Part 15

1059 Words
Pemandangan pagi hari yang begitu memanjakan mata, membuat siapa pun ingin berlama-lama tinggal di Maldives. Seperti halnya Amar dan Exelin. Maldives mempunyai tempat tersendiri di hati Exelin. Rumah tangganya yang dulu sempat dia ragukan. Sekarang dengan perlahan semakin menghangat. Sifat dan sikap Amar yang sedikit banyak sudah berubah, membuat Exelin merasa nyaman dengan Amar. Meskipun masih ada ke waspadaan dalam hatinya. Rasa takut itu masih ada. Trauma itu masih belum bisa menghilang. Meskipun dia sudah mencoba untuk mengikhlaskan apa yang sudah di perbuat oleh Amar kepadanya. “Sedang melamunkan apa?” tanya Amar mengagetkan Exelin yang berdiri di balkon kamarnya. Exelin masih betah berlama-lama menatap matahari terbit yang terlihat sangat indah. Pemilihan letak resort yang di bangun Amar di Maldives, mempunyai nilai ke indahan tersendiri. Begitu sangat memanjakan mata siapapun yang ada di sana. “Menatap ciptaan Tuhan yang sangat indah untuk di pandang,” ucap Exelin. Amar memeluk Exelin dari belakang. Menaruh kepalanya di bahu Exelin. Menghirup bau bunga Lavender yang keluar dari tubuh Exelin. Bau tubuh Exelin seperti candu untuk Amar. “Apa jadwalnya untuk hari ini?” tanya Exelin. “Mau melihat perkembangan pembangunan Resort kita yang ada di sini,” ucap Amar. Exelin menggigit bibir bawahnya. Dia ingin sekali ikut bersama Amar. Namun dia terlalu malu untuk mengutarakannya pada Amar. Amar yang melihat gelagat aneh Exelin, dia tersenyum simpul. “Aku sangat senang kalau kau bisa ikut menemaniku,” ucap Amar yang sukses membuat Exelin tersenyum senang. “Memangnya boleh kalau aku ikut bersamamu? Apa aku nantinya tidak mengganggu pekerjaanmu?” tanya Exelin memastikan. Amar membalikkan badan Exelin supaya bisa menatap matanya. “Aku senang kalau kau mau ikut bersamaku. Aku juga ingin memperlihatkannya kepadamu. Resort terbaru kita di Maldives. Pasti kau nanti suka kalau melihatnya,” ucap Amar dengan lembut. Exelin ikut tersenyum hangat pada Amar. Jantung Amar berdegup dengan kencang saat pertama kalinya melihat senyum di wajah cantik Exelin untuk dirinya. Semenjak mereka berdua menikah, Exelin sangat jarang tersenyum. Dia lebih sering diam dengan pikirannya sendiri. “Kau sudah membuatku gila, Exelin. Melihatmu tersenyum seperti ini saja sudah membuat jantungku semakin tak karuan. Teruslah tersenyum karenaku. Karena dengan senyummu sudah membuat pertahanan ku melemah. Perasaanku padamu semakin dalam. Demi pernikahan kita, aku akan berusaha mendapatkan hatimu,” batin Amar. “Aku bosan di sini tidak bisa keluar ke mana-mana. Ingin sekali aku melihat-lihat keindahan Maldives. Kau dulu pernah bilang kalau kita akan meninggalkan Maldives,” ucap Exelin sambil menatap wajah tampan Amar. Amar tersenyum simpul mendengar apa yang barusan di katakan Exelin. Terdengar sangat menggemaskan di telinga Amar. Amar tidak menyangka kalau dirinya bisa jatuh hati pada Exelin. Wanita yang dulu sempat dia pandang sebelah mata dan dia hina. “Baiklah, hari ini aku akan mengajakmu jalan-jalan seharian di Maldives,” ucap Amar. Exelin yang mendengarnya sangat bahagia. “Apa kau lapar?” tanya Exelin pada Amar. Amar menganggukkan kepalanya. Exelin langsung mengajak Amar ke dapur. Memasak makanan untuk Amar, sekarang menjadi keharusan yang di lakukan Exelin. Amar membuktikan perkataannya kalau dia selalu memakan makanan yang di buat Exelin. “Duduklah dulu! Aku akan memasak sarapan untukmu,” ucap Exelin. Amar duduk di kursi meja makan seperti apa yang sudah di suruh oleh Exelin kepadanya. Amar tidak berhenti menatap Exelin yang sedang memasak untuknya. Perasaan bahagia tidak bisa dia elakkan. Amar menikmati setiap moment bersama Exelin. Meskipun hubungannya masih terasa hambar. Karena Exelin masih menutup hatinya. Tidak berselang lama, Exelin membawa dua piring nasi goreng Seafood yang lengkap dengan telur mata Sapi. Exelin memberikan satu piring yang dia bawa kepada Amar. Amar menerimanya dengan senang hati. Tanpa instruksi lagi, Amar langsung melahap nasi goreng miliknya. Seperti biasa, masakan Exelin tetap nikmat. Exelin menatap Amar yang makan dengan lahap. Ada perasaan berbeda yang di rasakan Exelin untuk saat ini. Perasaan yang belum pernah sama sekali dia rasakan. Tapi egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya. “Kenapa tidak makan?” tanya Amar pada Exelin yang belum menyentuh makanannya. “Eh, iya! Ini aku mau makan,” ucap Exelin sambil tersenyum hangat. Exelin memakan makanannya dalam diam. Sambil tetap menatap wajah Amar yang sekarang terlihat berbeda. “Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku salah tingkah,” ucap Amar tiba-tiba. Amar salah tingkah karena Exelin dari tadi memperhatikan dirinya yang sedang makan. “Katanya kau menyukaiku. Terserah aku kalau aku ingin menatapmu,” ucap Exelin dengan datar. Amar menghela nafas kasar mendengar jawaban Exelin. Begitu dingin dan tanpa ekspresi sama sekali. “Apakah sesulit ini, Exelin. Aku berusaha mendapatkan hatimu dan simpatimu,” ucap Amar dalam hati. Setelah selesai makan, Amar bergegss pergi meninggalkan Exelin tanpa berbicara sepatah katapun. Amar menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap. Untuk kali ini Amar memilih memakai kemeja putih panjang yang ia lipat sesiku dengan bawahan celana jins berwarna Navy. Terlihat tampan dan berkarisma. Exelin menatap punggung Amar yang sedang bersiap-siap. “Bersiap-siaplah, habis ini kita berangkat,” ucap Amar tanpa menatap Exelin. Exelin merasa kalau Amar menghindarinya. Dia merasa bersalah karena sudah berlebihan kepada Amar. Tidak sepantasnya dia melakukan hal itu. “Baiklah aku bersiap-siap dulu,” ucap Exelin. Exelin menuju Walk in closet untuk mengambil pakaian yang dia pakai. Exelin sedikit bingung baju apa yang dia pakai kali ini. Karena dia takut malahan nanti mempermalukan Amar karena pakaian yang dia kenakan tidak cocok. Amar melihat wajah gelisah Exelin. Dia berjalan menghampiri Exelin. “Ada apa?” tanya Amar. “Aku bingung mau memakai baju apa,” ucap Exelin. “Pakailah baju yang sekiranya kamu sendiri merasa nyaman memakainya,” ucap Amar. “Aku takut malahan akan mempermalukanmu.” Exelin mengungkapkan kegundahan hatinya. Amar tersenyum simpul melihat Exelin. Amar mengambilkan satu dress selutut berwarna putih dengan corak bunga. “Pakailah ini. Pasti kau akan terlihat sangat cantik,” ucap Amar sungguh-sungguh. Exelin menerima baju yang di pilihkan Amar untuknya. Exelin melepas seluruh pakaiannya tanpa malu pada Amar. Amar yang melihatnya cuma bisa menelan ludah. “Kau membangunkan singa yang sedang tidur, Exelin,” ucap Amar yang sudah di liputi hasrat. Exelin membalikkan badannya dan menatap Amar dengan mengedipkan satu matanya. Terlihat genit dan menggoda. Exelin segaja membusungkan dadanya dan bersandar di pintu Walk in closet. Exelin belum memakai gaun yang di pilihkan Amar. Amar mendekat ke arah Exelin sambil menyunggingkan senyum. “Aku akan memangsamu setelah aku menyelesaikan urusanku di luar. Jaga staminamu supaya bisa melayani ku sampai pagi. Aku akan membuatmu tidak bisa berjalan karena bercinta denganku, Sayang,” bisik Amar di telinga Exelin. Exelin yang mendengar perkataan Amar cuma bisa menelan ludah. Niat ingin menggoda Amar. Malahan dia sendiri yang di goda. Exelin langsung memakai dreesnya dan memoles wajahnya sedikit supaya tidak terlihat pucat. Amar tersenyum melihat tingkah Exelin yang terlihat menggemaskan. ????
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD