09

1132 Words
Rosa sedikit mengurut punggung Tristan, sebelum akhirnya menempelkan koyo pada kedua sisi pinggang Tristan. Tristan tak lama menatapi bangunan di depannya yang sudah habis terlalap api. Termasuk mayat-mayat yang mereka tinggalkan di sana. Melalui kaca mobil. Rosa menyadari kesedihan Tristan. Ia ingin berucap sesuatu, tapi mengurungkan niatnya. Takut salah bicara, dan Tristan nanti akan membalas perkataannya dengan sinis dan pedas. "Sudah selesai." Rosa berkata sembari menurunkan kaos Tristan pada bagian punggungnya. "Terimakasih." Gumam Tristan. Ia kemudian langsung melompat ke jok tengah, dan langsung duduk menyendiri di salah satu kursi, seraya menempelkan tubuhnya ke kaca jendela. "Eum, Tristan, tanganmu belum diobat-" "Itu hanya luka kecil. Sebentar lagi juga sembuh, jangan berlebihan." Rosa seketika bungkam. "Rosa..." suara lirih dari belakang menyadarkan Rosa yang sempat melamun melihat tingkah Tristan. Ia segera memutar balik wajahnya ke belakang, dan mendapati Daniel sudah tersadar. Senyuman kecil mengembang pada wajah Rosa. "Kau sudah sadar?" Tanya Rosa. Daniel akan mencabut masker oksigennya, namun Rosa segera menahannya. "Kau sudah tidak sesak?" Daniel menggelengkan kepalanya. "Ya sudah biar aku yang melepasnya." Rosa pun segera ke belakang untuk melepas masker oksigen yang Daniel kenakan. "Kau sudah merasa lebih baik?" "Memangnya aku kenapa?" "Kau pingsan karna sesak nafas. Mungkin kepalamu sekarang pusing atau bagaimana?" Daniel menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. "Aku baik-baik saja. Hanya merasa sedikit lapar, hehe." "Aku akan membuatkanmu pasta. Tunggu sebentar." "Oke." Di jok depan, Johnny tengah menge cek usb yang di temukan Mark, menggunakan laptop tentu saja. Banyak data di dalam usb tersebut, namun yang paling menarik menarik perhatian adalah folder dengan nama yang cukup unik. 304 GGH. Johnny akhirnya membuka folder tersebut. File foto seketika bermunculan. Menunjukan tempat-tempat tertentu. Lucas dan Edward yang penasaran seketika mencondongkan wajahnya pada laptop, begitu juga dengan Joseph dan Mark yang duduk di belakang Johnny. "Hei, ini foto bangunan kayu tadikan?" Ujar Mark sembari menunjuk salah satu foto. Johnny membukanya, dan benar saja. Foto itu persis memperlihatkan bangunan serba kayu yang tadi mereka masuki. "Mungkin GGH, singkatan Gal Geo Home. Nama yang elite sekali, haha. Profesor itu memang bodoh." Kata Lucas. Johnny mencoba merubah peraturan susunan file jadi berdasarkan tanggal. Dan foto bangunan yang mereka masuki berada di urutan terakhir. Tidak benar-benar diurutan terakhir, karna setelah foto tersebut, masih ada satu foto lagi. Johnny membukanya. Foto tersebut memperlihatkan bagian dalam sebuah gedung gelap, yang hanya diterangi beberapa lampu led berwarna biru di setiap sudut dinding. Johnny memperbesar gambar pada bagian paling sudut kiri foto. Terdapat sebuah ruangan lain yang ditutupi pintu kaca. Johnny fikir itu lab, karna ia menemukan komputer beserta alat-alat yang biasa ada di lab. Ruangan berpintu kaca itu hanya terfoto setengah. Tapi Johnny kira dugaannya tidak salah jika tempat itu memang lab. Johnny kembali memperbesar bagian lain pada foto. Terutama stiker segitiga dengan warna hijau yang menempel pada salah satu tiang dalam gedung. Sepertinya ada tulisan di sana, tapi stikernya terlalu kecil, sehingga tidak ada yang bisa melihat tulisan dalam stiker tersebut. "Aku rasa, Profesor gila itu sekarang bersembunyi disini." Ujar Edward yang sukses memecah kesunyian serta konsentrasi orang-orang. "Ya, mungkin. Tapi kita tidak tahu ini ada dimana." Sahut Johnny. Ia keluar dari folder foto tersebut. Dan mengecek folder-folder yang lain. Folder-folder lain berisi penelitian-penelitian Profesor Gal. Semua tampak mencoba mencermati. Memang, mereka tidak mengerti sama sekali dengan rumus-rumus dan penelitiannya. Namun yang jelas, dari keterangan visi misi yang ditulis pada setiap penelitiannya. Menyimpulkan Profesor Gal memang berniat menghancurkan dunia seakar-akarnya. Tapi penelitian ini sepertinya tidak ada yang selesai. Ada juga keterangan jika percobaan dari penelitian gagal. "Apa maksudnya? Kenapa dia ingin melakukan ini? Kalau dunia hancur, dia juga akan hancurkan?" Johnny bertanya entah pada siapa. Ia akan berucap terimakasih pada siapapun yang bisa membalas pertanyaannya. "Mungkin... dia mau menguasai dunia?" Lucas berkata asal. "Memangnya kau fikir kita berada di dunia kartun superhero anak-anak? Untuk apa dia menguasai dunia jika seratus persen penduduk dunia sudah menjadi zombie? Di tambah, untuk apa menguasai dunia yang nanti juga akan musnah karna kiamat?" Kevin tiba-tiba menyahut dari belakang. Ia sebelumnya hanya menyimak perbincangan teman-temannya saja. "Tapi... apa di usb ini tidak ada peneliatan soal obat penawar?" Tanya Mark. Johnny menggelengkan kepalanya. "Usb ini hanya berisi penelitian yang gagal dan tidak selesai." Balas Johnny. "Berarti aku hanya menemukan sampah?" Johnny tersenyum melihat raut wajah kecewa Mark. Ia segera menepuk kepala bocah laki-laki itu kemudian mengacak rambutnya. "Ini berguna. Sangat berguna. Kau sudah bekerja keras." Ucap Johnny yang membuat Mark tersenyum kecil. "Hei, apa yang aku temukan juga bergunakan? Aku juga sudah bekerja keras." Lucas tiba-tiba menimbrung. "Ya, bekerja keraslah untuk lebih pintar." Timpal Edward. Yang disahuti gelak tawa Johnny. Lucas mengerucutkan bibirnya. -- -- -- Setelah selesai istirahat dan makan siang. Mereka melanjutkan perjalanan mereka. Kali ini dengan lebih tenang karna tidak ada badai pasir atau apapun. Hanya jalanan rata yang lurus. Tanah pun tidak ada yang retak, hingga membuat perasaan mereka tidak berdebar. Terutama Johnny yang menyetir. Karna beberapa kali saat mereka melewati tanah yang retak. Johnny menemukan retakan besar dan didalamnya terlihat ada lahar. Bisa saja tiba-tiba retakan semakin besar, kemudian tanah hancur dan menenggelamkan mereka ke dalam lahar. Entah ada di daerah mana mereka saat itu, hingga ada retakan tanah berisi lahar. Johnny sesekali minum. Kemudian melirik Tristan yang tengah tertidur. Kedua tangannya terkepal, namun tidak terlalu erat. Terlihat kulit-kulit dibalik tangannya yang mengelupas dan memerah. Johnny melirik teman-temannya yang lain dari kaca spion. Edward tidur dengan posisi tubuh berbaring, sedangkan kaki panjangnya naik ke atas bersandar pada kaca mobil. Joseph duduk. Begitu juga dengan Kevin dan Lucas. Hanya saja mereka tidur dalam satu jok panjang, dan Kevin bersandar pada bahu Lucas. Mark tidur di jok di samping Rosa, sedangkan Daniel di kasur. Ia sebenarnya ingin tidur juga dalam perjalanan seperti ini. Mengingat setelah mereka sampai di suatu tempat nanti, tidak ada waktu untuk tidur. Dan harus mengeluarkan banyak tenaga jika ada suatu hal yang berbahaya. -- -- -- Lima jam perjalanan, Johnny menemukan gedung-gedung besar yang tampak saling berhadapan, di sebuah tanah lapang kosong yang berdebu. Johnny segera menjalankan mobilnya ke sana. Masuk ke area pertengahan gedung yang hampir roboh. Keningnya mengernyit, saat ia melihat banyak orang berlalu lalang di area gedung. Tidak, bukan hanya di area gedung. Disini juga terdapat kios-kios dan rumah-rumah kecil yang terbuat dari kayu seadanya. Itu berada di depan gedung. Orang-orang disini tampak normal, mereka memakai tudung dan baju-baju tertutup. Namun bukan pakaian ciri khas muslim. Hanya seperti untuk melindungi diri dari debu, yang memang cukup banyak disini. Johnny memelankan laju mobilnya. Ia mengedarkan pandangannya, berharap mendapat tempat parkir. Namun sepertinya tidak ada tempat. "Guys, ayo bangun!" Teriak Johnny. Tristan akhirnya mulai bangun, diikuti yang lain. "Kita dimana?" Tanya Tristan. Johnny menggelengkan kepalanya. "Kalau nyawa kalian sudah terkumpul, coba lihat keluar dengan seksama. Kalian pasti akan terkejut." Semua menuruti perkataan Johnny termasuk Tristan. Mata mereka sontak melebar, melihat orang-orang yang tampak normal berlalu lalang di sini. Seorang pria paruh baya tiba-tiba mengetuki kaca mobil bagian Johnny. Pria itu memberi isyarat agar Johnny menurunkan kaca mobilnya. Johnny pun menurut. "Hei, anak muda, apa yang kalian lakukan?" Tanya pria paruh baya itu. "Kami pendatang." Balas Johnny. Pria itu melongokan kepalanya ke dalam mobil melalui jendela, membuat Johnny otomatis memundurkan tubuhnya. Pria itu tampak memperhatikan mereka yang berada di mobil satu persatu. "Oh. Kalian dari benteng pengaman untuk mencari Gal Geo ya? Ada teman kalian disini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD