Johnny sebenarnya agak curiga dengan tempat ini. Tapi melihat teman-temannya begitu excited, turun dari mobil dengan ceria dan langsung mendatangi kios-kios makanan. Membuat pria itu mencoba menepis rasa curiganya.
Setelah mengunci mobil. Ia mengikuti Tristan dan Joseph yang mendatangi sebuah kios buah.
"Aku tidak menyangka masih ada buah yang bisa tumbuh." Ucap Tristan seraya mengambil satu buah apel. "Harus dengan apa aku membayarnya?" Tanya Tristan seraya menatap wanita paruh baya yang menjadi penjaga kios.
Namun sepertinya penjaga kios itu tidak mengerti apa yang Tristan ucapkan. Jadi Johnny menerjemahkannya dalam bahasa Inggris.
"You can kiss me."
Tristan seketika melebarkan matanya. Johnny dan Joseph sontak tergelak.
"I just kidding. It's free."
"Woaha, thank you!"
Tristan melirik Joseph yang tidak mengambil apapun. Padahal tadi dia yang paling terlihat senang saat melihat kios buah.
Joseph malah menarik tangannya dengan Johnny, untuk menjauh dari kios tersebut.
"Apa kau tidak berfikir apelnya aneh?" Tanya Joseph dengan nada berbisik. Kening Tristan mengernyit, seraya memperhatikan apel merah yang ada di tangannya.
"Apa yang aneh?"
Johnny tiba-tiba merampas apel tersebut dari tangan Tristan. Kemudian membelahnya begitu saja jadi dua menggunakan tangannya.
"Woahh... isinya hanya seperti pasir basah." Gumam Joseph sembari mencolek isi apel yang berwarna putih. Johnny mencoba mengorek ke dalam apel tersebut. Dan ia menemukan sebuah kotak kecil berisi rangkaian kabel dengan lampu kecil berwarna hijau.
"Kita harus berhati-hati." Bisik Johnny kemudian membuang apel tersebut beserta benda aneh yang di temukan di dalamnya.
Tristan mengerucutkan bibirnya.
"Baru juga ingin merasakan buah." Gerutu Tristan. "Tapi omong-omong yang lain kemana ya?"
"Sepertinya masuk ke gedung itu, mengikuti pria tua tadi." Joseph berujar sembari menunjuk salah satu gedung.
Tristan, Johnny dan Joseph pun bergegas ke sana.
-- -- --
Mereka di antarkan masuk pada sebuah ruangan yang seperti kamar. Berada di lantai utama.
Dan di dalam ruangan, sudah terdapat Rosa, Kevin, Edward, Mark, Lucas, dan Daniel. Juga seseorang yang cukup asing di mata Tristan, Joseph dan Johnny.
"Hai, aku Nevan." Ucap bocah laki-laki berkepala kecil itu seraya tersenyum kecil.
Edward tiba-tiba menyahut sembari tersenyum kecil. "Dia temanku selama dua hari di benteng, sebelum akhirnya dia pergi."
-- -- --
"Kemana anggota timmu yang lain?" Tanya Daniel sembari menyantap bubur yang disediakan untuk mereka. Setelah selesai mandi, dan mencuci pakaian masing-masing. Mereka di suguhi berbagai berbagai macam makanan.
"Mereka melanjutkan perjalanan mencari Profesor Gal. Aku tidak tahu sekarang mereka masih hidup atau sudah mati." Nevan membalas pertanyaan Daniel dengan raut wajah dingin.
"Kenapa kau tidak ikut mereka?" Giliran Tristan yang bertanya.
Nevan menghentikan sejenak acara makannya. Ia kemudian mendengus.
"Aku... aku merasa mencari Profesor Gal adalah sebuah kebodohan." Seketika ruangan makan hening. Semua menatap Nevan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kita mempertaruhkan nyawa hanya untuk mencari Profesor Gal? Bukankah gila?"
"Hei. Kita mencari dia untuk mencari obat. Untuk apa mencari orang gila itu? Yang kita butuhkan obatnya." Lucas tiba-tiba menyahuti. Kali ini ekspresi wajahnya lebih serius dari biasanya.
"Tidak ada gunanya. Alat canggih, orang-orang terlatih. Sudah diarahkan mencarinya. Tapi apa? Tidak ada hasilkan? Kenapa kita harus mempertaruhkan nyawa kita untuk mencarinya? Kenapa para pembangun benten tidak membiarkan kita tetap aman di dalam benteng? Kita buat kehidupan yang baru, dan biarkan yang di luar. Coba kalian fikir."
Brak
Rosa tiba-tiba membanting meja.
"Apa kau bilang? Meskipun ada orang yang kita cintai? Lalu kau menyuruh kita membiarkan orang-orang yang kita cintai terkena virus, hingga menjadi zombie lalu hancur seperti tanah. Begitu?"
Nevan menatap Rosa dengan tatapan tajam.
"Ya. Lebih baik begitu. Kita semua juga perlahan akan mati dan di kubur di tanah. Kenapa sekarang kita harus susah-susah, lelah-lelah, menghabiskan waktu dan tenaga kita untuk mencari Profesor Gal, atau lebih tepatnya penawar. Aku sudah berfikir seribu kali, dan aku rasa itu konyol. Apa yang kita lakukan konyol dan sia-sia."
Daniel tiba-tiba beranjak berdiri dari kursi meja makannya.
"Ini jebakan." Gumam Daniel.
"Apa maksudmu?" Nevan menyahut. "Kami sudah mencoba menjamu kalian dengan baik. Dan apa yang aku katakan tidak salah. Coba saja kalian fikir."
Tidak ada yang menjawab perkataan Nevan. Semua hanya diam.
"Kalau kalian mau pergi, tunggu besok pagi. Sekarang sudah sore dan biasanya akan ada badai pasir yang hebat." Kata Nevan. Ia kemudian menghela nafasnya. "Apa yang aku katakan. Hanya menyampaikan opiniku, tidak bermaksud menghasut kalian atau apapun."
-- -- --
Mereka di antarkan ke kamar yang memiliki banyak kasur single bed. Kasur-kasur itu tampak empuk dan nyaman.
Tristan dan Johnny langsung berbaring di kasur yang berbeda.
Mereka yang merasa punggungnya paling remuk. Baru diikuti yang lain, termasuk Nevan. Kecuali Rosa, dia di siapkan kamar sendiri.
"Sudah berapa lama kau disini?" Tanya Daniel.
"Eumm... belum lama, baru dua bulan." Balas Nevan.
"Perkiraanku kota kecil ini tidak akan bertahan lama." Ujar Lucas.
"Ya. Mungkin. Tapi kami berusaha sebisa mungkin melindungi diri dari virus yang datang melalui udara."
Joseph tiba-tiba terkekeh meremehkan pada Nevan.
"Dan cepat atau lambat, kota kecil kalian ini akan jadi kota zombie juga." Kata Joseph.
"Teman-teman, berhenti memojokan Nevan." Timpal Edward yang merasa mulai tidak nyaman dengan situasi ini.
Dimana teman-temannya memojokan Nevan karna perbincangan mereka saat di meja makan tadi.
Johnny tiba-tiba beranjak duduk dan menatap Nevan.
"Nevan, kau masih remaja. I know... sulit menerima kenyataan pahit dunia kita sudah hancur. Dan kita harus bekerja keras mencari solusi agar dunia kembali seperti semula. Meskipun akan hancur kembali oleh kiamat. Aku tahu kau masih ingin bersenang-senang, dan hidup tenang tanpa masalah yang berat, kecuali masalah sekolah dan cinta monyet. Aku pernah remaja. Tapi... sekarang situasinya berbeda. Generasi muda dibutuhkan untuk menyelamatkan orang-orang. Dan seharusnya kita merasa bersyukur, sebagai generasi muda, masa muda kita tidak diisi hal yang tidak berguna." Nevan hanya terdiam mendengar penuturan panjang lebar Johnny.
"Setenang-tenangnya hidupmu, tetap pasti ada rintangannya. Karna itulah hidup. Lebih baik rintangan itu datang saat kita memang sedang memperjuangkan hal yang berguna. Dibanding rintangan itu datang, hingga membuat kita letih. Tapi tidak ada gunanya bagi siapapun. Tidak disaat kita sedang memperjuangkan hal yang berguna." Dan Johnny akhirnya menyudahi perkataannya. Ia kembali berbaring, seraya menatap ke langit-langit kamar yang penuh retakan.
Nevan menundukan kepalanya sejenak.
"Aku... sebenarnya tidak ingin begini- akh!" Semua tersentak saat perkataan Nevan terputus, karna pekikan yang keluar dari mulutnya.
Edward seketika menatap Nevan khawatir.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Edward. Nevan menggelengkan kepalanya. Keningnya tiba-tiba banyak mengeluarkan banyak bulir keringat, nafasnya pun memburu.
"Aku mau tidur. Ka-ka-kalian juga. Selamat malam."
Semua merasa curiga. Namun memilih tidak membuka mulut dan membiarkan Nevan berbaring di kasurnya.
-- -- --
Joseph terbangun dari tidurnya, karna mendengar suara yang aneh. Seperti suara alarm jam digital.
Dengan mata masih setengah terpejam, Joseph beranjak duduk. Ia melangkah mendekati ranjang Johnny dengan langkah sempoyongan.
"John..." gumam Joseph. Johnny mengerang seraya menggeliat dengan malas.
"Apa?"
"Seperti ada suara bom yang ada di bangunan kayu waktu itu."
Johnny akhirnya terpaksa membuka matanya. Ia mendudukan tubuhnya dengan malas. Lampu kamar sudah padam rupanya.
Sebuah cahaya hijau sekelebat, tertangkap penglihatan Johnny. Dan itu berasal... dari punggung Nevan.
Kening Johnny seketika mengernyit. Rupanya Joseph juga melihatnya. Mereka seketika saling bertatapan dengan tatapan saling melempar tanda tanya.
Kaos yang Nevan gunakan di bagian punggungnya tiba-tiba tersingkap, membuat cahaya kehijauan itu semakin terlihat jelas.
Johnny fikir cahaya itu berasal dari balik kaosnya. Namun rupanya, ada dibalik kulit Nevan. Seperti ada sebuah benda yang memang di letakan di sana. Karna terdapat bekas jahitan juga di tengah-tengah empat titik cahaya.
"Sudah aku duga ada yang tidak beres disini."