Baru saja Kafka mendaratkan dirinya pada permukaan kursi empuk yang tersedia di teras rumah. Niatnya untuk mengambil sebatang rokok pun harus diurungkan. Ponselnya dihujani oleh notifikasi yang menandakan bahwa adanya pesan obrolan masuk. Kafka berdecak kesal karena suasana hatinya yang kacau balau, meski tangannya tetap membuka pesan beruntun tersebut.
Aghi
posisi?
ler
jadi kaga?
jgn bilang kaga jd
tod
readwoy
bgst
Cowok itu menghela napas panjang. Dilema. Kini dia tengah disuguhkan dua pilihan. Antara memenuhi keinginan Tasya yang tiba-tiba memintanya untuk menemani cewek itu berbelanja atau menepati janji untuk ngumpul bareng di rumah Ghifari.
Dan jika diminta untuk memilih, jujur saja, Kafka agak keberatan dengan pilihan pertama. Mengapa demikian? Karena kebiasaan pacarnya itu terkadang membuatnya kesal. Tidak hanya satu atau dua kali saja. Setiap akhir pekan, Tasya selalu mengajaknya untuk jalan-jalan. Padahal hampir setiap hari mereka selalu bertemu. Tentu saja, Kafka punya tugas wajib untuk menjemput dan mengantar Tasya. Berangkat dan pulang bareng. Maklum, namanya juga satu kampus. Walaupun beda fakultas dan angkatan, yang namanya pacar, kewajiban untuk bersama pun memang harus selalu diutamakan.
Ya, semenjak Tasya lulus dan menyusul dirinya untuk melanjutkan pendidikannya ke Jakarta, Kafka harus bergerak lebih ekstra. Kerja keras bagai kuda. ke mana-mana selalu sama Tasya.
Lama-lama dia merasakan waktu memanjakan diri dengan berbagai hobinya semakin berkurang saja. Dulu, waktu dia harus menjalin hubungan jarak jauh dengan Tasya, Kafka dapat dengan bebas melakukan apapun yang dia suka. Namun kini cowok itu hanya bisa gigit jari. Waktu yang dia punya hanyalah di malam hari. Tepatnya setelah mengantar Tasya pulang sehabis jalan-jalan. Jadi, jangan heran kalau Kafka harus membelah jalanan Jakarta di dini hari lalu berakhir bangun kesiangan besoknya. Dan ujung-ujungnya cowok itu pun diomelin sama Tasya karena terlambat menjemputnya.
Memikirkan perubahan yang terjadi pada pembagian waktu untuk kepentingan pribadinya, Kafka merasa semakin jenuh. Terbukti dengan helaan napas panjang dan dalam ketika ponsel berdering dan menampilkan nama Tasya pada layar. Dia diam saja. Sengaja tak mengangkat telpon dari pacarnya tersebut. Dan cowok itu mendecih saat ponselnya berdering sekali lagi.
"Iya, Tasyaaa..?"
Hm, terdengar seperti keluhan ya?
Benar. Kafka memang sedang berada di titik jenuhnya. Dan sikapnya pun lagi-lagi membuahkan berbagai keluhan dari Tasya. Dari mengapa cowok itu menyambut telponnya dengan nada demikian, mengapa dia tidak segera mengangkat telponnya, dan berbagai pertanyaan yang membuat kepala Kafka semakin mumet.
"Aku nggak bisa, Tasya. Maaf."
Dan penolakan Kafka berujung dengan ajang protes besar-besaran.
"Kamu gimana sih, boo? Kan aku udah bilang kalo satnite ini aku pengen coba gelatto di sana. Kenapa sekarang malah bilang nggak bisa?!"
"Aku lupa kalo aku udah janji sama teman-teman aku, bee. Dan minggu-minggu kemaren aku juga harus batalin janji aku sama mereka karena harus jalan sama kamu," jelas Kafka sebisanya.
Suhu dan kelembaban udara kota Jakarta yang tinggi sepertinya sedang mempunyai recana licik dan diam-diam membuat hati Kafka ikut memanas. Terbukti dengan beberapa kalimat penuh penegasan yang sanggup membungkam Tasya.
"Kamu bisa nggak sih sekali aja mengerti kalo aku juga perlu waktu bebas buat main sama teman-temanku? Apa waktu yang aku kasih ke kamu setiap harinya itu kurang? Tasya, kita ketemu hampir setiap--"
"Ya udah, sana! Kamu puas-puasin main sama teman-teman kamu yang nggak jelas itu!!!"
Dan sambungan telpon pun diputuskan tiba-tiba secara sepihak. Menyisakan Kafka yang dengan gusar mengucapkan satu kata serapah. Pada akhirnya, dia pun memilih untuk kembali masuk ke rumah dan mengambil kunci motor serta jaket kulit hitamnya.
"Mau ke mana, Kaf? Malam mingguan sama Tasya lagi?"
Pertanyaan Mbak Dita membuat cowok itu tersenyum miring. Hah! Kafka tahu, dalam pertanyaan itu terselip sebuah sindiran. Dan kakak iparnya tersebut tertawa kecil saat mendengar jawaban Kafka.
"Memangnya harus sama Tasya terus, Mbak?"
Sembari mengelus perutnya yang mengandung keponakan Kafka, Dita menyahut, "Kali aja, Kaf... Biasanya kan sama Tasya terus. ke mana-mana sama Tasya. Untung dia nggak ngintilin kamu waktu mandi sama buang air."
"Hahahaha," Kafka ikut tertawa. "Nggak lah, Mbak. Ada-ada aja."
"Kan kali aja begitu... Terus, kamu mau ke mana?"
"Ke rumah teman, Mbak. Bilangin sama Bang Khalif, aku nggak pulang. Mau nginap di sana aja," kata Kafka sembari memasukkan laptop gaming msi ke dalam ransel raksasa miliknya.
"Sampai ngangkut laptop begitu, pasti mau main game semalam suntuk ya?" tebak Dita.
Kafka nyengir. "Nah, kalo yang itu jangan bilangin Abang ya, Mbak!"
Dita cuma bisa geleng-geleng kepala. "Iya, iya. Gampang. Nanti kamu pulangnya gimana? Besok Mbak sama abang kamu punya banyak undangan yang perlu dihadirin lho."
"Nggak sampai seharian juga, 'kan, Mbak?" tanya Kafka yang berjalan menuju kulkas dan mengambil sekotak s**u stroberi dan meminumnya sekaligus hingga tetes terakhir.
Cowok itu menghela napas lega setelah menghapus rasa dahaga dengan minuman kesukaannya tersebut. "Jangan sampai kecapekan, Mbak. Kalo udah capek itu bilang. Bang Khalif kadang suka lupa diri kalo lagi bareng sama teman-temannya. Sekali-sekali, nggak pa-pa egois. Mbak juga harus mikirin kesehatan Mbak dan si kecil di sana."
Duh... Siapa yang tidak sayang dengan adik ipar perhatian seperti Kafka? Karena perilaku manis cowok ini, terkadang Dita sampai lupa kalau sesungguhnya Kafka adalah adik iparnya. Bukan adik kandungnya. Bahkan istri dari Khalif itu lebih sering membela Kafka jika suaminya memarahi adik iparnya tersebut.
"Iya, Mbak ngerti kok," kata Dita mengalah. "Nggak heran kalo Tasya selalu pengen sama kamu terus. Perhatiannya itu lho!"
Kafka mengulas senyum andalannya. "Aku pergi dulu. Oh, iya, kunci mobilku ada di tempat biasa. Kalo mau keluar, pake mobilku aja, Mbak. Atau kalo bisa pake jasa online aja."
"Kamu pake motor lagi?"
Anggukan Kafka membuat Dita mengeluh. Sulit untuk membujuk Kafka agar tidak menggunakan motor besar kebanggaannya. Sesungguhnya, Mama sudah mewanti-wanti Khalif agar mengirimkan kembali motor itu ke Palembang. Mama paling tidak suka kalau mengetahui putra bungsunya tersebut mengendarai motor.
Pasca kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan Kafka mengalami patah tulang pada kaki itu, Mama menjadi sangat protektif. Sampai-sampai beliau melarang Kafka untuk menyentuh kendaraan roda dua tersebut dan meminta Papa agar membelikan mobil untuk anaknya. Dan kalau beliau tahu tentang kenyataan bahwa Kafka sering kali lebih memilih motor, entah bagaimana amukan yang akan Mama ledakkan nantinya.
"Pakai mobil aja, nanti abang kamu marah lagi."
"Janji, Mbak, aku nggak kebut-kebutan lagi kok!" kata Kafka yang menaruh tangan kanannya ke d**a kiri seraya berjalan menuju pintu. Dan tanpa menunggu protesan lainnya, Kafka pun mengucap salam lalu pergi.
Perjalanan menuju rumah Ghifari tidak terlalu jauh. Sekitar lima sampai sepuluh menit dari Pinang Ranti menuju ke Lubang Buaya. Dekat sekali. Di kala motor sport putih bernama Whiteson kebanggaannya membelah Jalan Raya Pondok Gede, Kafka menyenandungkan beberapa nyanyian. Seolah-olah tidak mempersalahkan kepadatan jalan yang dipenuhi oleh banyak motor dan mobil.
Dan ketika dia melewati jembatan kecil, cowok itu mendapati Bima yang sedang berada di halaman sebuah mini market. Cowok itu pun ikut menepikan motor, membuka kaca helm dan memanggil teman satu squad game-nya tersebut.
"Bim!"
Si empu nama lantas menoleh ke asal suara, membatalkan niatnya untuk menaiki motor matic bongsor berdimensi besarnya tersebut. Bima baru menyadari eksistensi Kafka saat mendengar suaranya yang agak teredam bunyi deru motor besar itu.
"Anjir, Kaf! Gua kirain siapa. Tumben lu naik motor," tegur Bima yang kini benar-benar menaiki motornya. "Langsung ke rumah Aghi dah, ngobrolnya di sana aja! Tuh orang udah ngomal-ngomel dari tadi!"
Kafka mengamini. Membiarkan matic bongsor dengan bacotan berisik milik Bima memimpin di depan. Sekitar lima puluh meter dari mini market, mereka pun berhenti tepat di depan sebuah rumah berpagar hitam. Terparkir mobil SUV milik si empu rumah di garasi yang terbuka lebar. Mereka berdua pun menyusun motor di sisi lain halaman rumah.
"Assalamu'alaikum!" seru Bima yang masih kesulitan melepas helm bogo retronya. Sedangkan Kafka memutuskan untuk menutup rapat kembali pagar yang mereka buka.
Tak ada sahutan. Sepertinya para penghuni rumah sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Kafka dapat melihat sepatu sneakers kesayangan Hanif di teras. Menandakan bahwa sudah ada tamu heboh yang lain. Dan benar saja, saat dia menginjakkan kaki masuk ke rumah, Kafka mendengar suara tawa Hanif yang melengking.
Seulas senyum tersampir di wajah Kafka. Terutama kala dia mendengar suara cekikian seorang cewek yang bersumber dari bagian terdalam kediaman keluarga Om Kautsar. Cowok itu cepat-cepat menaruh helm dan menutup kembali pintu yang sebelumnya dibuka oleh Bima. Bukannya menuju kamar Ghifari, dia justru melenggang menuju dapur di mana sumber suara tawa itu berasal.
"Weey, Kaf! Kagak malam mingguan lu?!" sambut Hanif yang terlihat sibuk bersama Olivia.
Ah, ya. Olivia. Cewek yang dua tahun lalu pernah ditolongnya. Adiknya Ghifari yang merupakan teman satu tim gaming sekaligus sohib terbaiknya. Dan... cewek yang ternyata menanamkan perasaan lebih padanya sejak terjadinya peristiwa mengesankan itu.
Kafka sumringah lebar. Kedua matanya tak dapat berhenti memerhatikan tingkah Olivia yang serba salah. Dan entah kerasukan jin dari mana, dia menjawab pertanyaan basa-basi Hanif dengan;
"Ini gua lagi ngapel, Nif."
Hanif terkekeh atas jawaban nyeleneh dari Kafka. Ah, biasa lah... Bercanda gila ala cowok k*****t yang sesungguhnya berbahaya bagi cewek berhati lemah. Contohnya Olivia. Tapi sayang, sepertinya Kafka kurang peka terhadap hal ini... atau dia berpura-pura tidak mengerti?
"Elu naksir Oliv, Kaf? Langkahin dulu mayat gua!"
Kini giliran Kafka yang tertawa. Kedua matanya menyipit karena banyolan Hanif yang memang kocak tiada tara. Rasanya kurang seru kalau candaan Hanif itu ditanggapi terlalu serius.
"Liv, pinjam pisau bentar. Mau bunuh Hanif dulu."
"Kamprettt!!!"
Hanif hampir saja menghantamkan siku tangan kanannya pada cowok itu. Kafka dengan tebal muka malah semakin getol menggoda Olivia yang sudah Hanif anggap seperti adik kecilnya sendiri.
"Hehehehe, becanda, Bang. Ya elah, becanda!" bujuk Kafka yang kini lehernya dipiting oleh lengan Hanif.
Tawa gelinya berakhir kala mendengar kikikan Olivia. Cowok itu terdiam saat Olivia tersenyum lebar menatap dirinya dan Hanif secara bergantian.
"Aku hampir mau ambilin pisaunya nih, Kak. Acara bunuh-bunuhannya gimana? Tetap jadi, 'kan?"
"Haaa..! Kamu apaan sih, Liv! Kok malah mau sekongkol sama si ikan kakap goreng asam manis ini?! Tega!!"
Rengekan manja Hanif membuat Kafka seketika merinding. Entah mengapa, dia merasa terganggu dengan tanggapan Olivia yang terkesan sangat santai. Bahkan sekarang cewek itu tertawa saat Hanif dengan gemas dan sangat leluasa mencubiti kedua pipinya.
Tanpa dia sadari, tubuhnya merasa semakin gerah. Diam-diam dia melepas jaket kulit hitamnya. Matanya masih lekat menatap Olivia yang terus-terusan ditempeli oleh Hanif.
"Eh, Kaf! ke mana?!" seru Hanif saat melihat temannya melenggang pergi begitu saja.
"Ngadem! Panas nih!"
Kafka dapat mendengar suara halus Olivia yang dengan lembut berkata, "Kakak ngumpul aja sana ke kamar Aghi. Biar Oliv sama Hera yang beresin. Buat Kak Hanif, Oliv sediain yang spesial pake gelas paling gede."
Sebuah dengusan sinis pun dengan bebas lepas dari bibir Kafka yang tersenyum miring. Tahukah dia dengan apa yang kini tengah bergelut dalam hatinya itu dapat menghancurkan jalinan persahabatan antara dua gadis?
¤¤¤¤
Hera menatap Olivia yang selonjoran di depan televisi. Tak habis pikir. Bagaimana dengan mudahnya Olivia dapat bersikap sesantai itu, padahal dia yakin seyakin-yakinnya bahwa temannya tersebut pasti baper tak tertolongkan. Hera telah menyaksikan semuanya. Tepat di depan kedua matanya.
"Liv."
Panggilan Hera disambut dengan gumaman dari Olivia. Cewek itu tidak melepaskan atensinya dari layar televisi yang menayangkan acara variety show kocak ala negeri gingseng. Sesekali, Olivia tertawa karena tingkah konyol dari beberapa bintang yang mengisi acara tersebut.
"Eh, Liv!"
"Apaaa..?" sahut Olivia akhirnya. "Mau ngomong apa? Dari tadi elu ngelihatin gue terus."
Suara teriakan heboh dari dalam kamar Ghifari sempat membuat Hera mengurungkan niatnya untuk melanjutkan percakapan. Maklum, namanya juga cowok. Kalau ngumpul pasti ributnya gila-gilaan. Dan pastinya tidak akan luput dari yang namanya sumpah serapah.
"Gila ya, Liv, itu cowok benar-benar bikin gue speechless. Parah!"
Olivia menyeringai. "Cowok yang mana? Kak Hanif? Dia mah emang paling jago ngegombal."
"Bukan!" sergah Hera cepat. "Si Kafka-Kafka itu!"
Desisan tajam Hera membuat Olivia tertawa kecil. Tak perlu berbisik, percayalah, senyaring apapun mereka berbicara, para cowok yang sedang asyik dengan dunianya itu pasti tidak akan mendengar.
"Oh."
Hanya itu tanggapan Olivia. Tak ada yang lain. Dia terlihat tidak berminat sama sekali.
"Udah lihat sendiri, 'kan? Menurut lu, apa gue pantas buat ngebaperin cowok macam itu?"
Hera lantas memberikan tanda penolakan dengan berkata, "Huh! No, thanks ya, Liv! Cowok kadal macam itu nggak ada pantas-pantasnya buat dibaperin!"
Olivia hanya dapat menanggapi tingkah Hera tersebut dengan sebuah senyuman. Kedua matanya kembali fokus untuk menikmati acara yang disuguhkan televisi.
"Eh, tapi sampai sekarang gue masih nggak nyangka. Sumpah deh, gue kira elu bakalan baper. Soalnya, tadi cowok itu nggak berhenti ngelihatin elu, Liv! Muka dia udah kayak kucing yang siap nerkam ayam goreng di meja makan!"
"Jadi muka gue kelihatan mirip sama ayam goreng di meja makan gitu? s****n," kata Olivia yang hanya menyambut percakapan ini dengan candaan. Melihat bibir Hera yang manyun, dia pun berhenti memaksakan tawanya. "Iya, iya, Heraaa. Gue tau kok. Tau banget kalo dia ngelihatin gue kayak gitu."
"Salut deh gue sama lu, Liv." Hera menepuk-nepuk pundak kiri Olivia. Seolah-olah sedang menyingkirkan debu dari sana. "Elu bisa santai begitu ngadepinnya, benar-benar top markotop! Kayaknya makin mantap aja buat move on ye, cuy?"
Olivia cuma mengangguk sebanyak dua kali.
Capek dengan topik yang selalu berkaitan dengan cowok itu. Lelah jika harus selalu berupaya untuk move on namun hati selalu berkata lain setiap dia bertemu dengannya. Letih untuk terus-terusan memasang wajah tenang dan berpura-pura baik-baik saja.
Jadi, dia harus bagaimana?
Apa yang harus dia lakukan?
Zahra Olivia Halim tahu benar kalau perasaan itu memang sangat amat tak pantas untuk dipendam. Maka, salahkah jika dia bersikap seperti tadi terhadap Kafka? Kelirukah dia jika menanamkan sebuah paham bahwasanya cowok itu hanya bercanda seperti pengakuan yang dia sebutkan kepada Hanif?
Apa yang sedang diharapkan Olivia? Kafka akan serius dengan gombalannya? Hell-o! Yang namanya gombal, mana mungkin serius? Dia cuma main-main doang! Main hati. Dan itu benar-benar berbahaya buat kaum cewek yang mudah terbawa perasaan.
Oliv udah capek buat baper sendiri! Dia pengin ngebuang jauh-jauh rasa itu! Dia pengin ngelupain semuanya!
Bukan. Bukan cuma pengin, tapi harus. HARUS!
Apa bedanya Kafka dan Hanif? Tidak ada. Mereka berdua sama-sama temannya Ghifari. Cukup itu yang ditanam dan dicamkan dengan sungguh-sungguh dalam otak serta hati Olivia.
Sebuah pesan masuk tiba-tiba menyela obrolan Hera dan Olivia. Dari salah satu teman mereka yang paling asyik dan paling berguna. Siapa lagi kalau bukan Angga?
A n g g a
Olip
Hera beneran lagi nginep di rumah lu?
Wah pilih kasih :(
Pesan itu sukses membuat Olivia menyeringai. Cewek itu lantas memamerkan pesan tersebut pada Hera. Dan teman bermata sipitnya Olivia itu pun mulai mendumal gemas. Tanpa permisi, dia merebut ponsel Olivia dan menelpon Angga. Sedangkan Olivia, cewek itu cuma ketawa-ketiwi saja.
"Heh, juleha!! Apa maksudnya pilih kasih?!"
Anak bungsunya Om Kautsar pun tertawa terbahak-bahak saat mendengar suara Angga dari loudspeaker.
"Waduh! Ampun, ibu bos! Maksud urang teh, urang juga pengen main-main ke rumah neng Oliiip..."
"Ya kalo pengen main, main aja ke sini, botol cuka! Pake acara ngatain pilih kasih. Manja lu, ah! j****y. Ya, nggak, Liv?"
Olivia mengangguk tanpa berhenti cekikikan. "Hihihi... Iya, Ngga. Samper aja ke sini. Tapi jangan lupa bawa martabak telor ya, biar kita bisa nyemil-nyemil enak."
"Siap, tuan putri. Hamba segera meluncur!"
Sambungan pun dimatikan setelah Hera mengucapkan beberapa pesan lainnya untuk Angga. Menyisakan mereka yang merasa terhibur karena cowok itu.
"Ciyeee... Tuan putri habis ditelpon pangerannya ya?"
Suara menyebalkan Hanif tiba-tiba terdengar dari belakang. Hera kaget setengah mampus sampai komat-kamit. Sedangkan Olivia sibuk mengelus d**a. Hampir saja ponselnya terlempar begitu saja.
"Astaga, Kak!" pekik Olivia. "Kenapa tiba-tiba nongol gitu sih?! Bikin jantungan tau!!"
Hanif mengangkat kedua bahunya. "Masa tadi kalian nggak lihat aku jalan ke toilet?"
Hera menggeleng. "Lho? Tadi keluar dari kamar?"
"Ya iya, coba tanyain Kafka tuh! Kita di luar dari tadi. Ya, nggak, Kaf?!"
Kafka???
Olivia pun melirik cowok itu horor.
Oh, berarti sedari tadi cowok itu mendengar percakapan antara Olivia dan Hera bersama Angga?
Hera diam-diam menyunggingkan senyuman miring saat mendengar sahutan singkat dari Kafka.
"Yep!"
Cowok jangkung itu terlihat semakin menarik ketika dia memasukkan kedua tangannya ke dalam celana jeans hitamnya. Kedua matanya tak berhenti menatap Olivia yang cengengesan kikuk. Tak dapat dipungkiri, Olivia benar-benar salah tingkah karena cerocosan Hanif.
"Hmm... cukup tau ya, Liv. Diam-diam kamu udah punya pangeran. Siapa namanya? Anak mana? Dia harus lulus beberapa ujian dari Kakak sebelum berani macarin kamu," kata Hanif beruntun. Tebal muka.
"Elu siapeee..? Heh, tukiyem, buru sana cuss berangkat beli makan! Dari tadi ngoceh mulu!" timbrung Ghifari galak. Cowok itu keluar dari sarangnya. Pasti karena lapar. Percaya deh.
Di belakang abangnya, Olivia melihat Bima yang juga ikut berkicau karena ulah Hanif. Cewek itu nyengir lebar saat tatapan matanya berserubuk dengan cowok itu.
"Eh, Dede Olivia oil. Apa kabar, De?"
Cengiran Olivia lantas sirna. Suara tawa tertahan dari Hera pun terdengar. Olivia oil?! k*****t tiada tara. Teman-teman Ghifari memang selalu memanggilnya dengan sebutan-sebutan aneh.
"Lho, Oliv nggak tau kalo ternyata ada Mas Bima," balasnya tanpa menghiraukan senyum jahil cowok itu.
"Iya, nih. Tadi Mas bareng sama Kafka. Pas nyampe langsung ngadem di kamar Aghi."
Olivia memutar bola matanya. Dan percakapan tidak bermanfaat itu pun berakhir saat Ghifari bertanya;
"Tun, lu pengen nasgor juga, kagak?"
Adiknya menggeleng. "Nggak ah, lagi malas makan yang berat-berat."
"Alah, sok-sokan diet lu!" cibir Hera. "Aku mau, Kak. Pake telor dadar."
Ghifari mengacungkan jempol. "Bagus. Jadi cewek jangan mau digoblokin ama diet. Lapar, ya tinggal makan."
Hera menjetikkan jarinya. "Setuju banget!!"
"Oke deh," timpal Hanif. "Jadi, nasgornya satu... dua... empat ya? Gua lagi ngidam bakso nih. Serius kamu nggak kepengen makan, Liv?"
Olivia mengangguk mantap. Dia kontan membisu saat mendengar seseorang tiba-tiba bicara. Cowok berwajah tampan dengan deretan gigi rapi yang lucu.
"Kalo gitu punya gue porsi jumbo aja dah. Nanti gua yang suapin Oliv. Nggak masalah sepiring berdua sama gua. Ya, kan, Liv?"
Bang...kotan.
Iya, barusan itu Kafka yang bacot.
Kafka nyengir k*****t dan pergi gitu aja saat cowok-cowok yang tanpa sengaja terkumpul di ruang tengah rumah Om Kautsar itu melayangkan berbagai macam sumpah serapah padanya.
Oh! Jangan lupa dengan kedipan mata nakal dari Kafka untuk Olivia yang sukses menuai kecaman. Mungkin jika Kafka tidak segera kabur keluar dari rumah, berbagai perabotan akan berterbangan ke arahnya.
Dan bagaimana dengan Olivia sendiri?
Hehehe. Sabar ya, Liv. Kamu pasti bisa menghadapi cobaan k*****t seperti ini. Iya, hati kamu nggak boleh lemah. Masa digituin aja kamu sudah lumer? Hm, no no hae!
"Her, ke kamar yuk? Kita nunggu Angga di kamar aja. Pusing gue kalo lama-lama ngeliat muka dia terus," ajak Olivia dengan suara sekecil mungkin.
Hera mengangguk setuju. Kasihan. Pipi Olivia sudah semerah tomat. Pasti dia malu banget deh!