Part 16

1025 Words
Semilir angin dan pemandangan kota Maldives yang sangat menyejukkan membuat Exelin ingin berlama-lama di luaran. Exelin merentangkan tangannya di depan hamparan laut yang luas. Menikmati setiap terpaan angin di tubuhnya. Tiba-tiba Exelin mendengar suara wanita yang sedang berbicara dengan Amar. Exelin mencari asal suara yang dia dengar. Exelin merasa sedikit cemburu saat melihat seorang bule yang bergelayut manja di lengan Amar. Exelin merasa tidak rela saat melihat ada wanita yang mendekati Amar. Ingin rasanya dia patahkan tangan perempuan itu dengan tangannya sendiri. Exelin berjalan mendekati Amar dengan tatapan yang penuh api cemburu di matanya. “Hai, Sayang. Dari mana saja kamu? Aku dari tadi mencarimu,” ucap Exelin. Amar mengerutkan dahi saat melihat istrinya menghampirinya dengan menyebut sayang padanya. Tapi Amar langsung diam saat melihat Exelin menahan marah melihatnya dengan perempuan lain. Amar tidak ingin Exelin sampai salah paham kepadanya. Karena pasti akan berimbas pada hubungannya dan Exelin yang mulai membaik. Amar merengkuh tubuh Exelin ke dalam pelukannya. Memberikan kecupan di puncak kepala Exelin. “Aku barusan dari pekerja kita yang ada di resort. Menanyakan kapan mereka selesai pembangunannya. Dan tadi aku bertemu dengan Steva. Temanku kuliahku saat di Inggris dulu,” jelas Amar pada Exelin. Steva yang melihat keintiman Amar dengan Exelin, dia langsung membuang muka. Steva meninggalkan Amar dan Exelin tanpa bicara sepatah kata pun. Setelah melihat Exelin di rengkuhan Amar, Steva langsung tidak suka dengan Exelin. Karena Exelin, Amar menjadi pria yang berbeda di matanya. Tidak seperti dulu lagi. “Kenapa mukamu di tekuk seperti itu?” tanya Amar pura-pura tidak tahu. “Maumu itu apa? Katanya ingin mendapatkan hatiku dan simpatiku, tapi kenapa kau bermesraan dengan perempuan lain seperti itu?” tanya Exelin dengan raut wajah yang ingin menerkam seseorang. Amar menghela nafas kasar menghadapi wanita yang ada di depannya saat ini. “Ingin jalan-jalan, gak?” tanya Amar pada Exelin. Exelin yang mendengar kata jalan-jalan, mau tidak mau membuang rasa kesalnya. “Jangan di tanya lagi kalau masalah ingin jalan-jalan. Karena jawabannya pasti iya,” jawab Exelin. Amar mengacak-acak rambut Exelin karena gemas sendiri dengan kelakuan istrinya yang kadang terlihat aneh dan menyebalkan secara bersamaan. Amar memeluk tubuh Exelin sambil membisikkan kata-kata yang membuat wajah Exelin memerah. “Sudah tenang kan sekarang? Jangan cemburu lagi, karena untuk saat ini dan seterusnya cuma ada kamu di dalam hatiku. Satu-satunya wanita yang bisa membuat Amar Pradipta bertekuk lutut pada seorang wanita,” bisik Amar pada Exelin. Perkataan Amar sukses membuat Exelin tersipu malu. Exelin mencubit perut Amar. “Jangan di cubit, sayang. Di cium saja aku mau,” goda Amar pada Exelin. “Jangan mulai lagi. Jadi ngajak aku jalan-jalan apa tidak? Kalau gak jadi aku akan pulang sekarang juga,” ancam Exelin pada Amar. Amar yang mendengar ancaman Exelin, dia langsung mengangkat tubuh Exelin ala bridal style. Exelin sangat malu saat banyak orang yang menatap Exelin dan Amar yang terlihat seperti pasangan yang sangat romantis. “Turunkan aku, Amar! Jangan membuatku malu karena tingkahmu yang seperti ini,” ucap Exelin. “Mereka iri mungkin, sudahlah jangan peduliin orang-orang yang sedang melihat kita,” ucap Amar dengan Asal. Exelin membenamkan wajahnya pada d**a bidang milik Amar. Bau maskulin tubuh Amar membuat Exelin betah berlama-lama dalam gendongan Amar. “Sepertinya istriku sekarang suka berlama-lama dalam pelukanku,” goda Amar pada Exelin. “Lebih baik aku kan yang kau peluk. Apa kau lebih suka wanita lain yang ada di pelukanmu?” tanya Exelin. “Kenapa harus memeluk perempuan lain. Kalau istriku sendiri sudah lebih dari cukup untukku,” ucap Amar sambil tersenyum hangat pada Exelin. “Kalau sedang bersamaku saja kau bisa berbicara seperti itu. Kalau bersama wanita lain, kau pasti berbeda lagi nanti ucapanmu,” ucap Exelin tidak percaya. “Terserah kau berpikir seperti apa. Yang terpenting itu perkataan yang jujur aku utarakan pada dirimu. Susah kalau punya istri keras kepala. Aku kira aku dulu yang paling keras dan egois. Ternyata aku salah. Istriku malahan lebih keras kepala,” ucap Amar. Exelin tidak bisa menahan tawanya mendengar gerutuan yang keluar dari mulut Amar. “Tersenyumlah seperti itu. Senyummu yang akan membuatku kuat untuk berusaha mendapatkan hatimu. Meskipun aku harus berusaha lebih lagi untuk mendapatkanmu,” ucap Amar dalam hati. Melihat Exelin tertawa, Amar sudah sangat bahagia. Karena Exelin, Amar benar-benar sudah berubah 180 derajat. Entah itu karma yang harus di bayar Amar, atau karena sosok Exelin yang membuat Amar berubah menjadi sosok laki-laki yang hangat. Amar membawa Exelin menuju mobil. Dia ingin memperlihatkan resort barunya yang khusus dia buat untuk rasa cintanya pada Exelin. Amar membuka mobilnya dan mendudukkan Exelin ke kursi penumpang. Setelah menutup pintu mobil, Amar berlari menuju pintu kemudi. Amar memasuki mobilnya dan mulai menjalankan mesin mobilnya. Mobil melaju di jalanan Maldives. Exelin tidak berhenti berdecak kagum dengan keindahan kota Maldives yang terlihat sangat indah. “Apa kau suka tinggal disini?” tanya Amar pada Exelin. Amar menatap wajah Exelin sambil tetap fokus mengendarai mobilnya. “Iya, aku sudah jatuh cinta pada Maldives. Pemandangannya yang indah yang memanjakan mata siapapun yang melihatnya. Tinggal di sini sangat nyaman. Aku sangat senang berada disini. Kalau aku boleh memilih, aku ingin selamanya berada di sini,” ucap Exelin dengan jujur. Amar tersenyum hangat mendengar ungkapan yang terlontar dari mulut Exelin. “Meskipun kita tidak bisa selamanya tinggal di sini, aku berjanji akan sering membawamu berlibur di sini. Terlebih lagi nanti bersama anak-anak kita,” ucap Amar penuh harap. Di hati kecil Amar, dia ingin Exelin bisa secepatnya hamil anaknya. Bisa menjadi pelengkap untuk keluarga kecilnya. Membangun keluarga kecil yang sangat bahagia. Amar cuma bisa berdoa pada Tuhan untuk kebaikan hubungannya dengan Exelin. Exelin yang mendengar perkataan Amar, dia merasa terharu. Dia tidak pernah menyangka kalau Amar mengatakan hal yang sensitif seperti itu. Tapi tiba-tiba Exelin berpikir, kenapa dia tidak hamil-hamil juga? Padahal Amar selalu mengeluarkannya di dalam setiap dia bercinta. Exelin mendadak takut kalau dirinya tidak subur dan tidak bisa memberikan keturunan pada Amar. Membayangkannya saja hati Exelin terasa sakit. Meskipun Exelin belum bisa menerima Amar seutuhnya, tapi untuk hal yang di harapkan Amar padanya, mau tidak mau terpikirkan pada diri Exelin. Exelin menatap Amar yang sedang fokus mengendarai mobil dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Exelin tidak ingin sampai Amar kecewa kalau sampai dirinya tidak bisa memberikan keturunan pada Amar. Dan Amar akan berpaling dari dirinya karena tidak bisa memberikan keturunan pada Amar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD