Reyhan tertegun, memandang wajah Meta dengan bola mata memerah dan berair. Ya, ia melupakan satu hal. Wanita yang berada di hadapannya ini bukanlah Meta yang dulu lagi. Meta sudah menikah dan memiliki suami. Meskipun mereka terikat oleh Sonia, tapi Meta masih diikat oleh tali pernikahan bersama pria lain. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, hati seorang Reyhan bagai ditusuk oleh benda tajam. Sebesar itukah rasa cintanya kepada Meta hingga ia kembali berharap kepadanya?
Meta perlahan berjalan mundur seraya terisak. "Sekali lagi maafin aku, Rey. Sonia memang darah daging kamu, tapi statusku masih sebagai istri orang," lemahnya lalu berbalik dan berlari meninggalkan ruangan sang Dokter.
Reyhan masih terdiam, tubuhnya gemetar, buliran bening berjatuhan membasahi kedua sisi wajah tampannya. Ia seperti tengah mengulang kejadian tujuh tahun silam saat dirinya melihat Meta bersama pria lain, rasa sakitnya masih sama. Hatinya benar-benar terluka.
Reyhan mengusap kedua sisi wajahnya, menyeka air mata yang berjatuhan terasa menyesakkan. "Ya Tuhan, mengapa saya harus mengalami ini untuk yang kedua kalinya. Jika dia memang bukan jodoh saya, mengapa Engkau mempertemukan kami lagi? Jika dia bukan jodoh saya, tolong hapus rasa cinta saya buat dia," gumam Reyhan lemah dan bergetar.
***
Sementara itu, Meta memasuki toilet dengan hati dan perasaan hancur. Tangisnya pecah, berdiri di belakang pintu toilet yang sudah ia tutup rapat. Mengapa Tuhan harus mempertemukannya dengan Reyhan? Sesalnya kembali datang. Seharusnya ia bertahan tujuh tahun silam karena ternyata, perpisahannya dengan Reyhan hanya diakibatkan oleh kesalahan pahaman dan sikap arogan ibu dari pria itu yang menyembunyikan surat terakhir dari Reyhan. Ia yakin, jika Reyhan tahu ia hamil kala itu, pria yang saat ini bergelar Dokter itu pasti akan bertanggung jawab dan kehidupan yang ia jalani tidak akan semenderita ini.
"Tuhan, inilah balasan yang Engkau berikan buatku dan Reyhan karena telah melakukan dosa besar? Dulu, kami melakukan perbuatan terlarang dan sekarang kami harus sama-sama merasakan sakit karena tak bisa bersama. Jika dia memang bukan jodohku, tolong hapus rasa cintaku buat dia, Tuhan. Aku mohon," gumam Meta, air matanya kian deras membahasi kedua sisi wajah cantiknya.
***
Setelah 15 menit berada di toilet, selain untuk mencuci tangan, ia pun ingin mencari ketenangan dan merenung, Meta memutuskan untuk langsung ke ruangan ICU tanpa kembali ke ruangan Reyhan. Mulai detik ini, dirinya akan mencoba untuk menghindari Reyhan, meskipun ia tahu bahwa hal tersebut sangatlah mustahil karena sang Dokter-lah orang yang tengah menangani Sonia. Selain itu, Reyhan pasti akan sering mengunjungi putrinya setelah tahu kenyataan yang selama ini ia sembunyikan.
Meta seketika menahan langkah kakinya saat melihat Rudy, suaminya tengah berdiri di depan ruangan ICU. Wajahnya yang pucat semakin terlihat panik, ia tidak tahu bahwa suaminya itu akan mengunjungi mereka di Rumah Sakit, dirinya memang mengabarkan prihal sakitnya Sonia, tapi ia pikir Rudy tidak akan peduli karena seperti itulah ia bersikap selama ini.
"Rudy," gumamnya dengan bergetar. Membayangkan apa yang terjadi selanjutnya, jika Rudy sampai tahu bahwa Dokter yang merawat Sonia adalah ayah biologisnya.
"Meta," sapa Rudy dengan wajah datar, kaos oblong dan celana jeans robek membalut tubuh tingginya.
Meta melanjutkan langkahnya, mencoba bersikap setenang mungkin. "Kapan kamu dateng, Mas? Aku pikir kamu gak peduli sama Sonia," ucapnya dengan dingin.
Rudy tersenyum sinis. "Jangan ngaco, Meta. Saya emang gak peduli sama Sonia, tapi ngedenger dia sakit kayak gini, masa ia saya diem aja," jawabnya.
Meta menghela napas panjang lalu duduk di kursi tunggu yang berada di luar ruangan ICU. "Terus, ngapain kamu ke sini kalau kamu emang nggak peduli sama Sonia, Mas?" ucapnya dingin.
Rudy melakukan hal yang sama seperti Meta, duduk tepat di sampingnya dengan wajah datar. "Mas cuma pengen liat dia sebentar setelah itu pergi dari sini. Lagian, dari mana kamu dapet uang buat biaya perawatan Sonia, hah?"
Meta terdiam, tatapan matanya nampak kosong menatap lurus ke depan dengan wajah datar. Jangan sampai suaminya itu tahu bahwa seluruh biaya pengobatan putrinya ditanggung oleh Reyhan. Rudy tidak boleh tahu siapa Reyhan bahkan suaminya itu tidak boleh bertemu dengan ayah biologis dari putrinya itu.
"Kenapa kamu diem aja, Meta? Dari mana kamu dapet uang buat biaya Rumah Sakit?" tanya Rudy dengan tegas.
Meta tersenyum sinis, menoleh dan memandang wajah Rudy. "Apa kamu tau, Mas. Seorang Ibu akan melakukan apapun demi anaknya, jika Sonia, putriku butuh uang buat pengobatan, maka aku sebagai Ibunya akan mencari uang bagaimana pun caranya," jawab Meta, menahan isakan. "Kamu gak akan ngerti karena kamu gak pernah menganggap Sonia sebagai anak kamu."
"Buat apa saya menganggap dia anak saya, di saat dia memang bukan darah daging saya, Meta. Kamu udah nipu saya, jadi jangan harap saya akan mengakui anak itu, paham?"
"Ya udah, kalau gitu ceraikan aja aku, Mas," ucap Meta, entah dari mana ia mendapatkan kekuatan untuk mengatakan hal tersebut.
"Cerai? Kenapa tiba-tiba sekali, hah? Bukannya selama ini kamu--"
"Aku capek, Mas Rudy. Aku lelah diperlakukan seperti ini sama kamu," jawab Meta, air matanya jatuh tanpa terasa. "Kalau kamu ngerasa ditipu, ya udah ... ceraikan aku sekarang juga. Aku dan Sonia bisa ko hidup tanpa kamu."
Kedua mata Rudy seketika membulat kesal, rahangnya mengeras. Selama ini, Meta tidak pernah meminta bercerai sekeras dan sekasar apapun ia memperlakukannya sebagai seorang istri.
Rudy tiba-tiba menjambak rambut Meta keras dan bertenaga hingga wajahnya mendongak dengan mata membulat. "Udah berani kamu minta cerai sama saya, hah? Kamu lupa siapa yang nyelametin kamu, hah? Kalau gak ada saya, mungkin kamu udah lahirin anak haram, Meta?"
Meta meringis kesakitan. "Argh! Lepasin aku, Mas. Jangan lakuin di sini, ini Rumah Sakit!" pintanya seraya terisak, kepalanya terasa nyeri, rambutnya seakan tercabut.
Rudy menghempaskan kasar kepala Meta hingga wanita itu tersungkur ke atas lantai. Meta kembali memekik menahan rasa sakit. Mata terpejam, kepalanya terasa nyeri dan pusing. Belum usai dengan rasa nyeri tersebut, Rudy berjongkok tepat di hadapannya dan kembali menjambak rambutnya seraya memandangnya dengan tajam.
"Dengerin saya, Meta. Kau gak akan pernah lepas dari saya. Saya akan membuat hidup kau dan Sonia menderita selamanya, paham?" ancamnya tegas dengan nada suara yang sedikit ditahan.
Aksi seorang Rudy seketika terhenti, saat seseorang tiba-tiba saja mencengkram kuat pergelangan tangannya. Reyhan berdiri tepat di belakang Meta, memandang wajah Rudy dengan murka.
"Lepasin wanita ini, b*****t! Lepasin, haaa!" teriak Reyhan, lalu mendaratkan kakinya di d**a Rudy membuat pria itu terhempas dan mendarat di lantai.
Meta menoleh dan memandang wajah Reyhan dengan terkejut dan gemetar. "Reyhan," gumamnya.
Bersambung ....