Aku terbangun tepat pukul 5 pagi. Rasa sakit pada bagian intim tubuhku, terasa sangat menyakitkan. Indra, kamu k*****t. Aku marah, kesal, dan sesak rasanya menumpuk didadaku. Aku menoleh, melihat wajah Indra yang begitu menawan, tertidur pulas. Dia tersenyum dalam tidurnya. Entah mimpi apa dia.
Kubersihkan diriku, mandi, perlahan kubersihkan juga bagian kewanitaanku. Membuang sisa-sisa spe**a mas Indra, yang mungkin masih tersisah disana. Ngilu. Seperti terbakar rasanya Vag**aku, saat dibilas. Aku mengumpat marah. Karena kebisingan yang aku timbulkan, Indra terjaga dari tidurnya.
"Li... " panggilnya. Aku diam saja. Tak aku perdulikan panggilannya.
"Lia, kamu baik-baik saja neng? " tanyanya lagi.
"Gaaaak, aku marah. Aku benci kamu Indra! "jerikku histeris. Aku menangis tersedu-sedu, dibawah shower kamar mandi Indra. Berharap, suara tangisku tak terdengar.
Kubiarkan tubuhku diguyur air dingin. Aku ingin menata hatiku. Menata hidupku.
Aku melangkah keluar dari kamar mandi Indra, kuraih handuk yang sudah disediakannya untukku. Indra hanya terdiam, menatapku.
"I love you Lia. Jangan diamkan aa seperti ini" lirihnya.
'Mati saja kamu sana" ketusku tajam.
Indra terkejut, spontan dia berdiri dan memaksaku untuk menatap matanya.
"Lihat aa kalo kamu sedang bicara" katanya.
Seketika, aku melotot dan menatapnya tajam. "Sekali lagi kamu menyentuhku, aku hajar kamu" ancamku. Yah, aku bisa ilmu beladiri. Aku bisa menjaga diriku. Kalau cuman melawan Indra, dalam keadaan sadar, dia tidak akan bisa memerawaniku. Aku tau betul itu.
Indra membalikkan tubuhku, memeluk lembut perutku,bibirnya mulai menggerayangi leherku. Ya Tuhan, aku ingin pergi. Jangan biarkan aku lemah terhadap nafsu birahi ini.
Tangan Indra mengunci tubuhku, satu lengannya memeluk erat perutku, lengan satunya lagi digunakan memelukku dari pundak kearah payud**a dan berakhir diperutku. Dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun, ada gelanyar aneh mulai menyerangku. Ciuman lembut Indra dileherku, sudah berganti dengan jilatan lidahnya pada bagian belakang kupingku. Aku mendesah, merinding, menyebut namanya. Beginikah rasanya wanita jika sudah terangsang? Otak sudah tidak berfungsi penuh, birahi menguasai hasrat jiwa. Terbayang,betapa gagah dan perkasanya dia semalam, meniduriku, aku pasrah.
"Aa cinta sama kamu Lia. Jangan kamu pergi. Aa bisa melepas semua pacar aa, asal Lia janji, selalu ada buat aa" bisikannya terasa seperti alunan musik yang menenangkan jiwa.
Saat dirasa aku sudah pasrah, dan tidak akan melawannya, dia mendorong tubuhkan pelan, berpegangan pada meja riasnya. Tanganya sangat lihai membelai dan memainkan puncak gunung kembarku,sambil tetap memposisikan dirimu menungging. Terasa menggelitik, saat kejantanannya mulai menyentuh kulit,mendorong pelan kearah vag**aku. Desahanku lolos tanpa henti,melenguh nikmat, merasakan gesekan pe**s Indra di liang MissV ku. Serangan fajar. Hentakan Kejantanan Indra menusuk masuk missV ku, membuatku menjerit. Spontan tangan Indra menutup mulutku. Dia mencium lembut punggungku, tangan kirinya tetap menggenggam penuh payudaraku.
Sakit. Tapi Nikmat. Indra memaju mundurkan bok**g seksinya, membuat pe**snya bebas masuk dan keluar diliang Va***aku yang sempit. Karena aku terus menjerit, Indra mengubah posisi bercinta kami.
Dia duduk bersandar pada sandaran kasurnya, aku dipangkunya. MissV ku terasa penuh sesak dengan kejantanan Indra yang sudah mengeras dan berdenyut. Dia memompa sambil menggerakkan pinggulku maju mundur.
"Mas, ini enaakk" desahku nikmat.
Indra memandang wajahku, membelai lembut pipiku, bibirku sudah habis dilumatnya.
"Dari semua perawan yang aku tiduri, kamu yang paling menggoda Li" kamu terus memujiku.
"Tapi rasanya sama aja kan mas" aku menyelidikinya.
"Soal bentuk dan rasa, urusan ranjang,tidak ada yang pernah sama. Semua sensasi beda-beda Li. Saat ini aa jatuh cinta dan menginginkan Lia, untuk jadi milik aa selamanya." Rayuan mautmu membodohiku. Aku terbuai. Terperdaya. Saat itu, yang ada di pikiranku, adalah menikmati hubungan badan kita, karena sudah kepalang basah. Sudah terlanjur ternoda diriku.
Cukup lama kita saling membelai dan mencumbu, sampai tubuh mas Indra menegang dan menekan kuat pinggulku agar pelepasan penuh dia dapatkan. Spe**a Indra kembali memenuhi liang kenikmatanku. Aku lemas akibat o*****e beruntun. Kamu benar-benar membuatku bodoh, otakku seperti membeku. Tak bisa berpikir rasional lagi. Terlalu Nikmat untuk ditolak.
Akan aku simpan kenangan ini, selalu dalam hatiku. Kamu, pacar pertamaku, cinta pertamaku, dan lelaki perkasa yang mengambil mahkotaku.
Kita berpisah. Aku kembali ke rumah. Aku putuskan,hari ini aku tidak kuliah. Aku ingin beristirahat penuh.
Aku mengirimkan pesan pada Dini, agar memberikanku obat pereda nyeri dan juga makan siang.
"Kamu kenapa Lia?" Dini mulai menyelidiki.
"Indra Din, dia k*****t" aku tak bisa menahan tangisku. Dini memelukku, dan membelai rambutku lembut. Dia pasti tau, karena bekas ciuman Indra ada banyak dileherku. Tanda kepemilikan katanya.
"Li, kamu harus kuat. Dunia tidak berakhir dengan kamu kehilangan keperawananmu. Kalau jodoh,kalian pasti akan dipersatukan" Dini mencoba menghiburku.
"aku hanya ingin sendiri dulu Din,aku lelah"
"Libur seminggu nanti, ikut aku yah? Kita ke Sukabumi. Ada pamanku disana. Kita liburan dulu. Hayuk atuh Li!".
Dan akupun mengiyakan. Aku ingin pergi sebentar saja. Mumpung nanti bisa libur seminggu.
Sebulan telah berlalu. Indra sering mencoba menghubungiku, mengajakku untuk jalan berdua, tetapi selalu aku tolak. Indra berusaha datang ke rumah, tetapi selalu ditolak oleh Dini dan Sari. Mereka berdua, sudah tidak percaya lagi pada Indra. Pesan mesra Indra untukku,sudah memenuhi Kotak masuk di hpku.
Mungkin karena kesal ditolak terus Indra kemudian mengajak salah satu teman kencannya, lewat depan rumah kami.
Aku marah. Sangaaat marah. Darahku rasanya seperti mengalir terbalik. Mataku memerah. Aku membanting semua benda yang ada di hadapanku. Aku cemburu.
Dini lalu memelukku, mengijinkan aku menangis dibahunya. Sesak rasanya hatiku. Gundah gulana tak menentu. Rasanya seperti terbakar, panas.
Aku kembali ke kamar, meraih Handphoneku, dan aku menelpon Indra.
Tidak diangkat. Aku mencoba lagi. Kembali tidak dijawab. Aku panik, berjalan mondar mandir, seperti orang sinting.
"Arrrrggggghhhhhh........" Aku menjerit kencang. Kumaki-maki dia,Indra k*****t, Indra baji***n.
Karena kelelahan menjerit dan menangis, aku tertidur. Jam 7 malam, Indra meneleponku.
"Li, aa minta maaf yaah. Aa butuh penyaluran hasrat. Lia selalu menolak aa." Katamu.
Aku jijik. Tapi aku tak bisa menolak kamu. Tanpa sadar,air mataku mengalir.
"Aa kerumah Lia sekarang yah?" Katanya lagi.
Dan aku hanya mengiyakan. Mengijinkan kamu datang, untuk menghapus kemarahan ku, mendinginkan kepalaku.
Selang 30 menit, Indra datang. Senyumannya sudah membuatku tenang. Dia merentangkan tangannya, mengijinkan aku untuk memeluknya. Aku terdiam lama dalam dekapannya. Aku sudah tak mengingat lagi penghiatannya hari ini. Aku tak perduli berapa kali dia meniduri wanita-wanita diluar sana. Yang aku inginkan adalah dekat dengannya, memeluk tubuhnya. Indra memelukku erat. Eraaat sekali.
"I love you Li'. Air mataku lolos begitu saja.
Indra mengajakku kerumahnya. Ibunya tadi masak, dan mengundangku makan dirumahnya.
"Mas Indra modus" aku meliriknya. Dan dia membalas dengan menelungkup pipiku, melumat lembut bibirku.
"Hayuk atuh neng, aa sudah nafsu lihat Lia" akunya jujur. Aku sudah bahagia. Melupakan luka hati yang sempat membuatku gila sepanjang hari ini.
Sebegitu luaskan hatiku, menerima penghiatan pacarku, yang bahkan diakuinya dengan jujur? Dini dan Sari bahkan tak ingin mengajak Indra bicara. Mereka marah pada Indra.
Aku tak mengerti dengan perasaanku. Sudah ketangkap tangan, sedang berkencan dengan mahasiswi lain, tetapi aku menutup mata. Aku menganggap dia sedang bersenang-senang. Indra akan kembali padaku.
Aku meyakinkan diriku sendiri.
**********************
Cukup untuk hari ini ya readers, besok aku lanjut lagi.
Jangan lupa tap Love dan tinggalkan komen yaah, kritik dan saran sangat diapresiasi .