Bab 11. Ragu Untuk Menikah

1169 Words
Alea masih terkejut dengan kata-kata Kendra yang baru saja diucapkan. Semua perhatian kini tertuju padanya, termasuk Kasandra yang dengan cepat melangkah mendekat, wajahnya penuh harapan. "Ada apa ini, Bu?" Alea bertanya dengan nada bingung, suaranya bergetar karena emosi yang bercampur aduk di dalam hatinya. Kasandra menunjuk ke arah Kendra, yang berdiri dengan ekspresi dingin dan wajah serius. "Kendra sudah setuju untuk bertanggung jawab, Alea. Apalagi yang kamu tunggu? Ini adalah kesempatanmu untuk memberikan masa depan yang baik untuk anakmu," ujarnya dengan nada penuh keyakinan. Alea menatap Kendra dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak tahu harus merespons bagaimana. Hatinya bergejolak, di satu sisi ia merasa bahwa menerima tawaran ini akan menjadi jalan terbaik untuk masa depan anaknya, tetapi di sisi lain, ia tidak bisa mengabaikan perasaan bahwa Kendra hanya melakukannya karena terpaksa. "Aku tidak bisa menikah dengan Tuan Kendra, Bu," Alea akhirnya membuka mulut, suaranya penuh dengan ketegasan yang disertai dengan kebimbangan. "Tuan Kendra tidak benar-benar menginginkan ini, dia hanya merasa terpaksa karena situasi. Aku tidak ingin memulai pernikahan yang hanya didasarkan pada rasa tanggung jawab semata. Itu bukan cara yang benar." Kasandra mengerutkan kening, tidak mengerti kenapa Alea menolak. "Alea, pikirkan baik-baik. Kendra sudah berani mengambil langkah ini. Apapun alasannya, dia tetap menunjukkan niat baiknya. Kamu juga harus memikirkan masa depan anakmu." Alea menggelengkan kepalanya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku tidak ingin Tuan Kendra menikahiku hanya karena merasa bersalah, Bu. Aku tidak ingin anakku tumbuh dalam pernikahan yang tidak didasari cinta. Itu hanya akan menyakiti semua pihak." Farhan, yang melihat keteguhan hati Alea, merasa perlu ikut bicara. Ia menatap Alea dengan tatapan yang penuh perhatian dan empati. "Alea, aku tahu kamu merasa Kendra mungkin tidak serius. Tapi aku yakin, seiring berjalannya waktu, dia akan belajar mencintaimu dan anak kalian. Kamu tahu sendiri, hidup ini tidak selalu seperti yang kita harapkan. Terkadang, kita harus membuat keputusan sulit demi kebaikan orang lain." Alea mengalihkan pandangannya ke arah Farhan, yang berbicara dengan nada lembut namun tegas. Ia selalu menghormati Farhan sebagai pemimpin yang bijaksana dan penuh tanggung jawab. Namun, kali ini, kata-katanya membuat Alea semakin bingung. "Pak Farhan, aku tidak bisa menikah dengan seseorang yang tidak mencintaiku. Aku tidak ingin anakku tumbuh dengan mengetahui bahwa pernikahan orang tuanya hanya sebuah formalitas, tanpa cinta. Itu akan lebih menyakitkan daripada tumbuh tanpa ayah." Farhan menghela napas panjang, berusaha memahami perasaan Alea. "Alea, aku tahu ini sulit. Tapi kamu juga harus memikirkan tentang bagaimana anakmu nanti. Dia membutuhkan ayahnya saat lahir, seseorang yang bisa menjadi pelindung dan pemberi arahan dalam hidupnya. Kamu tidak bisa egois dengan hanya memikirkan perasaanmu sendiri." Alea terdiam mendengar kata-kata Farhan. Ia tahu bahwa ada kebenaran dalam kata-kata itu. Namun, hatinya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa pernikahan ini mungkin akan menjadi sebuah kesepakatan yang didasari oleh kewajiban, bukan cinta. Kasandra kembali mencoba meyakinkan Alea. "Jika memang pernikahan ini bukan karena cinta, setidaknya kamu bisa menikah demi anakmu. Dia berhak mendapatkan kehidupan yang stabil, dengan kedua orang tua yang ada di sisinya." Alea terdiam, merasa terpojok oleh situasi ini. Ia kemudian menatap Kendra, yang sejak tadi hanya diam tanpa menunjukkan reaksi apa pun. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya apakah Kendra benar-benar serius dengan niatnya untuk menikahinya, atau apakah ini hanya upaya untuk menenangkan Kasandra. Dengan suara yang gemetar, Alea akhirnya bertanya kepada Kendra, "Apakah kamu benar-benar akan menikahiku?" Kendra yang sejak tadi diam, menatap Alea dengan serius. Setelah beberapa saat, ia menjawab dengan nada rendah, "Bukankah lebih baik aku yang menikahimu daripada harus melihat kakakku menangis setiap hari karena memiliki madu?" Jawaban Kendra itu membuat Alea semakin bimbang. Ia merasa seperti berada di persimpangan jalan, di mana tidak ada satu pun pilihan yang benar-benar ia inginkan. Kendra mengatakan itu dengan nada yang terdengar jujur, tetapi tidak ada cinta dalam kata-katanya, hanya rasa tanggung jawab yang dipaksakan oleh situasi. Farhan, melihat kebingungan Alea, mencoba sekali lagi untuk meyakinkannya. "Alea, kamu tidak sendirian. Kami semua di sini ingin membantu kamu dan anakmu. Kendra sudah mengambil keputusan ini, dan itu bukan keputusan yang mudah. Kamu harus percaya bahwa ini adalah langkah terbaik." Namun, Alea masih merasa ragu. Ia menatap ke arah Kasandra, mencari dukungan dari wanita yang selama ini ia anggap sebagai sosok yang kuat dan bijaksana. Kasandra hanya bisa menatapnya kembali dengan tatapan penuh harapan. "Alea, Kendra mungkin tidak bisa mengatakan apa yang ada di hatinya dengan kata-kata. Tapi aku yakin dia akan menjadi suami dan ayah yang baik. Kamu hanya perlu memberinya waktu," kata Kasandra dengan lembut. Alea menghela napas dalam-dalam, merasa beban yang ada di pundaknya semakin berat. Ia tahu bahwa semua orang di sini ingin yang terbaik untuknya dan anaknya. Namun, hati kecilnya masih meragukan keputusan ini. "Tuan Kendra," Alea akhirnya berbicara lagi, kali ini dengan suara yang lebih tenang namun penuh kepedihan. "Jika kamu benar-benar ingin menikahiku, aku ingin tahu alasannya. Apakah ini hanya untuk melindungi Kak Kasandra, atau ada alasan lain yang lebih dari sekadar rasa tanggung jawab?" Kendra menatap Alea, wajahnya serius namun tampak ragu-ragu. Ia sendiri bingung dengan perasaannya, tetapi ia tahu bahwa ini bukan saatnya untuk mundur. Setelah beberapa saat, ia menjawab, "Alea, aku mungkin bukan pria yang baik, dan aku tahu aku telah membuat banyak kesalahan. Tapi aku ingin mencoba untuk memperbaiki semuanya. Bukan hanya demi Kak Kasandra, tapi juga demi anak kita. Aku tidak bisa membiarkan anak kita lahir tanpa ayah." Alea menatap Kendra dalam-dalam, mencoba mencari kebenaran dalam kata-katanya. Ia merasa bahwa meskipun Kendra berbicara dengan serius, ada ketidakpastian yang masih melingkupi niatnya. Namun, kata-kata itu tetap memiliki dampak yang kuat. "Alea. Jika kata-kataku hari itu menyakitimu, maafkan aku. Aku hanya... aku hanya tidak siap dengan pernikahan," sambung Kendra kemudian. Farhan, yang melihat bahwa Alea masih bimbang, menambahkan, "Alea, tidak ada yang bisa memaksamu untuk mengambil keputusan ini. Tapi pikirkanlah baik-baik. Terkadang, cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, terutama ketika kita memiliki sesuatu yang besar untuk diperjuangkan—seperti anak kalian." Alea tidak bisa berkata-kata. Ia merasa bahwa dirinya berada di antara dua pilihan yang sulit—menikah dengan Kendra dan memberi anaknya seorang ayah, atau menolak dan membesarkan anaknya sendirian dengan semua kesulitan yang akan dihadapinya. Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, Alea akhirnya menghela napas panjang dan menatap Kendra. "Jika kita melakukan ini, aku ingin kamu berjanji bahwa kamu akan berusaha untuk menjadi ayah yang baik bagi anak kita. Aku tidak peduli dengan diriku sendiri, tapi aku ingin anakku tumbuh dengan mengetahui bahwa dia dicintai oleh kedua orang tuanya." Kendra mengangguk perlahan, matanya menunjukkan bahwa dia memahami permintaan Alea. "Aku akan berusaha, Alea. Itu janji yang bisa kuberikan." Kasandra dan Farhan saling berpandangan, merasa lega bahwa setidaknya ada secercah harapan dalam situasi yang rumit ini. Meski mereka tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, mereka percaya bahwa dengan niat baik dan waktu, mungkin pernikahan ini bisa berhasil. Namun, dalam hati kecil Alea, masih ada keraguan. Dia hanya bisa berharap bahwa keputusan ini adalah yang terbaik untuk masa depan anaknya, meskipun dia harus mengorbankan perasaannya sendiri. Dengan perasaan yang campur aduk, Alea mengangguk pelan, menerima kenyataan bahwa hidupnya akan berubah selamanya. "Apakah jalan yang kupilih sudah benar?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD