Bab 13 Mengejar Istri yang Merajuk

1004 Words
Setibanya di apartemen, Kendra langsung merebahkan tubuhnya di sofa dengan santai. Ia mengembuskan napas panjang dengan lega, merasa nyaman setelah hari yang melelahkan. "Ah, enaknya rebahan," gumamnya pelan, seolah tidak ada masalah besar yang sedang terjadi dalam hidupnya. Sementara itu, Alea yang baru saja masuk dan melihat suaminya bertingkah seperti itu, hanya mendengus kesal. Sikap Kendra yang begitu acuh tak acuh, seolah-olah pernikahan ini hanyalah urusan sepele, membuat hatinya semakin panas. "Setidaknya, persilakan saya duduk, Tuan Kendra yang terhormat." Alea dengan sengaja menyindir. "Duduklah di mana saja kau ingin. Bukankah kau ingin segala kedudukan," kekeh Kendra. "Terserah padamu!" Kendra menoleh ke arah Alea dengan senyum tipis, lalu berkata dengan nada bercanda, "Eh, istri. Siapa namamu? Alea siapa tadi?" Alea menatap Kendra dengan tajam, matanya memancarkan kemarahan yang tertahan. "Ngapain tanya nama?" jawab Alea dengan sinis. Kendra mengangkat bahu, masih dengan sikap santainya. "Emang nanya nggak boleh?" Alea mengerutkan kening. "Nggak." Kendra kemudian duduk tegak di sofa, menatap Alea dengan intens. "Sekarang kamu senang sudah jadi istri Kendra Wijaya?" tanyanya, suaranya dingin dan penuh sarkasme. Alea hendak membuka mulut untuk menjawab, tetapi Kendra langsung menyela sebelum dia sempat berbicara. "Tentu saja senang. Kamu akan mendapatkan ketenaran tanpa bersusah payah, mendapatkan banyak fasilitas, dan tentunya... banyak uang." Alea mencibir, jelas merasa tersinggung oleh kata-kata Kendra. Ia menatap Kendra dengan tatapan penuh kebencian. "Tidak, aku tidak akan berharap apa-apa darimu. Milikmu akan tetap jadi milikmu sendiri dan... aku tidak akan pernah memintanya," balas Alea dengan nada angkuh, menegaskan bahwa dia tidak membutuhkan apapun dari Kendra. Kendra terkekeh mendengar balasan Alea. "Oh, ya? Bagus kalau begitu, kamu punya kesadaran yang luar biasa," jawab Kendra, meskipun nada suaranya tetap mengejek. "Perhatikan baik-baik, Alea. Di apartemen ini ada dua kamar. Pintu sebelah kiri adalah kamarku, dan pintu sebelah kanan adalah kamarmu. Jadi, kalau kamu berpikir kita akan tinggal sekamar, kamu salah besar." Alea tertawa sarkastis, merasa ucapan Kendra semakin memperjelas betapa dinginnya pria itu terhadap dirinya. "Siapa yang berpikir kita akan sekamar?" balas Alea dengan nada mencemooh. "Bahkan, aku lebih baik pulang ke rumahku sendiri. Tinggal di sini dengan pria angkuh sepertimu hanya akan membuatku cepat keriput." Alea beranjak dari tempatnya, berniat pergi dari apartemen itu. Ia sudah cukup muak dengan sikap Kendra yang terus-menerus merendahkannya. Namun, sebelum dia sempat melangkah lebih jauh, Kendra dengan cepat menarik ujung pakaian Alea, menghentikannya. "Kamu akan mati kalau Kak Farhan tahu kamu pulang ke rumah," kata Kendra dengan nada memperingatkan. Alea menoleh, menatap Kendra dengan penuh tantangan. "Aku tidak takut. Kalau dia marah, aku akan bilang kalau adik iparnya ini mengusirku," jawabnya tajam, merasa bahwa dia masih punya kartu untuk dimainkan. Kendra tersenyum sinis, tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Kamu pikir siapa yang akan dimarahi Kak Kasandra, hmm? Kamu? Tidak! Aku yang akan dimarahi, Bodoh!" Alea menatap Kendra dengan tatapan penuh kebencian. "Ya, itu memang tujuanku," jawabnya dengan nada penuh kemenangan. "Kamu tahu betul Kak Kasandra akan membelaku. Apalagi, dia tahu betapa dinginnya sikapmu. Jadi, lebih baik aku pulang dan katakan semuanya pada mereka." Kendra terdiam sejenak, merasa tersudut oleh ucapan Alea. Dia tahu betul bahwa jika Alea benar-benar pulang dan menceritakan semua ini kepada Farhan dan Kasandra, maka dialah yang akan disalahkan. Kasandra sudah cukup mengenal sifat Kendra yang keras kepala dan angkuh, dan dia tidak akan membiarkan Alea diperlakukan seperti itu. "Jadi, kamu pikir dengan cara itu kamu akan menang?" tanya Kendra, meskipun suaranya terdengar lebih lemah daripada sebelumnya. Alea mendekat sedikit, menatap Kendra dengan tatapan tajam. "Ini bukan soal menang atau kalah, Tuan Kendra. Ini soal harga diri. Aku mungkin sudah menikah denganmu, tapi aku tidak akan membiarkanmu memperlakukan aku seperti sampah. Dengan kamu terpaksa menikahiku saja, aku sudah sangat terhina." Kendra terdiam lagi, tidak tahu harus berkata apa. Sikap Alea yang tegas dan penuh percaya diri membuatnya merasa bingung. Ia sudah terbiasa dengan wanita-wanita yang tunduk padanya, yang melihat kekayaannya sebagai sesuatu yang harus diidamkan. Tapi Alea berbeda. Alea tidak tertarik pada semua itu. "Aku yakin, kamu hanya jual mahal. Lama-kelamaan kamu juga akan sama seperti wanita di luar sana yang suka pada kekayaanku." Alea tersenyum miris. "Kamu jelas tahu bahwa aku miskin, tapi aku tidak serendah itu. Aku juga tidak menuntut apapun darimu termasuk tanggung jawab. Kamu jangan pernah lupa jika aku tidak pernah minta kamu nikahi!" "Kamu memang tidak meminta, tapi kamu menjebakku!" balas Kendra tak mau kalah. "Kalau bukan karena diantar Kak Farhan, aku pasti menurunkanmu di pinggir jalan," sambungnya dengan frontal. Kendra sama sekali tidak berpikir bahwa perkataannya mungkin akan semakin melukai harga diri Alea. "Tidak perlu repot-repot. Anggap saja pernikahan kita hanyalah sebatas mimpi. Besok, saat kamu bangun, anggap semuanya baik-baik saja supaya kamu bisa kembali menjadi Kendra dengan segala tingkah bastardnya." Alea berkata dengan sarkasme, membuat Kendra terdiam dengan tangan terkepal. Alea melihat bahwa Kendra tak lagi berkata-kata, dan tanpa menunggu respon lebih lanjut, dia berbalik dan berjalan menuju pintu. Kali ini, Kendra tidak mencoba menghentikannya. "Aku bukan w************n seperti yang biasa kamu tiduri. Anak ini memang hasil kesalahan malam itu, tapi dia anakku. Kalau kamu tidak mau menganggapnya darah dagingmu, aku akan mengatakan padanya bahwa ayahnya sudah mati, saat dia bertanya di mana kamu nanti!" Kendra terdiam di tempatnya, merasakan perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa bingung dan sedikit perasaan bersalah merasuk ke dalam hatinya, meskipun ia tidak ingin mengakuinya. Dia terbiasa mengendalikan segala sesuatu dalam hidupnya, tetapi kali ini, Alea adalah seseorang yang tidak bisa dia kendalikan dengan mudah. Dia merebahkan dirinya kembali di sofa, menatap langit-langit apartemen yang kosong, setelah Alea pergi. Keheningan menyelimuti ruangan, dan Kendra menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa benar-benar sendirian. "Kenapa semua jadi serumit ini?" gumam Kendra pada dirinya sendiri. Dia tahu bahwa pernikahan ini bukanlah apa yang diinginkannya, tetapi sekarang, ketika semuanya telah terjadi, dia tidak bisa menyingkirkan perasaan kosong yang menghantui dirinya. "Ah, masa bodoh! Dia tahu jalan pulang dan tidak akan tersesat. Kenapa juga aku harus memikirkannya!" Kendra mencoba memejamkan mata untuk beristirahat dari penatnya drama kehidupan. Namun, matanya seperti tak bisa dirapatkan. "Oh, sial! Wanita itu memporak-porandakan semuanya!" kata Kendra sembari menyambar kunci mobilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD