Sikap bermusuhan Malika menunjukkan bahwa Aris memang terlalu dalam melukainya. Almas terkesan. Bagus sekali logika Malika masih utuh setelah dirayu lelaki yang masih dicintainya. Seolah dia bukan orang yang sama dengan yang tadi muram ketika menuju hotel tempat acara pernikahan Aris dan Sita. Saat ini di depannya wajah Malika mengingatkan Almas akan perempuan anggun bergaun dansa malam itu. Sosok yang mengenalkannya akan debaran pertama rasa jatuh cinta. “Sebagai temanku, kamu harusnya membantuku untuk waras, Almas. Temukan cara agar aku bisa memecatnya.” Malika bersunggut lagi. “Dia tidak boleh mendapatkan apa pun lagi dariku!” Almas tetap santai menanggapi. Ia memang tak sangat menyukai Aris, kesan berkuasa lelaki itu kepada Malika menyebalkan untuk diingat. Tetapi sebagai mentor ia

