Dalam lift yang tak seberapa itu Almas terpaksa harus bertukar sapa dengan mereka. Cukup lama ia tinggal di sana, tapi baru kali ini berpapasan temu dengan Sita. Ternyata perempuan itu tinggal dua lantai di bawah kamarnya. “Kamu tinggal di sini juga ternyata,” sapa Aris lebih ramah dari biasanya. “Ya.” Sita berusaha lepas diri dari Aris. Ia tahu posisi Almas yang begitu dekat dengan Malika, khawatirnya lelaki itu akan mengadu dan hal itu buruk bagi rencana yang telah disusun Aris dengannya. Namun, Aris sangat percaya diri. Ia bahkan tak ragu untuk mencium pipi Sita dengan suara decap jelas. Lewat pantulan bahan baja lift, Aris tahu Almas mengamati mereka. “Tenanglah, Sayang. Tak apa.” Almas berusaha fokus ke ponselnya, tapi sulit sekali karena risi akan mereka. Sesaat kemudian ia me

