Bab 9. Kebenaran

1029 Words
Meta benar-benar terkejut mendengar pertanyaan putrinya. "Ka-kamu bilang apa, Nia?" tanyanya dengan mata memerah dan berair. Sonia mengalihkan pandangan matanya kepada sang ibu. "Ibu, tolong jawab pertanyaan aku dengan jujur. Benarkan Om Dokter ini Ayahku?" Meta terdiam, dadanya bergemuruh hebat. Apa ia akan tetap menyembunyikan kenyataan sebenarnya dari sang putri? Sepertinya, semesta menentang keinginannya, di saat ia ingin menyembunyikan fakta tersebut, Sonia tiba-tiba menanyakan hal yang ingin ia sembunyikan. Meta terdiam seraya menggigit bibirnya bawah keras. Berbeda dengan Meta, Reyhan tidak kuasa menahan rasa harunya. Rasa bahagia serasa memenuhi jiwanya. Akhirnya Sonia menanyakan hal tersebut tanpa perlu mengingkari janjinya kepada Meta. Reyhan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Sonia, air matanya luruh, kepalanya mengangguk memberi jawaban pasti. "Benarkah?" tanya Sonia, seraya meletakan telapak tangannya di kedua sisi wajah Reyhan. "Benarkah Om Dokter Ayahku?" Sonia mengulangi pertanyaannya seraya menahan air mata. "I-iya, Sayang. Om Dokter Ayah kamu, Ayah kandung kamu," lemah Reyhan seraya terisak. "Maaf karena Ayah terlambat datang, Sayang. Maaf karena kamu dan Ibumu harus melewati penderitaan yang begitu panjang gara-gara Ayah." Sonia tiba-tiba menangis sesenggukan. "Ayaah! Huaaa ... Om Dokter beneran Ayahku!" rengeknya lalu memeluk tubuh Reyhan tidak peduli meskipun dirinya tengah dalam keadaan berbaring. "Maafin Ayah, Nak. Maafin Ayah, Sonia!" lemah Reyhan, menahan tubuhnya agak tidak terlalu menindih tubuh Sonia. Kedua tangannya melingkar di punggung anak itu. "Ayah janji gak akan ninggalin kamu dan Ibumu lagi. Ayah akan menebus semua kesalahan yang udah Ayah lakuin di masa lalu, sekali lagi maafin Ayah." Reyhan dan Sonia menangis sesenggukan seraya saling berpelukkan. Meta yang menyaksikan moment haru itu tidak kuasa menahan air matanya. Rasa lega, sedih dan haru seakan melebur menjadi satu serasa menyesakan d**a. Wanita itu menyeka air matanya, memandang mereka berdua dengan perasaan bahagia. "Ternyata Tuhan berkehendak lain, di saat aku ini menyembunyikan kebenaran dari Sonia, Tuhan sendiri yang membuka semua ini. Aku akan terima takdir apapun yang Kau berikan kepadaku, Tuhan," batin Meta. Meta melangkah mendekati ranjang, mengusap punggung Reyhan lembut membuat pria itu seketika mengurai pelukannya lalu menyeka kedua matanya yang membanjir. Reyhan menoleh dan memandang wajah Meta, sementara Sonia tiba-tiba menggenggam telapak tangannya erat seolah tidak ingin ditinggalkan. "Jangan pergi, Ayah. Aku mohon jangan tinggalin aku," lemah Sonia menahan isakan. Reyhan kembali memandang wajah Sonia. "Iya, Sayang. Ayah janji gak akan ninggalin kamu lagi, malam ini Ayah akan nemenin kamu di sini, oke?" jawabnya balas menggenggam telapak tangan sang putri. "Cuma malam ini doang? Besok, besok dan besoknya lagi, Ayah gak akan ninggalin aku, 'kan?" tanya Sonia merasa takut. Reyhan tersenyum ringan lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Meta dan kembali memandang wajah Sonia. "Iya, Sayang. Ayah gak akan ninggalin kamu, tapi Ayah 'kan harus kerja, Sayang. Ayah kerjanya juga masih di Rumah Sakit ini ko. Jadi, kamu tenang aja, kita pasti akan ketemu setiap hari." Sonia semakin erat dalam menggenggam telapak tangan Reyhan. "Malam ini aku mau tidur sama Ayah," rengeknya dengan manja. "Gimana caranya kamu mau tidur sama Ayahmu, Nia? Ranjangnya cuma ada satu lho," tanya Meta dengan bingung. "Ya Ibu tidur di sofa dulu malam ini," rengek Sonia. "Hah? Ibu tidur di sofa?" tanya Meta, menoleh sofa berwarna hitam yang bertengger tepat di tengah-tengah ruangan. "Biar Ayah yang tidur di sofa, Sayang. Kasihan Ibumu dong kalau harus tidur di sofa," ucap Reyhan. "Ya udah, Ibu tidur sama kami kalau gitu. Ranjang ini cukup gede ko buat kita bertiga, kuat lagi." Meta terkejut, Ryan merasa canggung. Bagaimana mungkin mereka bertiga tidur di ranjang yang sama? Ranjangnya memang kuat dan cukup untuk mereka bertiga, tapi imannya tidak cukup kuat untuk menghempaskan godaan-godaan setan yang mungkin saja menggelitik hatinya nanti. Reyhan memandang wajah Meta dengan gugup, sementara Meta mengusap tengkuknya yang tiba-tiba saja merinding. Hawa dingin yang berasal dari AC tiba-tiba terasa membasuh permukaan kulitnya. "Eu ... Ibu gak apa-apa ko tidur di sofa. Lagian, sofa juga empuk. Pasti nyaman dipake tidur," ucap Meta melangkah menuju sofa dengan perasaan sangat gugup. "Nggak, Met. Biar saya aja yang tidur di sofa," pinta Reyhan, mengikuti Meta dari belakang. "Eu ... nanti kamu bisa sakit pinggang kalau tidur di sofa." Meta perlahan mulai meringkuk di sofa. "Nggak apa-apa, Rey. Aku gak akan sakit pinggang aja ko, beneran deh!" jawabnya dengan senyum dan wajah memerah. Reyhan menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan seraya memandang lekat wajah Meta, pria itu berjongkok tepat di depannya membuat Meta semakin merasa gugup. "Beneran kamu mau tidur di sini?" tanyanya dengan senyum kecil. "Kalau besok pagi kamu sakit pinggang, saya gak bakalan tanggung jawab lho." Meta tersenyum sinis. "Dih, udah dibilangin aku nggak bakalan sakit pinggang, Rey. Sofanya empuk dan nyaman. Kayaknya, aku juga bakalan tidur nyenyak ko," jawab Meta dengan wajah memerah tersipu malu, jantungnya pun berdetak kencang dengan hati berbunga-bunga. Reyhan tiba-tiba mengusap kepala Meta dengan lembut seraya berdiri tegak. "Baiklah, selamat tidur dan semoga mimpi indah." Meta menganggukkan kepala, hatinya seperti dipenuhi kelopak bunga mawar yang beterbangan benar-benar terasa bahagia. Ia seolah merasakan kebahagiaan yang pernah ia rasakan dahulu ketika mereka masih menjalin hubungan spesial. "Ayah, aku ngantuk," rengek Sonia seraya membuka mulutnya lebar-lebar menahan rasa kantuk. Reyhan melangkah mendekati ranjang dengan senyuman lebar. "Oke, kita tidur, Sayang. Waah ... udah jam 12 malem ternyata." Reyhan perlahan mulai naik ke atas ranjang lalu meringkuk tepat disamping Sonia. Perasaanya campur aduk sulit diungkapkan dengan kata-kata, rasa bahagia, haru dan tidak percaya seakan melebur menjadi satu. Rasanya masih seperti mimpi, memiliki seorang putri tidak pernah terbayangkan sebelumnya. "Ayah," rengek Sonia dengan bibir dikerucutkan sedemikan rupa. "Iya, Sayang," jawab Reyhan, menopang kepala menggunakan kepalan tangannya. "Aku nggak bisa tidur kalau gak mainin telinga Ibu." Reyhan menghela napas panjang. "Bener juga," decaknya seraya menoleh dan memandang wajah Meta yang meringkuk di atas sofa. "Eu ... ya udah, biar Ayah yang tidur di sofa, ya. Ibumu tidur di sini." Sonia menggelengkan kepala seraya mengerucutkan bibirnya. "Terus, gimana dong?" tanya Reyhan dengan bingung. "Eu ... Ibu sama Ayah tidur di sini aja gak apa-apa, aku pengen tidur bertiga, Ayah. Boleh, ya?" Reyhan terdiam, jantungnya berdetak kencang. "Ko Ayah diem aja sih? Aku gak bakalan bisa tidur sampe pagi kalau gak mainin telinga Ibu." "Gini aja deh, kamu mainin telinga Ayah aja, gimana?" Sonia berteriak kencang, "Gak mau, aku maunya mainin telinga Ibu. Ibu ...." Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD