar tidak pernah membayangkan bisa menikah secepat ini. Membayangkannya saja dulu Amar tidak pernah. Di tambah lagi pernikahannya ini cuma karena alasan ingin menikmati tubuh indah Exelin.
Exelin mencoba berdiri dari tempat tidur. Tapi semua itu sia-sia. Exelin terjatuh di lantai karena rasa sakit di kewanitaannya. Kedua pahanya terasa sakit. Untuk berjalan pun Exelin tidak bisa. Amar yang melihat Exelin kesakitan cuma bisa diam tanpa kata. Egonya terlalu besar untuk membantu Exelin. Exelin meneteskan air mata karena keadaannya kali ini yang terlihat sangat menyedihkan. Merutuki kesialan yang menimpanya saat ini. Terjebak dalam pernikahan yang sangat menyedihkan untuknya. Exelin meringkuk di lantai. Menahan rasa sakit dalam tubuhnya.
“Tuhan, berikan aku kekuatan untuk menjalani semua ini. Menjalani pernikahan layaknya di neraka. Siksa-siksaan yang aku alami. Semoga aku kuat Tuhan. Tunjukkanlah kasihmu Tuhan,” batin Exelin.
Amar mengulurkan tangannya untuk membantu Exelin. Tapi niat baik Amar di tolak mentah-mentah oleh Exelin. Tangan Amar di tepis oleh Exelin. Hati Exelin sudah terlanjur sakit karena apa yang sudah di lakukan Amar kepadanya. Perkataan Amar masih terngiang-ngiang di kepala Exelin.
“Dasar, jalang. Di bantuin malah tidak tahu diri,” ucap Amar mengejek ke arah Exelin. Exelin menutup telinganya. Ia sudah tidak ingin nendengar kata-kata yang ke luar dari mulut Amar lagi. Exelin merangkak menuju ke kamar mandi. Mencoba menguatkan dirinya sendiri untuk tetap kuat menjalani semua ini.
“Tuhan, jadikan aku wanita yang kuat. Yang mampu menghadapi semua ini dengan tetap tersenyum. Rasa sakit ini biarkanlah menjadi lukaku sendiri. Kuatkan aku Tuhan,” batin Exelin.
Sesampai di kamar mandi, Exelin mengisi bath up dengan menggunakan air hangat. Untuk beberapa saat Exelin ingin berendam air hangat. Merilekskan tubuhnya yang terasa sakit dan kencang. Setelah bak terisi air hangat, Exelin masuk ke dalam bath up dan mulai untuk berendam. Exelin memejamkan matanya, mencoba menikmati rendaman air hangat di tubuhnya. Entah berapa lama Exelin berendam sampai-sampai dia tertidur di bath up.
“Exelin,” panggil Amar dari luar kamar mandi. Tapi tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi. Amar tidak sabar melihat Exelin yang dari tadi di panggil tapi tidak ada sahutan dari dalam. Amar masuk ke dalam kamar mandi. Ia begitu kaget saat melihat Exelin tertidur di dalam bath up. Amar menatap wajah cantik Exelin. Ia menutup matanya sambil menghembuskan nafas kasar
“Lama-lama aku bisa gila karenamu. Sepertinya kita harus pindah dari Indonesia. Sahabatku sekarang menjadi musuhku karenamu. Kau tahu, karena untuk menjagamu, Rio sampai mengerahkan kekuasaannya demi menjagamu dari jauh. Apa sebenarnya ke istimewaanmu. Sampai-sampai semua orang pada menyayangimu,” ucap Amar.
Amar mengangkat tubuh Exelin dari dalam bath up. Membungkusnya dengan handuk. Amar berjalan keluar dari kamar mandi sambil menggendong Exelin menuju tempat tidur. Amar meletakkan Exelin di tempat tidur dan ia mengambil baju ganti untuk ia pakaikan di tubuh Exelin.
“Aku membencimu, Amar. Aku sangat membencimu. Kau membohongiku. Kau jahat padaku.” Exelin mengigau dalam tidurnya. Amar menatap Exelin tidak percaya, ia tidak menyangka Exelin membencinya sampai terbawah mimpi.
“Baguslah kau membenciku, Exelin. Dengan begitu aku tidak akan khawatir kau sampai jatuh hati padaku. Pernikahan ini cuma sekedar formalitas semata. Aku cuma menginginkan tubuhmu, tidak dengan yang lainnya. Kalau aku bosan aku akan menceraikanmu,” ucap Amar. Amar memakaikan baju ke tubuh Exelin. Setelah selesai, Amar merebahkan dirinya di samping Exelin. Menatap langit-langit kamar dengan berbagai pikiran yang berkecambuk di benaknya. Sambil sekali-kali ia melirik Exelin yang tertidur pulas. Amar mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu anak buahnya.
“Hallo, Adam,” ucap Amar.
“Iya, Bos,” ucap Adam.
“Siapkan jet pribadiku malam ini. Aku dan Exelin akan pergi meninggalkan Indonesia. Dan untuk beberapa saat aku akan tinggal di Maldives,” perintah Amar.
“Baik, Bos. Akan saya siapkan segala keperluan pemberangkatan anda. Dan Mansion di Maldives, Sivanya akan saya suruh menyiapkan semuanya,” ucap Adam.
“Baiklah. Untuk urusan ibu Exelin, saya pasrahkan kepadamu. Berikan pengobatan yang terbaik untuk ibu Exelin. Dan siapkan juga rumah untuknya tinggal jika ia sudah ke luar dari rumah sakit,” perintah Amar.
“Baik, Bos. Akan saya laksanakan perintah anda,” ucap Adam. Panggilan pun terputus.
“Semoga saja Nona Exelin bisa membuatmu jatuh cinta dan sadar akan perbuatanmu,” batin Adam.
“Amar menatap ponselnya. Melihat foto pernikahannya dengan Exelin yang ia dapatkan dari tangan jail Papanya. Amar tersenyum simpul menatap foto pernikahannya. Ia tidak menyangka kalau dirinya sekarang sudah menikah dan mempunyai istri. Meskipun itu cuma sebuah formalitas semata.
????
Tidak ada yaang tahu cinta itu datang
Tuhan menakdirkan
Manusia yang menjalani
Cobaan, rintangan dalam sebuah hubungan suci
Adalah sebuah bumbu dalam sebuah pernikahan
????