Part 15 - Kahfi

5054 Words
“Kahfi?” Fianer berseru kaget. Kekagetan yang dirasakannya sama seperti semua yang ada di patio saat melihat Kahfi datang. Ini sama sekali tak direncanakan. Dahi Fianer berkerut. “Fi, tahu dari mana kami di sini?” tanyanya. “Ayah yang mengundangnya.” kata Erfan santai. Semua yang ada di sana terkejut. Menatap Ayahnya dengan pandangan kaget. Namun Erfan menatap mereka dengan tenang. Ketenangan Erfan membuat keadaan menjadi gamblang dengan sendirinya. Anak dan istrinya tahu bahwa Erfan sedang merencanakan sesuatu. Fiandra menatap suaminya tajam. Fier dan Rafan hanya bisa menghela nafas panjang. Egar mendidih di tempatnya. Fianer masih bertanya-tanya maksud sebenarnya Ayahnya membawa Kahfi kemari? Sedangkan Kahfi hanya bisa pasrah. Dia telah diseret ke dalam situasi yang tak mengenakkan ini. Namun tanpa peduli reaksi semua orang, Erfan tersenyum puas. Dan tak ada yang tidak melihat senyum puas itu. --- Egar duduk di kursi dengan memegang pelipis yang berkedut. Dia masih belum sembuh dari keterkejutan hasil surprise dadakan Erfan. Sungguh, dia tak kaget Erfan bisa membaca langkah mereka. Tapi dia tak menyangka Erfan mengantisipasinya dengan memasukkan satu tokoh baru. Kamu tadi bilang kalau kamu yang sekarang bukan kamu yang dulu lagi bukan? Kita buktikan, apa benar kamu sudah berubah. Egar makin memijat pelipisnya. Apapun alasan Kahfi di sini hanyalah untuk mengujinya. Dia harus hati-hati atau kesempatannya membuktikan diri hangus begitu saja. “Kamu tidak apa-apa?” Fianer terlihat sangat khawatir melihat Egar yang hanya memijat pelipis dari tadi. “Ya.” kata Egar tak yakin. “Kamu harus siap mental kalau mau melawan Ayah. Ayah selalu punya banyak cara untuk menjatuhkan lawannya.” kata Fier. “Aku tahu.” kata Egar datar. Tanpa diberitahupun dia sudah tahu. “Bagaimana sekarang?” tanya Fiandra. Fier dan Rafan menatap Egar yang langsung menegakkan punggung. Dihelanya nafas panjang. “Tidak ada cara lain. Aku harus mengalahkan Kahfi.” Sekarang Fianer dan Fiandra yang menghela nafas panjang. Fianer mengenal Kahfi dan tahu bagaimana cara berpikir laki-laki itu. Praktis dan efisien. Dia selalu punya taktik untuk menjatuhkan lawan secepat Cheetah menerkam mangsa. Sedangkan Fiandra, dia mengenal ayah laki-laki itu dengan amat baik. Karel. Dia tahu Karel begitu mirip dengan Kahfi. Egar harus teramat hati-hati kalau ingin menang. Fier dan Rafan pun meragukan Egar. Namun karena mereka ada dalam kubu yang sama, mau tak mau mereka harus percaya. Egar sendiri tak punya rencana maupun s*****a. Namun dia tahu pasti apa yang paling membahayakan saat ini dan harus dihindarinya. Kepalanya menoleh pada Fianer yang terlihat cemas. Dia menatap wajah wanita itu hingga Fianer balas menatapnya. Tatapan Egar begitu tenang hingga tak terbaca emosinya. Tapi Fianer mengenal tatapan itu. Tatapan serius dan tak ingin dibantah. “Berjanjilah satu hal,” kata Egar cepat. Fianer mengangkat alis. “Apa?” “Apapun yang terjadi, jangan temui Kahfi sendirian.” pintanya. Permintaan itu begitu aneh. Fianer tak tahu kenapa Egar meminta hal itu. Apa hanya karena cemburu? Egar tahu apa yang berputar dalam kepala Fianer lewat raut wajahnya yang mudah ditebak itu. Wanita ini tak mengerti bahaya apa yang mengintai. Sama sekali tak ada hubungannya dengan kecemburuannya. “Aku hanya tidak ingin kamu terluka.” Alis Fianer menyatu. Kata-kata Egar makin tak dia mengerti. “Kumohon, berjanjilah.” Egar mendesaknya. Dan karena Fianer tak ingin Egar cemas, dia akhirnya mengangguk. “Ya, aku berjanji.” Satu kalimat itu membuat Egar menghela nafas panjang. Paling tidak, dia bisa berperang dengan tenang. --- Fiandra masuk kamar dan melihat suaminya sedang menyesap kopi dan membaca buku dengan sangat santai. Wanita itu tak menggubris. Hanya duduk di sisi tempat tidur dan memeluk bantal di pangkuan. Erfan menyadari dan melirik sesekali. Dia pikir istrinya akan meledak marah. Namun dia salah. Fiandra cenderung diam. Namun diamnya istrinya menurutnya jauh lebih menakutkan dibandingkan dengan jika istrinya meneriakkan saja apa yang ada di kepalanya. “Sedang memikirkan apa?” tanya Erfan akhirnya. Fiandra menoleh dan tersenyum. “Memikirkanmu.” Erfan tersentak. Tersanjung karena istrinya memikirkannya. “Memikirkanku?” Fiandra mengangguk. “Aku sedang berpikir kenapa kamu begitu keras kepala?” Perasaan senang Erfan terhempas begitu saja. Dia menatap istrinya dingin. Dia tahu istrinya akan memusuhinya karena sikapnya. Tinggal pilih caranya saja bagaimana. Ternyata istrinya memilih cara sindiran. Erfan tak menanggapi, hanya tersenyum tipis. Tapi senyum tipis itu hilang setelah Fiandra akhirnya berkata, “Apa kamu sadar sudah menciptakan masalah baru?” tanyanya. Erfan menoleh pada Fiandra yang menatapnya dengan tatap nanar. Entah kenapa, Erfan tak menyukai kata-kata istrinya itu. --- Fianer terbangun saat tengah malam. Dia keluar kamar untuk mengambil minum dan melihat Egar yang tertidur di sofa ruang tengah. Dengan gelas ditangan, Fianer melangkah mendekat dan duduk di bawah sofa. Memperhatikan wajah dengan mata tertutup itu penuh sayang. Wajah Egar mengerut. Fianer memperhatikannya. Namun saat kerutan itu makin banyak, Fianer bisa melihat kengerian di wajah itu. Laki-laki ini mimpi apa? “Ann ... “ lirih laki-laki ini dengan nada panik. Mulut Fianer terbuka, kaget laki-laki itu menyebut namanya. “Awas! Ann awas!” Egar mengigau. Keringat dingin keluar, dan Fianer ikut panik. “Gar?” Fianer menepuk lengan Egar. “Ann, Awas!” “Egaaar! Aku di sini!” Fianer mengguncang tubuh Egar yang mulai gemetar ketakutan. “Gar, bangun! Egar!” “Ann ...” Egar bangun dan langsung terkesiap. Matanya masih melebar menatap sekeliling, ketakutan. Dan nafasnya terengah. Dia langsung duduk, beringsut menjauh dari Fianer. Saat Egar menelan ludah berkali-kali, Fianer duduk di samping Egar. Menatapnya cemas. “Hey, ini aku.” bisik Fianer cemas. Mata Egar menatapnya linglung sejenak. Namun saat mata itu sudah menancap lurus, ketenangan itu akhirnya kembali. Perlahan, Egar mengatur nafasnya dan mengusap wajahnya. Menelan ludahnya lagi. “Maaf ...” katanya. Fianer mengangguk bingung. “Mimpi apa tadi?” tanyanya kembali cemas. Egar tak langsung menjawab. Tapi hanya menggeleng. Fianer menghela nafas lalu mengangsurkan gelas yang tadi diambilnya. “Minum dulu.” Egar meminumnya tanpa membantah. Baru setelah itu dia terlihat setenang biasanya. Air mata Fianer menetes. Dia menyentuh punggung laki-laki itu. Egar tertegun sebentar. Dia menoleh dan melihat air mata Fianer mengambang di sana. “Aku sudah gagal membuatku pantas selama ini. Tolong jangan buat aku makin buruk lagi. Jangan menangis.” pintanya. Tapi air mata Fianer justru mengalir dan makin deras lagi. Dia memeluk Egar saat itu. “Aku hanya cemas.” “Kalau begitu jangan cemas. Aku tidak apa-apa.” katanya. Ada aura yang berbeda di sini. Fianer merasakannya. Saat dia melepaskan pelukan dan mendongak, dia melihat Egar yang jauh lebih kuat. Tapi juga dingin. Semua ketakutan, keputusasaan, kegagalan. Semua perasaan disembunyikan dengan baik dibalik sikap dingin ini. Dan andai Egar tahu ... Fianer bukanlah orang yang tepat untuk menunjukkan topeng itu. Fianer mengusap wajah laki-laki itu, dan membawa kepala Egar untuk rebah di pangkuannya. Fianer mengusap kepala Egar lembut. Topeng itu tak berguna. Karena seharusnya di depan Fianer, Egar melepaskannya. Beristirahat di sana. Menemukan ketenangan dan kedamaian yang mengancam jiwanya. Di pangkuan Fianer, Egar memejamkan mata dan merasakan deru di d**a yang membuatnya perih. Tapi pada akhirnya, dia menikmati tiap usapan lembut itu hingga segala rasa yang membuatnya putus asa perlahan menghilang. Dan ketenangan menggantikannya. “Sudah berapa lama mimpi buruk seperti ini?” tanyanya. Mata Egar terbuka. Dan wajah Fianer adalah hal pertama yang dia lihat. “Enam tahun.” jawabnya jujur. Air mata Fianer menggenang. Tapi wanita itu menahannya sekuat tenaga, tak membiarkannya jatuh. “Tanpa henti?” Egar menatap mata itu dalam. “Tanpa henti.” lirihnya. Fianer menggigit bibirnya sekuat tenaga. Mengalihkan reaksi tubuhnya pada sakit hingga air mata bisa bertahan lebih lama. “Benarkah? Apa tidak pernah tidur nyenyak sampai pagi?” tanya Fianer lagi. Egar terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Pernah.” Senyum Fianer mengembang dengan jari yang mengusap rambut Egar lembut. “Kapan?” “Saat tidur di apartemenmu.” Dan usapan jari itu terhenti total. “Gar, maaf. Aku mau buang air kecil sebentar.” kata Fianer sambil meringis dan tangan menekan perut. Egar bangkit dengan dahi berkerut. Tapi karena Fianer tersenyum saat pamit, Egar tak mengatakan apapun saat melihat wanita itu lari terbirit-b***t ke kamar mandi dan menutup pintunya cepat. --- Fianer menutup pintu kamar mandi dengan cepat dan menguncinya. Tubuhnya tidak bergerak di sana. d**a yang bergemuruh membuat tubuhnya bergetar menahan sesuatu dari tadi. Mimpi buruk ... Air mata Fianer mengalir begitu saja. Dia segera membunyikan keran dan menangis tanpa suara. Perihnya mata tak bisa membuat perih hatinya berkurang. Kecelakaan itu... kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya... Itu bukanlah hal yang mudah dilupakan oleh Egar. Fianer sudah melupakannya sejak lama bahkan sudah tak ingat lagi sekarang. Tapi Egar ... laki-laki itu masih membawanya hingga sekarang. Menghantuinya sampai ke alam bawah sadarnya. Egar masih mengingatnya. Masih ketakutan bahkan saat Fianer baik-baik saja. Perlahan, Fianer luruh duduk berjongkok menahan suara sekuat dia bisa. Dia tak pernah sadar. Bahwa Egar yang terluka paling dalam. Kecelakaan itu paling mempengaruhi Egar. Setelah kecelakaan itu, setelah melihatnya nyaris mati,  laki-laki itu menjadi berbeda. Menjadi jauh. Menjadi sulit di dekati. Luka yang membuat segalanya berubah. Luka yang membuat Egar jatuh. Dan luka itu tak pernah sembuh ... Lama Fianer menangis. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk membasuh mukanya. Tak ingin Egar curiga. Dirapikannya wajah dan rambut. Saat semuanya terlihat sempurna, baru dia keluar dan menutup pintu. Baru melangkah satu kali, bahunya terdorong ke dinding. Sebuah lengan menekannya hingga dia mendongak kaget. Namun kekagetan itu hilang saat tahu ini lengan Egar. Tatapan mata Egar begitu berbeda dengan tadi. Tajam, liar, dan keras. Menatap mata itu membuat Fianer terkesiap. “Aku sudah bilang jangan menangis!” desisnya. Mata Fianer melebar mendengar desisan itu. Tapi tak bertahan lama karena dia kembali terkesiap saat dengan cepat Egar menyambar bibirnya. Menciumnya kasar. Ciuman yang begitu berbeda. Begitu liar dan darah Fianer seakan meletup-letup oleh setiap geleyar yang tak terduga. Tangan Egar memeluk pinggulnya, mencengkeramnya kuat. Ada sensasi berbeda, tapi Fianer bisa merasakan bibir itu bergerak menuntut. Sangat kasar. Tapi kekasaran ini membuatnya teringat sesuatu yang justru membuatnya rindu. Tanpa berpikir, Fianer membalas. Dia mencengkeram kaos Egar kuat dan ikut irama ciuman Egar yang brutal. Tak ada yang ditahan di sini. Egar seakan menumpahkan rasa frustasinya lewat ciuman dan Fianer tak keberatan sama sekali. Walaupun Egar kaget Fianer membalas ciuman alih-alih menamparnya. Tapi itu tak masalah. Rasanya, sesaknya d**a hampir meledak dan akhirnya mereka berhenti saat terengah. Dada Fianer naik turun, tak percaya dengan ciuman ini. Dia mendongak dan menatap Egar yang masih menatapnya lurus, tak melembutkannya sama sekali. Tapi Fianer tak takut. Dia menatap mata itu dengan tenang. “Bagus, aku butuh kamu yang kuat.” kata Egar. Senyum Fianer mengembang perlahan. Lalu kedua tangannya ikut menangkup rahang laki-laki itu. “Aku rindu kamu yang dulu.” Ya .. itulah yang dia rindu. Egar yang dulu. Yang angkuh, yang menganggap dunia ada di kakinya. Kekasaran Egar tadi membuatnya mengingat sosok Egar yang itu. Kata-kata Fianer membuat Egar berkerut, dia yang dulu sangat buruk sekali. Apa yang dirindukan dari dia yang dulu? “Lupakan anak itu.” katanya. Fianer menggeleng tak rela. “Aku sangat menyukai dia. Aku tidak ingin melupakannya.” bisiknya. Anak laki-laki dalam masa lalunya selalu membuatnya jatuh cinta. Dia memang kasar, menyebalkan dan emosional. Tapi Fianer sangat menyukainya. Egar tertegun. Menatap wanita yang ada dihadapannya. Wanita yang selalu membuat dirinya berarti. Yang selalu membuatnya merasakan rasa bahagia di tengah dunianya yang gila. Wanita yang membuatnya merasa aman untuk jatuh cinta. Kali ini, Egar mendengus. Dia menarik tangan Fianer hingga wanita itu jatuh ke pelukannya. Dia tak punya alasan untuk kalah bukan? Karena dia sangat menginginkan wanita ini tetap ada di hidupnya. Selamanya. --- Erfan memainkan papan caturnya  dengan sangat cerdik. Dia menguasai pusat. Egar dan Kahfi, dua pion berbeda warna. Entah mana hitam dan mana yang putih. Pion itu bisa berubah menjadi apapun tergantung dengan setiap langkah yang mereka ambil. Mereka bisa menjadi benteng, kuda, gajah, bahkan menteri. Seperti pion ... mereka hanya bisa maju dan tak pernah bisa mundur. Erfan akan membuktikan di sini bahwa dia benar. Pada Egar untuk membuktikan bahwa anak itu masih seperti yang dulu. Pada Fianer bahwa laki-laki itu masih belum pantas untuknya. Bahwa penilaiannya tidak salah kali ini. Dan pada istrinya bahwa alasannya memang kuat untuk tak menyukai Egar. Mereka akan melihatnya nanti. --- Egar menoleh pada Fianer. Dia merasa sangat hebat saat ini. Saat jantungnya sudah bergemuruh keras nyaris lepas, saat amarah hampir meledak ... dirinya masih bisa duduk dengan tenang dan tersenyum tipis sekali-kali saat Fianer menoleh padanya. Sedangkan di sampingnya, Fianer dan Kahfi sedang bicara berdua dan tertawa. Tololnya, dia sama sekali tidak tahu mereka tertawa karena apa. “Jadi sampai sekarang Mira tetap minta kunci itu balik?” tanya Fianer dengan nada suara takjub. Kahfi mengangguk geli. “Padahal kuncinya sudah aku buang.” Mulut Fianer ternganga. Dia memukul lengan Kahfi. “Jahat kamu!” Kahfi hanya terkekeh pelan sedangkan Fianer geleng-geleng tak percaya. Tapi jujur saja, dia tak begitu kaget. Kahfi adalah playboy paling tega yang penah dia tahu. Saat dia mengejar seseorang, dia akan mengejar sampai terkesan dia tak bisa hidup tanpa wanita itu. Tapi setelah dapat, Kahfi akan memperlakukan wanita itu semaunya, memberikan waktu seluangnya, dan memberikan perhatian sekadarnya. Kahfi playboy penikmat perburuan. Namun jika targetnya sudah di dapat, dia akan menjadi tipe pembosan. Dia bisa membuang waktu 3 bulan mengejar seorang wanita hanya untuk dia pacari satu minggu saja. Sakit jiwa? Memang. Fianer menoleh pada laki-laki di sampingnya, Egar. Dia sangat beruntung sekali kan, mempunyai seseorang seperti dia. Dengan manja, Fianer memeluk lengan Egar mesra. “Ketawa apa tadi?” tanya Egar dingin. Fianer menatap Egar takjub. Bukankah dari tadi Egar di sampingnya? Bagaimana bisa Egar tak tahu apa yang dia bicarakan? “Itu ... Kahfi dulu pernah berpacaran dengan Mira. Nah, waktu pendekatan, Kahfi dan Mira pernah mengubur kotak isi dua kertas harapan mereka. Mereka berjanji satu tahun lagi mereka bakal gali kotak itu lagi. Buat baca kertas pasangan. Tapi belum satu bulan mereka udah putus. Mira minta kunci kotaknya, tapi Kahfi sudah buang kuncinya.”  “Oh,” komentar Egar singkat. Bahkan itu juga tak bisa disebut komentar. Kahfi tersenyum sinis. “Keluarkan saja apa yang ada di kepalamu.” “Aku tidak suka mempermainkan orang. Apalagi wanita. Jadi maaf saja kalau aku tak bisa komentar.” Fianer tertegun. Dia menatap sisi wajah Egar yang lurus ke depan. Dia tak bisa berhenti tersenyum mendengar komentar jujur itu. “Apa Ann yang pertama?” tanya Kahfi. “Sejauh yang aku ingat, ya.” “Kamu yakin tidak ingin mencoba dengan yang lain dulu sebelum menentukan pilihan?” Satu sikut Fianer meluncur cepat ke arah rusuk Kahfi. Tapi dari awal Kahfi sudah mengantisipasi dan menahannya tepat waktu. Fianer menatap dengan pandangan menyipit. Tapi Kahfi tetap terlihat santai. “Hei, kami laki-laki itu sangat realistis. Mana bisa kita menentukan yang terbaik kalau pilihannya hanya satu? Dan itu juga berlaku untukmu.” Fianer tahu ajaran Kahfi kali ini sangatlah sesat. Dia sudah membuka mulut ingin membantah tapi satu lengan menahannya. Saat dia menoleh, Egar sudah menggeleng sekali, isyarat dia harus diam. Terpaksa Fianer mengatupkan rahang dan diam. Menurut. “Aturan itu hanya berlaku untuk laki-laki yang masih mencari. Karena dia belum menemukan seseorang yang tepat. Seperti kamu.“ “Wow wow wow, kamu menyimpulkan seenaknya.” kata Kahfi santai. “Siapa bilang aku belum menemukannya?” Fianer menoleh secepat kilat. “Kamu sudah menemukannya?” Kahfi mengedikkan alisnya. Wajah Fianer cerah sekali. Itu berarti Kahfi akan berhenti menjadi playboy sakit jiwa. “Hanya saja aku belum mendapatkannya.” Egar menatap Kahfi dengan pandangan tajam. Tapi Kahfi membalasnya santai. “Siapa, siapa?” Fianer yang paling bersemangat. Kahfi menoleh dan menjawabnya dengan teramat tenang. “Kamu.” Fianer mendengus. Kebahagiaannya buyar dengan kecewa. Dia benar-benar menyipit kesal kali ini. Dia sudah bahagia setengah mati, tapi ternyata Kahfi hanya bercanda. Demi melihat wajah kesal Fianer, Kahfi tertawa terbahak sampai melilit. Fianer geram sampai tak bisa menahan diri untuk menghajar Kahfi sekali saja. Sayangnya laki-laki itu pintar mengelak. Mereka tak sadar. Di samping mereka, amarah Egar sudah sampai ubun-ubun. Hanya karena pertahanan dirinya yang besar yang membuatnya tetap diam di tempatnya. Menahan iblis yang terkurung rapat-rapat. --- “Bagaimana perkembangannya?” tanya Fier saat dirinya duduk di samping Fianer bersama Rafan. Fianer menghela nafas panjang. “Nihil.” Jujur Fianer sekarang kesal sekali. Dia melirik Ayahnya yang sedang duduk-duduk di patio, namun masih bisa terlihat dari depan perapian di dalam villa. Semua rencana kacau. Egar yang seharusnya fokus ke Erfan, kini beralih fokus ke Kahfi. Laki-laki itu waspada menghadapi dua orang. Tak banyak bicara karena terlalu hati-hati, dan tak banyak bergerak untuk antisipasi. Satu lengan Rafan merangkul Fianer dan menepuk bahunya pelan. “Santai saja. Kahfi masih bergerak lambat. Dia masih belum menentukan strateginya.” “Egar tidak bisa menunggu sampai Kahfi dapat strategi.” balas Fianer. Sekarang, dia tak tahu pergerakan lawan disaat kedua lawan mereka menampakkan wajah baik-baik saja dan sikap yang biasa. “Ribet.” Lilian menyeletuk tanpa sadar. Fianer melirik Lilian dengan tatapan tajam. “Sepertinya Ayah harus mengujimu juga, agar kami yakin kamu pantas untuk abang.” Wajah Lilian menjadi merah padam. Tangannya bersidekap di depan d**a. Mulutnya sudah gatal untuk terbuka sebelum tatapan Fier menegurnya untuk tak membalas. “Kalian baru akur beberapa bulan. Bisakah tidak usah mulai lagi?” tanya Fier menegur keduanya. Fianer mendengus. Dia melirik Lilian yang meliriknya juga. Keduanya sama-sama membuang muka. Saat itulah Fianer merasakan kehadiran Kahfi. Dia melintasi ruangan dan masuk ke dapur. Secepat kilat Fianer bangkit namun Fier menahan lengan adiknya itu. “Ingat peringatan Egar.” Kening Fianer berkerut. Lalu dia mengingat kata-kata Egar sebelumnya. Apapun yang terjadi, jangan temui Kahfi sendirian. Fianer menghela nafas. Dia melirik Kahfi yang terlihat sedang mengambil minum. Egar sedang mandi sekarang ini. kalau dia ingin meng-clearkan masalah ini, dia harus bicara dengan Kahfi. Dan dia tak bisa bicara dengan Kahfi kalau Egar ada di sampingnya. Ini kesempatan satu-satunya. Tanpa mempedulikan peringatan Fier, Fianer tetap bangkit dan menghampiri Kahfi yang sedang minum. Dengan bersandar di meja bar, Fianer menunggu Kahfi menandaskan isi gelasnya. Setelah gelas itu menjauh dari mulut Kahfi, laki-laki itu menoleh padanya. “Kenapa?” Fianer menggeleng. Kedua tangannya menapak di tepi meja bar. “Fi, kita hentikan saja semua ini.” kata Fianer mencoba negoisasi. “Menghentikan apa?” tanya Kahfi bingung. Fianer menghela nafas panjang. “Sudah, jangan pura-pura tidak tahu. Aku malas menjelaskannya.” Kahfi mengambil botol dan menuangkan air putih ke gelasnya lagi. Dia mengetuk-ngetuk badan gelas dengan jemarinya. Seakan sedang berpikir. Butuh dua detik hingga akhirnya dia meminum airnya, menyisakan setengahnya saja. Lalu dia berkata. “Aku hanya membantu ayahmu.” katanya. Fianer geram. “Ayah sudah cukup menjadi peran antagonis di sini. Tidak perlu ditambah kamu lagi!” Sebenarnya Kahfi tahu itu. Menghadapi Erfan saja Egar harus berjuang keras, apalagi jika ditambah dirinya yang ikut campur. “Tinggal ikuti perminan saja. Kalau Egar pantas, dia pasti bisa menghadapi kami.” Kepala Fianer berkedut menyakitkan. Dia gagal melobi Kahfi. Sehingga pilihan terakhir yang dia punya hanyalah mengikuti permainan seperti apa yang Kahfi bilang tadi. “Oke. Aku toh yakin Egar menang.” katanya. Dia hampir berbalik tapi tak jadi. Dia kembali ke hadapan Kahfi lagi. “Asal kamu berjanji satu hal. Jangan pernah berbohong kalau kamu mencintaiku seperti tadi. Itu-sangat-tidak-lucu!” Pandangan Fianer menyipit tajam, tanda kalau dia bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Namun Kahfi tak gentar, tak bergerak. Tatapannya juga semakin tenang namun binar tengil yang selalu ada di matanya hilang. Menyisakan keseriusan jauh melebihi yang Fianer punya sekarang. “Siapa bilang aku berbohong?” Pertanyaan itu menyentak Fianer. Matanya melebar menatap Kahfi kaget. Tatapan Kahfi tenang, teramat tenang hingga Fianer tak bisa menebak apa yang ada di dalam kepala Kahfi. Ketakutan itu menjalar. Tapi Fianer memikirkan kemungkinan lain yang lebih dominan. wajah kagetnya berubah tenang kembali dengan seulas senyum di bibirnya. “Kamu bercanda kan?” tanyanya. Senyum itu mengandung sebuah harapan. Harapan paling tidak dia mendengar tawa Kahfi seperti biasa. Mengatakan bahwa Fianer benar. Bahwa ini hanyalah candaan ringannya seperti biasa. Namun senyum itu menjadi tak yakin saat dia melihat Kahfi tak bergerak sama sekali. Hanya menatapnya intens. Menatapnya dengan tatapan berbeda. “Aku benar-benar cinta sama kamu.” kata Kahfi lagi. Satu kata itu membuat Fianer tertegun lama. Tubuhnya belum merespon apa-apa hingga pemahaman itu datang dengan sendirinya. Kahfi mencintainya .... Fianer melangkah mundur. Dia tidak boleh ada di sana. Dia tidak boleh mendengar lebih dari ini. “Aku anggap tidak mendengar apapun.” kata Fianer dingin. Dia tak ingin mendengar apapun lagi. Fianer berbalik dengan cepat. Kemudian dia tertegun seketika. Egar sudah ada di hadapannya ... --- Mata Egar menyorot tajam. Amarah yang meletup-letup itu sudah tak tersembunyi lagi. kini transparan menyorot sepasang mata yang balas menatapnya dingin. Egar tak pernah sekalipun menatap Fianer. Tatapan itu hanya terfokus pada Kahfi dan tak pernah lepas sejak kedatangannya. “Masuk ke kamar.” perintah Egar. Nada itu sedingin air yang membeku. Fianer tahu Egar sedang tak ingin di bantah hingga dia menurut tanpa protes sama sekali. karena sejujurnya, dia memang ingin sekali pergi dari sana. Sebelum benar-benar pergi, Faner menoleh pada kahfi dan Egar bergantian. Ada rasa khawatir yang sarat. Karena keduanya sudah sama-sama berdiri berhadapan dengan sikap siap tempur. Setelah itu, Fianer kembali mundur. Dia melangkah menjauh dari mereka berdua. Tapi sesekali menoleh ke belakang, berharap semuanya akan baik-baik saja. --- Egar diam sesaat. Menatap Kahfi dengan pandangan dingin. Dia tahu sejak bertemu pertama kali, laki-laki ini memang menatap Fianer dengan berbeda. Dia laki-laki, dia tahu pasti bedanya. Kahfi tersenyum sinis. “Kenapa menyuruhnya masuk? Dia berhak tahu apa yang kita bicarakan.” kata Kahfi. “Dia tidak perlu mendengarkan karena kita tidak akan membicarakan apapun.” kata Egar tenang. “Kamu boleh mencintainya. Tapi tanggung sendiri rasa sakitnya.” kata Egar dingin. Dia menatap Kahfi dengan dingin untuk terakhir kali lalu berbalik. Agak terkejut melihat semua orang berkumpul di sekitar mereka. Mungkin mengantisipasi agar tak ada keributan di sini. Tapi Egar memang tak berniat untuk memulai konfrontasi yang tak perlu. Fianer sudah menolak Kahfi dan tak ada masalah lagi di sini. “Kamu tahu, Ann juga mencintaiku?” kata Kahfi. Langkah Egar terhenti. “Kamu merasakan juga kan? Dia selalu bahagia disampingku. Dia selalu merasa aman bersamaku.” Egar memejamkan mata. Meredam emosi yang sudah mengumpul di d**a. Kalau dia ditanya, siapa yang paling potensial untuk merebut Fianer darinya, Kahfi orangnya. Bahkan cemburunya pada Nolan tak ada apa-apanya jika dibandingkan saat wanita itu bersama Kahfi. Mata Egar sudah memerah karena marah, tangannya terkepal. Fianer mencintai Kahfi, kemungkinan itu tak pernah luput darinya. “Dia mungkin akan menolakku. Tapi aku yakin dia tak berhenti menangis karena bingung!” Egar menggeram. Satu pukulan melayang dan Kahfi terjungkal ke belakang. Saat sadar, Kahfi merasakan aliran di sudut bibirnya. Dia mengusapnya dan mendongak ke arah Egar. Menyeringai. Seringai penuh kemenangan. Semua orang bergegas menarik keduanya menjauh. Egar tak bisa menghancurkan wajah Kahfi lebih banyak karena Fier sudah menelikung tangannya. “Tahan diri kamu!” sentaknya. Ada sakit yang menjalar karena pegangan yang terlalu kuat. Tapi bahkan itu tak terasa sama sekali. Karena amarah sudah menguasainya penuh. “Kalau sampai dia menangis, aku akan membunuhmu!” kata Egar dingin. Bukan hanya Kahfi tapi semuanya tersentak mendengar kata-kata Egar. Terutama Erfan. --- Fianer menutup pintu kamar dan membenturkan dahinya pelan ke pintu. Air mata Fianer jatuh tanpa bisa dicegah. Menetes tanpa henti mengalir di pipi. Dia tak berusaha menghapusnya, karena percuma saja. Setiap dia menghapusnya, air mata baru akan keluar lagi. Fianer berjalan ke tempat tidur dan terduduk di sana. Menangis lagi. Dia pernah merasakan kehilangan dan hidup dalam bayang-bayangnya. Dia pernah merasakan bagaimana tidak sempurnanya hidup tanpa seseorang ynag seharusnya ada. Dia pernah merasakan hampa, hancur, sedih, hanya karena merindukan seseorang yang sudah pergi. Enam tahun, dan itu tak pernah membuatnya bersahabat dengan rasa kehilangan itu. Kehilangan masih menjadi momok yang menakutkan. Dia selalu merasakan ketakutan saat merasakan tanda-tanda kehilangan. Dan dia merasakannya sekarang. Fianer tak percaya ini. Saat dia sedang bahagia orang yang dia cintai datang ... membawakan kebahagiaan yang tak terkira... menjamin kehidupannya akan bahagia selamanya ... di saat yang sama ... dia akan kehilangan seseorang lagi. Ada yang datang, ada yang pergi. Seseorang yang sangat Fianer sayangi. Seseorang yang selalu ada. Seseorang yang selalu dia andalkan kapanpun dia meminta. Kahfi melebihi siapapun. Seseorang yang selama 23 tahun ada di sampingnya. Menjaganya. Dia pergi begitu saja. Fianer kehilangan lagi. Lagi ... Air matanya menetes tiada henti. “Jangan menangis!” Kata tajam itu menyentaknya. Fianer menoleh ke pintu dan kaget Egar masuk ke kamar tanpa dia sadari. Egar menatapnya dengan pandangan dingin. Teramat dingin. Cepat-cepat dia menghapus air matanya. Fianer tak ingin Egar melihatnya menangis lagi. Egar berjongkok didepannya yang sedang duduk di tepi tempat tidur. Menatap Fianer dengan pandangan intens. Ada kemarahan yang sarat di mata itu. Dan matanya kembali menangis lagi. Kedua rahang Fianer ditangkup tegas. Memaksanya untuk menatap kedua iris pekat itu lurus. “Jangan pernah menangisi laki-laki lain! Jangan pernah pikirkan laki-laki lain! Kamu hanya boleh memikirkan aku! Hanya aku,  jelas?” tanyanya. Fianer mendengar getar kemarahan dan kecewa. Dan itu lebih menyakitkan dari bentakan dan teriakan laki-laki ini. Tanpa berpikir, Fianer mengangguk. Tapi Egar justru memejamkan matanya dan menunduk. Tangannya terlepas dari rahang Fianer. “Aku tidak akan membiarkan dia mengacaukan semuanya!” desisnya marah. Dan tiba-tiba saja dia berdiri meninggalkan Fianer sendiri dan membuka pintu. Laki-laki itu menghantam pintu hingga lepas dari engselnya. Fianer tahu, Egar marah. Sangat-sangat marah sekarang. --- Tangan Egar berdenyut menyakitkan. Saat dia meliriknya, ada darah segar mengalir di sana. Pintu yang teronggok di depannya, dia injak untuk lewat. Lalu dia pergi begitu saja. Dia bisa melihat separuh keluarga duduk di ruang tengah depan kamar. Mereka melihat kemarahannya dengan sangat jelas. Sayangnya, Egar sedang tak ingin memikirkan itu sekarang. Dia pergi dari sana menuju ke lapangan basket. Duduk di tepinya. Menyembunyikan wajah di sela lutut. Meredam kemarahannya sekuat tenaga. Dadanya sesak ... melihat orang yang dia sayangi menangisi laki-laki lain. Orang yang dia sayangi tak ingin kehilangan laki-laki lain. Dia tidak bisa menerimanya. Kahfi ... Dia benar-benar menghancurkan semuanya. Fianer mencintai Egar. Hanya mencintainya. Tapi Kahfi ... dalam sedetik, membuat hubungan keduanya renggang. Membuat Egar tak percaya lagi bahwa perasaan Fianer hanya untuknya. Rasanya, dia ingin marah. Gemuruh di dadanya benar-benar keras hingga dia bisa merasakan dengan jelas. Tapi gemuruh itu reda saat dua lengan ramping memeluknya dari belakang. Fianer. “Jangan marah ... “ lirihnya. Suaranya masih serak. Dia masih menangis. Dan Egar hanya memejamkan mata merasakan sakitnya mendengarnya masih menangisi Kahfi bahkan saat sedang memeluknya. “Aku minta maaf. Aku mohon jangan marah lagi ...” lirihnya. Egar diam saja. Gemuruh di dadanya muncul lagi dan Fianer bisa merasakannya. Wanita itu mengetatkan pelukan. Meredam gemuruh itu lebih kuat. “Jangan pernah cemburu. Jangan sakit hati.” bisiknya. Fianer mengusap d**a tempat jantung itu bergemuruh. Mengusapnya sampai benar-benar reda. “Kahfi ... kami tumbuh bersama. Aku terbiasa bersamanya, dia menjagaku dan aku menyayanginya. Seperti aku menyayangi Abang ... atau Rafan. Aku tidak ingin kehilangan dia. Dan kamu ... apa aku harus menjelaskan arti dirimu untukku? Apa aku belum pernah bilang kalau aku ingin hidup bersamamu, aku tidak bisa hidup tanpamu, aku ....” Egar menarik lengan yang mengalung di lehernya itu hingga Fianer terhuyung lalu jatuh ke pangkuannya. Saat itulah isak Fianer makin keras. Tapi Egar cukup merasakan putus asanya dia. Fianer mendongak ke atas, matanya sudah berair saat Egar balas menatapnya. Egar memeluk Fianer erat. Kini, dia bisa memahami apa yang Fianer coba katakan. Bahwa dirinya dan Kahfi berbeda. Bahwa Egar adalah laki-laki yang akan ada di masa depannya. Sedangkan Kahfi adalah seseorang yang Fianer sayang, yang akan merusak segalanya jika kasih sayang ini berubah menjadi cinta. Fianer memang menyayangi Kahfi sebagai kakak. Tapi sayangnya, Kahfi tak berpikiran seperti itu. --- Fianer membuka pintu kamar. Wanita itu menghela nafas saat melihat Kahfi terbaring di tempat tidur. Babak belur. Kahfi terlambat diselamatkan. Dengan waktu singkat Egar dapat melayangkan 2 pukulan. Look ... bibir, hidung berdarah. Mata bengkak dan lebam di sekitar wajah yang nyaris merata. Egar, menyerangnya terarah ke wajah. Tak ada tendangan di badan atau daerah kaki. Pukulan laki-laki itu tepat di area wajah semua hingga membuat sebagian wajah Kahfi seperti topeng. Fianer tak mengatakan apapun. Hanya menutup pintu dan duduk di sisi ranjang laki-laki itu. Suasana canggung. Kahfi memalingkan wajah. “Gimana keadaanmu?” tanya Fianer. Kahfi diam saja. Pertanyaan itu tak perlu ia jawab karena seharusnya Fianer tahu kalau keadaannya sangat parah. Ini bukan hanya tentang wajah, tapi juga hatinya. Air mata Fianer menetes. Dia menunduk. Kahfi tak pernah mendiamkannya seperti ini. Dan ternyata sakit sekali. “Aku minta maaf. Egar tidak bermaksud ... “ “Jangan minta maaf atas nama dia!” desis Kahfi dingin. Benar-benar dingin. Hati Fianer makin sakit. “Fi ... jangan marah,” lirihnya. “Aku tidak boleh marah?” tanyanya. Air mata Fianer mengalir lagi. “Kenapa dia boleh marah sedangkan aku tidak boleh? Kenapa dia bisa bersamamu sedangkan aku tidak boleh!” “Oh God!” Fianer nyaris berteriak frustasi. Air matanya mengalir lagi. “Aku sayang kamu. Tapi aku tidak mungkin bersamamu. Sama tidak mungkinnya aku berpacaran dengan abang atau Rafan!” Setelah mengatakan itu, Kahfi menatapnya datar. Dingin dan rasanya Fianer tak bisa menyentuh laki-laki ini. Membuatnya makin sedih. “Aku bukan mereka berdua! Aku bukan saudaramu. Kita tidak punya ikatan darah. Selama dua puluh tiga tahun. Apa kamu tidak pernah sekalipun mempertimbangkanku sebagai laki-laki?!” tanyanya keras. Fianer menggigit bibir. Air matanya menetes tak henti. “Aku mohon ... hentikan.” “Ya, sebaiknya kita hentikan. Lebih baik kita tidak perlu bertemu lagi. Aku tidak ingin mengganggu hubungan kalian.” Hidung Fianer memanas. Air matanya menusuk menyakitkan. “Tidak ... bertemu ... lagi?” tanyanya perih. “Ya ...” Tangis Fianer pecah saat itu. --- Untuk masalah Kahfi, Egar akan membuatnya mudah. Lupakan semuanya, anggap tak terjadi apa-apa. Dia tahu, dengan kejadian tadi pagi, penilaian Erfan padanya makin buruk. Tapi dia tak bisa merubahnya. Pagi itu, mereka pulang dari Villa. Fianer mendekat dan menggenggam tangannya. “Ayo pulang,” katanya. Tangan Fianer dingin. Tidak hangat seperti biasanya. Dan senyum yang tersungging di bibir itu juga bukan senyum lepas yang disukainya. Mereka berusaha untuk tetap berjalan apa adanya. Tapi pada kenyataanya, sekuat apapun mereka berusaha, semuanya tetap tak lagi sama. “Aku berjanji, tidak akan menemui Kahfi lagi setelah ini.” Janji yang diucapkan Fianer saat mereka bicara di lapangan seharusnya membuat Egar tenang. Tapi sisi hatinya yang lain tetap tahu. Segalanya kembali seperti dulu sebelum hubungan mereka berakhir. Semua tidak lagi sama...      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD