Part 16 - Sedih

2861 Words
Setibanya di apartemen, Egar langsung menghampiri security yang sudah menjadi anak buahnya. “Kalau Rafan tanya, bilang aku langsung pulang.” perintahnya. Security itu mengangguk cepat. Bayangan penyekapan sudah membuatnya paranoid dan tak berani melawan. Egar mengambil dompet di saku belakang celananya dan mengambil beberapa lembar uang untuk diberikan pada security itu. Dengan patuh, security itu mengambilnya. Setelah itu Egar mengangguk sekali untuk berterima kasih dan kembali ke sisi Fianer kembali. “Ada apa?” tanya wanita itu. Egar tersenyum. “Nanti aku ceritakan.” katanya. Dia mengambil tangan Fianer dan tetap menggenggam tangan wanita itu hingga mereka sampai di depan pintu apartemen. “Tidak langsung pulang kan?” tanya Fianer. “Terserah maumu.” kata Egar tenang. Fianer yang sedang menekan angka password tersenyum tipis. Dibukanya pintu lebar-lebar. Dia menoleh ke Egar dan mengedikkan dagunya, menyuruh masuk. “Mau minum apa?” tanya Fianer. “Terserah.” Fianer menghentikan langkahnya dan berbalik. Keduanya bertatapan. “Aku kasih air keran mau?” tanya Fianer. Egar mengangguk. “Mau. Kalau kamu ikhlasnya kasih itu.” jawab Egar. Jawaban itu membuat Fianer mengatupkan rahang, bungkam. Entah kenapa dia menyadari bahwa Egar yang kini berdiri dihadapannya sungguh berbeda dengan Egar yang dikenalnya dulu. Sejak awal dia tahu Egar memang berbeda. Namun dia belum sedalam ini mengetahui. Laki-laki ini begitu dewasa. Tidak pernah sekalipun laki-laki ini memarahinya, membentaknya, menyakiti hatinya baik dengan kata-kata maupun perbuatannya. Egar terlalu hati-hati menjaga perasaannya. Seketika, Fianer merasa janggal. Dia menunduk lalu terdiam. Lalu berlalu ke pantri membuat kopi untuk mereka berdua sedangkan Egar duduk menunggunya di sofa merah depan jendela. Laki-laki itu masih tak banyak bicara. Dia terdiam menatap lampu kota di hadapannya dengan diam. Hingga tak lama Fianer datang dengan dua cangkir mengepul lalu duduk di samping Egar. Egar menoleh. Dia mengambil satu cangkir yang ditawarkan Fianer lalu bilang, “Terima kasih,” pelan. Cangkir itu dia letakkan di nakas di samping sofanya. Lalu dia menoleh pada Fianer lagi. Matanya sibuk menatap Fianer. Dan tangannya sibuk mengusap pipi gadis itu. Dia tak mengatakan apapun. Hanya menatap, hanya menyentuh, tak lebih. Fianer tertegun menatap Egar. Tatapan mata Egar tak terbaca. Dan sentuhan Egar begitu lembut nyaris tak menyentuh kulitnya. Membuat Fianer bertanya-tanya apa yang sebenarnya laki-laki ini pikirkan. “Gar ...” lirih Fianer bingung. Namun Egar tetap diam tak mengatakan apapun. Kebingungan itu lama kelamaan meluruh diganti ketakutan. Karena dia merasakan dejavu. Dia pernah merasakan ini sebelumnya. Pernah mengalami ini sebelumnya. Saat Egar menatapnya seperti ini, saat Egar menyentuhnya seperti ini. Sama seperti saat dia berkunjung ke kelas Egar dulu saat SMA. Saat Egar menelungkup di atas meja. Lalu menyentuh pipinya. Entah kenapa, Fianer merasakan ketakutan sekarang. “Sini,” Egar menarik lengan Fianer lembut agar mendekat. Fianer menurut. Egar mengatur posisi agar bisa memeluk Fianer dari belakang. “Aku peluk sampai pagi ya?” bisik Egar lirih. Fianer terkejut. Dia menoleh ke arah Egar, namun Egar tak mengatakan apapun selain memeluk Fianer erat. Egar tak membiarkan Fianer bertanya. Karena tangannya sudah mengusap rambut Fianer lembut. Menyisirinya dengan jari perlahan. Egar tak akan pernah membiarkan Fianer ketakutan sendirian. Ataupun merasakan sesaknya kehilangan. Dia akan ada di sana, menemaninya. Hingga Fianer tak pernah punya waktu untuk berpikir tentang rasa sakitnya. Dia akan di sana, menemani Fianer hingga Fianer tak bisa memikirkan apapun tentang Kahfi. Dia akan memeluk lelah wanita ini, menyandarkannya di bahunya. Dia tidak akan meninggalkan wanita ini dalam kesendirian, kesepian, kepanikan dan keputusaan. Dia kan membuat wanita ini lupa menangis bagaimanapun caranya. Satu kecupan dari Egar, dia berikan pada puncak kepala wanita itu. Egar mengeratkan pelukannya. Fianer tersenyum saat memejamkan mata merasakan hangatnya pelukan ini. Dan dengan mudahnya dia tertidur. --- Senyum Fianer tertahan saat melihat satu ikat bunga anggrek cattleya putih tergeletak manis di meja ruangan koas rumah sakit. Bunga itu ditujukkan untuknya. “Ehm.” Wahyu, yang pertama kali melihat bunga itu langsung berdehem rendah. “Dari siapa?” tanyanya ingin tahu. Ceryl menimpuk laki-laki bongsor itu dengan gumpalan kertas hingga mengenai pelipis Wahyu. “Kepo lu.” Wahyu tak menggubris. “Pacar ya? Pajaknya mana?” tanyanya. Fianer hanya tersenyum. Dia mengambil bunga itu dan membuka kartu ucapannya. Dinner? See u at 7pm. Fianer mendengus. Tak ada salam pembuka, tak ada nama, tak ada kata-kata romantis. Tapi kenapa Fianer rasanya tak bisa berhenti tersenyum? Dia mengangkat rangkaian bunga itu lalu mencium aromanya. Tak begitu wangi. Tapi indah sekali. Dengan hati bahagia, Fianer mengambil ponselnya lalu mengetik pesan singkat. Ok. Baru saja dia kirim pesan itu, seseorang sudah menubruknya dari belakang. “Egar ya?” bisik Ceryl. Fianer mengangguk malu-malu. “Ampun deh, romantisnya.” Ceryl terlihat iri. “Beruntung banget sih lu.” Senyum Fianer tak putus-putus. Dia menggoyangkan tubuhknya ke kanan dan kekiri sambil menggendong bunga itu. Namun rasa bahagianya itu musnah saat dokter Hartono tiba-tiba masuk ke ruangan. Beliau melihat Fianer yang baru berhenti bergerak saat melihat kedatangannya. Dengan tenang dia bertanya. “Siapa nanti yang jaga malam?” tanyanya. “Oppie Dok.” kata Wahyu. Dokter Hartono menoleh ke Fianer. Dan entah kenapa Fianer tahu kesialan sedang menghampirinya. “Dia yang menggantikanmu jaga saat kamu ijin kan?” tanya dokter Hartono tiba-tiba. Fianer mengatupkan rahang namun mengiyakan walaupun enggan. “Malam ini kamu yang gantikan dia. Biar impas.” katanya. Jantung Fianer mencelos. Dia menatap kepergian dokter Hartono dingin. Saat dokter Hartono sudah benar-benar di luar jarak pandangan, Fianer langsung mendengus. “Kenapa ya, aku kok merasa dokter Hartono itu sentimen mulu sama aku?” tanyanya kesal. “Cuma perasaan kamu aaja.” hibur Ceryl. Kepala Fianer langsung pening. Dia memijat pelipisnya, terlebih saat melihat rangkaian bunga yang indah itu. Kepalanya makin berkedut. Dengan terpaksa, dia mengirimkan teks singkat lagi pada Egar. Sorry, aku tidak bisa pergi. Ada tugas jaga malam ini. Send. Pupuslah angan-angannya makan malam romantis berdua. Kali ini, Fianer menghela nafas lalu lunglai. --- Fianer mengetuk-ngetuk pena ke meja dengan bosan. Entah kenapa dia kesal sekali malam ini. Makan malamnya batal. Waktunya berduaan dengan Egar gagal. Menyebalkan. Tapi makin lama, kekesalannya hilang. Dia menatap ke jendela lama berharap seseorang datang. Biasanya, ada yang mengagetkannya dari jendela. Biasanya ada yang menemaninya hingga pagi. Biasanya ada yang membawakannya makanan karena tahu dia lapar. Biasanya dia tak pernah merasakan jaga malam sepi seperti ini. Fianer menghela nafas. Hidungnya memanas. Dia menahan diri untuk tidak menangis. Namun rasanya sesak itu makin berat. Tetes itu hampir jatuh saat ketukan di pintu menyadarkannya. Saat dia menoleh, jantungnya seakan nyaris lepas. “Gar?” Mata Fianer melebar. Kaget sekali melihat Egar di ambang pintu. Egar tersenyum miring. Dia masuk dengan santai dan duduk di kursi samping Fianer. “Maaf lama.” katanya. Fianer makin ternganga. Tapi Egar seakan tak peduli dengan reaksi Fianer. Dia justru melihat-lihat ruang jaga dengan rasa ingin tahu. “Kenapa kesini?” tanya Fianer takjub. “Menemanimu.” jawab Egar jujur. Mulut Fianer makin ternganga. “Kamu lapar tidak? Aku lapar sekali. Seharian belum makan. Tadi di jalan aku sempat beli sushi. Kamu suka?” tanyanya. Kini, Fianer tertegun. Dia menatap Egar tanpa berkedip. Lalu menatap dus sushi yang dibungkus rapi. Egar membukanya untuk mereka. Dan berbagai macam bentuk dan warna ada di sana. Sampai kini, Fianer tak sanggup bicara apa-apa. Dia tak tahu harus merasakan apa. Ada senang, ada sakit, ada sedih. Dulu, ada tempat yang hanya dilakukan oleh Kahfi. Namun kini, Egar mengisi ruang itu semuanya sendiri. Tak menyisakan sedikitpun untuk Kahfi. “Kenapa?” tanya Egar. Fianer menggeleng pelan. Dia memakan satu sushi dari dusnya. Mengunyahnya palan. Dia bisa hidup tanpa Khafi. Egar yang akan ada di sampingnya, yang selalu diandalkannya. Dia harus siap hidup tanpa Kahfi. Fianer menghela nafas. Dia mendongak dan menatap Egar yang menatapnya dingin. Seakan tahu apa yang tadi dia pikirkan. Fianer menunduk malu. Lalu membuang mukanya. Setelah itu hening. Ada jeda diantara mereka hingga rasa bersalah Fianer menjadi dan akhirnya dia mendongak menatap Egar yang sudah terdiam dengan pikirannya sendiri. “Sedang memikirkan apa?” tanya Fianer. Egar terdiam sejenak. Lalu berkata, “Banyak.” Dia tak ingin menyembunyikan sesuatu dari wanita ini. Setidaknya, dia ingin Fianer tahu semuanya. Egar bersedia membuka segalanya tanpa ingin menutup-nutupi. “Apa?” tanya Fianer ingin tahu. Egar menoleh. Menatap Fianer yang menatapnya ingin tahu. Mata cokelat teramat muda itu adalah warna mata yang sangat dia suka. Entah karena memang warna itu begitu indah ataukah karena wanita ini yang memilikinya. Tangan Egar terangkat, mengusap lembut pipi Fianer. “Aku sedang memikirkanmu.” kata Egar. “Aku sedang berpikir apa yang kamu mau. Apa yang kamu ingin aku lakukan. Bagaimana caranya kamu tidak menangis lagi. Bagaimana aku bisa membuatmu tersenyum lagi.” Mata Fianer mengerjap. Terpaku menatap Egar yang tersenyum sedih menatapnya. Seakan kepura-puraan mereka membuatnya kelelahan dan akhirnya memilih untuk terbuka. Air mata Fianer tertahan dipangkal. Dia tak berani menjatuhkannya. Karena dia tahu Egar sudah berusaha sekuat tenaga untuk membuatnya tak menangis lagi. “Jangan terlalu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja.” kata Fianer. Egar mengangguk seolah percaya. Tapi Fianer tahu, anggukan itu hanyalah tanda bahwa Egar tak mempercayainya. Dan seketika, itu membuat Fianer tersenyum tipis. Menyadari bahwa kepura-puraan mereka membuat keadaan makin tidak mengenakkan. Dan saat itulah dia memutuskan untuk jujur. “Sejak kecil kami selalu bersama.” pelan Fianer akhirnya. “Aku selalu bergantung padanya jika membutuhkan apa-apa. Karena Abang dan Rafan tak selalu ada untukku. Tapi Kahfi berbeda. Dia selalu ada kapanpun aku butuh, jam berapapun, kapanpun, dimanapun dia akan datang. Sejak kecil.” Bisik Fianer. Egar terdiam, lalu tertunduk. Fianer melihat tunduknya namun dia tetap melanjutkan. “Dulu, ada satu waktu yang membuat Abang marah besar padaku. Abang mendiamkanku selama tiga bulan. Dan aku sedih sekali. Rasanya ada yang kosong. Rasanya berbeda. Dan aku benci perasaan itu. Saat aku bertemu abang, aku tidak bisa bicara padanya seperti biasa, tidak bisa bercanda. Tiga bulan aku hanya diam saat Abang lewat. Menunduk jika Abang datang, atau pergi saat Abang diam saja.” kata Fianer tersenyum muram. “Dan sekarang aku akan melakukan hal itu lagi. Mungkin sampai seumur hidup.” bisiknya. Egar menoleh. Dadanya ikut sesak mendengarkan apa yang Fianer takutkan. “Apa sakit sekali?” tanya Egar muram. Fianer mengangguk. “Bayangkan jika Kak Fourline ada di posisi Kahfi. Lalu dia meninggalkanmu. Apa yang kamu lakukan?” tanyanya. Aneh. Egar menelan ludah. Karena dia akhirnya tahu apa persisnya yang Fianer rasakan. Kesedihan seperti apa. “Kamu ingin dia kembali?” tanya Egar. Fianer tersenyum muram. Dia menggeleng. “Aku tidak ingin dia kembali.” katanya. “Saat dia mengatakan menyukaiku, itu hanya berarti kami tak boleh bertemu lagi.” katanya. “Aku menyayanginya. Dan aku tidak ingin membuatnya terluka. Semuanya sudah terlanjur. Sudah tidak ada yang bisa diperbaiki.” Egar menatap wajah pura-pura kuat itu. “Aku tahu kamu sedih.” Fianer tersenyum tipis. “Rasanya memang sedih. Tapi saat bersamamu, aku tak sedih lagi.” Egar terdiam. Dia tak bisa selalu bersama Fianer. Rasanya dia tak rela jika Fianer mempunyai banyak waktu untuk menangis. Hanya beberapa detik, akhirnya Egar mengambil keputusan. “Kita menikah saja.” lirih Egar. Mata Fianer mengerjap kaget. Wajahnya menoleh ke samping, dan menatap mata hitam pekat itu. “Apa?” tanyanya. “Kau bilang apa tadi?” “Kita menikah.” kata Egar. Tegas, tandas. Tak ada keraguan sama sekali dalam suaranya. Bahkan kini wajahnya menyiratkan keyakinan yang sarat. Dan entah kenapa Fianer tak bisa tersenyum. Dia hanya bisa menangis. Air matanya terus keluar. Menatap laki-laki ini tak percaya. Dadanya sesak. Egar menatapnya, menggenggam rahangnya dengan kedua belah tangan. “Besok, aku akan melamarmu kembali. Kita akan menikah secepatnya.” katanya. Hidung Fianer memanas. Air mata seakan menusuk-nusuk di matanya. Perih. “Bagaimana kalau sebulan lagi?” tanyanya. Dan air mata Fianer mengalir sudah. Dia tak mengatakan apapun. Hanya terisak. Dia tak bisa menahan isaknya. Dia terus terisak. Egar merengkuhnya dalam pelukan. Meredam isaknya. Tapi isaknya justru makin keras keluar. Egar mengusap dahinya lembut. Egar tak tahu seberapa besar keinginan Fianer hingga melihatnya menangis sehebat ini. Egar hampir melakukan kesalahan lagi dengan mengikuti egonya dan mengesampingkan keinginan Fianer. --- Egar menatap perusahaan konsultan di hadapannya. Perusahaan itu cukup besar hingga dia tak terlalu kesulitan untuk menemukannya. Setelah menemani Fianer jaga, Egar tak langsung pulang. Tapi dia justru ke perusahaan itu untuk menemui seseorang. Setelah masuk ke dalam, Egar bertanya pada resepsionis ruangan orang yang dia cari. Tak butuh waktu lama, Egar akhirnya sampai di salah satu ruangan di lantai teratas. Seorang sekretaris mempersilakan masuk hingga akhirnya Egar bisa berhadapan dengan orang itu. Ruangannya luas. Hingga Egar tahu bahwa laki-laki di hadapannya adalah seseorang yang penting di perusahaan. Baru setelah itu Egar menatap mata laki-laki pemilik ruangan itu. Tatapan Egar tenang. Teramat tenang. Karena jujur saja, dia datang tidak untuk mencari keributan. Dia datang dengan perdamaian. Tapi sepertinya pemilik ruangan ini tak berpikiran sama. “Mau apa?” tanya laki-laki itu dingin. Tatapan Egar tak bergeming. Dia tetap menatap lurus-lurus laki-laki di hadapannya. Laki-laki itu balas menatapnya walaupun Egar masih kesulitan melihat arah mata orang itu. Tapi dia sama sekali tak merasa bersalah melihat perbuatannya yang masih terlihat jejaknya. Wajah orang itu masih babak belur. “Aku mau minta maaf.” kata Egar tenang. Kahfi mendengus. Dia langsung mengangkat alis tinggi-tingi, lalu tersenyum sinis. “Minta maaf?” tanyanya. “Ya. Aku minta maaf.” “Minta maaf tidak akan membuat wajahku normal kembali.” katanya. “Ann ... “ Egar menyebut namanya lirih. “Dia sedih sekali kehilanganmu.” katanya. “Sudah ada dirimu.” jawabnya tangkas. Egar tersenyum tipis. “Aku tidak bisa menggantikanmu.” katanya. “Sama sepertimu yang tak akan bisa menggantikanku.” Egar menatap Kahfi tenang. “Kita berdua mempunyai arti yang berbeda. Tapi kita berdua sama-sama penting untuknya.” Kata-kata Egar membuat Kahfi terdiam. Ditatapnya Egar dengan tatapan tenang. “Maksudmu, kamu ke sini untuk memintaku kembali ke sisinya, menganggap semuanya tak pernah terjadi. Begitu?” Egar mengangguk. “Ya, begitu.” Wajah Kahfi mengeras kaku. “Aku tidak bisa.” Tentu saja tidak akan semudah itu. Egar menunduk, lalu tersenyum tipis. Ya, dia memang egois sekali saat ini. “Dulu dia pernah kehilangan. Aku tidak mau dia merasakan kehilangan lagi. Sungguh aku datang bukan untuk melihatnya menangis lagi.” pelannya. Kahfi tertegun. Dia menatap Egar dengan pandangan tak percaya. “Dia ... apa dia baik-baik saja?” lirihnya. Nada suara Kahfi membuat Egar harus memejamkan mata. Nada sarat kecemasan itu menguji kesabaran Egar. Tapi di memang tak berniat mengacau kali ini. “Aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan.” kata Egar. “Selanjutnya terserah padamu.” Dia terdiam sejenak, lalu pergi dari sana. --- Fianer membasuh wajahnya di wastafel ruangan koas rumah sakit. Matanya masih merah, sembab, bengkak, tak dapat tertolong lagi. Ingatannya kembali saat tadi dia menangis dramatis di depan Egar. Fianer berdecak dan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ya ampun, tidak bisakah aku mengontrol diri lebih bagus lagi? Lama-lama dia akan membuat Egar ketakutan karena terus menangis sekeras itu. Karena seingatnya, dia sudah melakukannya dua kali! Jangan sampai ada yang ketiga kali! Rasa malunya tiba-tiba terlupakan saat mengingat alasannya menangis. Perlahan, tangan yang menutup wajahnya menurun. Dia masih diam tak percaya dengan ingatannya. Egar mengajaknya menikah ….? Air mata Fianer turun lagi. Dia masih tertegun diam. Dan saat kesadarannya kembali, dia menjauh dari cermin lalu terduduk di sofa merah favoritnya dan menatap kaca jendela. Tubuhnya langsung lunglai. Bagaimana dia bisa menangis disaat sepenting ini? Bagaimana dia bisa menangis histeris saat seharusnya dia tersenyum bahagia? Fianer mendesah. Aku tak normal. Pikiran itu terputus saat suara pintu terbuka terdengar. Fianer terlonjak karena terlalu kaget. Tapi gerakan waspadanya lenyap saat tahu siapa yang datang. Egar! Laki-laki itu tahu dirinya ada di sana. Masuk ke dalam tanpa mengatakan apa-apa. “Dari mana?” tanya Fianer. “Ada urusan.” jawab Egar tenang. Dia duduk di sampingnya. Laki-laki itu menoleh dan tersenyum. Mengusap mata Fianer yang sudah seperti panda lalu menatap iris cokelat terlalu muda itu lekat. “Aku ingin bicara.” kata Egar tenang, serius. Fianer mengangguk. Lalu duduk manis, mendengarkan. “Aku berjanji ini terakhir kali aku bertanya. Aku hanya ingin memastikan bahwa keputusanku benar.” katanya. Fianer masih diam walaupun tahu arah pembicaraan ini akan ke mana. “Kamu yakin tetap ingin menikah denganku walaupun Ayahmu belum 100% merestui?” tanyanya. “Aku ingin Ayahku merestui kita seutuhnya. Tapi aku juga ingin menikah denganmu.” jawab Fianer. Jawabannya membuat Egar mengerutkan dahi. Memang jawabannya tak seperti yang Egar harapkan. Tapi memang itu yang dia inginkan. “Bisakah kita menjalankan keduanya? Kita menikah, sambil kamu berusaha mengambil hati Ayah?” tanya Fianer memohon. Fianer tahu Egar tak puas dengan jawabannya. Karena ada permasalahan yang tak tuntas saat mereka menikah nanti. Memaksakan menikah sebelum restu Erfan benar-benar di tangan. Kenyataan itu pasti akan mengganjal, mengurangi kebahagiaan yang mereka rasakan. Tapi itu pilihan yang mereka punya. Karena menunggu Erfan menyukai Egar tak bisa di dapat kepastian entah sampai kapan. Bisa setahun, bisa sepuluh tahun, bisa lima puluh tahun. Dan mereka tak akan bisa menunggu selama itu. “Oke,” Egar berkata. “Kita menikah.” katanya akhirnya. Fianer tersenyum. Ada 3 hal yang dia inginkan di dunia ini sekarang. Ayah menerima Egar, bisa menikah dengan Egar dan Kahfi bisa kembali lagi. Tidak apa dia tak mendapat semuanya. Paling tidak, dia mendapatkan salah satunya.      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD