07

1341 Words
Mereka memulai perjalanan lagi pagi ini. Begitu selesai sarapan, dan menghilangkan jejak-jejak mereka di sana, mereka segera bergegas. Johnny sudah tampak lebih segar dan baik pagi ini. Sesekali ia akan menggumamkan lagu, seraya menepuk-nepuk paha kanannya. "Aku harap mobil ini disediakan radio." Ujar Tristan. "Tidak mungkin. Musik bisa menarik perhatian zombie." Timpal Johnny. "Mobil ini sudah sangat keren, hanya kurang satu hal. Tidak kedap suara." Johnny hanya tersenyum miring menanggapi perkataan Tristan. Ia sekarang harus benar-benar fokus memperhatikan jalan. Pasir tiba-tiba berterbangan seperti badai, dan menutupi pemandangan. "Astaga. Apa yang terjadi?" Johnny bergumam. Ia memilih menghentikan laju mobilnya, karna pasir yang berterbangan semakin parah. Mungkin memang sudah terjadi badai pasir. "Kalau kita terus berjalan. Mungkin kita akan kecelakaan." Ucap Johnny yang diangguki Tristan. Rosa mendekatkan wajahnya pada kaca jendela mobil, begitu juga dengan yang lain. Merasa penasaran dengan pasir yang sekarang mengepung mereka. Buk! Rauuuuuuurrrrrrr Rosa sontak berteriak saat tiba-tiba ada zombie yang muncul pada kaca mobil. Zombie itu menabrakan tubuhnya pada kaca, dan meraung dengan kencang, sembari menempelkan wajahnya pada kaca mobil. Rosa segera menjauhi kaca mobil. Jantungnya berdegub dengan kencang, dan tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Zombie yang menempel pada kaca semakin banyak. Terdengar teriakan Lucas dan Edward yang sama terkejut dengan Rosa, saat zombie tiba-tiba muncul dari balik pasir dan menempel pada kaca jendela mobil. Zombie-zombie itu mulai memukul-mukul kaca mobil. "John, aku rasa kita harus jalan sekarang!" Teriak Joseph yang ketakutan setengah mati melihat zombie yang semakin beringas. "Oke. Tapi aku tidak mau bertanggung jawab kalau kita kecelakaan. Sekarang bukan hanya pasir yang menghalangi jalan kita, tapi zombie juga. Mereka banyak sekali... datang dari mana?" "Mungkin dari perumahan di balik bukit." Ucap Tristan. Johnny menepuk keningnya kecil. "Astaga. Apa kita akan tetap kesana?" Johnny bertanya pada Tristan dengan mimik frustasi. "Kita harus tetap ke sana. Apapun yang terjadi. Kita harus memastikan semua tempat yang kita temui." -- -- -- Tiga jam perjalanan, mereka akhirnya sampai ke balik bukit. Sedikit sulit untuk ke sana, selain badai pasir, tentu saja rintangan zombie juga. Johnny akhirnya menabrak para zombie itu, menyebabkan mobil mereka kotor dengan darah. Johnny beberapa kali hampir menabrak batang pohon yang sudah mati atau batu besar. Tapi beruntung itu belum sempat terjadi, karna Edward dengan sigap menyadari keberadaan-keberadaan hal-hal berbahaya itu. Entah bagaimana caranya. Mungkin mata bocah itu masih tajam dibanding yang lain. Namun yang menjadi pertanyaan saat ini, mereka tidak menemukan perumahan di sini. Yang mereka dapatkan hanya bangunan tinggi layaknya gedung, yang terbuat dari kayu. Johnny menjalankan mobilnya ke arah bangunan itu. Memasuki pekarangannya yang cukup luas. Tanpa perlu intruksi Tristan. Ia sudah tahu mereka seharusnya memang menge cek bangunan ini. Johnny memarkirkan mobil mereka cukup jauh dari bangunan. "Semuanya! Siap-siap turun!" Seru Tristan, yang segera di angguki oleh teman-temannya. Tristan menyiapkan anak panahnya, juga pistol kecil, tak lupa ia juga menyelipkan dua buah belati di kantung-kantung kecil, yang berada di tas anak panahnya. Yang lain menyiapkan senapannya juga membawa persediaan peluru. Kevin tiba-tiba menyodorkan belati pada Rosa. "Masukan ke kantung celanamu, mungkin kau membutuhkannya." Ucap Kevin. "Apa kau juga bawa?" Tanya Rosa. "Ya. Aku memberikannya juga pada yang lain." Balas Kevin. "Aku takut kejadiannya seperti kemarin. Zombie tiba-tiba datang membludak." Rosa akhirnya menerima belati berwarna silver tersebut, sebelum akhirnya mengantonginya ke saku celananya. Daniel diam-diam membawa se tas besar anak panah. Tristan terlihat hanya membawa se tas berukuran sedang. Daniel tahu kenapa, karna punggung Tristan sakit. Setelah kemarin membawa anak panah dalam tas berukuran besar. Jadi sekarang Daniel akan membantu Tristan membawa anak-anak panahnya, namun secara diam-diam. Meskipun mungkin pada akhirnya Tristan akan sadar, kalau Daniel sudah membawa anak-anak panahnya. "Tristan, aku boleh bawa pistol ini?" Tanya Lucas sembari menunjukan pistol kecil berwarna silver. Pistol itu memiliki peluru bom, yang akan meledak begitu menembus kulit seseorang. "Tidak! Itu terlalu berbahaya. Hanya di pakai saat darurat. Dan yang jelas, yang boleh memakainya bukan bocah." Sahut Tristan. Lucas mengerucutkan bibirnya. "Aku bukan bocah! Tubuhku bahkan lebih besar darimu!" "Apa gunanya tubuh besar kalau otak kecil?!" "What the f**k! Jadi kau menganggapku berotak kecil?!" Mark yang sedang menyusun peluru ke dalam tasnya tiba-tiba menepuki bahu Lucas sembari meletakan jari telunjuknya di depan bibir. Mengisyaratkan agar Lucas tenang. "Aku, Johnny, dan Daniel keluar dulu. Memastikan kondisi aman. Baru nanti aku akan memanggil kalian." Ujar Tristan sebelum akhirnya ia keluar dari mobil. Rosa mengernyitkan keningnya, melihat Edward memasukan lima buah belati sekaligus ke dalam tasnya. Lebih mengherankan lagi, saat Edward juga memasukan permen dan coklat. "Kenapa kau membawa permen dan coklat?" Tanya Rosa. "Agar tidak segugup kemarin. Permen bisa menenangkanku sedikit." Balas Edward seraya tersenyum kecil. Rosa menganggukan kepalanya mengerti. "Kalau kau mau, kau bisa minta padaku." Ucap Edward dengan senyuman yang kali ini lebih lebar. "Guys! Cepat turun!" Teriak Johnny tiba-tiba. Membuat semua orang yang tersisa di mobil, segera bergegas turun. -- -- -- Mereka mulai berjalan untuk memasuki bangunan tersebut. Kevin tiba-tiba meraih tangan kanan Tristan, saat matanya menangkap sesuatu dari sana. Kevin melebarkan matanya saat melihat telapak tangan Tristan yang lecet. "Kenapa kau hanya diam saja tanganmu begini?" Tanya Kevin. Tristan tiba-tiba menarik tangannya sembari mendengus. "Ini hanya luka kecil. Nanti juga sembuh." Balas Tristan. Ia kemudian merogoh kantung tasnya, mengeluarkan sarung tangan berwarna hitam, sebelum akhirnya mengenakannya. "Aku hampir lupa memakainya." Gumam Tristan. "Eum, teman-teman." Panggilan Edward sukses menghentikan langkah Tristan dan yang lainnya. Padahal hanya tinggal beberapa centi lagi untuk sampai memasuki bangunan. "Ada apa?" Tanya Joseph seraya memasukan satu buah cookies ke dalam mulutnya sekaligus. Daniel tiba-tiba memukul kepalanya dari belakang. "Aku kira itu memang pipimu. Ternyata kau dari tadi memang makan, sampai pipimu penuh begitu." Ujar Daniel. "Apa salahnya aku makan?" Timpal Joseph. "Untuk tenaga melawan zombie." Edward memutar kedua bola matanya. "Ada ruangan di samping pintu masuk. Itu mungkin bagasi atau gudang, tapi... entah kenapa aku merasa kita harus menge ceknya." Tristan segera bergegas ke samping pintu masuk. Dan benar, ia menemukan sebuah ruangan yang ditutup pintu kayu besar. "Ayo kesana," ucap Tristan mentitah semuanya. Semua hanya mengikuti dari belakang. Meskipun Lucas terus mengeluh, takut jika di dalam ruangan itu rupanya penuh zombie. Tristan mencoba membuka pintunya, namun sulit. Daniel, Edward dan Johnny pun akhirnya membantu, namun tetap saja pintu sulit untuk di dorong. Lucas akhirnya turun tangan untuk membantu. Namun masih sulit juga. Seperti ada sesuatu yang menahannya di balik pintu. Sampai akhirnya semua ikut turun tangan. Brak! Dan akhirnya, pintu berhasil dibuka. Benar saja. Begitu pintu di buka, banyak kotak yang terbuat dari besi berjatuhan ke tanah. Tristan terbatuk karna merasakan banyaknya debu di dalam ruangan. Beberapa yang lainpun ikut terbatuk, seraya mengibas-ngibaskan tangannya. Saat memasuki ruangan. Ruangan sangat gelap hingga mereka tidak bisa melihat apapun. Daniel mengambil senter untuk melihat isi ruangan. Awalnya terlihat biasa saja saat ia mengarahkan senternya ke bawah, di sana hanya ada tumpukan barang. Sampai akhirnya ia mengarahkan senternya ke atas. Mata Daniel membelalak, begitu juga dengan yang lain. Ada setidaknya lima mayat yang tergantung di atas. "Astaga-" pekik Tristan dengan tertahan. "Mereka... memakai baju seperti kita?" Gumam Lucas. "Coba cari saklar, mungkin ada." Titah Daniel sembari mengarahkan senternya ke arah dinding. Edward menemukannya. Itu berada di sudut dinding dekat pintu. Dengan terburu-buru ia menekannya. Merasa penasaran sekaligus khawatir dengan mayat yang tergantung di atas. Lampu tak lama menyala, menampakan segala isi ruangan dengan jelas. "Je-Je-Jennie?" Gumam Tristan. Lututnya tiba-tiba terasa lemas. Edward mendongakan kepalanya untuk melihat lebih jelas siapa saja mayat yang tergantung di sana. Lututnya ikut terasa lemas sekarang. "Seonho?" -- -- -- Mayat-mayat itu sudah diturunkan dan sekarang dibaringkan di atas lantai yang terbuat dari semen. Edward menatap tidak percaya sahabat kecilnya yang sekarang tidak bernyawa. Dengan darah mengering pada perut dan leher lecet juga memerah karna tali yang mengikatnya. Tristan sendiri tidak bisa mengatakan apapun selain menatapi gadis yang sekarang tidak bernyawa dihadapannya. Tristan menundukan kepalanya, membiarkan air matanya meluruh. Kevin dan Johnny di bantu Rosa tengah menge cek satu persatu mayat. "Sudah jelas mereka dibunuh manusia. Bukan zombie. Tidak mungkin zombie membunuh mereka dengan cara menusuk dan menembak mereka, lalu di gantung. Seharusnya mereka di makan, jika yang membunuh zombie." Ujar Kevin. "Mereka dibunuh anggota kelompok mereka sendiri?" Tanya Lucas. Edward menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin. Semua anggotanya mati." Balas Edward. "Mereka memang hanya berlima?" "Tidak. Satu orang sudah bunuh diri, karna dia digigit zombie tepat di kepala. Kalian tahukan? Jika virus langsung terkena otak- tidak bisa dilakukan pertolongan apapun. Satu orang lagi... dimakan zombie kanibal. Dan dua orang yang lain cedera dan dibawa pulang ke benteng perlindungan." Jelas Edward. "Bagaimana kau tahu?" Tanya Mark. "Tentu saja aku bertanya pada anggota yang pulang." Balas Edward. Daniel tiba-tiba menjentikan jarinya. "Jangan-jangan yang membunuh mereka Profesor Gal. Jangan-jangan selama ini dia sudah ditemukan, tapi... setiap tim yang menemukan mereka akan dibunuh Profesor Gal bersama anak buahnya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD