“Tuhan...berikan kesembuhan untuk ibuku. Aku ingin melihat tawa ibuku lagi, sembuhkan dia dengan caramu yang agung,” ucap Exelin dalam hati. Ia menatap lampu diatas kamar operasi yang masih berwarna merah. Sudah 8 jam ibunya ada di dalam ruang operasi.
“Semua akan baik-baik saja,” ucap Amar menenangkan Exelin.
“Aku berharap juga seperti itu. Ibu adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki. Tanpa ibu, entah bagaimana aku nantinya. Membayangkannya saja aku begitu takut,” ucap Exelin pada Amar. Tak berselang lama, lampu ruang operasi berubah menjadi hijau. Tubuh Exelin menegang, ia benar-benar sangat takut dengan kabar yang akan ia terima. Ia mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk mendengar kabar yang akan ia terima. Salah satu dokter keluar dari ruang operasi, Exelin langsung berjalan menghampiri dokter tersebut.
“Bagaimana dok, operasi ibu saya?” tanya Exelin dengan penuh kecemasan.
“Operasinya berjalan lancar. Ibu Elena mempunyai semangat untuk sembuh yang sangat besar. Beliau saat ini masih dalam pemantauan tim dokter,” ucap dokter Jimmy pada Exelin. Exelin tidak bisa membendung air matanya. Ia sangat bahagia karena operasi ibunya berjalan dengan lancar. Amar merengkuh Exelin kedalam pelukannya.
“Terima kasih, pak. Berkat bantuanmu, ibuku bisa di operasi,” ucap Exelin.
“Karena sudah sepantasnya aku membantumu, melihat bagaimana kerja keras kamu selama ini untuk kesembuhan ibumu,” ucap Amar dengan lembut.
“Setelah ibumu sadar, aku akan menyiapkan pernikahan kita,” ucap Amar dengan tegas. Exelin cuma bisa menelan ludah mendengar perkataan Amar. Exelin menatap mata Amar, terlihat jelas pancaran matanya yang memperlihatkan sebuah kesungguhan akan ucapannya.
“Apa bapak benar-benar mau menikah dengan saya?” tanya Exelin.
“Apa ada alasan, aku untuk berbohong hal yang sakral seperti pernikahan,” ucap Amar dengan menahan emosinya mendengar perkataan Exelin. Ia tak ingin karena emosinya, rencananya yang sudah ia susun gagal karena emosinya yang tidak bisa ia tahan.
“Apa yang sebenarnya bapak cari dari saya, sampai bapak ingin menikah dengan saya?” tanya Exelin pada Amar dengan serius.
“Karena aku menyukaimu,” ucap Amar dengan serius. Exelin menghela nafas berat. Entah apa yang akan dilakukannya setelah ini. Hatinya begitu bimbang dengan permintaan Amar padanya. Entah kenapa dihati kecilnya seperti ada yang mengganjal. Entah apa itu, Exelin masih belum bisa menemukannya. Exelin mengingat-ingat akan bantuan yang sudah di berikan Amar kepadanya.
“Entahlah pak, saya masih belum bisa menjawab pertanyaan bapak. Karena buat saya, semua itu begitu tiba-tiba. Saya pribadi juga masih belum mengenal bapak,” ucap Exelin pada Amar.
“Kamu bisa mngenalku saat kita sudah menikah. Kita akan saling mengenal satu sama lain. Dan nanti dengan berjalannya waktu, kita akan saling memahami dan menyayangi satu sama lain,” ucap Amar meyakinkan Exelin.
“Demi ibu, saya mau menikah dengan bapak,” ucap Exelin dengan tenang. Ia mencoba menerima apapun yang terjadi dalam hidupnya untuk saat ini. Mungkin memang sudah garis yang ditakdirkan Tuhan untuknya. Bertemu dengan Amar, dan menikah dengan Amar. Pria yang baru ia kenal dan masuk kedalam hidupnya. Pria yang menjelma layaknya seorang malaikat yang dikirim Tuhan untuk membantunya dalam kesulitan yang ia hadapi.
Amar tersenyum simpul mendengar jawaban yang sudah ia tunggu-tunggu. Mendengar ucapan Exelin yang mau menikah dengannya. Ia benar-benar sangat senang. Karena apa yang ia inginkan bentar lagi terwujud. Menikmati tubuh indah Exelin. Menjadikannya b***k pemuas nafsunya.
Amar mengambil ponselnya, dan langsung menghubungi kaki tangannya. Menyuruhnya untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Exelin.
“Adam, siapkan pernikahanku besok. Pesankan hotel yang paling mewah di Bandung. Dan hubungi kedua orang tuaku, suruh mereka datang ke Bandung,” perintah Amar kepada Adam. Adam yang mendengar perkataan atasannya cuma bisa bengong.
“Bos, benar mau menikah besok,” ucap Adam masih belum percaya akan perkataan Amar padanya.
“Apa aku terlihat seperti main-main. Kalau kau masih ingin bekerja denganku, jangan terlalu banyak omong,” ucap Amar penuh penekanan. Adam yang mendengar ucapan atasannya, langsung begidik ngeri. Ia tahu bagaimana kalau Amar sedang marah, tak jauh beda seperti iblis.
“Baik bos, akan saya lakukan apa yang anda perintahkan,” ucap Adam dengan sopan. Ia tak ingin ada urusan dengan Amar kalau sedang marah. Meskipun nantinya ia pasti kena marah oleh kedua orang tua Amar. Amar memutus panggilannya dengan Adam. Ia berjalan ke arah Exelin yang sedang duduk di depan ruang operasi. Menunggu ibunya dipindah ke ruangan perawatan.
“Tinggal satu hari lagi kau akan menjadi milikku seutuhnya. Aku tidak peduli lagi meskipun aku harus menikahimu. Menjadikanmu nyonya Pradipta. Pemilik Pradipta Grup.
“Namun lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadamu. Aku sudah tidak sabar lagi menjadikanmu mainan baruku,” ucap Amar dalam hati.
“Semuanya akan baik-baik saja. Karena aku sudah menyuruh dokter terbaik disini untuk menangani ibumu. Jika memang tidak ada perubahan, aku akan membawa ibu berobat ke China. Kau tahu sendiri kalau China adalah pusat pengobatan kanker,” ucap Amar penuh dengan kesungguhan.
Exelin menganggukkan kepalanya. Tanda ia mengerti perkataan yang telah di ucapkan oleh Amar padanya. Ia mencoba percaya akan semua perkataan Amar kepadanya.
Amar duduk di sebelah Exelin. Ikut menunggu ibu Exelin keluar dari ruang operasi. Tak berselang lama, para perawat keluar sambil mendorong brankar yang berisikan ibu Exelin. Exelin berdiri dari tempat duduknya dan ikut berjalan di belakang perawat yang membawa ibunya menuju ruang perawatan yang sudah di siapkan. Setelah sampai ruang perawatan, Exelin begitu tidak enak hati. Karena ibunya sekarang di pindah keruangan VVIP oleh Amar. Exelin menatap Amar tanpa kata yang berjalan disampingnya.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, kenapa kau sangat baik kepadaku? Apa benar kau ini malaikat yang diutus Tuhan untuk membantuku?” batin Exelin.
Exelin masuk kedalam ruang perawatan setelah ibunya selesai di pasangkan alat-alat pembantu ditubuhnya. Exelin menghampiri ibunya. Ia duduk disebelah tempat tidur sang ibu. Menatap wajah sang ibu yang belum sadar setelah operasi tadi. Exelin memegang tangan sang ibu dan menciuminya. Ia bersyukur pada Tuhan. Karena sudah memberikan kesempatan ibunya untuk bisa menemaninya lagi. Exelin baru merasa kalau mukjizat itu memang benar-benar ada.
“Cepatlah bangun ibu, aku sangat merindukan ibu,” ucap Exelin dengan lirih.
“Aku mau pergi dulu, ada rapat sama klien. Nanti setelah pulang dari kantor, aku akan kesini lagi,” ucap Amar mendekat kearah Exelin. Exelin menganggukkan kepala. Sebelum ia keluar dari ruangan perawatan ibu Exelin, Amar mencium puncak kepala Exelin. Exelin masih terdiam membeku menatap punggung Amar yang keluar dari ruang perawatan ibunya. Exelin menghela nafas kasar. Memikirkan apa yang akan terjadi dalam hidupnya setelah ini.
“Ibu, entah yang aku lakukan ini benar atau tidak. Aku tidak bisa menolaknya. Karena dia sudah membantu pengobatan dan operasi ibu. Aku minta doanya, bu. Karena besok aku akan menikah dengannya,” ucap Exelin lirih. Terlalu banyak pikiran-pikairan di benak Exelin.