"Gak bisa gitu, Met. Sonia harus tau kalau saya Ayah kandungnya," tolak Reyhan. "Justru saya gak sabar pengen kasih tau dia."
"Sonia bakalan bingung kalau dia tau, Rey. Mengapa dia punya dua Ayah, mengapa selama ini kamu nggak tinggal sama kami dan mengapa Rudy, orang yang ia kira Ayahnya ternyata bukan Ayah kandungnya? Aku gak siap dengan pertanyaan-pertanyaan itu," jawab Meta dengan tegas dan penuh penekanan.
"Tapi tetap saja, Meta. Akan lebih baik kalau dia tau siapa saya."
"Kita tunggu waktu yang tepat, Rey. Tunggu sampe dia cukup dewasa."
"Kapan? Kapan Sonia dewasa? 15 tahun, 17 tahun? Kelamaan, Met."
Meta terdiam dengan mata terpejam. Sebenarnya ia tahu lebih dari siapapun bahwa Sonia sangat mendambakan memiliki sosok seorang ayah seperti Reyhan, tapi dirinya belum siap dengan pertanyaan demi pertanyaan yang akan dilayangkan oleh putrinya nanti. Tidak mungkin rasanya jika dirinya menceritakan apa yang terjadi dengannya dan Ryan tujuh tahun silam. Percakapan mereka terhenti saat keduanya mendengar suara rengekan Sonia.
"Ibu." Suara Sonia terdengar nyaring dan ketakutan.
Baik Meta maupun Reyhan sontak berdiri tegak lalu berlari memasuki ruangan dengan panik.
"Sayang," seru Meta, menghampiri lalu berdiri di samping ranjang.
"Ibu habis dari mana sih? Jangan tinggalin aku," rengek Sonia seraya terisak. "Aku takut, Bu. Kenapa aku ada di ruangan ini? Aku gak mau di sini."
"Iya, Sayang. Besok kita pindah ke ruangan kamu, ya. Malam ini kita nginepnya di sini dulu, oke?"
"Gak usah takut, Sonia. Ada Om Dokter juga di sini, Om janji akan menemani kamu, Sayang," lirih Reyhan.
Matanya nampak memerah dan berair, memandang lekat wajah Sonia seraya mengusap punggung tangannya. Pikiran seorang Reyhan kembali membayangkan kehidupan penuh derita yang dijalani oleh Meta dan putrinya membuat air mata itu akhirnya luruh tak mampu ia tahan.
Reyhan tiba-tiba menangis sesenggukan seraya menggenggam telapak tangan Sonia. Ingin rasanya ia memanggil dirinya sendiri dengan sebutan ayah. Rasanya benar-benar sakit saat ia tidak mampu mengatakan bahwa dirinyalah ayah kandung Sonia yang sebenarnya. Ingin rasanya ia memeluk tubuh Sonia untuk mengobati kerinduan seorang ayah kepada putrinya.
Sonia menghentikan suaranya tangisnya, memandang wajah Reyhan dengan kening dikerutkan. "Om Dokter ko nangis? Om Dokter kenapa?" tanyanya.
Reyhan menyeka air matanya, memaksakan diri tersenyum. "Nggak ko, Sayang. Om gak apa-apa," jawabnya menahan isakan.
Meta menoleh dan menatap wajah Reyhan, telapak tangannya perlahan mulai bergerak, mengusap pundak Reyhan lembut. Ia tahu betul bahwa Reyhan menyesali apa yang terjadi dengan mereka di masa lalu dan betapa tulusnya pria itu kepada sang putri.
Sonia tiba-tiba kembali terisak. "Om Dokter 'kan kerja di sini, Om bisa 'kan pindahin aku lagi ke ruanganku lagi? Aku gak mau di sini, aku takut," pinta Sonia menatap ruangan tersebut dengan ketakutan.
Reyhan menganggukkan kepala. "Bisa, Sayang. Kita pindah ke ruangan kamu sekarang juga, oke?"
"Rey, emangnya gak apa-apa Nia dipindahin ke ruangan rawat? Kondisinya harus terus dipantau, 'kan? Kalau Nia tiba-tiba kayak tadi lagi, gimana?" tanya Meta dengan khawatir.
"Gak apa-apa, Meta. Saya akan memantau kondisi Sonia setiap saat," jawab Reyhan meyakinkan.
"Maksudnya, kamu mau nginep di sini, gitu? Emangnya kamu gak cape, Rey? Kamu udah kerja seharian dan sekarang mau jagain Sonia semalaman? Aku gak mau ngerepotin kamu."
"Gak apa-apa, saya udah biasa ko," jawab Reyhan mengusap pundak Meta, lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Sonia. "Kita pindah ke ruangan kamu sekarang, ya."
Sonia menganggukkan kepala dengan wajah datar.
***
30 menit kemudian, Sonia sudah dipindahkan ke ruangan semula seizin Reyhan sebagai Dokter yang merawat anak itu. Ruangan VVIP yang benar-benar nyaman di mana televisi berukuran besar, lengkap dengan satu set sofa juga AC layaknya di kamar hotel, sangat berbeda dengan ruangan ICU yang meskipun hanya dihuni selama beberapa jam saja sudah membuat Sonia kepanasan juga sesak. Anak itu bahkan segera terlelap tidak lama setelah ia dipindahkan ke sana, menyisakan Meta dan Reyhan yang terlihat canggung karena hanya berdua saja di ruangan tersebut.
Reyhan berdiri di tepi ranjang, memeriksa suhu tubuh juga organ vital Sonia dan beruntungnya kondisi anak itu sudah membaik. Sementara Meta tengah berada di kamar mandi untuk membersihkan diri.
Reyhan mengusap kepala putrinya dengan lembut lalu melayangkan kecupan di keningnya. "Selamat tidur, Nak. Maafin Ayah, gara-gara Ayahmu yang gak peka dengan keadaan Ibumu, kamu jadi menderita seperti ini. Ayah janji gak akan ninggalin kalian lagi," bisik Reyhan, rasanya senang sekali bisa memanggil dirinya sendiri dengan sebutan ayah, meskipun putrinya itu tidak mendengar apa yang ia ucapkan.
Pintu kamar mandi pun dibuka, Meta melangkah keluar sudah berganti pakaian. Daster usang nampak membalut tubuhnya, rambutnya pun terlihat basah digerai memenuhi punggung, wajah Meta terlihat lebih segar dari sebelumnya.
Reyhan tertegun, memandang wajah Meta dengan senyum. Wanita itu tetap saja terlihat cantik meskipun tanpa polesan make up. Meta yang ditatap lekat seketika merasa gugup, ia melangkah mendekat dengan perasaan canggung dan salah tingkah memandang jam dinding di mana jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.30.
"Eu ... udah malam, Rey. Kalau keadaan Sonia udah baik-baik aja, lebih baik kamu pulang," ucapnya, mencoba untuk menyembunyikan rasa gugup.
"Kamu mandi malem-malem begini, Met? Emangnya gak dingin?" tanya Reyhan, tanpa membalas ucapan Meta.
Meta tersenyum ringan dengan wajah memerah. "Sebenarnya, dari pagi aku gak sempat mandi, Rey. Perasaan aku gak karuan banget sampe mandi aja aku males."
Reyhan menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, tatapan matanya tidak beranjak sedikitpun dalam memandangi wajah Meta membuat wanita itu semakin merasa gugup.
"Kamu gak usah khawatir, Meta. Saya ngerti gimana perasaan kamu," ucap Reyhan dengan senyum tulus. "Mulai sekarang, kamu gak akan sendiri lagi. Ada saya yang akan selalu menemani kamu."
Hati Meta meleleh. Ia yang tidak pernah mendapatkan perhatian bahkan dari suaminya sendiri, merasa tersentuh dan hanyut dengan perasaan lamanya kepada Reyhan. Rasa itu tiba-tiba muncul, rasa yang sudah tenggelam hingga ke dasar lautan, perlahan mulai naik kepermukaan dan mendambakan kapal untuk berlayar. Wanita itu hendak melangkah menuju sofa, tapi langkahnya seketika terhenti saat mendengar suara Sonia yang ia kira sudah terlelap.
"Ayah," rengek Sonia, kedua matanya kembali terbuka.
Baik Meta maupun Reyhan seketika terkejut, sontak menoleh dan memandang wajah putri mereka.
"Ka-kamu bilang apa tadi?" tanya Reyhan dengan mata berkaca-kaca, mendengar Sonia memanggilnya ayah membuat hatinya bergetar.
Sonia memandang wajah Reyhan dengan tatapan sayu. "Aku denger apa yang Om Dokter katakan tadi. Benarkah Om Dokter Ayah aku?"
Bersambung ....