Hotel Vape Bandung adalah saksi Exelin dan Amar melangsungkan pernikahan. Setelah melakukan upacara pemberkatan tadi pagi di gereja, Exelin masih terngiang-ngiang Janji Suci yang sudah diucapkan Amar di hadapan Tuhan. Iya tak menyangka jika saat ini Iya sudah menjadi istri seorang Amar.
Exelin terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pernikahan berwarna putih riasan wajah yang tidak terlalu tebal membuat Exelin semakin terlihat sangat cantik. Semua keluarga Amar sangat mengagumi kecantikan yang dimiliki Exelin. Semua keluarga Amar menerima Exelin dengan tangan terbuka. Terlebih lagi mama Amar saat pertama kali melihat Exelin, mama Amar langsung menyukai Exelin.
"Semoga pernikahan ini selalu dalam kasihmu, Tuhan," batin Exelin. Exelin berjalan berdampingan di sebelah Amar. Ia masih merasa gugup berdiri diantara orang-orang hebat yang ada di sekitarnya. Ia tidak pernah membayangkan sama sekali bisa menikah dengan pengusaha muda yang kaya raya seperti sekarang ini.
Para relasi bisnis Amar dan keluarganya pada berdatangan. Exelin mencoba tetap tersenyum. Meskipun hatinya saat ini sedang risau. Tangan Exelin digenggam Amar dengan erat.
"Tolong lepaskan tanganku. Aku semakin gugup melihat banyak tamu yang sudah hadir," ucap Exelin.
Amar tidak memperdulikan apa yang barusan dikatakan Exelin pada dirinya. Ia tetap fokus dengan tamu undangan yang hadir dalam pernikahannya dengan Exelin. Wanita yang sebentar lagi akan ia nikmati tubuh indahnya.
"Diamlah, ikuti saja acara ini sampai selesai. Aku paling tidak suka jika ada orang yang mempermalukanku," ucap Amar dengan dingin. Exelin yang mendengar nada bicara Amar, ia tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Badannya bergetar karena rasa takut yang menyergapnya.
"Kenapa dia tiba-tiba berubah jadi dingin? Ada apa ini sebenarnya? Apa ada yang disembunyikan padaku?" batin Exelin.
Exelin menuruti apa yang dikatakan Amar padanya. Exelin mencoba menenangkan hatinya sampai pesta selesai digelar. Exelin dikenalkan kedua orang tua Amar pada rekan-rekan bisnis keluarganya.
"Menantu anda sangat cantik Nyonya Pradipta," ucap salah satu rekan bisnis keluarga Pradipta.
"Terima kasih Tuan Ilyas atas pujiannya. Menantu saya memang sangat cantik. Sampai-sampai membuat putra saya bertekuk lutut padanya," canda Nyonya Pradipta. Exelin yang mendengarnya mencoba untuk tetap tersenyum. Menghormati kedua orang tua Amar dan para rekan bisnis keluarganya.
"Saya juga begitu kaget Nyonya Pradipta saat mendapatkan undangan pernikahan Amar. Padahal saya ingin menjodohkan Amar dengan putri saya Lina. Ternyata Amar sudah mempunyai dambaan hati sendiri yang sekarang menjadi istrinya. Melihat istri Amar, saya tidak meragukan pilihan Amar," ucap Tuan Ilyas.
"Saya sebagai orang tuanya pun juga kaget Tuan Ilyas, karena Amar hampir tidak pernah mengenalkan wanitanya kepada keluarga. Tapi setelah melihat calon istri Amar, saya tidak meragukan pilihan putra saya, Tuan Ilyas. Saya pribadi juga tidak terlalu memusingkan masalah latar belakang keluarga menantu saya. Karena buat saya selagi putra saya bahagia, saya pun juga ikut bahagia. Ditambah lagi kalau menantu saya menerima kekurangan Amar. Itu yang terpenting buat saya," ucap Nyonya Pradipta. Tak berselang lama Amar datang menghampiri Exelin. Memeluk Exelin dari belakang. Mencium leher jenjang Exelin. Exelin merasa risih dengan perlakuan Amar padanya. Tapi Exelin cuma bisa diam dengan perlakuan Amar.
"Wow pasangan paling romantis abad ini Amar dan Exelin. Aku tidak nyangka ternyata pilihanmu jatuh pada Exelin. Bartender kesayangan Rio," ucap Jonathan pada Amar. Amar yang mendengar perkataan Jonathan cuma bisa tersenyum.
"Romantis apaan, malahan terlihat nggak cocok Amar bersanding dengan Exelin. Exelin terlalu baik untuk seorang Amar yang sering bergonta-ganti wanita. Exelin itu seperti ruby dari tumpukan berlian. Exelin itu terlalu berharga untuk dimiliki Amar. Jika waktu bisa berputar, aku ingin mengetahui asal muasal Exelin menerima Amar," ucap Rio dengan datar. Tanpa adanya senyum di wajah tampannya.
Amar merasa geram mendengar perkataan Rio barusan. Ia tak ingin kalau kedua orang tuanya curiga tentang pernikahannya dengan Exelin. Karena ia tahu bagaimana watak kedua orang tuanya. Bisa-bisa kedua orang tuanya mencari tahu perihal pernikahannya dengan Exelin.
Exelin cuma bisa menundukkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan Rio. Ingin rasanya ia bercerita semuanya. Tapi mulut Exelin terasa berat untuk mengucapkannya pada Rio. Buat Exelin, Rio seperti kakak untuknya. Sangat menyayangi Exelin dengan tulus. Rio mendekat ke arah Exelin, ia memegang wajah Exelin, mengangkat wajah Exelin supaya menatap matanya. Hati Rio terasa sesak saat menatap wajah cantik Exelin. Entah kenapa ia merasa Exelin tidak bahagia dengan pernikahannya dengan Amar.
"Is ok, Baby. Kenapa secepat ini pernikahanmu? Apa Amar memaksamu menikah Lin?" tanya Rio. Exelin cuma bisa diam tanpa kata. Rio menarik Exelin kedalam pelukannya. Entah kenapa Rio seperti ada ikatan dengan Exelin. Rio mencium puncak kepala Exelin penuh rasa sayang. Exelin merasa nyaman berada di dekat Rio. Exelin memeluk erat tubuh Rio. Membenamkan kepalanya di d**a Rio.
"Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku. Jangan sampai kau tidak mengirimi aku kabar," ucap Rio pada Exelin. Exelin menganggukkan kepalanya. Rio melepaskan pelukannya dan pamit undur diri tanpa menatap sahabatnya Amar.
Setelah kepergian Rio, Exelin masih tetap diam tanpa banyak bicara. Amar yang melihat Exelin diam tidak terlalu ambil pusing. Amar tidak peduli apa yang sedang dirasakan Exelin. Karena yang dibutuhkan Amar cuma tubuh dan kepuasan dari Exelin. Meskipun Exelin sekarang adalah istrinya.
"Rio terlihat sangat menyayangi istrimu," ucap Tuan Pradipta pada Amar. Amar yang mendengar perkataan ayahnya cuma menganggukkan kepalanya.
"Exelin sudah seperti adik buat Rio. Aku saja juga heran dengan Rio. Setahuku dia sangat anti dengan perempuan. Tapi entah kenapa dengan Exelin Rio berbeda," ucap Amar pada Tuan Pradipta. Tuan Pradipta yang mendengar perkataan putranya menyunggingkan senyum.
"Karena istrimu begitu istimewa, semua orang dengan mudah menyayanginya. Termasuk mama dan papa. Pertama kali melihat istrimu sudah langsung jatuh hati," ucap Tuan Pradipta.
Amar yang mendengar perkataan sang papa cuma bisa menghela nafas kasar. Tiba-tiba ia merasa khawatir kalau kedua orang tuanya tahu alasan sebenarnya ia menikahi Exelin.
"Ajaklah istrimu istirahat. Acara juga sudah hampir selesai. Kasihan Exelin, dia pasti sudah capek," ucap Tuan Pradipta pada Amar.
"Baiklah, akan aku ajak dia istirahat di kamar," ucap Amar. Tuan Pradipta menganggukkan kepalanya.
"Jangan sampai kamu menyakiti wanita baik-baik seperti Exelin, Boy. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari," batin Tuan Pradipta.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, percayalah pada putra kita," ucap Nyonya Pradipta pada suaminya.
"Aku cuma takut kalau putra kita mengambil langkah yang salah. Kita sebagai orang tuanya wajib mengingatkannya. Jangan sampai dia menyesal karena perbuatannya sendiri," ucap Tuan Pradipta dengan perasaan yang benar-benar khawatir pada Amar.