Alea yang sudah tidak bisa menahan kemarahannya lagi, tiba-tiba menampar pipi Kendra dengan keras. "Jangan bicara macam-macam, Kendra!" serunya, matanya penuh dengan kemarahan yang tertahan terlalu lama.
Kendra, yang tidak terima dengan perlakuan Alea, segera mencengkeram pipi Alea dengan kasar. "Apa yang membuatmu berhak menamparku?" tanyanya dengan nada rendah yang penuh dengan kebencian. "Wanita rendahan sepertimu selalu mencoba memanjat status sosial ekonomi yang lebih tinggi dengan menggunakan kebusukan yang sama."
Alea tidak mau kalah. Dengan sekuat tenaga, ia mendorong Kendra hingga cengkeraman itu terlepas. "Meskipun aku hidup miskin, aku tidak akan pernah jual diri! Hanya karena aku mengendarai mobil mewah, kamu pikir aku seorang jalang? Mobil ini adalah hadiah dari perusahaan karena kerjaku yang memuaskan selama tiga tahun terakhir. Pak Farhan yang memberikannya padaku atas persetujuan Tuan Presiden Direktur, dan seharusnya kau tahu itu!"
Kendra terdiam mendengar penjelasan Alea. Kata-kata Alea membuatnya terkejut dan memaksa dirinya untuk mengingat-ingat kembali. "Apa benar aku yang melakukan itu?" pikirnya, mencoba menggali ingatan.
Lalu, ingatannya berputar kembali ke pesta ulang tahun perusahaan beberapa bulan yang lalu. Saat itu, empat karyawan terbaik mendapatkan hadiah darinya, termasuk mobil mewah. Dan... benar! Alea adalah sekretaris Farhan, salah satu dari karyawan yang mendapatkannya.
Sementara Kendra terdiam mencerna informasi tersebut, Alea mengusap air matanya yang menetes. Dengan suara gemetar, tapi penuh tekad, ia berkata, "Jika memang tidak ingin bertanggung jawab, tidak masalah. Tapi jangan pernah peduli padaku apapun itu, dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Setidaknya dengan begitu, aku tidak akan mengenang kejadian malam itu, di mana laki-laki b******k sepertimu telah merenggut masa depanku."
Alea berbalik, berjalan menuju balik kemudi mobilnya. Namun, sebelum dia masuk, dia menoleh sekali lagi ke arah Kendra. "Aku memang wanita miskin, tapi aku tidak akan pernah mengemis tanggung jawabmu. Aku yakin Tuhan tidak akan diam saat pendosa sepertimu terus berkeliaran. Mungkin, Tuhan akan mengambil darimu apa yang paling kau senangi, sama seperti aku yang kehilangan apa yang selama ini aku banggakan."
Kendra hanya bisa berdiri membeku, terpaku oleh kata-kata Alea yang terasa seperti pisau tajam menusuk jauh di dalam hatinya. Dia tidak pernah merasa begitu terhina dan tertampar seperti saat ini. Kata-kata Alea bergema di kepalanya, membuatnya merasa kecil dan terpojok.
Hingga akhirnya, mobil putih milik Alea keluar dari parkiran supermarket. Hanya setelah itu, Kendra mengumpat pelan, mencoba menenangkan dirinya. "Bisa-bisanya wanita tidak tahu diri itu menyumpahiku," gumamnya, meskipun di dalam hatinya ia tahu bahwa kata-kata Alea tidak akan mudah dilupakan.
Kendra tetap berdiri di sana, menatap kosong ke arah jalan yang sudah ditinggalkan Alea, dengan pikirannya masih penuh dengan bayangan pertemuan yang baru saja terjadi.
***
Setelah perdebatan panas antara dirinya dan Alea di parkiran supermarket, Kendra pulang ke apartemennya dengan kepala yang masih dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang bergejolak.
Namun, saat ia memasuki apartemen, sesuatu yang tidak biasa langsung menarik perhatiannya. Dari arah dalam, Kendra mendengar suara tangisan seseorang.
Kendra langsung mengernyitkan kening, merasa merinding. "Apa ada setan di apartemenku?" gumamnya pelan, merasa sedikit takut.
Namun, Kendra segera menggelengkan kepalanya, mencoba menepis pikiran-pikiran aneh itu. "Itu tidak mungkin. Apartemen ini tidak dibangun di bekas kuburan," katanya kepada dirinya sendiri, berusaha menenangkan diri.
Namun, saat suara tangisan itu kembali terdengar, Kendra mulai berpikir dengan serius. "Apa ada wanita di apartemenku?" tanyanya pada diri sendiri, namun segera menggeleng lagi. "Tapi, sudah satu bulan aku tidak bercinta dengan siapa pun. Jadi, siapa?"
Dengan rasa takut yang masih menyelimuti hatinya, Kendra menelan ludah dengan kasar dan memberanikan diri untuk mencari sumber suara itu. Dia berjalan pelan-pelan ke kamarnya, tapi tidak menemukan siapa pun di sana. Ia kemudian mengendap-endap ke dapur, tetapi hasilnya tetap sama—tidak ada siapa pun di sana.
Dengan perasaan was-was, Kendra akhirnya membuka pintu kamar tamu. Matanya langsung terbelalak saat melihat kamar itu dalam keadaan berantakan, dan di tengah kekacauan itu, Kasandra terlihat bersimpuh sambil menangis terisak-isak.
Kendra segera berlari mendekati kakaknya, rasa cemas meliputi dirinya. "Kasandra, ada apa?!" serunya, suaranya penuh dengan kekhawatiran.
Namun, Kasandra tidak menjawab. Ia hanya menangis semakin kencang, membuat hati Kendra semakin teriris. Tanpa berpikir dua kali, Kendra memeluk kakaknya dengan erat. "Berhentilah menangis, Kak. Kamu tahu, kesedihanmu juga melukaiku. Tolong, katakan ada apa?"
Setelah beberapa saat, Kasandra akhirnya berhenti menangis cukup lama untuk berbicara. Namun, kata-katanya mengejutkan Kendra. "Aku... aku tidak ingin pulang," ujarnya pelan, suaranya serak karena terlalu banyak menangis.
Kendra, yang tidak mengerti apa yang terjadi, segera bertanya dengan cemas, "Apa Farhan melukaimu? Apa dia memukulmu?"
Kasandra menggelengkan kepalanya dengan lemah, air mata masih mengalir di wajahnya. "Tidak, Kendra. Farhan tidak akan pernah melakukan itu," jawabnya dengan suara bergetar.
Kendra merasa bingung. Jika bukan itu masalahnya, lalu apa yang membuat kakaknya begitu hancur? "Lalu, apa yang membuatmu menangis dan tidak mau pulang, Kak?" tanyanya dengan lembut, mencoba untuk mengerti.
Kasandra mengusap air matanya, lalu menatap Kendra dengan mata yang berlinang. Dengan suara pelan tapi penuh dengan kesedihan, dia akhirnya mengungkapkan hal yang paling menyakitkan. "Farhan... Farhan akan menikah lagi."
Kendra terduduk mendengar kata-kata itu, matanya terbelalak tidak percaya. "Apa?" bisiknya, seolah tidak mampu memproses informasi tersebut. Farhan, kakak iparnya yang selama ini setia, akan menikah lagi? Bagaimana mungkin?
Kasandra mengangguk pelan, melanjutkan dengan suara yang semakin lirih, "Farhan merasa bertanggung jawab... setelah semua yang terjadi. Dia bilang dia tidak bisa menutup mata dan memilih untuk menikahinya saja."
Kendra merasa seolah-olah dunianya runtuh. "Siapa?" tanyanya, meskipun dalam hatinya, ia sudah tahu jawabannya.
Kasandra menarik napas panjang sebelum menjawab, "Alea. Dia akan menikahi Alea, mengambil alih tanggung jawabmu."
Kendra terdiam, merasa seperti dihantam oleh kenyataan yang begitu pahit. Hatinya hancur, tidak hanya karena rasa bersalah terhadap Alea, tetapi juga karena pengkhianatan yang dirasakannya.
Farhan, kakak iparnya sendiri, akan mengambil alih tanggung jawabnya dan menikahi wanita yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.
Ruangan itu dipenuhi dengan keheningan yang menyakitkan, hanya dipecahkan oleh isak tangis Kasandra yang kembali terdengar. Kendra duduk membeku, matanya tak mampu melepaskan tatapan dari kakaknya. Ia tidak tahu harus merasa apa, antara marah, kecewa, atau sedih.
"Karena kamu tidak mau bertanggung jawab, Farhan memutuskan untuk memadu saja. Dia tidak bisa membiarkan Alea kembali menderita, Ken!" isak Kasandra, membuat Kendra menjadi tambah pening.
"Ken, kenapa kamu diam saja?!" sentak Kasandra. "Lakukan sesuatu! Aku tidak bisa melihat suamiku menikah lagi!"