Kunjungan Tasya dan Kafka tidak berlangsung terlalu lama. Duduk santai selama sekitar tiga per empat jam di ruang tamu dan diisi dengan obrolan ala-ala cewek zaman now saja sudah cukup membuat Kafka suntuk. Cowok itu tak berhenti bermain dengan ponselnya sejak Tasya kembali dari toilet.
Seusai percakapan aneh tanpa intisari yang jelas beberapa waktu lalu, cowok itu berakhir pura-pura memerhatikan Tasya yang bercengkrama. Sesekali menggumam hanya sekedar terkesan mendengarkan pacarnya saat bicara.
Kedua matanya melirik sekilas pada Tasya dan Olivia yang sedang asyik membahas hal-hal yang sama sekali tidak dia mengerti. Cewek-cewek itu bagaikan berada di dunia yang berbeda. Sesungguhnya, Kafka tidak masalah tentang hal tersebut. Hanya saja, ada hal sepele yang benar-benar mengganggunya.
'Kok mikirnya gitu, Kak? Masa aku benci sama orang yang dulu pernah nolongin aku?'
Begitu kata adiknya Ghifari. Dua kalimat tanya yang dilontarkan Olivia dengan sangat tenang dan terkesan santai bahkan tak peduli itu berbanding terbalik terhadap sikapnya. Sangat tidak nyaman. Entahlah. Kafka merasa dirinya seperti diasingkan.
Teringat di waktu Kafka berkunjung ke rumah Ghifari dan menginap bersama teman-temanya yang lain. Itu adalah pertama kalinya dia bertemu dengan Olivia setelah sekitar dua tahun lalu pernah menolongnya di perjalanan pulang. Dan akhirnya dia dapat bertemu lagi dengan cewek tersebut. Senang? Tentu saja. Apalagi dengan tambahan fakta bahwa ternyata Olivia adalah adik kandung teman satu squad gamenya sendiri.
Awalnya, Kafka pikir Olivia merupakan cewek yang agak pendiam. Mengamati bagaimana caranya bersikap saat Kafka menumpang dan menginap ke rumah Ghifari. Hingga tiba di rumah pun, cewek itu hanya melesat masuk ke kamarnya untuk mengurung diri tanpa mengajaknya ngobrol.
Namun ternyata perkiraannya salah besar setelah melihat interaksi antara Olivia bersama teman-teman Ghifari yang lain. Seperti bagaimana manjanya dia pada Fatur, berdebat sengit dengan Hanif, bercanda kocaknya bersama Juna dan Bima, serta sikap manisnya saat berkenalan dengan Tria. Rasanya Kafka jadi seperti manusia terasing dan terkucilkan.
"Tasya," panggil Kafka tanpa aba-aba. Menyela obrolan seru antara pacarnya dan Olivia.
"Iya, boo, kenap—"
"Aku ada perlu mendadak nih. Kita balik sekarang aja ya?" potong cowok itu seraya berdiri dan memasukkan ponsel ke dalam celana jeans warna gelapnya. "Lagian tadi Mbak Dita minta nggak boleh pulang larut. Aku nggak bawa kunci soalnya."
"Yaah... Sayang, ih! Nggak asik!" keluh Tasya cemberut, namun tetap ikut bergerak untuk mengambil tas selempangnya. "Liv, sori ya... gue cabut dulu nih. Salamin buat Ayah sama Bunda. Next time, gue yang minta izin ke Ayah deh, biar kita bisa hangout. Oke?"
Olivia mengangguk saja. Tak berkata sepatah kata pun. Tak menggerakkan tatapan matanya ke arah lain. Hanya merespon semua yang Tasya bicarakan dengan sebuah senyuman tipis. Dan mungkin, tanpa cewek itu sadari, Kafka tak berhenti mengamati setiap gerak-gerik yang dia lakukan.
Cowok dengan tinggi tubuh hampir seratus delapan puluh centimeter itu keluar dari rumah lebih dulu. Memasang Converse hitamnya dengan asal dan berdiri menunggu di depan pagar. Dia baru membalikkan badan ketika mendengar keluhan sang pacar yang berbunyi;
"Boo, tungguin aku dong! Ih!"
Tasya terlihat kesulitan memasang wedges tinggi dengan strap yang melilit pergelangan kaki tersebut. Menyerah, cewek itu akhirnya duduk di teras untuk mengenakan alas kakinya dengan benar.
"Bukannya dibantuin, malah sok sibuk sama hape!" dumalnya.
Kedua telinga Kafka mendengar suara cekikikan dari Olivia yang berkata, "Makanya, Tasy, jadi cewek tuh jangan ribet. Hihihihi. Pakai sneaker aja biar cepat. Praktis."
Acara bersungut-sungutnya Tasya semakin menjadi-jadi. Cewek itu kesal setengah mampus pada wedges yang membuatnya membuang-buang waktu. Belum lagi nyamuk yang seliweran ke sana dan kemari, menggigiti Tasya dengan rakus.
"Bye, Liv!"
Olivia melambaikan tangannya dengan senyum manis nan cerianya pada Tasya. Ya, hanya pada sahabat lamanya itu. Dan Kafka cuma berdiri mengamati gerak-gerik cewek itu. Menunggu apakah dia akan melambaikanm tangan padanya juga. Nihil. Maka dari itu, Kafka pun segera masuk ke mobil SUV-nya dan duduk di kursi kemudi tanpa menurunkan kaca. Toh, tidak ada tanda-tanda Olivia akan—tunggu! Untuk apa dia memikirkan hal tidak penting seperti ini?!
"Boo..." panggil Tasya yang memecah keheningan dalam mobil setelah mereka meninggalkan komplek perumahan tempat tinggal Olivia.
"Hm?" sahut Kafka tenang.
Tasya menghela napas sejenak lalu membenarkan posisi duduknya untuk menghadap kepada pacarnya. "Kamu kenapa sih? Tadi kok di rumah Oliv diam mulu, bete ya?"
"Nggak kok," jawab Kafka santai. "Cuma ada yang lagi dipikirin aja."
"Emangnya kepikiran apa?"
Kafka diam. Batinnya terus bertanya-tanya. Apakah dia pantas memikirkan bagaimana sikap Olivia padanya? Oh, ayolah! Olivia hanyalah adik dari teman karibnya yang kebetulan adalah sahabat dari kekasihnya. Kafka akan menjadi cowok b******n kalau dia dengan bodohnya memikirkan cewek lain, padahal pacar sendiri sedang duduk di sisinya. Meski tak dapat dipungkiri bahwa sesungguhnya sebelum dia bertemu dengan Tasya pun Kafka sudah terlalu sering memikirkannya.
"Kepikiran tugas aku, Bee. Besok jam delapan udah harus dikumpul. Aku belum kerjain sama sekali."
Bohong.
Tugas bedah jurnal yang dia maksud itu sudah dia kerjakan kemarin bersama teman-temannya di perpustakaan kampus sampai bosan. Dan Kafka merasa berdosa setelah mengucapkan kebohongan ini pada Tasya.
"Pantesan. Kirain bete kenapa..." Tasya tersenyum lucu. Dan Kafka dapat bernapas lega. "Oh, iya, Boo, aku mau cerita sesuatu!"
"Cerita aja," sahut Kafka yang masih fokus dengan ekspresi wajahnya yang datar.
Tasya terlihat ragu. Nampak dari bagaimana cewek itu menggigiti bibir tipisnya. Dia seperti tengah menimbang-nimbang sesuatu sehingga membuat Kafka menoleh dan menjadi sedikit penasaran.
"Katanya mau cerita..."
"Bentar, Boo." Cewek itu menarik napas panjang-panjang. "Aku bingung nih, kira-kira cerita ini pantas atau nggak buat dikasih tau ke orang lain..."
Kafka mengembuskan udara dari hidungnya dengan agak kasar. "Ya kalo cerita yang kamu punya itu merugikan orang lain, mending disimpan aja, Tasya..." tanggap Kafka. "Emangnya tentang apaan sih?"
"Tentang si Oliv."
Hm?
Sebelah alis Kafka lantas terangkat.
Cerita tentang Olivia? Ada apa dengan cewek itu?
"Kenapa sama dia?"
Tasya bergumam panjang. Sekali lagi memikirkan keputusannya yang berujung pada keyakinan bahwa tak akan masalah jika Kafka mengetahui cerita ini. Lagipula, dia tahu kalau pacarnya bukanlah tipekal cowok bermulut bocor yang manakala mengetahui kabar secuil apapun, pasti akan menyebarkannya. Kafka tidak seperti itu. Maka, pada akhirnya, Tasya pun menceritakan sebuah kisah yang selama dua tahun ini dipendam oleh sahabatnya.
"...makanya dia jadi suka banget minum s**u stroberi. Dulunya waktu kita berdua masih kecil, Oliv itu paling nggak suka minum s**u lho, Boo! Lucu ya? Unik banget. Dia bisa jatuh cinta gitu sama orang yang cuma sekali seumur hidup dia temui. Kalo aku sih, nggak pengen yang terlalu halu. Cukup yang di depan mata aja. Hehehehe."
Sebagai tanggapan, Kafka hanya tertawa kecil dengan seringaian khasnya. Otaknya tak berhenti mencerna semua fakta yang diungkapkan oleh Tasya. Setiap kalimat yang dituturkan pacarnya, tak pernah berhenti menghilangkan lengkungan manis yang dibentuk oleh bibirnya.
Olivia? Jatuh cinta padanya?
Terkutuklah kamu, Kafka. Kamu tidak pantas untuk merasa senang dalam situasi ini!
¤¤¤¤
Benci.
Membenci, katanya.
Mungkin sebaiknya Olivia menanamkan rasa itu agar dia terhindar dari salah dan dosa. Sepertinya dia memang harus menerapkan sebuah sikap yang membuat dirinya terlihat membenci. Sehingga pada akhirnya Kafka juga akan membenci dirinya.
Ah, apakah itu satu-satunya cara agar Olivia dapat mengusir jauh-jauh segala pemikiran tentang Kafka yang selalu memenuhi kepalanya? Sepertinya tidak.
Setelah kunjungan Tasya dan Kafka sekitar seminggu lalu, berkat pertanyaan yang dilontarkan oleh cowok itu, Olivia kini memulai menanamkan sebuah prinsip baru. Cewek yang kini rambutnya mulai memanjang tersebut belajar untuk tidak peduli. Membutakan mata dan menulikan telinga jika dia berhadapan dengan berbagai hal yang menyangkut tentang sepasang kekasih itu.
Olivia juga sudah mempersiapkan berbagai teknik jika keadaan dan situasi mendatang akan mempermainkan hatinya lagi. Gampang saja. Menghindar. Jangan lupa untuk menyapa sekilas sebelum melesat pergi dari jangkauan Kafka.
"Benar juga sih," kata Hera setelah mendengar berbagai penjelasan dari Olivia, "tapi bukannya nanti itu cowok bakalan lebih ngerasa kalo elu benci dia, bahkan sampai ngehindar begitu?"
Adik manjanya Ghifari tersenyum simpul. "Kalo begitu balik ke point awal; nggak peduli. Kapan gue bisa move on kalo terus-terusan mikirin presepsi dia?"
Hera mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda setuju. Tangannya tak berhenti mencomot keripik kentang yang dia cemil.
"Tumben lu pintar, Liv. Udah yakin nggak bucin lagi, 'kan?"
Dengan tak berkemimi-perian, Olivia menoyor bahu Hera hingga cewek bermata sipit itu oleng. "Enak aja! Sekate-kate lu!"
"Ya gue sih cuma ngomong apa adanya, monyet..." kata Hera ngeles. "Masa iya elu sampai bucin sama pacar teman lu sendiri? Nggak keren banget! Emangnya cowok cakep cuma dia doang?"
Olivia hanya diam dan mengamati tiap pergerakan yang Hera lakukan. Bahkan ketika dia sedang menenggak jus mangga yang mereka buat bersama beberapa saat lalu.
"Solusi tepat buat keadaan yang udah kepepet dalam begini sih emang sebaiknya elu bertekad move on. Mau itu cowok jungkir-balik kek! Mau dia mesra-mesraan sama sohib lu kek!"
Duh, sakit!
"Yang penting, sekarang elu harus benar-benar get out dari kenangan indah yang udah bikin lu numbuhin rasa nggak jelas! Kayak yang kemarin gue bilang, elu perlu peralihan. Cari gebetan lain kek! Biar nggak ngenes-ngenes amat!"
Dipikir gampang... Olivia kan nggak ngerti sama yang begituan!
"Gimana kalo minta tolong sama Angga? Siapa tau dia punya stok teman sesama jomblo yang cakep... 'tul, nggak?"
Olivia berdecak tak setuju. "Nggak! Ogah! Ngapain juga gue ngebet cari-cari gebetan begitu? Bikin malu aja."
"Ya kalo nggak pengen malu, tunjukin dong kalo lu bisa move on dari si Kafka itu."
"Bisa sih. Bisa banget. Gampang kalo cowok itu tampangnya biasa aja..." keluh Olivia. "Dia tuh terlalu ganteng buat dilupain!"
"Alaaaah... alasan!" sergah Hera. "Ganteng, segimana gantengnya coba? Lu punya fotonya? Akun apa kek gitu, gue pengen lihat."
Putri bungsunya Om Kautsar pun mendengus kesal. "Ya elah, Herong! Boro-boro punya foto, tau akunnya aja kagak! Lagian nih ya, kalo gue udah punya satu aja foto dia, pasti udah gue kasih lihat ke elu!"
"Kan lu punya akun Tasya... Duh, Tuuun... Itun! Kepoin dikit lah, pasti ada di list following-nya Tasya," kata Hera sembari menghadiahi cubitan-cubitan gemas. "Sini, pinjam hape lu! Biar gue yang cari itu cowok."
Olivia pun menyerahkan ponselnya pada Hera. Bibirnya tak berhenti bergerak mendumal. Hera kalau nyubit itu pasti nggak kira-kira. Pedas kayak sambal terasi bikinan Bunda!
Selagi Hera sibuk membongkar akun Tasya yang dipenuhi oleh foto-foto gaya OOTD kekinian, Olivia berpesan, "Kepoinnya hati-hati ya, Nek. Jangan sampai kepencet macam-macam! Mau ditaruh ke mana lagi entar muka gue kalo sampai kepencet request to follow—"
"Oliiiv..."
Panggilan keras dari luar kamar pun terdengar, memotong obrolan Olivia dan Hera. Cewek itu lekas menyahut, "Iya, Buuun?"
Tanpa membuang waktu, Olivia pun segera beranjak dari posisi duduk santainya. Turun dari kasur, cewek itu melesat keluar kamar. Menghampiri Bunda yang telihat sangat rapi bersama suaminya.
"Ayah sama Bunda mau ke mana? Tumben, rapi banget," tegur Olivia. Sukses bikin Bunda sumringah cerah.
"Sekali-sekali ngedate malam mingguan gitu, Liv." Kerlingan centil dari Bunda membuat Olivia nyengir lebar. "Memangnya cuma anak muda yang boleh ngedate? Iya, 'kan, Yah?"
Ayah cuma mengangguk, mencoba menyembunyikan senyumannya dengan wajah datar. Dan tanggapan tersebut membuat kejahilan Olivia bangkit dari tidurnya.
"Ciyeee... Mesra banget sih Ayah sama Bunda..." goda Olivia dengan cengiran jahilnya.
"Kenapa? Pengen? Makanya jangan jomblo dong," balas Bunda menggoda putrinya.
Ayah menggeleng tidak setuju. "Biarin aja Oliv jomblo, Bun. Ayah masih belum izinkan dia punya pacar."
Merasa dibela, Olivia besar kepala. "Tuh, Bun. Ayah aja nggak kasih Oliv izin buat pacaran—"
"Tapi masa kamu nggak pernah diapelin sih, Liv?" potong Ayah. "Nggak perlu pacaran, kalo ada yang naksir, pasti teman cowok kamu main ke sini."
Olivia cemberut.
Ini sih namanya skakmat! Baru aja dibantu, sekarang justru dipojokkan. Ya udah sih, Olivia cuma bisa pasang muka ngambek yang selalu bikin pennghuni rumah jadi terhibur.
"Kata siapa nggak punya? Teman-teman cowok Oliv sering main ke rumah kok! Malahan sampai nginap!" sahut Olivia tak mau kalah.
"Itu sih teman-temannya Aghi..."
"Sudah, sudah. Kok malah berdebat," kata Ayah menengahi. "Yuk, Bun. Keburu Aghi pulang. Nanti si sulung protes kalau lihat kita rapi begini."
Bunda mengangguk setuju. "Oliv, nanti kalau mau makan malam, kamu pesan online ya, sayang. Atau minta titip ke Aghi aja. Takutnya Ayah sama Bunda kena macet."
"Iya, Bundaaa..."
Olivia pun mengantarkan kedua orang tuanya ke depan rumah. Memperhatikan interaksi sepasang suami-istri yang tetap mesra meskipun sudah melewati masa pernikahan perak. Tak heran jika terkadang teman-teman sekolah Olivia yang berkunjung ke rumah pasti berkata, 'Semoga gue bisa langgeng dan selalu mesra sama pasangan gue kelak. Kayak Ayah-Bundanya Oliv.' Dan sebagai anak pun Olivia memang harus mengamini dan mengacungkan kedua jempolnya kepada kedua orang tuanya atas keharmonisan mereka.
"Eh, Liv."
Lamunan Olivia buyar saat mendengar panggilan Hera yang ternyata sudah berdiri di belakangnya beberapa saat lalu. Cewek itu lantas menutup pintu rumah dan menghampiri temannya.
"Kenapa, Her?"
Hera menghampiri Olivia untuk menarik tangan temannya itu dan mengajaknya ke ruang tengah, lalu mendaratkan b****g mereka ke sofa empuk di depan televisi. Cewek itu membuka kembali ponsel milik Olivia. Nampak tergesa-gesa untuk memperlihatkan sesuatu.
"Duh, Liv... aduuuh!"
"Apaan sih, Heraaa? Ngomong yang benar, jangan dah-duh aja."
"Ini!!!" Hera menunjuk layar ponsel Olivia yang lebar dengan sangat antusias. Mata sipitnya membulat. "Ini kan akunnya? Namanya Kafka, 'kan?"
"Mana?" Olivia membaca nama cowok itu. "Iya, namanya Kafka. Udah tau kan sekarang? Cakep, 'kan? Jadi gue nggak sepenuhnya salah kalo sampai punya perasaan lebih ke dia, 'kan?"
"Iya, iya ngerti! Tapi bukan itu maksud gue, Liv! Coba lu lihat lagi deh!" seru Hera. "Gue nggak peduli deh dia secakep apa, Liv. Coba lu lihat yang jeli, dia ngefollow elu!"
"Hah!?"
WHAT!?
"Nih! Lu lihat tuh, dia ngefollow elu, monyeeettt!!!"
Serius. Dua-rius. Tigajutaenamratusribusembilanpuluhtujuh-rius!
Tertera tulisan "Follow Back" pada kolom berwarna biru di bawah jumlah following dan followers dari profil tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa orang itu telah mengikuti laman profil Olivia. di mana jika Olivia menekan tombol itu, maka dia akan meminta persetujuan untuk balas mengikuti akun Kafka. Jelas sekali kalau Kafka dapat dengan bebas melihat berbagai foto milik cewek itu karena akunnya yang memang tidak dikunci dan terbuka untuk siapapun. Berbeda dengan akun milik Kafka yang terkunci dengan jumlah mutuals yang terbatas.
Olivia sampai merem-melek hanya untuk memastikan bahwa akun i********:-nya benar-benar telah diikuti oleh Kafka. Ini seperti sebuah... mukjizat.
"Kok b-bisa!?"
"Kok gue nggak tau!?"
Cewek berambut pendek itu mencermati nama-nama yang tertera sebagai mutuals pada profil bergembok milik Kafka. Di sana terpampang nama pengguna milik Ghifari, Bima, Hanif dan tentu saja Tasya. Menyadari satu hal, Olivia tersenyum simpul. Dan ekspresi tersebut membuat Hera bingung.
"Kenapa lu? Baper?"
Olivia tertawa miris. "Nggak lah... Ngapain juga gue pake baper segala? Bikin capek hati."
Kedua alis Hera menyatu. Tak dapat mencerna dengan baik perubahan emosi yang drastis dari temannya.
"Pikir deh, Heraaa. Itu tuh, di situ mutuals dia ada abang gue. Dia juga pacarnya Tasya. Pasti ini cowok udah lihat tagged pics gue di akun mereka." Olivia menarik napas dalam-dalam. Kemudian dia mengembuskannya dengan senyuman yang belum bosan untuk pergi. "Udah, udah. Jangan bahas gimana-gimananya soal dia deh, Her. Yang penting, sekarang lu udah tau gimana tampang itu cowok."
Hera terkekeh geli atas tingkah Olivia yang berusaha keras untuk menolak sensasi gede rasa itu.
"Wajar kalo elu sampai klepek-klepek. Ganteng abis sih."
Olivia memutar bola matanya. "Gantengan abang gue."
Barusan dia memuji Kafka, sekarang membandingkannya dengab Ghifari. Cewek patah hati memang suka aneh ya...
"Oke, ganteng itu relatif," ralat Hera yang mencoba menghibur si tuan rumah. Kalau macam-macam, nanti yang ada dia malah ditendang!
Obrolan dua cewek itu pun beralih ke topik lain. Takut nanti Olivia capek. Capek hati. Biasanya, kalau sedang patah hati itu sebaiknya menjauhi hal-hal berbau romantis dan cinta-cintaan dulu. Kalau terus-menerus memikirkan hal begitu, kapan bisa move on-nya? Olivia tentu tidak akan mau bergerak pada tempat yang sama untuk selamanya. Jika tidak ada daya dan upaya agar bisa berlalu, maka dia akan selalu terjebak pada satu titik kelam itu saja.
Asyik bercengkrama dengan Hera yang akan menemani malam minggunya, ngobrol seru mereka harus terpotong saat mendengar suara pagar dibuka lebar. Cewek dengan piyama satin berpotongan pendek itu pun bangkit. Setengah hati, dia kembali beranjak ke pintu utama.
"Pasti Aghi tuh," dumalnya. Seolah-olah menjawab tatapan Hera. "Kebiasaan dia kalo udah nyampe depan rumah pasti berisik banget."
Dan tebakan Olivia harus diberi angka sempurna. Dari depan pintu, dia melihat Ghifari dan Hanif sedang berusaha menggeser pagar yang agak macet.
"Tadi Ayah bilang, kalo mau buka pagar kudu kasih pelumas gitu," kata Olivia yang memasang sendal jepit sembari berjalan menuju garasi. Dia mengambil sebotol oli bekas yang tadi disebutkan ayahnya dan memberikannya pada Ghifari.
"Siapa tuh? Teman sekampus kamu?" tanya Hanif seraya menyambut oli dari tangan adik sahabatnya.
Hera yang dengar pun nyengir lebar. Hanya sesaat saja, karena jawaban Olivia sukses bikin dia pengin lempar sendal jepit kepada temannya itu.
"Pembokat baru Oliv dong!"
"Eh, sekate-kate lu, Tun! Enak aja ngatain gue pembokat!" omel Hera nyablak.
Bodo amat deh sama cogan yang lagi berdiri di samping Ghifari itu!
Hanif tertawa keras. Setelah menyerahkan oli kepada Ghifari, dia dengan gemas mengacak-acak rambut Olivia. Mulutnya tak berhenti mengucapkan betapa imutnya cewek itu.
"Heh, curut. Kagak pake pelak-peluk juga. Adik gua udah segede gaban gini—"
Bukannya menuruti protesan Ghifari untuk memberi jarak, Olivia justru melingkarkan kedua lengannya di pinggang Hanif. Tak lupa dengan lidah yang melet-melet nyebelin.
"Ditegur bukannya nurut, malah makin jadi!" dumal Ghifari sembari menutup botol oli yang dia gunakan untuk roda besi pagar rumahnya. "Bantu dorong, nyet."
Sembari bergerak, Hanif masih ketawa-ketawa santai. Kepalanya geleng-geleng karena verse rap alias omelan Ghifari yang masih belum habis-habis juga. Makin panjang, makin nyelekit. Sampai bikin Olivia pusing sendiri. Ujung-ujungnya berakhir dengan wajah cemberut. Lagi. Entah berapa kali hari ini Olivia tertawa, baper, lalu manyun ngambek. Dan kehadiran Ghifari di rumah membuat mood cewek itu semakin naik-turun.
Pagar berhasil terbuka lebar. Ghifari pun kembali menaiki mobilnya yang masih menyala untuk dimasukkan ke dalam garasi. Sementara itu, Olivia mengajak Hanif untuk masuk ke rumah. Menyusul Hera yang tadi sempat nyelonong duluan, katanya pengin pipis.
"Liv, nanti bikinin milkshake yang kayak dulu itu dong. Kakak udah belikan bahannya."
Olivia mengedikkan sebelah bahunya. "Boleh aja sih... tapi Oliv dapat apa kalo bikinin milkshakenya?"
"Ini anak makin gede makin banyak maunya ya..." kata Hanif sambil menyentil kecil dahi Olivia. "Nanti Kakak beliin stroberi sekilo deh. Biar kamu makan semuanya sampai capek."
Cewek bertubuh kurus tak terlalu tinggi itu nyengir lucu. Wajar kalau Hanif suka gemas sendiri. Bawaannya pengin cubitin pipi Olivia terus. Kadang teman-teman Ghifari tuh suka iri, kok bisa sih si k*****t punya adik semanis dan selucu Olivia? Makanya mereka selalu memperlakukan Olivia seperti layaknya adik sendiri. Terutama Fatur, Hanif dan Juna yang memang berteman dengan Ghifari sejak masa sekolah menengah.
"Betewe, Kak, hari ini bakalan kumpul rame lagi?"
Hanif menggeleng. "Nggak juga sih... Fatur ada acara keluarga di Semarang. Juna sibuk nugas, maklumin aja namanya juga mahasiswa Kedokteran"
"Yaah... Nggak ada Mas Fatur," keluh Olivia menyayangkan.
"Kamu tuh selalu aja Mas Fatur yang dicari. Kakak hampir tiap malam minggu ngapel ke sini nggak pernah sekali pun dianggap." Hanif lagi-lagi menyentil kening Olivia, membuat cewek itu manyun.
"Justru karena Kak Hanif keseringan main makanya Oliv nggak kangen!" Cewek itu pun memanggil Hera yang baru keluar dari toilet. "Eh, Her, sini deh!"
Hera langsung senyum lebar. Nampak lega karena akhirnya bisa menyelesaikan tugas pencernaannya. Eh, tapi jangan khawatir! Hera cuma pipis kok! Bukannya—benar, tak perlu disebutkan. Dan sekarang dia berhadapan dengan salah satu teman dari Ghifari yang cakepnya di atas rata-rata. Ah, memang rezeki nomplok! Saatnya berkenalan sama cowok keren!
Tak lama, Ghifari memanggil Hanif untuk membantunya mengangkut beberapa barang dari mobil. Entahlah, Olivia tidak merasa patut untuk mengetahui itu. Hal-hal cowok yang baginya tidaklah penting. Beralih dengan Olivia yang mengobrol santai bersama Hera. Membicarakan info-info gosip terbaru yang sedang heboh di kampus. Tentang bagaimana kegiatan Hera yang kini menjadi anggota Paduan Suara Mahasiswa Universitas Trisakti, bahkan membahas beberapa kejadian yang sangat menghibur ketika mereka sedang nongkrong di salah satu tempat santai di Kampus A.
Hingga suara ribut dari luar rumah terdengar lagi. Olivia tahu benar, salah satunya adalah suara motor milik Bima—teman abangnya ngegame sekaligus vokalis band paling terkenalnya Usakti. Motor matic punya Bima memang selalu gaduh. Dan kegaduhan itu merupakan sebuah pertanda bahwa sebentar lagi ruang tengah yang dia tempati akan dikuasai oleh Ghifari and friends. Maka dari itu, cewek itu pun mengajak Hera untuk kembali masuk ke kamar saja. Biar ngobrolnya lebih leluasa.
"Teman-temannya Aghi udah pada datang, Her. Kita ke kamar aja yuk?" ajak Olivia.
Hera menggeleng. "Di sini aja ah, Liv. Kan lumayan, sekalian gue cuci mata."
"Wah, ini anak belum tau gimana kampretnya mereka sih! Susah. Entar gue disuruh bikin ini-itu sama Aghi. Lagian Mas Fatur nggak main ke sini, Her. Nanti nggak ada yang bantuin gue."
"Kan ada gue, Buuu! Lu tenang aja deh!" keukeuh Hera.
Baru saja Olivia hendak menarik lengan Hera, suara Ghifari dari ruang depan mengganggunya.
"Tuh, 'kan!?" dengusnya. "Kenapaaa..?"
Bukan Ghifari, justru Hanif yang datang menghampirinya dengan sebuah kantong plastik besar. Cowok itu langsung berjalan ke arah dapur dan membuat Olivia refleks mengikuti jejaknya. Begitu pula dengan Hera yang selalu penasaran.
"Ayo, bikinin milkshake."
"Udah ada Oreo juga?" tanya Olivia, memastikan.
"Lengkap."
Hera sumringah cerah. Pemandangan langka nih! Ada cogan yang main-main ke dapur! Ini sih kudu diabadikan!
Namun, belum sempat dia memulai sesi jeprat-jepretnya, kehadiran seseorang menarik perhatian tiga manusia tersebut. Telah tiba seorang cowok berambut hitam legam dengan perawakan tinggi atletis, berkulit putih bersih, serta bersenyum manis dengan deretan gigi kelinci yang lucu dan menawan. Bagi Hera, cowok itu terlihat sangat amat familiar. Dia pun mulai menyadari siapa gerangan identitas cowok tersebut ketika menyaksikan perubahan ekspresi Olivia.
"Weey, Kaf! Kagak malam mingguan lu?!" sambut Hanif yang sibuk membantu Olivia menyiapkan bahan untuk membuat minuman kesukaannya.
Rasanya tubuh Olivia seperti disiram seember air es saat mendengar Kafka berkata, "Ini gua lagi ngapel, Nif."
Dan hanya Hera yang melihat dengan seksama bagaimana cara Kafka menatap lekat setiap pergerakan Olivia. Cewek itu sampai melongo sekian detik karena sebuah pemandangan aneh; Olivia yang berlagak fokus dengan pekerjaannya dan Kafka yang terus-terusan memerhatikannya.
Pemandangan tersebut membuatnya khawatir. Jangan sampai Olivia mengambil langkah yang salah. Karena kini temannya itu sedang berada di antara dua jalur yang mempertaruhkan kehidupan asmara atau jalinan persahabatannya.
Oh! Hera tahu betul kalau Olivia sudah mengambil jejak keliru sejak awal. Kini, langkah tersebut menyesaktkan Olivia semakin dalam di kala Hanif dengan gamblangnya melontarkan banyolan berbunyi;
"Elu naksir Oliv, Kaf? Langkahin dulu mayat gua!"
Hera semakin yakin kalau sekarang Olivia pasti sudah baper tingkat cloud nine ketika Kafka dengan santainya menjawab; "Liv, pinjam pisau bentar. Mau bunuh Hanif dulu."
"Kamprettt!!!"