Bab 12. Akhirnya Sah

1053 Words
Kendra duduk sendirian di taman rumah Farhan, merenung dalam diam. Pikirannya penuh dengan kebimbangan dan ketakutan akan masa depan yang tidak pasti. Sementara itu, di dalam rumah, persiapan sudah hampir selesai. Kasandra, yang telah menyelesaikan persiapannya, keluar dan menemukan adiknya yang sedang duduk termenung. Kasandra mendekati Kendra dengan senyum lembut di wajahnya. "Kenapa calon pengantin merenung di sini? Lagi hafalin ijab qobul?" tanyanya dengan nada bercanda, mencoba meringankan suasana hati Kendra yang tampak muram. Kendra menghela napas berat, merasa tidak bisa berpura-pura senang di depan kakaknya. "Kak, apa ini memang harus terjadi? Aku... aku belum siap untuk menikah," jawabnya dengan jujur, matanya memandang kosong ke kejauhan. Kasandra duduk di samping Kendra, menatap adiknya dengan perhatian. "Apa lagi yang membuatmu ragu, Kendra?" tanyanya lembut, mencoba memahami perasaan adiknya yang sedang bergejolak. Kendra menundukkan kepalanya, merasa berat untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan. "Aku takut tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik," katanya pelan, seolah-olah mengakui ketakutan terbesar yang menghantui pikirannya. Kasandra menatap Kendra dengan penuh empati. "Kamu masih ragu kalau bayi itu bukan anakmu?" tanyanya dengan hati-hati, meskipun ia tahu bahwa Kendra sudah mulai menerima kenyataan. Kendra menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak. Seperti yang kakak katakan, aku melakukannya saat Alea masih perawan. Jadi, kemungkinan besar bayi itu adalah anakku," jawabnya, meskipun masih ada sedikit keraguan dalam suaranya. Kasandra mengangguk, merasa lega bahwa setidaknya Kendra sudah mulai menerima tanggung jawabnya. "Lalu, apa yang membuatmu ragu untuk menikah?" Kendra terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengungkapkan rasa takut yang selama ini ia pendam. "Aku takut akan menjadi seperti orang tua kita. Dia... ibu meninggalkan kita berdua bersama ayah yang bahkan tidak peduli pada anak-anaknya. Aku takut anak itu akan merasakan hal yang sama, Kak." Kasandra merasa hatinya tersentuh mendengar ketakutan Kendra yang sangat mendalam. Ia mengingat masa-masa sulit saat mereka masih kecil, di mana ibu mereka meninggalkan keluarga karena ketidakstabilan finansial dan masalah dalam rumah tangga. Kasandra memeluk adiknya dengan erat, mencoba memberikan rasa aman yang selama ini Kendra cari. "Itu hanya masa lalu, Kendra dan tidak seharusnya kamu berpikir bahwa anakmu akan merasakan hal yang sama. Kamu bukan ayah kita, dan kamu tidak akan melakukan hal yang sama padanya," ujar Kasandra dengan suara lembut namun tegas. Kendra merasa sedikit tenang dalam pelukan Kasandra, tetapi ketakutannya masih ada. "Tapi aku tetap takut, Kak. Bagaimana jika aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anak itu? Bagaimana jika aku gagal menjadi ayah yang baik?" Kasandra melepaskan pelukannya dan menatap Kendra dalam-dalam. "Kendra, ibu dan ayah berpisah karena kondisi finansial yang buruk dan ayah yang tidak bertanggung jawab. Tapi itu berbeda dengan kondisi kita sekarang. Kamu hidup berkecukupan, kamu kaya raya. Kamu adalah pengusaha paling sukses tahun ini. Kamu tidak perlu khawatir tentang itu." Kendra mengangguk pelan, tahu bahwa Kasandra benar dalam hal ini. Namun, ada satu ketakutan lain yang masih menghantui pikirannya. "Aku memang kaya, tapi bagaimana jika ibu bayi itu, Alea, juga meninggalkanku demi seseorang yang lebih kaya? Aku tidak siap mengalami trauma yang sama seperti yang ku alami saat kecil. Aku tidak ingin kehilangan lagi, Kak." Kasandra tersenyum lembut, memahami ketakutan adiknya. Ia tahu bahwa ketakutan Kendra berasal dari luka masa kecil mereka yang masih belum sembuh sepenuhnya. "Kendra, kamu hanya perlu mencintai Alea. Dia bukan wanita yang gila harta. Kamu bisa percaya padaku dalam hal ini. Buat dia nyaman bersamamu, maka dia akan mencintaimu juga. Cinta tidak selalu datang dengan cepat, tapi jika kamu memberinya kesempatan, cinta itu akan tumbuh seiring waktu." Kendra terdiam, merenungkan kata-kata Kasandra. Dia tahu bahwa pernikahan ini bukanlah hal yang diinginkannya, tetapi dia juga tidak ingin terus hidup dalam bayang-bayang masa lalunya yang kelam. Kendra sadar bahwa untuk melangkah maju, dia harus mengatasi ketakutannya dan belajar untuk percaya lagi. "Bagaimana jika aku gagal, Kak? Bagaimana jika aku tidak bisa mencintai Alea seperti yang seharusnya?" Kendra bertanya dengan suara pelan, rasa takutnya kembali menyeruak. Kasandra menatap Kendra dengan penuh kasih sayang. "Kendra, cinta adalah sesuatu yang bisa tumbuh. Jika kamu memberikan dirimu kesempatan, aku yakin kamu bisa mencintai Alea. Dia adalah wanita yang baik, dan dia layak mendapatkan cinta yang tulus dan... aku yakin, jika kamu memberikan usaha dan hatimu, cinta itu akan datang pada waktunya." Kendra mengangguk perlahan, meskipun hatinya masih dipenuhi dengan keraguan. "Aku hanya tidak ingin mengulangi kesalahan yang dilakukan ayah," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Kasandra mengusap punggung Kendra dengan lembut. "Kamu tidak akan mengulanginya, Kendra. Kamu berbeda dari ayah. Kamu telah belajar dari kesalahan masa lalu dan kamu lebih kuat dari yang kamu pikirkan. Jangan biarkan ketakutan mengendalikan hidupmu." Kendra menghela napas panjang, merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar kata-kata Kasandra. Namun, bayangan masa lalu dan ketakutan akan masa depan masih mengganggunya. Dia tahu bahwa pernikahan ini adalah langkah besar yang akan mengubah hidupnya selamanya. "Apa Alea akan bahagia bersamaku, Kak?" Kendra bertanya, suaranya terdengar rapuh. Kasandra tersenyum dan mengangguk. "Alea akan bahagia jika kamu membuatnya bahagia, Kendra. Itu semua tergantung padamu. Jika kamu berusaha, aku yakin kalian bisa membangun kehidupan yang baik bersama-sama." Kendra merenungkan kata-kata itu. Dia tahu bahwa Kasandra benar, tetapi dia masih merasa tidak yakin apakah dia benar-benar bisa melakukannya. Meski begitu, dia sadar bahwa dia tidak bisa terus menghindar dari tanggung jawabnya. "Aku akan mencoba, Kak," kata Kendra akhirnya, meskipun suaranya masih dipenuhi dengan keraguan. Kasandra tersenyum, merasa lega mendengar keputusan Kendra. "Itu yang terbaik, Kendra. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja." Kendra menatap kakaknya dan merasa sedikit lebih tenang. Meski masih ada ketakutan yang mengganjal di hatinya, dia tahu bahwa ini adalah langkah yang harus diambil. Dia tidak bisa terus menghindar dari kenyataan, dan jika dia ingin melindungi orang-orang yang dia sayangi, dia harus berani menghadapi masa depan. *** Setelah beberapa saat merenung, Kendra dan Kasandra akhirnya berjalan kembali ke dalam rumah, di mana semua persiapan sudah hampir selesai. Alea tampak tenang meskipun ada kecemasan yang tersembunyi di balik matanya. Farhan, yang berada di sampingnya, tampak lega melihat Kendra kembali masuk. "Persiapan sudah selesai. Kita lakukan sekarang?" tanya Farhan. Alea menatap Kendra sejenak, mencoba membaca ekspresi di wajahnya. Meskipun Kendra tampak tenang di luar, Alea bisa merasakan bahwa dia masih bergulat dengan perasaannya sendiri. Namun, dia tahu bahwa Kendra telah memutuskan untuk melangkah maju, dan itu memberinya sedikit rasa tenang. Ketika semuanya sudah siap, mereka berkumpul di hadapan penghulu yang sudah dipersiapkan oleh Farhan dan Kasandra. Di tengah suasana yang hening dan khidmat, Kendra dan Alea akhirnya melangsungkan pernikahan siri mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD