Part 06

1062 Words
Malam semakin larut. Exelin berjalan berdampingan dengan Amar menuju suite room hotel yang sudah disewa oleh Amar. Amar membuka pintu dan masuk ke dalam diikuti oleh Exelin dari belakang. Jantung Exelin berdetak dengan cepat saat harus satu kamar dengan seorang pria seperti sekarang ini. Exelin mencoba menenangkan debaran jantungnya. Mencoba berpikir positif kalau dia tidak akan kenapa-kenapa. Ia mencoba percaya kalau Amar tidak akan menyakitinya. "Cepatlah ganti pakaianmu, apa kau ingin tidur dengan memakai baju pengantin seperti itu?" ucap Amar dengan datar. "Aku tidak membawa pakaian sama sekali. Bagaimana aku bisa ganti, aku sendiri tidak membawa pakaian ganti," ucap Exelin. "Bajumu sudah disiapkan di lemari. Cepatlah ganti pakaian, setelah itu tidurlah, " ucap Amar. Exelin berjalan menuju lemari pakaian yang ditunjuk Amar. Benar katanya, ada tiga tas yang berisikan pakaian. Exelin membelalakkan mata saat melihat baju yang dibeli Amar kebanyakan adalah lingerie seksi yang mempertontonkan lekuk tubuh siapapun yang memakainya. "Pakailah lingerie itu. Aku ingin melihatmu memakainya sekarang," perintah Amar. Axelina menelan ludah dengan tangan bergetar saat ia mengambil lingerie transparant berwarna merah marun dengan panjang lingerie diatas lutut. "Aku tidak bisa memakai pakaiannya. Karena menurutku pakaiannya terlalu tipis untuk aku pakai," ucap Exelin dengan lirih. "Tinggal kau pilih saja. Kamu memakai pakaian itu atau tidak memakai pakaian sehelai pun. Terserah kau saja," ucap Amar. Exelin mau tidak mau memakai lingerie berwarna merah marun yang sedang ia bawa di tangannya. Exelin masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Exelin menatap pantulan tubuhnya yang berbalut lingerine. Terlihat sangat seksi dan menggoda. Exelin menitihkan air mata. Entah kenapa ia merasa hatinya resah. Ia Mencoba untuk tetap tenang dan berpikir positif. Kalau Amar tidak akan pernah menyakitinya. Exelin keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan sambil menutupi kedua buah dadanya yang kelihatan karena pakaian yang ia pakai saat ini. Amar yang melihat Exelin keluar dari kamar mandi dengan memakai lingerie. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya sama sekali dari tubuh Exelin. "Tubuhmu begitu menggoda. Membuatku ingin segera menikmati tubuh indahmu," ucap Amar sambil menyunggingkan senyum diwajah tampannya. "Berbaringlah lebih dulu, aku akan mandi terlebih dahulu. Sebelum aku menikmati tubuh indahmu," ucap Amar sambil berjalan menuju ke kamar mandi. "Ya Tuhan, apa yang akan dilakukan Amar kepadaku. Entah kenapa perasaanku tidak enak untuk saat ini. Ditambah lagi tatapan Amar kepadaku seperti tatapan singa yang sedang kelaparan," batin Exelin. Tak berselang lama Amar keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang terlilit di pinggangnya terlihat jelas tubuh kekar Amar dengan roti sobek yang ada di perutnya. Rambutnya yang basah semakin menambah keseksiannya. Amar berjalan menuju ranjang dan langsung menyibak selimut yang menutupi tubuh Exelin. Exelin begitu kaget dengan apa yang barusan dilakukan oleh Amar. "Apa yang akan kamu lakukan, Amar?" tanya Exelin dengan gemetar. Exelin mencoba menutupi tubuhnya yang terlihat oleh Amar. "Kenapa harus kau tutupi tubuh indahmu. Kau sekarang adalah istriku, jadi aku berhak atas tubuhmu. Jangan tutupi buah dadamu yang berisi itu. Apa ingin tanganmu aku ikat. Supaya tidak menutupi buah dadamu yang indah dipandang itu," ucap Amar. Amar mendorong tubuh Exelin sampai ia terlentang di ranjang. Exelin semakin ketakutan Amar mendekat kearahnya. "Apa yang akan kamu lakukan padaku, Amar. Tolong jangan sakiti aku," ucap Exelin ketakutan. Amar semakin menjadi-jadi karena penolakan dari Exelin. Amar merobek pakaian yang dipakai Exelin dengan tersenyum sinis ke arah Exelin. "Aku akan menikmati tubuh indahmu, karena kau adalah milikku," ucap Amar tepat di telinga Exelin. Amar menjilat telinga Exelin sampai membuat Exelin bergidik. Amar menarik penutup d**a Exelin dengan satu tarikan. Terlihat jelas Puncak buah d**a Exelin yang berwarna merah muda dengan kulit seputih s**u. Exelin mencoba menutupi buah dadanya dengan ketakutan yang menghinggapinya. "Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan tadi Exelin. Jangan tutupi, biarkan aku melihatnya," ucap Amar seperti perintah. Exelin tidak memperdulikan apa yang dikatakan Amar. Sampai membuat Amar marah. Amar menarik tangan Exelin sampai keatas kepala. Memeganginya dengan satu tangan. Tangan satunya ia gunakan untuk meremas d**a Exelin dengan kasar. Amar menatap mata Exelin yang menitihkan air mata. "Menangislah, aku tidak peduli. Aku tetap melakukan apa yang aku inginkan," ucap Amar sambil tetap meremas d**a Exelin bergantian. Exelin terasa kesakitan dengan remasan kasar Amar pada kedua buah dadanya. "Hentikan Amar, kamu menyakitiku," ucap Exelin di sela-sela tangisannya. "Menangislah yang keras. Aku tidak peduli Exelin," ucap Amar. Amar menghisap buah d**a Exelin dengan kuat. Sampai membuat Exelin kesakitan. Tak berhenti disitu, Amar semakin menjadi dengan hasrat yang sangat besar. Amar mulai menggigit p****g Exelin bergantian. Exelin memberontak. Amar mengikat tangan Exelin disudut ranjang. Sampai membuat Exelin tidak bisa bergerak. "Apa yang kau lakukan ini, Amar. Kenapa kau berubah," ucap Exelin di sela-sela tangisannya. Amar tidak mendengarkan perkataan Exelin sama sekali. Amar merobek celana dalam Exelin dan mengusap daging kecil yang ada di milik Exelin. Amar memainkan jarinya sambil tersenyum sinis ke arah Exelin yang tidak tahan dengan sentuhan dari dirinya. "Berhenti Amar, aku ingin kencing," ucap Exelin menahan gelenyar aneh dalam tubuhnya. "Dasar jalang. Seperti ini saja kau sudah basah," ucap Amar sinis. Exelin yang mendengar perkataan Amar, hatinya terasa sakit. Ia disamakan dengan seorang jalang oleh suaminya sendiri. Serendah itu Amar menganggapnya. Amar mulai mengarahkan kejantanannya ke arah lubang milik Exelin. Dengan sekali hentakan, Amar merobek selaput darah Exelin. Darah mengalir dari milik Exelin. "Sakit, hentikan!" ucap Exelin di sela-sela rasa sakit yang ia rasakan. Amar tidak memperdulikan rasa sakit yang dirasakan Exelin. Ia semakin mempercepat temponya, di sela-sela darah yang masih mengalir di kedua paha Exelin. Amar sampai di puncaknya, ia menyemburkan spermanya di rahim Exelin. Amar baru merasakan kepuasan bercinta dengan Exelin. Selama ini dia bercinta dengan para wanitanya tidak pernah merasa sepuas ini. Milik Exelin begitu mencengkram. Membuat Amar ingin lagi dan lagi untuk memasukinya. "Milikmu begitu nikmat. Tidak salah aku memilihmu sebagai pemuas nafsuku," ucap Amar sambil merebahkan tubuhnya disebelah Exelin. "Apa salahku, Amar. Sampai kau menyakitiku seperti ini," ucap Exelin sambil mencoba memejamkan matanya. Ingin rasanya ia memutar waktu. Ia tidak ingin kenal dengan sosok Amar yang sudah pura-pura baik kepadanya. Dengan dalih menolong pengobatan ibunya. "Kau saja yang terlalu bodoh Exelin. Dengan mudah mempercayai orang yang baru kau kenal. Jadi bukan salahku. Aku punya banyak uang untuk membeli apa yang aku inginkan. Termasuk membelimu dengan dalih membantu pengobatan ibumu yang sedang sekarat," ucap Amar dengan tenang. Hati Exelin semakin hancur mendengar perkataan yang keluar dari mulut Amar. Laki-laki yang sekarang menjadi suaminya. Yang menikahinya dengan alasan ingin menjadikannya pemuas nafsunya semata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD