"Profesor Gal mungkin masih di sini. Atau dia menyisakan barang-barangnya." Ucap Tristan seraya beranjak berdiri. Ia mengusap sejenak pipinya yang basah.
"Sebelum menge cek ke dalam. Aku rasa kita harus memanggil helikopter untuk menjemput mereka. Mereka harus dimakamkan dengan layak." Ujar Daniel.
Tristan langsung mengambil ponselnya. Ponsel yang di rancang khusus untuk menghubungi orang-orang tertentu di benteng. Hanya untuk menelfon. Yang di berikan ponsel itu pun hanya ketua. Karna ponsel itu tidak banyak.
Namun saat ia mencoba menghubungi kepala yang menangani helikopter, keterangan yang tertera di ponsel, sambungan terputus. Hingga beberapa kali, sampai akhirnya Tristan menyerah.
"Mereka tidak bisa di hubungi. Kita kuburkan saja mereka di depan pekarangan bangunan ini." Kata Tristan.
"Disini hanya ada pasir." Timpal Daniel.
"Kita biarkan saja disini. Dan tutupi mereka dengan kain." Usul Edward yang tidak sanggup melihat mayat sahabatnya lama-lama. "Tidak mungkin juga kita kremasi mereka sendiri. Ahmad muslim, dia tidak dikremasi." Edward melanjutkan perkataannya.
Akhirnya Tristan setuju dengan usulan Edward. Tidak ada cara lain.
Tidak mungkin juga mereka membawa mayat-mayat ini menggunakan mobil. Sedangkan mereka tidak jelas akan kemana dan berapa lama.
Tristan segera mentitah Mark dan Lucas untuk mengambil kain di dalam mobil.
Yang tersisa dari mereka mulai menyusun mayat-mayat itu menjadi lebih rapih. Tristan, Daniel, Johnny, dan Kevin kemudian menutup mata-mata mereka. Sebelum akhirnya Lucas dan Mark datang.
Rosa dan Kevin segera menutupi tubuh mereka dari kaki sampai ke kepala menggunakan kain panjang tersebut.
"Semoga mereka mendapat tempat baru yang terbaik." Ucap Tristan.
-- -- --
Tristan dan Daniel memimpin di depan saat memasuki bangunan utama. Semuanya terbuat dari kayu termasuk interior.
"Sekarang sepertinya tidak ada orang. Tapi terasa sekali tempat ini belum lama ditinggal." Ujar Johnny.
Satu persatu dari mereka menge cek ruangan yang ada di dalam bangunan tersebut. Sampai pada akhirnya, mereka berakhir di lantai paling atas. Setelah melewati lima lantai. Mereka naik tangga yang berderit untuk sampai ke sana.
Di sana tidak ada ruangan. Hanya ada lantai yang luas. Di sana terdapat ranjang, di samping ranjang terdapat lemari kecil yang memanjang dan sebuah meja besar yang tampak berantakan.
Jas-jas putih juga ter sampir di mana-mana. Membuat spekulasi mereka semakin kuat jika Profesor Gal sebelumnya berada di sini.
Tristan berjalan mendekati meja. Banyak kertas yang menggambarkan teori-teori yang tidak Tristan mengerti sama sekali.
Yang lain ikut menge cek apa yang ada di meja besar dan memiliki banyak laci itu.
Johnny melangkah dengan penasaran mendekati ranjang. Ia menge cek jas yang berada di ranjang dan juga di atas lemari kecil di sampingnya. Ada salah satu jas yang memiliki name tag.
'Gal Geo'
"Guys, benar. Ini kamar bekas Profesor Gal." Ucap Johnny.
Semua seketika tercengang.
"Entah sudah sejak kapan dia pergi dari sini. Kita harus mencari petunjuk untuk mencarinya lagi." Johnny melanjutkan ucapannya.
Mark tiba-tiba berteriak sembari beranjak berdiri dari posisi berjongkoknya, setelah menge cek laci meja paling bawah.
"Aku menemukan usb!" Seru Mark.
Fokus mereka seketika beralih pada Mark. Tristan segera mengambil usb tersebut dari tangan Mark, dan memperhatikan setiap detail usb itu. Takut-takut jika ada sesuatu yang berbahaya pada benda berwarna hitam tersebut.
"Aman?" Tanya Daniel, yang di angguki oleh Tristan.
"Kita mungkin bisa menemukan sesuatu disini." Ucap Tristan. "Good job Mark."
Mark hanya tersenyum menanggapinya. Lucas mendengus.
"Aku juga menemukan sesuatu." Kata Lucas tiba-tiba.
"Apa?" Tanya Joseph.
Lucas menunjukan sebuah gulungan kertas.
"Perhatikan semuanya." Titah Lucas.
Semua menatap ragu Lucas, namun tetap memperhatikan termasuk Rosa. Sebenarnya Edward sudah tahu ini akan berakhir konyol, ia hanya menatap malas Lucas sembari mengemut permen lolinya.
Lucas tak lama membuka gulungan kertas tersebut. Semua mata seketika melebar, dan Daniel dengan sigap menutup mata Rosa.
"Hei! Apa-apaan kau ini?!" Seru Daniel.
"Apa? Ini baguskan?" Timpal Lucas sembari menatapi gambar tersebut.
"Kalian jangan munafik, kalian juga pasti suka gambar ini. Lihat, sexy sekali kan wanita ini?" Tristan memutar kedua bola matanya malas, kemudian memukul kepala Lucas.
"Sekali-sekali otakmu itu yang benar sedikit lah." Ucap Tristan.
Lucas mengerucutkan bibirnya. Namun ia tetap memasukan gambar wanita yang berpakaian minim serta berpose e****s itu, ke dalam tasnya.
"Profesor itu mesum." Kata Johnny diselingi kekehan.
"Profesor gila itukan laki-laki, sudah pasti m***m. Semua pria itu pasti begitukan?" Lucas kembali mendapat pukulan di kepalanya, namun kali ini Joseph yang melakukannya.
"Situasinya sedang tidak tepat bodoh." Joseph berucap seraya memasukan satu buah cookies ke dalam mulutnya.
Sebuah suara di bawah ranjang, berhasil menarik perhatian Johnny yang berdiri paling dekat di sana.
Johnny seketika berjongkok, kemudian mengangkat sprai untuk melihat ke kolong ranjang.
Johnny membungkukan tubuhnya, ada sebuah kotak berukuran sedang berwarna hitam di sana. Johnny mengulurkan tangannya, hendak mengambil benda tersebut, namun sepertinya benda tersebut terpasang di lantai.
Johnny akhirnya mendorong ranjang untuk melihat lebih detail benda apa itu.
Semua ikut mendekat ke arah benda tersebut saat Johnny sudah mendorong ranjang. Johnny menge cek benda tersebut, memperhatikan setiap detailnya hati-hati.
Sampai pada akhirnya Johnny menyadari sesuatu.
"I-ini bom. Ini bom! Dan akan meledak 20 detik lagi." Johnny berujar dengan panik.
"Kalau begitu cepat kita dari sini!" Teriak Lucas yang ikut panik.
Daniel segera menarik lengan Rosa dan Edward untuk jalan lebih dulu ke bawah. Joseph, Kevin dan Lucas pun dengan cepat mengikuti. Baru diikuti yang lain di belakang, Tristan, Johnny dan Mark.
Rasanya mengerikan harus berlari pada tangga yang bisa kapan saja ambruk.
"Cepat-cepat!" Teriak Tristan.
Bruk
Semua orang dibuat terkejut dengan bunyi bedebum yang cukup keras. Dan rupanya suara itu berasal dari Johnny yang jatuh dari tangga dengan posisi elite.
Kepala sudah sampai bawah, namun setengah tubuhnya masih ada di tangga. Daniel dengan sigap membantunya berdiri.
Tristan menggelengkan kepalanya, kebiasaan Johnny jatuh dari tangga. Dan Lucas sempat-sempatnya tertawa. Namun kepalanya langsung dipukul Joseph, dan tangannya ditarik untuk lari lebih kencang.
Mereka baru sampai ke lantai tiga, suara ledakan tiba-tiba terdengar. Otomatis kepala mereka mendongak, dan menemukan lantai atas yang roboh dan terbakar. Merembet kebawah.
"Cepat lari!" Teriak Tristan hingga urat-urat lehernya terlihat.
Bunyi langkah yang semakin kencang dengan bunyi bangunan runtuh seolah beradu. Mereka mencoba berlari secepat yang mereka bisa. Namun Kevin tertinggal di belakang saat tidak sengaja kakinya tersandung kayu yang mencuat di lantai.
Edward segera berbalik dan mengangkat tubuh Kevin, dibantu Tristan yang tak lama datang menghampiri.
"Kau bisa berlari?" Tanya Tristan. Kevin menggelengkan kepalanya.
"Kakiku terkilir." Ucap Kevin dengan nafas tersengal.
"Oh my God! Menyingkir!" Teriak Lucas seraya berlari ke arah Kevin, Tristan dan Edward saat melihat lantai atas yang mulai roboh. Ia menarik baju mereka dengan sigap. Kemudian beralih menarik tangan Edward agar mengikutinya berlari.
Kevin dengan susah payah dan terseok mencoba menyamai lari Lucas yang sangat kencang.
Terdengar suara ledakan yang merembet, dengan bangunan runtuh dan aroma terbakar tercium pada indra penciuman mereka.
"Satu lantai lagi." gumam Daniel.
Ia berlari dengan cepat ke arah pintu keluar, menendangnya hingga terbuka. Namun ia tidak langsung keluar. Ia mendahului teman-temannya dulu agar lebih dulu keluar.
"Rosa cepat!" Teriak Daniel yang melihat gadis itu mulai kehabisan tenaga. Ia segera menghampiri gadis itu kemudian menggendongnya, sebelum akhirnya melemparnya keluar.
Joseph dengan sigapnya menangkapnya hingga ia tidak jatuh ke tanah.
Api dan runtuhan bangunan tampak seolah mengejar mereka.
"Edward! Tristan! Lari! Tinggalkan Kevin!" Apa yang Daniel ucapkan sukses membuat semua mata terbelalak.
"Apa yang kau-" Daniel mengerang kesal karna di saat seperti ini Tristan masih sempat-sempatnya hendak protes. Ia tanpa di duga tiba-tiba berlari ke arah mereka. Ia membopong Kevin sebelum akhirnya berlari meninggalkan Tristan dan Edward.
"Cepat lari bodoh! Api dibelakang kalian!" Teriak Daniel yang baru sampai di depan pintu. Kemudian mendorong Kevin keluar. Johnny yang sudah lebih dulu di luar segera menangkapnya.
"Kalian yang sudah di luar menjauh!" Teriak Daniel.
Tristan dan Edward akhirnya berhasil keluar, dan Daniel yang terakhir. Ia sampai harus melompat saat keluar dari bangunan untuk menjauhi bangunan tersebut, yang beberapa detik kemudian benar-benar meledak hancur.
Tidak sempat jika berjalan biasa kemudian lari. Nafas Daniel tersengal, ia merasa sesak nafas dan hidungnya terasa nyeri menghirup banyak asap.
Tubuhnya langsung ambruk ke tanah.
Rosa berjalan mendekat dengan khawatir.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Rosa dengan raut khawatir dan panik.
Daniel menatapi Rosa sejenak, ia tersenyum tipis sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.
-- -- --
Kevin mengerang kecil saat Rosa sedang mengurut kakinya.
"Bagaimana kondisi Daniel?" Tanya Kevin.
Rosa seketika menatap Daniel yang terbaring di atas kasur, dengan masker oksigen di wajahnya.
"Dia baik-baik saja, hanya sesak nafas." Ucap Rosa.
"Tidak ada luka?" Rosa menggelengkan kepalanya.
Di sisi lain, Tristan tengah termenung sembari menatap tas besar berisi anak panah yang Daniel bawa. Ia baru menyadari pria itu membawanya.
Johnny tiba-tiba menepuk bahu Tristan.
"Apapun permasalahan kalian. Selesaikan." Johnny berujar. "Kita tim." Lanjutnya.
"Aku tahu." Gumam Tristan sembari menatap Daniel yang masih tidak sadarkan diri.
"Dia menyuruhmu dan Edward meninggalkan Kevin, karna pasti dia sadar kau tidak sanggup lagi berlari sambil membopongnya."
Tristan membalas perkataan Johnny hanya dengan bergumam.
"Nanti minta Rosa pasangkan koyo pada punggungmu. Telapak tanganmu juga harus diberi obat merah."
"Ya."
Tiba-tiba pandangannya bertemu dengan Rosa. Namun Tristan segera membuang mukanya.