tamu tak diundang

3610 Words
Sukses menghindar bukan berarti berhasil melupakannya. Olivia memang dapat menjaga sikap agar terlihat normal di mata orang lain. Berperilaku seperti biasanya. Entah ke mana bersembunyinya Olivia yang sedang patah hati itu, dirinya sendiri saja tidak yakin. Yang paling penting sekarang adalah dia harus bisa kembali bangkit dengan cara menata hatinya secara perlahan. Tak mungkin dapat pulih seutuhnya, mengingat cinta pertamanya kandas di kala hatinya belum sempat berpijak. Kendati demikian, Olivia sadar betul bahwa lembaran dalam buku hidupnya masih banyak yang kosong. Setidaknya dia harus mulai kembali mencoba membuka mata pada hal-hal baru. Belakangan ini, cewek manis berambut sebahu itu diam-diam jadi sering menghela napas berat. Kerap kali nampak berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata kosong tertuju pada halaman depan rumah. Selama sepuluh menit hanya hal tersebutlah yang dia lakukan. Masih menyangkal diri sendiri bahwa dia sedang diterpa kegalauan. Gara-gara gagal move on? What?! Hellooooowww~ Jika Bella tahu tentang Olivia yang sedang galau gara-gara gagal move on seperti ini, kakak sepupu cantiknya itu pasti akan menertawakannya habis-habisan. Dulu, waktu Bella sedang patah hati karena tiba-tiba diajak putus oleh sang mantan, Olivia telah melakukan hal serupa. Ya, menjadikan kegalauan Bella sebagai lelucon terlucu di abad ini. Dan sekarang... Oh, karma is real, baby! She got that somekind like a payback. Sakit, kan? Secara resmi, ini adalah pengalaman jatuh cinta sekaligus patah hati untuk yang pertama kali. Jatuh cinta dua tahun lalu, kemudian berdoa tiap hari agar dapat bertemu kembali dengan cintanya, namun kemudian harus patah hati ketika dia bertemu dengan sohib lama yang ternyata merupakan pacar dari cowok yang jadi impiannya tersebut. Tidak menyenangkan sama sekali. Bukan main. Dan agar dia bisa bangkit dari keterpurukan, Olivia harus mencari cara agar dapat mengalihkan fokusnya dari hal menyedihkan seperti ini. Contohnya dengan menghabiskan waktu bersama Bella seusai perkuliahan. "Kelas lu udah abis, Liv?" tanya kakak sepupunya yang baru saja memasuki gedung kampus. "Gue harus konsul dulu nih. Lu berdua tunggu aja di tempat biasa." Hera yang sedari tadi bersama Olivia juga ikut mengangguk mengerti. Cewek berpipi gempal itu belakangan ini juga jadi lebih sering nongkrong sama primadona Fakultas Ekonomi tersebut. "Ya udah, kalo gitu Oliv sama Hera nunggu di sana ya, Kak. Sekalian mau makan siang juga," sahut Oliv setuju sembari mengalungkan tangannya ke lengan sahabat barunya. Bella mengacungkan jempol. "Tadi gue udah suruh Vivi ketemuan sama lu di sana juga. Biar gue bisa nyusul dan langsung jalan aja. Nggak ribet." "Mbak Vivi juga ikut, Kak?" Kedua mata Olivia berbinar-binar. Hera juga ikut-ikutan antusias. Soalnya, Oliv pernah cerita tentang teman-temannya Bella dan dia dengar Vivi itu juga suka menyanyi. Hera jadi ngefans sama suara Vivi yang sering diposting di i********:. "Iya, kebetulan dia juga lagi senggang." Bella menepuk bahu kedua cewek itu dan menambahkan, "Dah, gih, sono cuss!" Olivia cengengesan. Dengan senang hati melambaikan tangan pada kakak sepupunya yang cantik jelita namun betah jadi jomblowati tersebut. Dia menggandeng Hera untuk segera bergegas ke kantin. Takut Mbak Vivi-nya sudah sampai duluan dan mati gaya sendirian. Akan tetapi, baru juga berjalan sekitar lima puluh meter keluar dari gedung Fakultas Ekonomi, sebuah mobil bersinggah dan membunyikan klakson hingga mengejutkan dua cewek itu. "Astaganagasaktipenjagagunungsalak!!" "Angga begooo!!" Kepala pelaku penyebab kericuhan Hera pun menyembul dari jendela kemudi. Siapa lagi kalau bukan Angga? Cowok itu nyengir tanpa dosa. "Lu berdua mau ke mana?! Tega ya sekarang udah jarang ngajakin gua!!" Seruan sok ngambek ala Angga yang sesungguhnya menggemaskan namun menjijikan di mata Oliv dan Hera itu membuat dua cewek itu mual-mual. Angga memang manis. Tapi sepertinya duo ceriwis itu sudah kebal dengan kadar gula yang dimiliki olehnya. "Kita tuh mau girls time, Ngga!!" balas Olivia dengan suara kencang. "Emang elu mau ikutan gabung sama Kak Bella?! Kita bareng kakak-kakak senior yang lain juga lho!!" "Kalo lu nekat pengen ikutan, mending oplas bentar ke Thailand biar burungnya terbang!" Kalimat nyeleneh dari Hera sukses bikin Angga ketawa ngakak. Cowok blasteran Sunda-Tionghoa itu mengangkat kedua tangannya tanda mengalah. "Ampun, Bu-ibuuu!! Kalau begitu, urang parmisi dulu!! Samlekum!!" Mobil kebanggaan Angga pun berlalu. Menyisakan Olivia yang geleng-geleng kepala dan Hera yang cekikikan karena sikap banyol salah satu teman karibnya tersebut. Dua cewek itu pun melanjutkan perjalanan menuju rumah makan tujuan. Kurang dari lima belas menit, Hera dan Olivia pun tiba. Tanpa banyak pikir panjang, mereka segera memasuki rumah makan tersebut. Dan di salah satu meja, Olivia mendapati Vivi yang tengah duduk bersama seseorang. Hm, cowok. "Eh, Her, Her! Bentar!!" cegah Olivia. Dia menahan Hera yang akan menghampiri Vivi. "Hah? Kenapa, Liv?!" Olivia cepat-cepat membuka kamera ponsel dan memotret pemandangan di depannya. Cekrek! Cekrek! Cekrek sepuasnya! "Eh, Liv, ngapain lu foto-foto begitu?" tanya Hera penasaran. Bingung dengan kelakuan temannya. Olivia senyam-senyum sendiri dengan segala ide yang dapat membuat seseorang bisa kebakaran jenggot. Kemudian dia pun menjelaskan apa tujuan sesungguhnya. "Buat abang gue, Her. Biar mampus. Kemarin dia jahat banget. Lu tau, kemarin itu gue telat masuk kelas gara-gara dia lebih milih beli rokok dan minum spri-it daripada nganterin gue yang udah kepepet banget. Mana bawa mobilnya kayak siput! Nggak mau lewat tol dengan alasan nggak punya uang tunai dan males ngisi saldo tollcard," terang Oliv. Mengubah mode kameranya ke rekam video, lalu berkata, "Yuk ah, kita samperin Mbak Vivi dulu. Nanti gue jelasin lebih detailnya gimana." Belum sempat Hera melontarkan sepatah kata pun, Olivia sudah melesat lebih dulu untuk menyapa salah satu teman dari Bella tersebut. Cewek berpipi tembam itu pun pada akhirnya mengangkat kedua bahu dan mengekori Olivia. "Hai, Mbak Vi!" sapa Olivia dengan keramahan dan keceriaannya. Serta jangan lupa kamera ponselnya yang sedang merekam situasi di hadapannya. Vivi yang lagi asyik ketawa-ketiwi cantik sama temannya tadi tidak sadar sama sekali dengan kamera yang merekam keduanya. "Hai, Liv! Kamu habis dari mana? Dari tadi aku tungguin lho! Kakak sepupu kamu mana?" balas cewek itu tak kalah ramahnya. Oke, sudah terekam! Olivia pun menyimpan video tersebut dan memasukkan ponselnya ke kantong belakang celana jeansnya. "Dari kampus, Mbak, tadi nunggu Kak Bella dulu. Dia mau konsul katanya," sahutnya. Lalu dengan sengaja matanya melirik cowok tinggi kurus berahang tegas yang duduk berhadapan Vivi tadi. "Siapa, Mbak? Pacar ya? Apa gebetan?" Hera yang berdiri di samping Olivia tak segan-segan menyenggol siku tangan cewek itu. Takutnya Vivi tidak suka ditanya-tanya. Tapi, ternyata cewek kalem itu justru tertawa sambil menggeleng. "Hahaha... Bukan, Liv—" "Vi, aku duluan deh. Kayaknya pesananku udah dibungkusin." Cowok itu cepat-cepat berdiri dari kursi setelah mencerna percakapan antara Olivia dan Vivi. Dia menatap dua junior yang baru datang itu sembari tersenyum kaku sebelum melesat pergi. "Duluan ya?" "Mari, Kak," balas Olivia dengan senyum lebar khasnya. Ditambah dengan anggukan kecil dari Hera. "Sini, Her. Duduk samping gue." Hera segera menarik kursi kosong di sebelah Olivia. Namun, sebelum dia duduk, cewek itu mengulurkan tangannya kepada Vivi. "Kenalin, Mbak. Aku Hera. Teman sekelasnya Oliv." Vivi membalas jabatan tangan Hera. "Vivi," katanya. "Ini sih bukan teman sekelas aja. Pasti kalian udah kayak magnet ya? Di kampus ke mana-mana berdua." Olivia nyengir. "Cuma pas dia lagi investasi aja aku nggak mau ikutan. Hehehehe." Hera menyubit Olivia gemas sambil ikutan cengengesan. Sukses membuat Vivi yang biasanya kalem sampai tertawa lepas. Cewek keturunan Jawa itu benar-benar suka dengan sepupunya Bella. Lucu sih. Manis lagi. "Eh, Mbak, aku mau ngomong serius" kata Olivia tiba-tiba. Ketawanya Vivi lantas terhenti. "Cowok yang tadi siapa? Beneran bukan pacar, kan?" Vivi yang tadinya hendak menyedot jus melonnya pun berhenti bergerak. Dia menggeleng cepat. "Bukan kok! Itu teman sekelasku. Kebetulan katanya lewat sini. Jadi sekalian ngobrolin soal tugas. Emang kenapa?" "Nggak pa-pa sih, Mbak..." Olivia nyengir jahil. "Mbak Vivi jangan punya pacar dulu ya?" Memang dasar Hera si cewek ceriwis, dia langsung nimbrung, "Emang kenapa kalo Mbak Vivi punya pacar?" Olivia mengangkat kedua alisnya dengan senyum makin lebar. "Entar abang gue patah hati, Her. Kalo Mbak Vivi punya pacar, gue nggak bisa ngancem dan ngalahin Aghi lagi!" "Kok nyambung ke abang kamu, Liv?" tanya Vivi bingung, namun tak menghapus tawa renyahnya. Seketika, Oliv tersadar sesuatu. Dalam kepalanya, dia memaki Ghifari dengan; 'Aghi b**o! Jago main game doang! Katanya naksir... masa sampai sekarang nggak pernah usaha sama sekali?!' Namun, Olivia malah menjawab, "Hehehe. Nggak pa-pa, Mbak. Cuma suka ngerjain Aghi aja. Hehehe." 'Aghi b**o! Udah keceplosan kan gue!' Ya, kakak-beradik yang sama-sama payah dalam urusan hati. Luar biasa. Luar biasa pecundang. Krik... krik... krik.. kriuk! Sepertinya keadaan ini makin awkward. Terbukti dengan suara nyanyian jangkrik yang lebih nyaring dibanding ramainya pengunjung rumah makan itu. Beruntung, Olivia mengajak Hera yang selalu peka dalam berbagai keadaan. Cewek itu langsung menyambar, "Eh, Liv! Pesan makan yuk? Perut gue udah keroncongan banget! Udah pada konser heavy metal nih!" Good idea, Hera. Olivia can't agree more than that. ¤¤¤¤ Srrrruuuuuuttttttt!!! "Yaaaah... abis!" Olivia cemberut saat kotak s**u stroberi yang menjadi persediaan terakhir di rumahnya telah raib. Habis tanpa sisa. Namun keluhan dan ekspresi kesalnya tidak berlangsung terlalu lama. Seorang pangeran berhoodie hitam datang membawakan satu kantong plastik berisi beberapa kotak s**u stroberi dan camilan rasa coklat kesukaan Olivia. Pangeran dengan mulut k*****t tanpa penyaringan yang selalu bikin cewek itu sebal setengah mampus. Siapa lagi kalau bukan Ghifari? "Nih," kata Ghifari lesu. Dia terduduk lemah di samping Oliv yang bersandar santai di sofa. "Makasih, Aghiii..." seru Olivia ceria dan melanjutkan sesi nonton TV seraya memenuhi asupan s**u stroberi yang belakangan ini dia coba lupakan. Masih belajar move on dari Kafka. Namun gagal jika berurusan sama s**u stroberinya. Kepalang kecanduan. Sekaligus mengubah pola pikir bahwa sesungguhnya yang sangat berjasa itu adalah s**u stroberi serta jaket denimnya. Kalau soal orangnya, Olivia bertekad agar tidak membuat dirinya terbawa perasaan seperti sebelumnya. Kembali lagi ke situasi yang sedang berlangsung saat ini. Olivia membiarkan Ghifari yang melingkar seperti kucing  di sampingnya dengan mulut yang tak bosan misuh-misuh. Cewek itu agak sedikit menyesali kejahilannya pada si abang. Kondisi Ghifari benar-benar memprihatinkan. Memangnya kenapa? Oke, berikut adalah dua faktor utama yang terjadi pada si sulung; Pertama, selepas ba'da maghrib tadi, cowok itu menerima teguran keras dari Ayah. Sebuah pertanyaan wajar dan sangat biasa dilontarkan setiap orang tua yang mempunyai putra berstatus mahasiswa semester akhir. Simpel saja. "Kapan kamu beresin skripsimu, Ghifari?" Seperti biasa, Ghifari menjawab, "Masih proses, Ayah." Awalnya obrolan itu berjalan mulus seperti biasa. Namun, karena mulut lemas Olivia yang ikut nimbrung dengan berkata, "Aghi kayaknya udah klop banget sama dunia Youtube, Yah. Anak Ayah udah punya penghasilan besar. Nggak perlu beresin kuliah lagi." Dan pada akhirnya, api besar pun berkobar. Ghifari menerima berbagai nasehat yang berujung pada perintah mutlak. Ancaman keras yang dideklarasikan Ayah juga tidak main-main. Beliau akan membakar semua peralatan canggih milik anak sulungnya jika tidak menyelesaikan semuanya di semester ini juga. "Mau sampai kapan kamu main game terus, Ghifari? Punya penghasilan dari hobi seperti itu nggak membuat kamu menjadi mapan. Memangnya nanti ada perempuan yang mau menikah sama laki-laki kerja serabutan begitu?" Olivia sampai menganga takjub atas keputusan Ayah yang melaksanakan program keras untuk anak-anaknya. Jangan lupakan wejangan-wejangab yang disampaikan. Termasuk Olivia sendiri. Cewek itu dilarang keluyuran untuk awal semester perkuliahan. Alasannya agar anak gadisnya tersebut tidak menyepelekan waktu dalam menyelesaikan studi. Kejam. Bunda saja tidak berani menyela. Kedua, sebuah foto dan video yang Olivia dapat saat bertemu dengan Vivi kemarin siang. Cewek itu dengan usilnya mengirimkan semua itu pada Ghifari lewat aplikasi obrolan. Pesan yang dikirim Olivia tersebut baru dibuka setelah sekitar empat puluh menit Ghifari menerima mandat dari Ayah. Dan jadilah sekarang dia uring-uringan. Ghifari tidak marah sama sekali. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengamuk dan lain sebagainya. Beruntung, Olivia sendiri tahu kalau dalam keadaan yang menyudutkan seperti ini, hal utama yang dibutuhkan seseorang adalah tempat bersandar. Sama halnya dengan dirinya. Jadi, cewek itu fine-fine saja saat Ghifari yang selalu minta ditemani. Berbeda jika suasana hati abangnya itu dalam keadaan hyper happy. Bukannya bikin Olivia ikutan bahagia, yang ada Ghifari makin semangat menjahilinya. Aneh, bukan? Sebuah notifikasi pesan pada aplikasi obrolan menjejal masuk ke ponsel Olivia. Membuat kedua kakak-beradik itu serentak memindahkan matanya dari layar kaca menuju alat komunikasi canggih tersebut. "Ada chat tuh," tegur Ghifari yang beringsut dan merebut bantal rilakkuma kesayangan adiknya. "Dari cowok lu yang mukanya kayak anak Paud itu?" Olivia menatap abangnya dengan ekspresi judging face andalannya. "Apaan sih!" Bodo amat. Ghifari melanjutkan acara nonton film yang lagi tayang. Cowok itu jadi ikut-ikutan minum s**u stroberi kesukaan adiknya. Dan Olivia sendiri tidak melaksanakan aksi protes pada Ghifari lantaran pesan yang dia terima terlihat lebih penting. Tasyaaa Liv lagi di rumah? Jalan kuy Otw nih Gw jemput   Olivia mengerutkan keningnya sekilas. Sudah berapa lama setelah pertemuan dengan Tasya yang mematahkan hati itu? Olivia telah lupa. Dan tiba-tiba teman karib di masa kecilnya itu berkunjung ke rumah untuk menjemputnya. Sebenarnya, Olivia sih tidak keberatan. Hanya saja, mengingat petuah dari Ayah yang melarangnya keluyuran membuatnya agak takut untuk jalan-jalan. Meski bersama dengan Tasya sekali pun. "Aghi," panggil Olivia pada abangnya yang fokus menonton film sambil ngemil kacang atom. "Hm?" sahutnya malas. Sepertinya lebih baik Olivia menanyakan pendapat Ghifari terlebih dahulu sebelum berangkat sembarangan. Walaupun sekarang masih pukul delapan malam. Lagipula Ayah dan Bunda baru saja pergi keluar. Biasa, belanja bulanan. Ghifari dan Olivia pun mendapat tugas untuk diam di rumah. "Tasya lagi otewe main ke sini. Katanya mau ngajak Oliv jalan. Gimana ya?" "Minta izin aja sana, sama Ayah. Kalo gua sih kagak berani. Baru aja kena omelan, masa langsung bikin ulah. Kasih napas dulu lah." Benar juga. Sesungguhnya Olivia sendiri juga masih agak takut buat ngomong sama Ayah. Padahal yang diomelin barusan bukan dia. Olivia mah cuma kecipratan doang!     Olivia ZH Sini aja maen   Sudah. Begitu saja. Nanti selebihnya biar ngomong langsung aja kalau Olivia tidak bisa ikut jalan-jalan. Sekitar dua puluh menit kemudian, Ghifari yang tadi uring-uringan ternyata telah terlelap. Menyisakan Olivia yang masih setia bersama acara variety show tentang kecantikan dan dunia model. Kekuasaan atas layar kaca sudah beralih ke tangan si adik. Dan sebenarnya Olivia sendiri juga merasa sangat mengantuk. "Tasya mana sih? Lama banget!" dumalnya tak sabar. Sebuah bunyi klakson mobil terdengar. Tidak terlalu nyaring hingga memekakkan telinga, namun cukup untuk membuat penghuni rumah tahu kalau di luar pagar ada mobil tamu yang datang. Dia tahu benar, itu bukan suara mobil kerja milik Ayah ataupun mobil abangnya. "Pasti Tasya nih!" Cewek berambut sebahu yang kini mulai memanjang itu pun melangkah menuju pintu. Tak peduli dengan penampilannya yang hanya mengenakan setelan piyama berwarna soft pink dengan gambar stroberi pada beberapa bagian tersebut. Olivia mendapati sebuah mobil SUV berwarna hitam matte dari balik pagar. Dia cepat-cepat mengenakan sendal jepitnya dan membukakan pintu pagar. "Oliiiv!" Si empu nama melebarkan senyumannya saat Tasya turun dari pintu penumpang depan dan berlarian menyapa dirinya. Olivia melebarkan kedua tangannya dan menyambut Tasya yang berhamburan memeluknya. "Kok belum siap-siap? Kan gue pengen jemput lu buat jalan." "Sori, Tasy. Gue nggak bisa nih. Disuruh sama Ayah buat diam jaga rumah," kata Olivia penuh rasa sesal. "Lu naik takol?" Pertanyaan polos Olivia pun membuahkan sebuah pukulan kesal yang terkesan manja dari Tasya. Cewek bersurai panjang lurus itu memasang wajah cemberut. Disambut oleh kata "Aduh!" dari Olivia. "Sembarangan lu! Itu cowok gue!" Dan benar saja, saat Olivia masih cengengesan karena tingkah Tasya, mesin mobil benar-benar dimatikan dan pintu kemudi terbuka. Menampilkan pacar ganteng milik Tasya yang dari dulu ingin sekali dipamerkan. Tawa jahil Olivia lantas sirna. Menatap tamu tak diundang yang kini melangkah mendekati mereka berdua. "Liv, kenalin nih! Cowok gue. Namanya Kafka," kata Tasya yang terdengar malu-malu bangga. Pipinya memerah dengan senyum manis yang membuat kedua matanya menyipit. Olivia pun segera membuang jauh-jauh berbagai rasa yang berkecamuk dalam dadanya. Mengubah ekspresi blanknya dengan senyum seramah mungkin yang justru terkesan kaku dan agak dipaksakan. "Hai," sapa Kafka. Cewek itu melambaikan tangannya di samping kepala. "Hai. Salam kenal. Aku Oliv," sapanya dengan segala rasa grogi yang ada. Sikap Olivia tersebut lantas membuat air muka Kafka yang tadinya terlihat cerah berubah menjadi dipenuhi oleh raut kebingungan. Dia tak mengerti mengapa Olivia  menyapanya seperti itu. Bergelagat seolah-olah ini adalah pertemuan mereka yang pertama kalinya. Mencoba mencerna dengan apa yang sebenarnya terjadi. Belajar untuk mengikuti arus yang dipimpin dan dikehendaki oleh Olivia. "Ternyata, cowok gue kenal sama Aghi lho, Liv!" kata Tasya antusias. "Oh, ya?!" tanggap Olivia dengan mata melebar. Berpura-pura terkejut. "Temannya Aghi emang banyak banget sih. Sampai gue nggak hapal sama nama-namanya. Hahahaha!" Lagi-lagi. Tawa yang terdengar sumbang bagi Kafka. Cowok itu hanya tersenyum simpul. "Masuk yuk? Duduk-duduk santai di dalam aja, daripada mati gaya digigitin nyamuk," ajak Olivia pada Tasya dan Kafka. "Yuk!" sahut Tasya sembari melepaskan pelukannya dari tubuh Olivia dan beralih bergelayut manja di lengan Kafka. "Ayuk, boo." Pedih? Perih? Ooohhh!! Bukan lagi!! Ini sih udah kayak luka irisan dalam dari pisau tajam yang terkena siraman alkohol yang menyengat!! Oh, Tuhan... Cobaan apa lagi ini? "Duduk dulu, guys. Gue bikinin minum dulu," kata Olivia yang langsung melesat menuju dapur. Dia tidak langsung mengambil gelas yang ada di lemari atau mengambilkan botol air mineral. Olivia malah berdiri dengan tatapan kosong menatap bak cuci piring yang bersih tanpa sampah. Kepalanya mencoba menyerap dan mencerna kembali beberapa reka ulang yang tersimpan dalam memorinya. Tentang bagaimana sikapnya tadi. Apakah terlihat sangat kaku dan tidak natural sama sekali sehingga Kafka menatapnya demikian? Ataukah hanya dirinya saja yang terlalu besar kepala untuk mengira bahwa Kafka akan ambil pusing soal sikap pura-pura tidak kenal tersebut? Olivia tidak tahu harus berbuat apa lagi setelah ini. Dia terlanjur berlagak seolah-olah beberapa detik yang lalu merupakan pertama kalinya dirinya bertemu dengan Kafka. Menyesal? Sedikit. Karena dia takut jika Tasya berpikiran macam-macam atas kebohongannya tadi. Walau sesungguhnya hal tersebut juga tidak dapat dilabeli sebagai bentuk sikap bohong. Tidak ada yang salah dengan perilaku Olivia, bukan? Memang benar kalau hari ini adalah pertemuan pertama Olivia dengan pacar tercintanya Tasya, bukan? Selesai menuntaskan pergulatan hati, Olivia pun berakhir membuatkan dua gelas teh manis hangat. Sudah menjadi tradisi keluarga untuk menyambut tamu dengan teh hangat. Meski cuaca di luar rumah sangat teramat panas sekali pun. Cewek itu membawa nampan berisi teh manis hangat dengan setoples amplang oleh-oleh Ayah dari Samarinda kemarin. Melewati ruang tengah, Olivia masih mendapati Ghifari yang terlelap dengan sangat nyaman. Dia berharap agar abangnya itu tidak bangun untuk sementara hingga Tasya dan pacarnya pulang nanti. Duh, bisa berabe nanti urusannya! "Nih, guys. Diminum dulu." Olivia langsung merundukkan pandangannya tatkala mendapati Kafka dan Tasya yang mengobrol dalam jarak wajah yang sangat dekat. Terlihat sangat intim dan mesra. "Yaah... Jadi, peran gue di sini cuma jadi obat nyamuk doang, Tasy? Nontonin lu berdua pacaran, gitu?" sindir Olivia dengan cengiran jahil khasnya. Tanpa diduga, Kafka segera menarik diri dari Tasya dengan menempelkan punggungnya ke sandaran sofa. Sikap tersebut tentu saja membuat kedua alis Olivia terangkat. Aneh. Mengapa cowok itu bereaksi begitu? Padahal orang yang tengah bermanja ria itu kan pacarnya sendiri! "Nggak lah, Liv..." balas Tasya yang pipinya merona malu. "Kan tadinya gue ngajakin lu jalan, pengen sekalian makan. Malam mingguan gitu." "Dan bikin gue jadi penonton setia lu yang bakalan makan sambil suap-suapan?" tambah Olivia dengan candaannya yang membuat Tasya tertawa renyah. "Apa sih, Liv! Nggak sealay itu juga keles!" bantah Tasya yang kemudian berdiri dari sofa. "Gue numpang ke toilet dong. Daritadi nahan pipis nih. Mobilnya Kafka dingin banget!" "Oh, boleh." Olivia tak langsung duduk setelah menaruh nampannya. "Lu masih ingat di mana toilet tengah, 'kan, Tasy?" Tasya mengangguk cepat. Dan tanpa mengucap sepatah kata pun, dia pun melesat masuk ke ruang tengah. Menyisakan Olivia yang berdiri canggung di tempatnya. Bersama Kafka yang kini menyeruput teh manis hangat buatan cewek itu. Canggung. Canggung sejuta kali canggung yang benar-benar bikin Olivia pengin nyeburin diri ke empang belakang lapangan bulutangkis komplek perumahan tempat tinggalnya. Cewek itu cuma bisa sesekali mengambil amplang dan mengunyahnya kriuk-kriuk di antara kesunyian ruang tamu. Menyesali diri, mengapa dia meninggalkan ponselnya di meja ruang tengah di mana Ghifari sedang setia terlelap. Olivia bingung harus menghadapi tamu yang datang tanpa undangan ini. "Barusan kenapa?" Suara Kafka tiba-tiba terdengar. Namun Olivia tidak serta-merta mendongak dan bereaksi. Dia masih betah untuk mengunyah amplang kesukaan keluarga Kautsar. "Oliv." Merasa tak dihiraukan, Kafka sekali lagi bersuara. Kali ini dia memanggil nama adik dari temannya tersebut. "Eh, iya, Kak?" sahut Olivia yang berpura-pura baru mendengar. Padahal hanya mereka berdua saja yang duduk di sana. Suara televisi di ruang tengah juga tidak terlalu besar. Kafka menghela napasnya. Dia mengambil toples amplang yang sedari tadi menjadi fokus utama bagi Olivia. Ikut menyuap dan mengunyah makanan ringan nan gurih tersebut. "Barusan kenapa begitu?" ulang Kafka. Kedua alis Olivia menyatu. "Kenapa apanya, Kak? Aku nggak ngerti." Dan Olivia semakin bingung saat Kafka tiba-tiba terkekeh sinis. "Lu kenapa pura-pura nggak pernah kenal sama gua?" tanya cowok itu strike to the point. "Nggak ada kenapa-kenapanya, Kak. Kan emang pertama kalinya aku ketemu pacarnya Tasya. Hehe." Olivia nyengir lucu. Namun tak menghibur sama sekali. Sekali lagi, Kafka tertawa sinis. "Gua nggak ngerti kenapa, kok kayaknya elu benci sama gua, Liv?" HAH?! Benci katanya?! Teori dari manaaaaaa?! Kata siapaaaaaa?! Elu aja yang nggak tau gimana patah hatinya Oliv waktu dia dengar ternyata elu tuh cowok sohibnya sendiri, Kafkaaaaa!! Menanggapi itu, Olivia cekikikan sebentar. Ketawa miris lebih tepatnya. Lalu bertanya balik, "Kok mikirnya gitu, Kak? Masa aku benci sama orang yang dulu pernah nolongin aku?" Kafka bungkam. Terdiam menatap Olivia yang tersenyum simpul padanya sebelum menunduk dan bersikap seolah-olah kuku-kuku tangannya lebih menarik dibandingkan menatap lawan bicaranya. Menyembunyikan gejolak rasa yang sesungguhnya tersimpan rapi dan pelik di d**a. Sayang beribu sayang, kala Kafka hendak memperpanjang percakapan, tiba-tiba suara Tasya terdengar. Dia mengalihkan fokusnya dari Olivia yang tertunduk dalam menuju ke pacarnya yang datang dengan wajah ceria sembari berkata, "Liv, dari dulu sampai sekarang Aghi nggak berubah ya? Kalo tidur pasti mulutnya mangap! Gantengnya langsung ludes!" Olivia dapat bernapas lega. Dia sangat bersyukur, Tasya telah menjadi malaikat yang membantunya untuk keluar dari obrolan serius dan intens bersama Kafka. "Kadang kalo gue sebel, mulutnya gue suapin sama perasan lemon, Tasy! Hahahaha!" Dan dia tertawa riang bersama sahabat lamanya tersebut. Tanpa berani melirik ke arah Kafka sedikit pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD