Episode 8

494 Words
Catherin baru saja masuk ke dalam ruangan miliknya di ikuti sekretaris pribadinya. “Ada berita terbaru?” tanya Catherin menyimpan tas brandednya di sisi meja kerjanya kemudian ia duduk di atas kursi kebesarannya. Sekretaris wanita yang tengah memeluk berkas di dadanya itu berjalan lebih dekat ke meja kerja Catherin. “Siang nanti pengacara perusahaan pengganti Mr. Branden akan datang,” seru sekretaris bernama Hellen itu. “Baiklah Helen, tolong bawakan berkas berkas yang perlu saya tanda tangani,” seru Catherin. “Baik, Bu.” Wanita bernama Hellen itu berlalu meninggalkan Catherin seorang diri. Terlihat di papan meja itu tertulis jelas nama Catherin. Catherina William Director Catherin mulai menandatangani beberapa berkas yang di serahkan oleh Hellen barusan. Seraya menatap ke laptopnya  mengerjakan sesuatu. Ꙭ                 “Permisi Mrs. Catherin. Pengacara yang di utus Mr. Branden sudah datang,” seru Hellen di ambang pintu.                 “Baiklah, minta dia masuk,” jawab Catherin tanpa menoleh dan tetap fokus pada laptopnya.                 Setelah cukup lama, ia mendengar suara langkah pelan nan teratur.                 “Silakan Mr.” Terdengar suara Hellen dan tak lama suara pintu di tutup.                 “Good Afternoon, Mrs. Catherin,” seruan itu membuat Catherin menoleh ke sumber suara dan seketika pupil matanya melebar.                 “Aiden?”                 Pria itu adalah Aiden yang kini terlihat tersenyum ke arah Catherin dan berjalan mendekati Catherin yang sudah beranjak dari duduknya.                 “Bukankah ini sebuah takdir? Saat kamu ingin memutuskan hubungan dan tidak ingin bertemu kembali denganku. Takdir malah berkhianat dan membuat kita semakin dekat dengan status rekan kerja,” seru Aiden dengan santai.                 Catherin memalingkan wajahnya seraya menghirup udara untuk menenangkan dirinya.                 “Silakan duduk, Mr. Aiden,” seru Catherin seraya kembali duduk di kursi kebesarannya.                 Aiden mengambil duduk di atas kursi yang berhadapan dengan Catherin.                 “Jadi sekarang tuan putri sudah turun tangan ke dunia bisnis,” seru Aiden.                 “Aku tidak menyangka Mr. Branden memilihmu untuk menjadi penggantinya,” seru Catherin. “Tetapi kehebatanmu memang tidak dapat di ragukan lagi.”                 “Apa kamu tidak percaya dengan takdir?” tanya Aiden.                 “Sama sekali tidak. Dan aku tidak tertarik membahasnya,” jawab Catherin dengan nada dingin membuat Aiden tersenyum kecil.                 “Kamu tidak bisa terus menyembunyikan diri dariku. Ternyata kamu belum berubah, tetap tuan putri yang galak,” seruan Aiden membuat Catherin menatapnya hingga tatapan mereka berdua terpaut satu sama lainnya.                 “Baiklah kita mulai bahas pekerjaan dan beberapa aturan di perusahaan ini,” seru Catherin memalingkan tatapannya.                 Dan merekapun mulai membahas tentang pekerjaan. Ꙭ                 Catherin baru saja keluar dari kantornya dan sebuah mobil berhenti di depannya saat ia keluar dari lobby kantor. Tak lama seorang pria tampan menuruni mobil dan berjalan mendekati Catherin yang berdiri di dekat mobilnya.                 “Hai Cath,” seru pria itu.                 “Robert? Kenapa kamu di sini?” tanya Catherin.                 “Apa lagi kalau bukan menjemputmu. Ayo pulang,” seru pria bernama Robert itu.                 “Tidak, aku bawa mobil sendiri,” jawab Catherin dengan nada dingin.                 “Tinggalkan saja mobilmu di sini, dan kamu ikut denganku,” seru pria itu.                 “Tapi kan-“                 “Ayolah Cath.” Robert menarik pergelangan tangan Catherin dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.                 Tak jauh dari mereka, Aiden terlihat hendak keluar dari kantor juga dengan dua orang pria paruh baya. Tatapan Aiden tertuju pada Catherin yang dibawa oleh seorang pria dengan mobil miliknya. Ꙭ                  ]]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD