bc

ART- Ku Ternyata Pewaris

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
family
HE
drama
tragedy
sweet
city
office/work place
assistant
like
intro-logo
Blurb

Nasya selalu dipandang rendah.Sebagai seorang ART di rumah keluarga kaya, ia terbiasa menerima tatapan meremehkan, hinaan, bahkan perlakuan tidak adil. Tidak ada yang tahu, gadis sederhana dengan seragam ART itu sebenarnya menyimpan rahasia besar.Semua bermula ketika Nasya memilih kabur dari perjodohan yang dipaksakan orang tuanya. Demi kebebasan, ia menyembunyikan identitas asli dan memutuskan bekerja sebagai ART.Namun hidupnya berubah saat ia bertemu seorang pria dingin dan arogan yang terus meremehkannya—tanpa sadar bahwa Nasya bukan gadis biasa.Sampai akhirnya rahasia itu terbongkar…ART yang selama ini dipandang sebelah mata ternyata adalah pewaris keluarga konglomerat.Dan saat semua orang mulai menyesal, Nasya harus memilih—kembali pada hidup mewahnya atau tetap mempertahankan cinta yang tumbuh di tengah kebohongan?

chap-preview
Free preview
Kabur
Suara denting sendok dan garpu memenuhi ruang makan yang mewah. Lampu kristal besar menggantung tepat di atas meja panjang berwarna emas, sementara aroma masakan steak mahal tercium ke seluruh ruangan. Namun, suasana malam itu terasa sangat dingin—terlalu dingin. Nasya duduk diam di kursinya. Tangannya hanya memainkan gelas jus di hadapannya tanpa benar-benar meminumnya, pandangannya kosong. Di ujung meja, ayahnya, Eko Adipratama, sibuk menatap layar tablet, sedangkan ibunya, Hana, duduk dengan tenang seolah tidak ada apa-apa yang akan terjadi malam ini. Padahal Nasya tahu persis. Mereka sedang menunggu waktu yang tepat. Dan ia sudah hafal betul pola keluarganya: jika suasana terasa terlalu tenang seperti ini, berarti akan ada sesuatu yang bisa mengubah hidupnya secara drastis. "Nanti malam ada tamu," ucap Eko akhirnya. Kalimatnya singkat dan datar, namun cukup membuat jantung Nasya terasa tidak nyaman. "Tamu siapa?" tanya Nasya. Eko meletakkan tabletnya perlahan. "Orang penting." Nasya menghela napas pelan. "Daddy, jawab yang jelas." Hana tersenyum tipis. "Keluarga Mahardika." Gerakan tangan Nasya terhenti seketika. Mahardika? Keluarga pemilik perusahaan besar yang memiliki jaringan hotel dan properti di mana-mana itu? "Mereka datang ke sini untuk apa?" tanyanya lagi. Tidak ada yang menjawab langsung. Hingga akhirnya Hana berbicara dengan suara yang terdengar terlalu lembut. "Karena kamu akan bertunangan dengan anak mereka." Deg. Suasana menjadi hening seketika. Nasya bahkan merasa telinganya berdengung. "Apa?" "Kamu tidak salah dengar," sahut Eko santai. Nasya terkekeh kecil. Rasanya hampir tidak masuk akal. "Oh… lelucon yang bagus." "Tidak ada yang bercanda," tegas Eko, tatapannya tajam. "Kami sudah sepakat. Namanya Rendra Mahardika. Pendidikannya bagus, latar belakang keluarganya jelas, dan masa depannya terjamin." Nasya menatap wajah ayah dan ibunya bergantian, seolah berharap ini hanya sebuah lelucon. "Daddy serius?" "Sangat serius." "Tapi aku tidak mau dijodohkan." Jawabannya keluar begitu saja, tegas dan tanpa ragu. Hana menarik napas panjang. "Nasya, jangan bersikap kekanak-kanakan." "Kekanak-kanakan bagaimana? Ini hidupku!" "Dan kami adalah orang tuamu," potong Eko dengan nada dingin. "Kami tahu apa yang terbaik untukmu." Nasya tertawa sinis. "Terbaik untuk siapa?" "Untuk keluarga." Nah, itulah jawabannya. Selalu seperti ini. Keluarga, bisnis, nama besar, dan harga diri. Seolah-olah keberadaannya hanyalah alat transaksi. Nasya meletakkan garpunya cukup keras di atas piring. "Aku bukan barang dagangan." "Jaga bicaramu!" "Aku hanya menyampaikan kenyataan!" Eko mulai kehilangan kesabarannya. "Selama ini kamu hidup enak! Semua fasilitas terpenuhi, pendidikan terbaik, mobil mewah, kartu kredit tanpa batas—semua kami berikan!" "Lalu apa?" Nasya berdiri dari kursinya. "Hanya karena itu, aku harus menikah dengan orang yang bahkan belum pernah aku temui?!" "Kalian bisa saling mengenal nanti." "Seolah ini pertemuan bisnis, ya?" "Nasya!" Hana ikut berdiri. "Jangan terus-menerus membantah!" Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Nasya, bukan karena sedih, melainkan karena rasa kecewa yang mendalam. "Mom…" suaranya terdengar pelan dan bergetar. "Kenapa hidupku selalu diatur?" Hana terdiam sesaat, lalu menjawab dengan nada lembut. "Karena kamu anak satu-satunya." "Lalu?" "Kamu adalah pewaris keluarga ini." Kalimat itu justru membuat d**a Nasya terasa semakin sesak. Lagi-lagi kata itu terucap. Pewaris. Seolah ia tidak berhak memiliki keinginan sendiri. "Aku lelah…" suara Nasya bergetar. "Aku lelah hidup seperti robot." Eko mendecakkan lidah kesal. "Kamu terlalu manja." Nasya menatap ayahnya dengan pandangan tidak percaya. "Manja?" "Iya. Kamu hanya perlu menjalani hidup yang nyaman ini." "Aku tidak pernah meminta untuk lahir di keluarga seperti ini!" BRAK! Tangan Eko menghantam meja makan dengan keras. Para pelayan yang berdiri di sudut ruangan langsung menunduk ketakutan. "Kurang ajar!" Napas Nasya terengah-engah, dadanya naik turun. Namun kali ini, ia tidak merasa takut. "Aku tidak mau dijodohkan." "Kamu harus!" "Tidak mau!" "Kamu akan bertemu Rendra malam ini, dan keputusan ini sudah bulat!" "Kalau aku menolak?" "Daddy akan memblokir semua kartu dan mencabut seluruh fasilitas yang kamu miliki." Nasya tertawa hambar. "Ternyata beginilah bentuk kasih sayangmu padaku." Hana berusaha mendekat. "Sayang, Mama hanya ingin kamu bahagia." "Bahagia menurut versi Mama dan Daddy." "Nasya…" "Aku tidak mau hidup diatur seperti ini!" Tanpa menunggu jawaban lagi, Nasya berbalik dan berjalan cepat meninggalkan ruang makan. "Nasya!" Panggilan ibunya bergema, namun gadis itu tidak menoleh. Begitu sampai di kamar, ia membanting pintu hingga berbunyi keras. BRAK! Suasana kembali hening. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Nasya menangis lepas. Ia duduk di lantai sambil memeluk lututnya, menatap sekeliling kamarnya yang luas dan mewah—lemari berisi pakaian bermerek, tempat tidur yang empuk, perabotan yang indah, semuanya mahal. Namun, anehnya ia tidak pernah merasa bebas di sini. "Kenapa hidupku harus seperti ini…" gumamnya pelan sambil air matanya terus mengalir. Ponselnya bergetar. Nama ibunya tertera di layar, namun ia tidak mengangkatnya. Tak lama kemudian masuk sebuah pesan singkat: Mama cuma mau yang terbaik. Tolong mengerti, ya. Nasya menyeka air matanya dan tertawa kecil. Yang terbaik? Jika memang ini yang terbaik, mengapa rasanya terasa begitu menyiksa? Pandangannya jatuh pada sebuah koper besar di sudut kamar. Tiba-tiba sebuah ide muncul di benaknya. Kalau aku pergi? Kalau aku kabur dari sini? Jantungnya berdebar kencang. Apakah ini gila? Kabur dari rumah sendiri? Tapi apa pilihan lain yang ia miliki? Menikah dengan orang asing yang tidak ia kenal? Tidak mungkin. Nasya berdiri dan membuka pintu lemari. "Kalau aku pergi… setidaknya aku bisa hidup sesuai keinginanku sendiri." Satu per satu ia memasukkan barang-barang penting ke dalam koper: pakaian santai, celana jeans, jaket, sepatu, perlengkapan mandi, laptop, dokumen-dokumen penting, kartu ATM pribadi, dan sejumlah uang tunai. Ia juga mengambil tabungannya yang tersimpan di brankas kecil—jumlahnya cukup banyak untuk bertahan hidup sementara waktu. "Aku tidak boleh mati sia-sia di luar sana," gumamnya. Ia bahkan sempat mencari informasi singkat di internet: cara hidup mandiri di kota besar, pekerjaan yang bisa diambil tanpa pengalaman, hingga tempat kost yang murah. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana rumah mulai sepi. Nasya mengenakan jaket berwarna gelap, topi, dan masker untuk menyamarkan wajahnya. Ia menatap kamarnya dalam waktu lama, merasa sedikit takut, namun rasa takut itu kalah oleh keinginan untuk bebas. Pelan-pelan ia membuka pintu kamar dan melangkah keluar. Suasana lorong sunyi senyap. Ia menuruni tangga belakang yang jarang digunakan, jantungnya berdebar kencang seolah akan melompat keluar. Begitu berhasil melewati pagar samping rumah, angin malam langsung menerpa wajahnya. Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: kebebasan. Sebuah taksi daring berhenti tepat di depannya. "Nasya?" tanya sopir dari dalam. "Iya, Pak." "Mau ke terminal?" "Iya." Sopir itu membantu memasukkan kopernya ke bagasi. Selama perjalanan, Nasya terus menatap ke luar jendela, melihat rumah megahnya yang perlahan menjauh hingga menghilang dari pandangan. Matanya terasa panas, namun kali ini ia tidak menangis. "Selamat tinggal," bisiknya pelan. Ponselnya bergetar berkali-kali—panggilan masuk dari ayah dan ibunya, diikuti pesan-pesan yang terdengar panik dan marah. Tanpa ragu, Nasya langsung mematikan perangkatnya. Ia merasa takut, namun di sisi lain juga merasa lega. Sesampainya di terminal, suasana terasa sangat berbeda. Ramai, bising, dan panas—jauh dari kenyamanan yang biasa ia rasakan. Orang-orang berjalan cepat, terdengar suara pedagang menawarkan barang, klakson kendaraan, dan pengumuman keberangkatan bus. "Rame sekali ya," gumamnya sambil memeluk tas selempang erat-erat. Baru sekitar lima belas menit berdiri di sana, ia mulai menyadari satu hal: hidup di luar ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Saat ia sedang asyik melihat layar ponsel untuk mencari tempat menginap, tiba-tiba seseorang menabraknya dengan cukup keras. "Eh, maaf!" ucap sosok itu tergesa-gesa, lalu langsung berjalan cepat menjauh. Nasya mengernyitkan dahi, lalu tanpa sadar tangannya langsung meraba bagian depan tasnya. Matanya terbelalak. Dompetnya hilang. "Eh?!" Seorang ibu yang berdiri di dekatnya menunjuk ke arah kerumunan. "Sepertinya itu dicuri, Nak." "Apa?!" Nasya langsung menoleh dan melihat sosok tadi berlari menjauh. "Hei! Tunggu!" Ia langsung berlari mengejar, namun keramaian di terminal membuatnya sulit bergerak cepat. Napasnya terengah-engah, kakinya mulai terasa pegal, dan dalam hitungan detik, pencuri itu lenyap ditelan keramaian. Nasya berhenti berlari, berdiri tertegun di tempat. Di dalam dompet itu tersimpan uang tunai dalam jumlah besar, kartu identitas, serta kartu ATM-nya. Air matanya nyaris jatuh. "Ya Tuhan…" Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa kabur dari rumah ternyata tidak semudah yang tergambar dalam pikirannya. Di tengah keramaian terminal yang asing itu, Nasya berdiri sendirian, merasa takut, bingung, dan hampir menyesali keputusannya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
723.0K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
959.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
347.2K
bc

Not just, the Beta

read
342.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook