Pagi itu, Alea memutuskan untuk pergi berbelanja di supermarket. Dengan daftar belanja di tangan, ia mengisi keranjang belanjanya dengan perlengkapan dan kebutuhan sehari-hari.
Saat sampai di bagian buah-buahan, matanya tertuju pada mangga hijau yang tampak segar dan menggoda. Alea berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk mengambilnya.
Namun, ketika tangannya hampir mencapai mangga tersebut, sebuah tangan lain menyerobot buah itu terlebih dahulu.
Alea segera menoleh dengan tatapan sinis, dan terkejut saat melihat siapa yang berdiri di sampingnya. Ternyata, laki-laki yang telah mengambil mangga itu adalah Kendra.
"Kamu?" seru Alea, suaranya penuh dengan nada ketidaksenangan.
Kendra menatapnya dengan santai dan berkata, "Aku melihat mangga ini lebih dulu, jadi ini milikku."
Alea menahan diri untuk tidak berdebat, tapi perasaannya yang tersulut membuatnya merespons dengan cepat, "Aku yang melihatnya lebih dulu, dan aku yang akan mengambilnya."
Kendra mengangkat alisnya, "Maaf, tapi aku tidak akan menyerahkan ini. Kamu bisa mencari yang lain."
Alea menatapnya tajam, tidak mau kalah. "Ibu hamil seharusnya didahulukan. Kamu tahu itu, kan?"
Kendra tersenyum tipis, tapi tetap keras kepala. "Mungkin, tapi aku sangat menginginkan buah ini, tidak ada yang lain. Kamu bisa memilih yang lain."
Tanpa menunggu balasan, Alea merebut mangga itu dari tangan Kendra. Namun, Kendra dengan cepat mengambilnya kembali.
Perdebatan kecil itu berlanjut dengan keduanya saling merebut mangga hijau yang menjadi rebutan mereka. Kendra akhirnya menatap Alea dengan tatapan tajam, tapi Alea, yang tidak ingin memperpanjang masalah, memilih untuk berlalu begitu saja.
Dengan santai, Alea kembali memilih buah-buahan lain, berusaha mengabaikan ekspresi kesal di wajah Kendra. Dia mengambil beberapa jeruk segar, tapi tiba-tiba telinganya terganggu oleh suara isakan seseorang.
Alea menoleh ke belakang dan terkejut melihat Kendra duduk di lantai dengan terisak, persis seperti anak kecil yang merengek.
Dengan langkah cepat, Alea berjalan menuju Kendra dan berbisik dengan kesal, "Apa yang kamu lakukan?"
Kendra menatapnya dengan mata berkaca-kaca, suaranya terisak, "Aku... aku ingin mangga itu..."
Alea hampir tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat dan dengar. "Kamu serius?" tanyanya dengan nada yang penuh keheranan dan frustrasi. Kendra, seorang presiden direktur yang dingin dan penuh wibawa, kini duduk di lantai supermarket sambil menangis hanya karena mangga?
Kendra mengangguk, tangisannya semakin keras. "Aku benar-benar menginginkannya...," isaknya, suaranya terdengar menyedihkan. Orang-orang di sekitar mereka mulai memperhatikan, dan bisikan-bisikan mulai terdengar, membuat Alea semakin kesal.
"Dia tidak mau mengalah pada pria berkebutuhan khusus...," bisik seorang wanita kepada temannya, sambil menatap Alea dengan pandangan mencela.
Mendengar bisikan itu, Alea merasa wajahnya memanas karena malu. Dengan terpaksa, ia akhirnya menyerahkan mangga itu kepada Kendra, meskipun dalam hatinya masih dipenuhi kemarahan.
Secara ajaib, begitu mangga itu ada di tangan Kendra, tangisannya mereda. Wajahnya yang sebelumnya dipenuhi air mata kini berubah sumringah. Kendra menatap Alea dengan senyum kemenangan, seolah-olah tidak ada yang salah dengan kelakuannya barusan.
"Kamu adalah satu-satunya miliarder yang tidak punya rasa malu," ujar Alea dengan senyum sinis, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Kendra, yang tampaknya tidak peduli dengan sindiran Alea, berdiri dengan angkuh, mengusap air matanya yang tersisa, dan berjalan pergi dengan tenang menuju kasir untuk membayar buah itu.
Alea, yang masih merasa kesal dengan sikap kekanak-kanakan Kendra, mengikuti langkahnya dari belakang. Meski tidak senang dengan situasi yang baru saja terjadi, ia tidak ingin membiarkan kejadian itu mengganggu harinya lebih lanjut.
Akhirnya, ia juga membayar belanjaannya, sambil menghela napas panjang, berusaha meredam kemarahan yang masih tersisa di dalam hatinya.
Kendra dan Alea berjalan keluar dari supermarket, tanpa kata-kata, tetapi dengan ketegangan yang hampir bisa dirasakan di udara. Saat mereka tiba di parkiran, Kendra tiba-tiba berhenti, membuat Alea juga terpaksa berhenti di belakangnya.
Kendra menoleh ke arah Alea dengan tatapan penuh curiga. "Kenapa kamu mengikutiku?" tanyanya, nada suaranya dingin.
Alea menatapnya dengan sinis, "Kita sama-sama ke parkiran. Aku tidak mengikutimu."
Kendra mencibir, "Pembohong."
Alea hanya melengos, tidak ingin memperpanjang perdebatan, dan berjalan menuju mobilnya sendiri.
Saat Kendra melihat Alea mendekati sebuah mobil yang tampak mewah, ia mengernyit heran. "Seorang sekretaris bisa membeli mobil seharga ratusan juta?" pikirnya, senyum sinis mulai terukir di wajahnya, sementara rasa percaya dirinya semakin liar.
Dengan langkah santai, Kendra mengikuti Alea dan tanpa ragu duduk di depan mobil Alea, bersiul seolah-olah tidak ada yang aneh dengan perilakunya. "Jadi, ini mobil pribadimu?" tanyanya dengan nada menyelidik.
Alea, yang merasa terganggu dengan sikap Kendra, mengernyit heran. "Iya, kenapa?" balasnya singkat, tidak ingin terlibat dalam percakapan lebih lanjut.
Kendra menatapnya dengan tajam, "Pekerjaanmu apa, sebenarnya?"
Alea terkekeh sinis, merasa percakapan ini semakin tidak masuk akal. "Tuan Kendra buta, ya, jika masih bertanya pekerjaan apa yang aku lakukan?"
Kendra tertawa sarkastis, merasa dirinya menang dalam permainan kata-kata ini. "Itulah yang kupikirkan. Bekerja sebagai sekretaris saja bisa membeli mobil ratusan juta? Kamu pasti bercanda."
Alea, yang mulai muak dengan sikap Kendra, bertanya dengan nada tajam, "Apa hubungannya denganmu?"
Kendra mendekat, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Kamu terlalu jual mahal dan naif. Membuat diriku terjebak dalam masalah ini, padahal aku yakin anak itu bukan benihku."
Alea terkejut mendengar kata-kata itu. "Apa maksudmu sebenarnya?" tanyanya dengan nada tak suka.
Kendra mengejeknya dengan senyum licik. "Jangan pura-pura bodoh, Alea. Kamu pasti jual diri ke pria lain untuk mendapatkan kekayaan ini, hidup hedonis, membeli mobil mewah pula. Lalu, ketika tahu kelemahanku ada pada keinginan ayahku untuk memiliki cucu, kamu menjebakku dengan mengatakan bahwa anak itu milikku. Sayangnya, aku tidak sebodoh itu."
Alea mengepalkan tangannya, merasa marah dan terluka oleh tuduhan yang tidak berdasar dari Kendra. "Tuan, jaga bicaramu!" serunya, suaranya bergetar menahan amarah.
Kendra hanya tertawa, merasa dirinya memegang kendali. "Kenapa harus marah jika itu fakta?" jawabnya dengan nada dingin.
Alea menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. "Mobil ini bukan hasil dari jual diri. Aku mendapatkannya dengan cara yang benar."
Kendra menatapnya skeptis, matanya penuh dengan keraguan. "Oh, ya? Lalu dari mana? Jangan bilang itu dari bekerja sebagai sekretaris selama lima tahun. Gajimu bahkan belum tentu cukup untuk membayar cicilan mobil ini."
Alea merasa tidak punya pilihan selain mengungkapkan kebenarannya. "Mobil ini pemberian dari Pak Farhan," jawabnya dengan suara tegas.
Mendengar nama Farhan, Kendra seketika terkejut. Ekspresinya berubah dari sinis menjadi serius. Dengan cepat, dia mencengkeram tangan Alea, menatapnya dengan mata yang tajam, penuh amarah. "Kau... berselingkuh dengan Kak Farhan?!" suaranya penuh dengan tuduhan, dan tatapan matanya seolah menuntut jawaban.
Alea terperangah dengan tuduhan itu, dan rasa jijik serta marah segera memenuhi hatinya. "Apa kamu gila? Pak Farhan memberiku mobil ini karena dia peduli padaku, bukan karena hubungan terlarang seperti yang kamu pikirkan!" serunya dengan penuh kemarahan.
Kendra menatapnya tajam, mencari tanda-tanda kebohongan di wajah Alea. Namun, Alea tetap berdiri dengan teguh, meskipun hatinya terluka oleh tuduhan yang begitu kejam dan tidak berdasar.
Keheningan yang mencekam menyelimuti mereka berdua, dengan Kendra yang masih mencoba mencerna kata-kata Alea, sementara Alea menahan air mata dan kemarahannya yang hampir meledak.
"Katakan! Anak itu hasil kau jual diri, bukan?"