"Argh!" ringis Rudy, tubuhnya tersungkur di lantai usai mendapatkan tendangan maut dari Reyhan. "Siapa kau? Jangan ikut campur sama urusan rumah tangga orang, ya!
"b*****t kau! Jadi seperti ini kau memperlakukan istri kau sendiri, hah?" bentak Reyhan, matanya membulat dengan rahang mengeras murka. "Sini kau, orang kayak kau harus di kasih pelajaran!"
Reyhan hendak mendekati Rudy, ia merasa belum puas dalam memberi pelajaran kepada suami dari mantan kekasihnya itu. Namun, Meta tiba-tiba berdiri tepat di depannya, seraya merentangkan tangan.
"Sudah cukup, Dokter. Jangan kayak gini," ucapnya lemah dan bergetar. Memandang wajah Reyhan dengan sayu dan memelas. "Ini urusan rumah tanggaku. Aku mohon jangan ikut campur."
Reyhan balas memandang wajah Meta. Ia tidak menyangka bahwa suami juga ayah sambung Sonia memiliki sikap kasar bahkan tidak segan melakukan kekerasan di depan umum. Hatinya terasa nyeri, membayangkan bagaimana Sonia dan Meta diperlukan oleh pria itu membuatnya murka. Jika sudah seperti ini, ia pun bertekad akan mengejar cinta sang mantan tidak peduli meskipun wanita itu sudah memiliki seorang suami.
"Jangan halangi saya, Meta. Suami kamu ini b******n!" bentak Reyhan. "Biar saya hajar dia, setelah itu kita lapor polisi atas tindakan KDRT-nya sama kamu." Reyhan hendak melangkah melintasi Meta dengan paksa.
Meta kembali menahan dengan melingkarkan telapak tangannya di pergelangan tangan Reyhan. Mencengkramnya kuat seraya terisak. "Aku mohon jangan, Dokter. Ini Rumah Sakit, banyak pasien yang sedang istirahat, termasuk Sonia. Kasihan dia," rengeknya memohon dengan sangat.
Mendengar nama Sonia disebut, amarah Reyhan mulai mereda. Ia tidak ingin putrinya itu terganggu juga pasien lainnya yang berada di ruangan ICU. Pria itu memandang wajah Rudy dengan tajam.
"Kau ... pergi kau dari sini," pintanya dengan tegas. "Kalau tidak, saya akan laporin kau sama polisi!"
Tatapan mata Rudy tertuju kepada telapak tangan istrinya. Ia berdiri tegak seraya tersenyum menyeringai. "Jadi ini alasan kamu minta cerai, Meta?" tanyanya.
Meta balas menatap wajah suaminya dengan wajah datar. "Aku mohon pergi dari sini, Mas. Jangan buat keributan di Rumah Sakit," pintanya dengan dingin.
"Owh ... jadi kau selingkuh dari saya. Itu sebabnya kau minta cerai?"
Meta terdiam seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. Sementara Reyhan seketika merasa lega setelah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Rudy. Bercerai dari pria itu adalah pilihan yang tepat. Dengan begitu, dirinya bisa dengan leluasa mendekati dan merebut hatinya kembali.
"Meta minta cerai? Syukurlah, saya lega sekali mendengarnya," batin Reyhan.
Rudy menunjuk wajah Meta dengan jari telunjuknya sendiri. "Asal kau tau aja, Meta. Saya gak akan pernah menceraikan kau! Sampai mati pun kau akan tetap jadi istri saya!" bentaknya seraya tersenyum lebar. "Ini adalah balasan karena dulu kau udah menipu saya, paham?"
Reyhan kembali naik pitam. "Dasar b******k. Sini kau, saya hajar kau, hah!" serunya, hendak melangkah mendekati Rudy, tapi lingkarkan tangan Meta semakin kuat menggenggam pergelangan tangannya.
"Aku mohon pergi dari sini, Mas Rudy. Kalau nggak, aku bakalan laporin kamu ke polisi atas tindakan KDRT yang udah kamu lakuin sama aku!" bentak Meta, memandang tajam wajah suaminya.
"Oke, Mas akan pergi dari sini, tapi ingat ... Mas gak akan pernah menceraikan kamu, Meta. Gak akan!" jawabnya dengan tegas lalu berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Tubuh Meta melemas, melepaskan lingkaran tangannya. Air matanya pun bergulir deras, kakinya melangkah pelan menuju kursi lalu duduk dengan wajah datar dan tatapan kosong. Reyhan menghela napas panjang lalu melakukan hal yang sama seperti wanita itu.
"Kenapa kamu masih bertahan dengan suami kayak gitu, Met? Saya yakin, ini bukan pertama kalinya dia nyakiti kamu," ucap Reyhan dengan lemah, memandang sayu wajah Meta. "Jika di tempat umum aja dia berani kasar sama kamu, apalagi di rumah kalian."
Meta terdiam masih dengan ekspresi wajah yang sama. Ia sama sekali tidak menyangkal apa yang baru saja diucapkan oleh Reyhan karena pria itu sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri seperti apa suaminya memperlakukannya.
"Kenapa kamu diem aja, Meta? Tujuh tahun kamu bertahan sama laki-laki kayak gitu?" tanya Reyhan lemah dan bergetar.
"Terus aku harus gimana, Rey? Mas Rudy yang nyelametin aku, kalau gak ada dia, mungkin Sonia akan disebut anak haram! Aku juga udah nipu dia," jawab Meta tanpa menoleh, bahkan raut wajahnya sama sekali tidak berubah.
Reyhan meraih lalu menggenggam telapak tangan Meta. "Tapi sekarang, kamu udah mengambil keputusan yang tepat, Met. Bercerai dari suami yang ringan tangan adalah pilihan yang sangat tepat," ucapnya. "Kamu dan Sonia berhak bahagia, kalian berhak untuk--"
"Tapi aku ngelakuin ini bukan karena kamu, Rey. Aku minta cerai sama Mas Rudy bukan karena kamu," jawab Meta, akhirnya menoleh dan menatap wajah Reyhan. "Aku udah gak tahan punya suami kayak dia. Aku pengen hidup bebas tanpa tekanan."
Reyhan sedikit kecewa, tapi ia mencoba untuk tersenyum. "Ya, saya tau. Apapun alasan kamu, saya akan selalu mendukung kamu, Meta. Ingat, ada Sonia diantara kita. Meskipun kamu ngelarang, saya akan tetap menafkahi dia, memberikan apa yang gak bisa saya berikan selama ini karena saya Ayahnya dan itu adalah kewajiban saya sebagai seorang Ayah."
Meta hanya terdiam, ia pun tidak akan melarang Reyhan untuk menemui Sonia. Dirinya merasa senang karena Sonia mendapatkan kasih sayang yang selama tidak didapatkan dari Rudy. Namun, ia tidak akan berharap lebih dari pria itu karena ia tahu, ibu dari Reyhan tidak akan pernah menyetujui hubungan mereka. Meta kembali menatap lurus ke depan, melayangkan tatapan kosong.
"Asal kamu tau aja, Met. Perasaan saya ke kamu gak pernah berubah, cinta saya buat kamu masih tersimpan di hati saya," ucap Reyhan dengan lembut. "Sekali lagi, saya mohon maaf atas semua yang terjadi di masa lalu. Kamu dan Sonia harus menderita karena saya."
"Aku udah maafin kamu, Rey. Apa yang terjadi sama kita adalah takdir yang tak bisa kita hindari," jawab Meta dengan datar. "Aku gak akan pernah ngelarang kamu ketemu sama Sonia. Kalau kamu mau ngelakuin kewajiban kamu sebagai seorang Ayah, aku gak akan pernah menghalangi kalian buat ketemu, tapi aku minta satu hal sama kamu, Rey."
"Kamu mau minta apa, Met? Bilang aja, saya pasti akan ngikutin apapun kemauan kamu."
Meta menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, menoleh dan memandang sayu wajah Reyhan. "Aku mohon jangan kasih tau Sonia siapa kamu sebenarnya. Dia pasti bakalan bingung karena ngerasa punya dua Ayah."
Bersambung ....