Canggung, terlalu di paksakan. Dan Egar baru tahu kalau masalah sebenarnya barulah datang sekarang.
Keluarganya bersiap-siap datang ke tempat Fianer untuk lamaran secara resmi. Kata-kata sudah disiapkan, semuanya sudah rapi. Intinya mereka datang dengan persiapan lengkap. Rudolf terlihat lega, Mariana terlihat bahagia, Fourline terlihat antusias. Performa mereka sempurna.
Mereka datang dengan percaya diri.
Namun setelah mereka sampai dan masuk ke rumah Fianer, terlebih saat duduk berhadap-hadapan ... semua persiapan tak berguna sama sekali!
Erfan duduk berhadap-hadapan dengan Rudolf. Mereka saling tatap dengan pandangan yang berbeda. Rudolf berusaha untuk tersenyum walau susah, sedangkan wajah Erfan sudah kaku sedari tadi.
Tak ada yang tahu kemarahan seperti apa yang Erfan punya melihat Rudolf masih bisa tersenyum padanya. Seolah kejadian dulu dia anggap sambil lalu.
Erfan tak akan mempermasalahkan kalau laki-laki ini pergi saja dari hidupnya, atau bertemu lagi sebagai saingan bisnis. Tapi tidak bisa, saat putri kesayangannya dipertaruhkan sekarang.
Monster itu boleh meminta apa saja. Tapi tidak, putrinya.
“Kau yang membakar pabrikku dulu?” tanya Erfan dingin.
Jantung Fianer langsung mencelos sempurna. Saat masa lalu diungkit kembali, tak akan bisa berakhir baik di sini.
Rudolf tersenyum meminta maaf, namun karena Rudolf tak pernah terbiasa, senyuman itu terlihat seperti seringai. “Iya. Benar sekali.”
Egar langsung menunduk sempurna.
“Kau yang menyuruh orang untuk membunuh putriku?” tanya Erfan makin berbahaya.
Tubuh Egar dan Fianer langsung tegang.
“Benar,” Rasanya Egar ingin bunuh diri mendengar Ayahnya menjawab dengan setenang itu.
Amarah Erfan menggelegak. Tapi bahkan secuil amarah itu tak terlihat sama sekali di matanya. Hanya senyum miring.
“Bagus. Kamu mempermudah segalanya. Jadi aku tidak perlu sungkan-sungkan lagi untuk menolak lamaran ini.” katanya tenang.
Fianer dan Egar, keduanya sama-sama menunduk sambil mengusap wajah, lelah.
Rudolf melihat kebencian Erfan dan dia sungguh merasa bersalah. Dia tak akan pulang dengan tangan kosong. Putranya sangat menginginkan Fianer, dan dia tak ingin membuat kerja keras anaknya sia-sia hanya karena kesalahan dirinya.
“Demi anak-anak kita, lebih bagus kalau kita melupakan masa lalu dan berdamai.” kata Rudolf tenang.
“Anda pikir mudah melupakan kelakuan Anda?” tanya Rafan ikut memperkisruh suasana. Rudolf menoleh dan tertegun menatap Rafan. Sekelebat bayangan menari-nari di kepalanya dan wajahnya mengeras seketika.
Bayangan saat dia dikejar-kejar mobil hingga serasa dekat dengan maut. Membuat emosinya naik. Tatapan membunuh itu keluar tajam. Mata monster yang selama ini tertidur terbangun lagi. Mata yang sanggup membuat korban bertekuk lutut karena takut akhirnya terlihat. Tapi Rafan tak pernah takut.
“Aku pun belum melupakan kelakuanmu.” kata Rudolf dingin.
Dan sekarang, Egar tertegun, total. Nada itu membuatnya merinding. Dan apa yang terjadi lebih parah dari apa yang dia khawatirkan. Rudolf menatap Erfan dengan dingin.
“Kau benar. Lebih baik kita lupakan saja.” katanya.
Egar terhenyak dan Fianer ternganga. Sama sekali tak menyangka situasi bisa menjadi begini kacau. Dalam beberapa detik, Egar memberikan isyarat pada Fianer dengan menggerakkan dagu ke Erfan. Fianer langsung mengerti dan langsung mengangguk.
Mereka harus menyelesaikan ini sendiri-sendiri.
Egar mengejar Rudolf yang sudah keluar dari rumah dengan emosi. Sedangkan Mariana, dan Fourline mengikuti Egar keluar bahkan tanpa pamit sama sekali.
Ini adalah lamaran terburuk sepanjang sejarah keluarga mereka!
---
“Ayah, berhenti,” kata Egar dingin saat Rudolf hampir masuk rumah. Rudolf menoleh dan menatap Egar tajam. Seolah berteriak bahwa harga dirinya sudah di lecehkan di sana.
Egar tahu ada banyak sakit hati. Dan tak akan mudah hilang. Terlebih Rudolf sudah membuat Fianer hampir kehilangan nyawa. Dan itu tak akan mudah dimaafkan. Egar tahu dosa Ayahnya. Dan dia tak akan membelanya.
Rudolf memang salah dan Egar sendiri juga mengutuk perbuatannya saat itu. Perbuatan yang menjadi awal pangkal Egar mengambil keputusan meninggalkan wanita itu. Awal Egar membuat masalah. Dan ternyata kini masih menjadi masalah.
Egar juga tak mudah memaafkan. Tapi mereka harus melupakannya. Egar mengusap wajah.
“Masa lalu kita memang mengerikan! Dulu Ayah membuatku kehilangan dia. Tidak bisakah kali ini Ayah membantuku mendapatkan dia kembali?” tanya Egar lelah.
“Apa kamu tidak tahu apa yang anak itu lakukan pada Ayah dulu?!” geram Rudolf.
“Yah, akui saja kalau Ayah salah dan apa yang mereka lakukan untuk balas dendam tak setimpal dengan sakit yang Ann tanggung selama 6 bulan!” Ayahnya akan protes lagi, “Kalau tak ada Om Erfan, aku tidak akan jadi Egar yang sekarang! Ayah tak akan pernah punya penerus untuk perusahaan Ayah itu!”
Seketika, bibir Rudolf mengatup. Egar tahu, dia sudah berhasil membungkam Ayahnya.
“Kita bisa kembali ke sana?” tanya Egar dengan nada memohon.
Rudolf masih diam dan ragu. Mariana, mengusap lengannya dan mengangguk meminta Rudolf untuk menuruti kata-kata Egar.
Tapi Rudolf menatap Egar dengan kaku. “Kamu hanya akan direndahkan mereka.” katanya.
Egar menghela nafas. “Ayah ... “
Rudolf berdecak lalu masuk ke rumah dengan amarah yang masih meluap.
---
Malam itu, Fianer menginap.
Sejak keluarga Egar pulang, dia belum bicara dengan Ayahnya. Sulit sekali karena Erfan tak pernah sendiri hingga dia tak punya kesempatan untuk bicara berdua.
Malam-malam dia turun dari tangga untuk mengambil minum. Perjalanan dari tangga ke dapur serasa lama. Padahal jaraknya tak seberapa jauhnya. Dia menghela nafas. Sampai di dapur, Fianer langsung mengambil gelas dan menuangkan air dingin dari lemari es.
Tegukan pertamanya membuat matanya seketika kosong. Dari sekian banyak hal yang dia inginkan, tak ada yang lebih berarti dari melihat Ayahnya menyukai Egar. Bukan karena paksaan karena itu yang Fianer inginkan. Tapi murni karena Ayahnya benar-benar memberikan restu itu dari hati.
Mereka berdua sedang mengusahakannya. Entah bagaimana caranya, mereka harus bisa. Karena ijin saja tidak cukup. Mereka membutuhkan restu.
Baru saja berpikir begitu, dia mendengar suara seseorang menuruni tangga. Fianer terkesiap. Dia menoleh dan tersenyum saat orang yang sedang dipikirkannyalah yang turun dari sana.
Seakan Tuhan memihak padanya.
“Ayah ... “
Erfan tersenyum tipis. Laki-laki itu juga mengambil gelas dan menuang air dingin yang Fianer ambil tadi. Mereka berdua minum perlahan sambil bersandar di meja bar.
Fianer sudah tidak ingat lagi kapan terakhir dia bergelayut manja di lengan Ayahnya dan bermanja-manja di sana. Sejak hubungan Fianer dan Egar selesai enam tahun lalu, baru disadarinya dia memang berubah cukup banyak. Dirinya menjauh ... bukan hanya fisik, tapi juga hati.
Entah kenapa, dia tak pernah memikirkannya dulu. Dia tak pernah memikirkan detailnya. Dia hanya tahu, dia harus terlihat baik-baik saja.
Tapi rasa tak akan pernah sama kan?
Orang terdekat akan langsung tahu bahwa putri mereka, adiknya, kakaknya ... sudah bukan orang yang sama lagi.
Fianer tersenyum lemah pada lantai di bawahnya. Perlahan, dia menyandarkan kepala ke bahu Erfan. Dia memejamkan mata merasakan betapa nyamannya. Tanpa dia ketahui bahwa Erfan menoleh ke puncak kepala dan tertegun. Hatinya menghangat menyadari putrinya sudah kembali dekat. Dia menyandarkan pipinya ke puncak kepala Fianer. Merasakan kehilangan yang dulu selalu dirasakannya. Dan sedikit demi sedikit menyembuhkannya.
Karena bagaimanapun juga, walaupun laki-laki ini diam, tapi dia yang paling terpukul atas kehilangan ini.
“Maaf ... “ bisik Fianer.
Rasa bersalah tetap muncul seiring kesadarannya kembali. Setiap waktu itu ... setiap waktu yang habis selama enam tahun, Fianer selalu menghabiskan untuk dirinya sendiri. Mengasingkan diri. Dia bahkan tak ingat perasaan keluarganya.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan.” balas Erfan. Dia menghela nafas. Mereka harus melupakan yang telah lalu. Tidak ada gunanya juga diingat lagi.
Fianer meletakkan gelasnya dan memeluk lengan Ayahnya, bergelayut di sana. “Kangen ... “ bisik Fianer lagi. Dia tak berani keras-keras karena hidungnya sudah menusuk-nusuk panas.
“Ayah tidak pernah ke mana-mana.”
Dan kalimat itu sukses membuat air mata Fianer meluncur turun. Dia mengingat percakapannya dulu saat dia dan Egar berbaikan lagi.
Dirinya mengatakan kerinduannya dan Egar menjawab hal yang sama seperti Ayahnya tadi.
Bagaimana mereka mempunyai jawaban yang sama?
Fianer tersenyum tipis. Kepalanya dia angkat lalu dia menatap Ayahnya dengan senyum lebar. “Yah ... Ayah percaya tidak? Kalau Ayah mirip sekali dengan Egar?”
Erfan meminum minumannya lagi untuk menghindari pertanyaan itu. Fianer tahu, tapi dia tetap melanjutkan kata-katanya.
“Egar seperti Ayah. Dia selalu memandang dunia dengan dingin. Melihat apapun dengan dingin, melihat orang lain dengan dingin. Tapi dia selalu mencair kalau di depan Ann. Walaupun kadang dia galak, tapi hanya di depan Ann dia bisa bersikap hangat. Sama seperti Ayah yang hangat saat bersama Bunda.” Mata Fianer berkaca. Tapi dia tersenyum menatap Ayahnya. “Bersama Egar, Ann selalu jadi satu-satunya. Egar itu bukan orang yang mudah didekati. Dia jarang sekali bersikap lembut, manis, apalagi romantis. Hingga setiap momen, itu berharga sekali untuk kami. Tapi Ann tidak peduli. Dia tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya melihat dia aja Yah, rasanya sudah tenang.
Sama seperti Ayah dan Bunda. Hanya bedanya ... jalan Ayah dan Bunda mudah.
Sedangkan kami ... dia pernah jatuh. Kami pernah jatuh.” Fianer menghapus air matanya. “Rasanya ... jalannya panjaaaang sekali.” Senyum Fianer melebar. “Selama ini Ann iri sama Bunda. Bisa hidup tenang di sisi orang yang Bunda cintai. Ann juga ingin seperti itu.”
Erfan menatap putrinya dalam keterdiaman. Menatap putrinya yang selalu tersenyum saat air mata sudah berderai kemana-mana. Rasanya campur aduk ... dia tak bisa berkata apa-apa saat perbandingannya adalah dirinya sendiri.
“Katakan pada Ayah ... bagaimana bisa kamu masih menyukainya sedangkan Rudolf hampir membunuhmu?”
Mata Fianer melebar. Fianer menatap Ayahnya dengan senyum. “Ayah tahu sendiri siapa Ayahnya ... dia di besarkan oleh laki-laki seperti apa.” mata Fianer menyorot lembut. “Dia dibesarkan oleh seorang monster Yah ... “ kata Fianer lirih.
“Dia tidak dibesarkan di sini. Dijaga seperti ini. Disayang seperti ini.” Fianer menghapus air matanya. “Hanya ada k*******n, hanya ada tekanan, hanya kekangan, hanya aturan. Dia bisa saja tumbuh sangat buruk Yah. Tapi Egar tidak. Dia kuat sekali bukan, bisa bertahan di sana selama tujuh belas tahun?
Ann tidak bisa bayangkan mempunyai Ayah seperti Om Rudolf yang dulu. Kakak Egar saja sampai depresi karena sudah tak kuat lagi. Tapi Egar kuat. Dia tidak akan mati semudah itu.” Senyum Fianer mengembang sempurna. “Justru karena Ann tahu siapa Ayahnya, Ann jadi semakin kagum. Di mata Ann, Egar adalah laki-laki hebat.”
Kebanggan itu tercetak jelas di senyumnya. Hingga Erfan tertegun melihatnya.
---
Sarapan pagi keluarga Rofler berlangsung sangat hening. Ada ketegangan di dalamnya. Dua kubu terpecah kembali.
Erfan, Rafan vs Fiandra, Fianer, Fier.
Bi Ijah yang tak begitu tahu situasi tetap ceria melayani majikannya untuk menyiapkan sarapan. Fianer menerima susunya.
“Non, yang kemarin dateng itu Ayahnya den Egar ya?” tanyanya. Seketika, satu ruang makan menegang. Fianer menoleh dan tersenyum.
“Iya.” jawabnya.
“Ooh,” Bi Ijah manggut-manggut. “Mang Karyo semalem cerita tentang aksinya Non dulu. Keren banget Non.” kata Bi Ijah heboh.
Fianer meringis. Dia melirik keluarganya khawatir lalu berdehem.
Beruntung setelah itu pintu depan diketuk pelan. Saat Fianer menengok, dia bisa melihat Egar di ambang pintu.
“Egar udah dateng.” kata Fianer dengan nada lega. “Yah, Bun. Ann berangkat dulu.” katanya. Erfan dan Fiandra mengangguk. Sedangkan Fianer membereskan tasnya lalu berlalu begitu saja.
“Ayo,” ajak Fianer.
“Aku belum pamit.” elak Egar. Tapi Fianer segera menarik Egar untuk keluar. Tanpa bisa membantah, Egar akhirnya menurut juga.
---
Sepeninggal Fianer, Erfan menoleh pada Bi Ijah.
“Apa maksud Bibi tadi tentang aksi Ann yang keren?” tanyanya datar. Bi Ijah yang ditanya majikannya langsung semangat untuk bercerita.
“Mang Karyo yang cerita Tuan. Saya cuma dengerin aja.” kata Bi Ijah jujur.
“Panggil Karyo kesini.” suruh Erfan tegas.
“Baik Tuan.” Bi Ijah langsung pergi memanggil Mang Karyo yang sedang ada di pos depan.
Fiandra menoleh pada suaminya. “Sejak kapan kamu suka ingin tahu urusan orang lain?” tanya Fiandra sinis. Erfan tak mempedulikan pertanyaan istrinya karena Mang Karyo dan Bi Ijah sudah datang.
“Tuan memanggil saya?” tanya Mang Karyo. Erfan mengangguk.
“Aku dengar semalam kamu bercerita pada Bi Ijah tentang aksi Ann dulu.”
Mang Karyo mengernyit. Menatap Bi Ijah. “Yang mana?” bisiknya.
Bi Ijah memukul lengan Mang Karyo gemas. Baru semalam cerita, pagi sudah lupa. “Itu lho, yang soal Ayahnya Den Egar.” Bi Ijah mengingatkan.
Baru setelah itu Mang karyo ingat. “Ooooh, yang ituuu.”
“Iya yang itu.” desak Rafan. Entah kenapa, dia jadi ikut penasaran.
“Wah, kalau cerita yang itu, ceritanya panjang banget den. Nggak bisa ekspres.” kata Mang Karyo.
Fier menghela nafas. Dia menepuk kursi di bekas kursi Fianer. “Duduk dulu, cerita yang lengkap kalau begitu.” kata Fier ikut penasaran.
Suatu kehormatan bagi Mang Karyo untuk dipersilakan duduk di kursi meja makan. Maka dari itu dia langsung duduk tanpa disuruh dua kali.
“Oke, cerita.” desak Rafan.
Mang Karyo akhirnya bicara. “Ceritanya udah lama banget sih, udah beberapa tahun gitu. Waktu Non masih SMA. Nah, waktu itu Non baru pulang dari pabrik yang kebakaran.” kata Mang Karyo. Erfan menoleh pada Rafan dan Rafan menoleh pada Fier. “Belum ada lima menit mobil Tuan masuk, Non Ann udah ngampirin saya. Mukanya waktu itu galllaak pisan! Saya sampe takut. Apalagi Non Ann langsung nyuruh saya ngambil gergaji mesin di gudang.” cerita Mang Karyo. “Saya tanya buat apa. Eh Non nggak mau jawab. Akhirnya saya ambillah gergaji mesin itu, saya kasih ke Non.”
Semua yang mendengar mengerutkan dahi. “Gergaji mesin buat apa Mang?” tanya Fier yang tak tahan bertanya.
“Naaah, dengerin dulu atuh, Mamang belum selesai cerita.” Mang Karyo menegur Fier yang tak sabaran. Fiandra sampai mendengus geli. Sedangkan Fier hanya bisa bungkam.
“Waktu itu saya juga nggak tahu gergaji itu buat apa. Tapi Non nyuruh saya nganterin ke suatu tempat. Saya mah nurut aja.” kata Mang Karyo.
“Nyampe kami sampe di rumah yang gerbangnya tinggi pisan. Penjaganya banyak. Pokoknya nakutin. Kaya rumah mafia-mafia di tivi-tivi.”
Sampai sini, mereka langsung dapat menyimpulkan rumah siapa yang Fianer dan Mang Karyo tuju. Rumah Rudolf, siapa lagi.
“Mamang yang minta ijin buat masuk, untungnya diijinkan. Akhirnya mobil bisa masuk. Nyampe di depan teras, Non nyuruh Mamang tetap di mobil. Mamang sebenernya mau nurut. Tapi ngeliat muka Non yang serem, Mamang jadi khawatir.
Dan BENER!” mang Karyo melejit sambil bertepuk tangan sekali. Hingga semua yang mendengar ikut kaget. Dengan dramatis Mang Karyo bercerita sambil pakai gaya.
“NGUUNG, NGUUNG,” Mang Karyo berdiri dan bergaya seolah sedang memegang gergaji mesin. “Non nyalain gergaji mesinnya. Terus HYYYYYAAAAA!!!” Mang Karyo menggerakkan tangannya seolah sedang menggergaji sesuatu. “Non Fianer menggergaji pintu depan rumah gedong itu sampe pegangannya bolong!!!” seru Mang Karyo. Tak ada yang tak terkejut mendengar fakta itu. “Terus dengan sekuat tenaga, Non Ann tendang pintunya sampe menjeblak dua-duanya.” Mang Karyo mundur terus ikut-ikutan menendang udara kosong. Dia makin dramatis saat melihat mulut majikannya terbuka semua. “Terus Non Ann teriak-teriak, ‘RUDOOOOLLLFFFF KELUAR KAMU!!!!’” Mang Karyo benar-benar berteriak sekeras volume Fianer saat itu. Hingga semua yang ada di sana terkejut. “Terus pengawal-pengawal yang ada di depan mendekat semua. Tahu begitu, Non ngacung-ngacungin gergaji mesinnya sama mereka. Mereka langsung pada takut semua.” Cerita Mang Karyo sombong. “Terus Non masuk lagi ke dalem sambil teriak lagi, ‘RUDOOOOLLLLFFFF!!!’” Mang Karyo berteriak gila-gilaan. Dan kembali semua yang mendengar terkejut.
“Baru setelah itu Den Egar keluar. Dia kaget ngeliat Non udah kaya kesurupan. Langsung turun terus tanya, ‘Lo Gila ya?’” Mang Karyo mengikuti gaya Egar yang bertolak pinggang. Lalu dia kembali memegang gergaji mesin. “Terus Non Ann ngeliatin Den Egar sangar. ‘Minggir!’” Mang Karyo kembali menggerakkan gergaji mesin itu. “Terus Non Ann nemu pintu yang bagus pisan. Dia mau gergaji lagi. Pengawal-pengawalnya udah mau maju. Untung ada Den Egar yang ngelarang pengawal-pengawal buat macem-macem sama Non. Terus Non gergaji lagi dah tuh pintu dua.”
Mang Karyo geleng-geleng kepala sendiri. “Bolong lagi dah tuh pintu. Terus Non Ann tendang lagi tu pintu sampe kebuka. Naaaahhh,“ Mang Karyo menghela nafas lalu menatap kesemua majikannya yang masih speachless. “Di ruangan itu, Pak Rudolf akhirnya ketemu. Wuah, Tuan harus lihat Non Ann ngamuk! Seremm! Gila! s***s! Dahsyat!” kata Mang Karyo sampai kebingungan mencari kata yang tepat. “Habis ketemu Pak Rudolf, Non Ann langsung ngedatengin terus meja kerjanya Pak Rudolf digergaji nyampe kebelah dua!!!” Mang Karyo berseru dramatis. “Terus Non Ann bilang gini, ‘Sekali lagi anda mengganggu keluarga saya, bukan hanya meja. Tapi kepala anda yang akan saya belah!’” Mang Karyo benar-benar menirukan gaya Ann saat mengamuk dulu. Setelah selesai, dia kembali menjadi Mang Karyo yang biasa lagi. “Udah Tuan. Setelah itu Non Ann banting gergajinya ke lantai terus pulang sama saya.”
Erfan masih shock dengan semua cerita itu hingga tak sanggup mengatakan apa-apa. Begitupula dengan Fiandra yang tak pernah bisa membayangkan gadis manisnya bisa semenakutkan itu. Bahkan Rafan dan Fier yangs tahu kelakuan Fianer di luar sanapun masih sulit membayangkan cerita itu menjadi realita.
Keempat orang itu benar-benar terdiam. Tanpa kata. Fiandra yang pertama kali sadar dari ketertegunan. Senyumnya mengembang tipis.
“Hm ternyata Ann membela keluarga kita mati-matian.” katanya tenang. Erfan menoleh dengan pandangan dingin. Tapi Fiandra tak peduli. Dia terus tersenyum mengejek.
“Apa kemarin kamu bilang? Apa Ann memikirkan perusahaan keluarga?” Fiandra menatap suaminya dingin. “Ya, dia memikirkan keluarga kita.
Sekarang, apa kamu punya alasan yang lebih bagus lagi untuk membenci Egar?”
Erfan menatap istrinya dingin. Tapi tetap tak bisa mengatakan apa-apa. Bahkan saat istrinya tersenyum puas.
---