Part 14 - Holiday

2582 Words
Egar mengangkat alis tinggi-tinggi. Tangan yang dia lipat di depan d**a dia urai lalu dia lesakkan ke saku celana. Matanya masih belum lepas dari ketiga orang di hadapannya. Fiandra, Fier dan Rafan. “Apa aku tidak salah dengar?” tanya Egar sangsi. Tak ada satupun yang mau menjawab pertanyaan retoris itu. Termasuk Fianer yang berdiri di sampingnya dengan senyum yang terkembang sejak tadi. Tak ada yang bisa dia lakukan untuk meluapkan kebahagiaan yang sedang dia rasakan sekarang. Sejak dia menangis di depan Fier dan Rafan, kedua laki-laki itu memang berubah banyak padanya. Dan sekarang ... mereka mengatakan akan membantu Egar meluluhkan hati Ayahnya. Itu adalah hal yang sangat luar biasa. “Kalau kamu punya rencana, kami akan membantunya.” kata Fiandra kemudian. Egar tak lantas menjawab. Dia menoleh pada Fianer. Mata Fianer menyorot lembut, mengangguk. Ini adalah kesempatan terbaik yang mereka punya. Jika Fier dan Rafan masuk, maka peluang mereka untuk mendapatkan restu Erfan terbuka lebar-lebar. Tak ada alasan bagi Egar untuk menolak ini. Egar tersenyum tipis. Kalau dia ingin menang, dia harus memanfaatkan kesempatan ini dengan cerdik. Sebenarnya, dia tak mempunyai rencana. Tapi dia mempunyai satu permintaan yang memungkinkan membuka jalan. “Aku ingin punya banyak kesempatan bertemu dengan Om Erfan.” kata Egar langsung pada pokoknya. Keempat orang di sekitarnya mengerutkan dahi mendengar itu. Cara paling jitu membuat seseorang menyukai adalah dengan mengenalnya. Ini adalah rencana paling masuk akal yang dia punya. Fiandra, Fianer, Fier dan Rafan saling menatap bergantian. Sedangkan Egar menunggu salah satu dari mereka berbicara. “Makan malam dirumah?” tawar Fiandra. Rafan menggeleng. “Tidak akan membawa banyak perubahan.” katanya. “Benar. Waktunya terlalu singkat. Dan juga tak banyak yang bisa Egar lakukan selain makan dan menjaga sikap.” Fianer menoleh pada Egar. Laki-laki itu hanya diam, seakan menunggu seseorang mencetuskan apa yanga ada di kepalanya. Berharap pancingannya termakan seseorang. “Apa mungkin kita bisa mengusahakan liburan bersama?” tanya Fianer, tatapannya masih tertuju pada Egar. Laki-laki itu menoleh dan akhirnya tersenyum, seolah gayung bersambut. Keinginan Egar tercetus juga akhirnya. Kini, dia menatap Fier, Rafan dan Fiandra. Meminta pendapat mereka. Pada kenyataannya, ketiga orang itu tak terlalu terkejut dengan ide itu. Bahkan itu ide yang paling bagus saat ini. “Kita selalu kesulitan untuk menyamakan waktu.” Fiandra mengingatkan. Hari libur Fier berbeda dengan hari libur Fiandra dan juga Fianer. Begitu juga dengan Rafan. “Saya hanya minta waktu dua hari satu malam.” kata Egar. “Kita bisa mengambil weekend.” Fier mengangkat satu alisnya dan menyenderkan punggung ke sofa. Kalau hanya mengorbankan weekend itu bukanlah perkara sulit untuknya. `Fiandra dan Fianer yang pastinya kesulitan. Bundanya tak selalu bisa libur saat weekend. Sedangkan Fianer, lebih sulit lagi karena dia sedang koas saat ini. Dia harus stand by setiap saat jika dibutuhkan. Sadar akan hal itu, Fianer langsung memejamkan mata. peringatan dari dokter Hartono sangat jelas kemarin. Sekali saja dia melanggar, habislah dia. “Bunda masih bisa atur jadwal. Nanti Bunda koordinasikan ke rumah sakit.” katanya. “Masalahnya ... aku tidak bisa.” keluh Fianer. Egar menoleh pertama kali. “Kenapa?” “Weekend aku punya tugas jaga.” bisiknya. Egar tak akan membiarkan itu terjadi. Dia selalu mempunyai cara untuk menyelesaikan satu gangguan. Dengan tenang, dia bertanya. “Pada siapa aku harus meminta ijin nanti?” tanyanya. Fianer cepat-cepat menggeleng. “Jangan. Dokter Hartono akan marah jika kamu meminta ijin untukku.” “Dokter Hartono.” Satu nama itu tersimpan sudah di ingatan Egar. Fianer melotot. Memperingatkan. Tapi sepertinya Egar tak menanggapi. “Bunda saja yang bicara pada dokter Hartono.” kata Fiandra. “Kebetulan Bunda mengenalnya.” Senyum Egar dan Fianer mengembang senang. “Oke, problem solved. Sekarang kita harus menentukan waktu dan tempatnya.” kata Fier kemudian. --- Rencana berjalan dengan sangat rapi. Fokus target tersamarkan sudah. Fier yang menjadi pemeran utama dalam rencana ini, bukan Egar. Karena liburan ini dikatakan sebagai upaya Fier untuk melamar Lilian. Tak ada yang tahu maksud sebenarnya dari liburan ini selain Egar, Fianer, Fiandra, Fier, dan Rafan. Saat sedang mematangkan rencana di ruang keluarga, Fier selalu mengerutkan dahi dan merenung. Namun Erfan berkata, “Tidak perlu gugup.” Fier tersenyum tipis. Fiandra yang memang duduk di samping Erfan memeluk lengan suaminya mesra. “Wajar kalau gugup. Besok adalah hari penting untuknya.” katanya. Ikut masuk dalam sandiwara. Rafan diam-diam mengulum senyum di dapur. Tapi tak berkomentar apapun selain mengambil minum dan kembali berkumpul bersama keluarganya. “Diya minta ikut. Boleh kan?” tanya Rafan. Fier mengangguk. “Akan mencurigakan kalau Lilian aku ajak berlibur tapi Diya tak ikut.” kata Fier. Rafan mengangguk. “Ann bisa ikut?” tanya Erfan tiba-tiba. Fiandra dapat menangkap nada pengharapan yang terbungkus rapi di sana. Dikatakan sambil lalu seolah itu bukan pertanyaan penting. Namun Fiandra tahu, Erfan sangat berharap Fianer ikut serta. Fiandra mengusap lengan suaminya lembut. “Awalnya tidak. Dia mendapat tugas jaga besok. Tapi aku sudah bicara pada Residennya kemarin. Dan dia memberikan ijin.” Erfan mengangguk-angguk, tapi tak berkomentar apapun lagi. “Dia pasti mengajak Egar.” kata Rafan. Fier menghela nafas. “Hm, apa boleh buat.” jawabnya. Nada enggan itu membuat Erfan ikut terdiam. Fiandra, Fier dan Rafan diam-diam tersenyum karena Erfan tak bisa mengatakan apa-apa. --- Menjelang sore, mereka baru berangkat ke salah satu villa Erfan yang letaknya di Cisarua puncak Bogor. Mereka hanya memakai 2 mobil. Satu mobil Alphard milik Erfan dan satu jaguar milik Egar. Mereka melakukan pengaturan hingga akhirnya Erfan, Fiandra, Fianer dan Egar bersama-sama naik mobil Jaguar Egar. sedangkan Fier, Rafan, Diya dan Lilian bersama dalam satu mobil Alphard Erfan. Lagi-lagi Erfan tak bisa mengatakan apapun saat pengaturan ini berlangsung. Namun dia menolak duduk di depan dan memilih duduk di belakang bersama Fiandra. “Kenapa Ayah duduk di belakang?” tanya Fianer. “Menemani bundamu.” jawabnya. Fiandra mengulum senyum. Tak bisa mengatakan apapun saat suaminya duduk di sampingnya. Fianer agak kecewa, namun Egar menepuk bahunya lembut, Menenangkan. Meyakinkannya bahwa hal itu tak akan mengurangi kesempatannya untuk dekat dengan Erfan. Fianer tak punya pilihan lain selain mengangguk. Dia harus mempercayakan semuanya pada Egar. Perjalanan kurang lebih memakan waktu satu jam. Dan dalam satu jam itu, Egar diharuskan memanfaatkan dengan baik. Semuanya sudah mendukung, kesempatan sudah tercipta, tinggal bagaimana Egar mengeksekusinya. Egar jauh lebih tenang dari pada Fianer di dalam mobil. Dia melajukan mobil dengan halus dan penuh perhitungan. Hingga membuat orang yang ikut mobilnya merasa aman dan nyaman. Sepanjang perjalanan, Egar tak banyak bicara begitupun dengan Erfan. Mereka cenderung diam. Hanya menjawab jika sesekali di tanya Fianer atau Fiandra. Saat jalanan mulai sampai di sektor pertanian, Egar membuka jendela dan mematikan AC. Angin segar menerpa wajahnya. “Gar, itu edelweis bukan?” tanya Fianer dengan mata berbinar. Egar menoleh ke tempat yang di tunjuk Fianer. Ada hamparan bunga bertangkai panjang dan bunga putih kecil-kecil. “Mungkin.” kata Egar. “Gar, aku mau.” pintanya. Egar tercengang. “Nggak usah macem-macem lah.” “Ayolah, aku ingin punya satu.” “Itu perkebunan punya orang.” elaknya. “Kalau gitu minta ijin sama orangnya.” Permintaan Fianer ini membuat Egar menghela nafas panjang. Namun akhirnya menghentikan mobil juga. “Ini bener mau minta bunga itu?” Fiandra ikut heran. “Hanya sebentar.” kata Egar. Fianer tersenyum saat Egar membuka pintu mobil dan berlari ke perkebunan itu. Rasanya senang sekali hingga bibirnya tak berhenti tersenyum. “Kamu ini,” Fiandra menegur. Namun tak melanjutkannya karena senyum putrinya mengembang bahagia. “Kalau kamu ngidam sesuatu, Bunda yakin pasti dia bakal turutin semuanya.” goda Fiandra. Wajah Fianer memerah. Namun saat menatap Ayahnya, merah itu memudar digantikan senyuman lebar. “Dia akan melakukan apapun untuk Ann, Yah.” Erfan terlihat tak begitu terkesan. “Pasti ada limitnya.” katanya tenang. Dan Fianer tak bisa lebih menghela nafas lagi. Memang benar, akan ada limit dari sebuah permintaan untuk dikabulkan. Karena ada saat di mana seseorang tak bisa memenuhi satu permintaan selanjutnya. Pikiran Fianer teralih saat Egar kembali dengan tangan kosong. Egar masuk dan menutup pintu mobilnya. “Itu bukan Edelweis, tapi bunga wortel.” kata Egar. Mulut Fianer terbuka. Dia melihat bunga wortel itu dan merengut kecewa. “Aku pikir Edelweis.” “Nanti beli kalau ada yang jual.” hibur Egar. “Aku ingin kamu petik, bukan kamu beli.” Apa bedanya? runtuk Egar. Tapi dia tak mengatakannya. “Mana aku tahu bunga itu ada di mana.” “Di gunung lah.” “Kurang kerjaan sekali aku panjat gunung hanya untuk petik bunga.” Fianer melirik Egar segit. Meruntukinya kenapa dia tidak bisa berbohong sedikit! Tidak bisakah dia lebih manis di depan Ayahnya? Paling tidak dia mengiyakan saja untuk menunjukkan bahwa Egar rela melakukan apapun untuknya. Erfan tersenyum dengan pikiran realistis Egar. Melihat senyum Ayahnya, Fianer mendengus. Sekarang Fianer menjadi malu. Dia tadi mengatakan bahwa Egar mau melakukan apapun untuknya. Ternyata Ayahnya benar. Ada limit permintaan yang pastinya tidak bisa dikabulkan. Hell, No! Tanpa dosa, Egar melajukan mobilnya lagi. Kali ini dia menggunakan kecepatan tinggi karena mobilnya sudah tertinggal mobil Fier sangat jauh. “Tidak perlu mengejar. Ada kami yang hafal jalan.” tegur Erfan yang mulai tak nyaman. Untuk kata-kata itu, Egar akhirnya tersenyum puas mendengar pancingannya termakan. Dia memang sudah kebingungan sejak tadi untuk mencari cara agar Erfan mau bicapa padanya. Egar akhirnya menurunkan kecepatan. “Maaf Om, saya pikir Om suka kecepatan tinggi.” Mata Erfan langsung menyipit mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang sedikit kurang ajar. Fianer mendelik tanpa kentara. Tapi Egar mengabaikannya. “Aku tidak keberatan kalau hanya ada kita berdua. Tapi kamu membawa istri dan putriku ikut serta. Pastikan kamu memikirkan keamanan mereka sebelum kepentingan lain.” Fiandra dan Fianer memalingkan wajah sambil mengulum senyum. Egar baru saja dibuka matanya oleh Erfan betapa protektifnya Erfan pada keluarganya. Bahwa keselamatan keluarganya adalah prioritas utamanya. Egar diam saja. Dia melirik Fianer yang mengangkat satu alisnya tinggi dengan sikap menantang. --- Hari sudah masuk malam saat rombongan sampai di Villa. Gerbang tinggi dibuka oleh penjaga villa dan mobil Egar masuk ke dalam. Terparkir di samping mobil Fier yang sudah ada di halaman samping teras. Nuansa puncak sudah terasa saat mereka turun dari mobil. Dingin yang sejuk membuat kulit yang t*******g sedikit meremang. Egar menyapukan matanya ke halaman dan tak berkomentar apapun. Halamannya sangat luas. Tak begitu terlihat karena gelap. Penerangan yang remang hanya mengakomodasi cahaya dari jalan setapak ke gerbang. Tapi selebihnya hanya pemandangan dengan cahaya terbatas. “Ayo,” Fianer mengajak Egar masuk. Fianer mendengus saat melihat Ayah dan abangnya di teras. Mungkin ide liburan bersama ini adalah ide terburuk yang pernah ada. Melihat pemanasan aksi Egar di mobil tadi, Fianer sangsi Ayahnya akan menyukai Egar jika semakin mengenalnya. Entah kenapa, Fianer mempunyai firasat, semakin ayahnya mengenal Egar, ayahnya justru makin tidak suka. Agak kesal juga, Egar tak bisa berbohong atau sedikit m******t. Dia terlalu lurus dan apa adanya. Saat berpapasan dengan Erfan dan Fier, keduanya berhenti. Fianer tersenyum muram pada Abangnya, sebagai kode kalau tak ada kemajuan berarti dalam pendekatan Egar dan Ayah. Lalu ide itu datang begitu saja. Fianer menoleh pada Fier. “Bang, Ann ingin cerita sesuatu.” katanya. Fianer memeluk lengan abangnya manja. “Cerita apa?” Dan setelah itu, Fianer dan Fier masuk ke dalam. Fianer bercerita panjang lebar tentang rumah sakit dan beberapa pasien yang dia tangani. Lalu masuk ke dalam. Meninggalkan Erfan dan Egar berdua di luar. Sadar bahwa mereka hanya berdua, Erfan langsung bergerak, namun Egar memanggilnya. Dia tahu Fianer sudah menciptakan kesempatan untuk Egar berdua Erfan, dan dia tak akan menyia-nyiakannya. Erfan berhenti setelah di panggil Egar. Tak benar-benar berbalik, hanya menoleh sedikit. Tapi itu cukup untuk Egar bisa menatap mata Erfan dengan tenang. “Tidak adil rasanya kalau Om terus mengingat keburukan saya di masa lalu.” Erfan kini berbalik sepenuhnya dan menatap Egar dengan tenang, namun tajam. Tapi Egar tak gentar sama sekali. “Bisakah Om melihat saya yang sekarang? Karena saya yang sekarang sudah berubah. Saya bukan Egar yang dulu lagi.” Erfan menatapnya sangsi. Namun tak mengatakan apa-apa. --- Malam ini, mereka barbeque. Beberapa api unggun dibuat dan mereka duduk melingkar. Beberapa memanggang dan beberapa menghangatkan tubuh dengan api unggun di patio belakang. Udara luar sangat dingin. Fianer membungkus tubuhnya dengan syal dan jaket. Tapi Egar menyuruhnya memakai selimut. Walaupun enggan, Fianer menerimanya. “Kita di Villa, bukan di kutub utara.” bisik Fianer sebal. Keluarganya sudah berkumpul di sekitar perapian. Dia tak mau suaranya terdengar oleh orang lain. Egar tersenyum santai. Dia duduk di samping Fianer, di kursi batu. Sedangkan Fianer sudah bergeser agar bisa dipeluk Egar dari belakang. Laki-laki itu memeluk Fianer dengan sesekali menyesap kopinya. Fianer menangkup mug Egar juga dan membawanya ke bibirnya. Menyesapnya sedikit dan Egar tak keberatan sama sekali. Senyum Fianer tak pernah putus. Dia merasa bahwa ini adalah saat teraman di hidupnya. Merasa begitu lengkap. Dikelilingi oleh orang yang menyayanginya, dijaga oleh laki-laki yang dia cinta. Dan ingatan itu muncul ke permukaan perlahan. Ingatan tentang perapian, keluarganya dan Egar. Dulu ... saat berlibur ke Jerman ke tempat Opa, dia berkumpul di depan perapian dengan keluarganya. Dia membayangkan ada Egar di sampingnya, dia bermimpi bisa bersandar dengan tenang. Seperti ini. “Nyaman?” lirih Egar. Senyum Fianer mengembang, dia mengangguk. Bagaimana dia tak merasa nyaman jika Egar memastikan itu. Pelukan Egar mengerat. Membuatnya bisa tidur di sana kapan saja. “Ann ... “ “Hm?” “Aku ke sana sebentar.” Fianer keberatan. Karena dia tak ingin mengakhiri moment manis ini. Namun saat Egar menunjuk Ayahnya, perlahan Fianer melepaskan diri. Dia membiarkan Egar menjauh dan berjalan menghampiri Ayahnya yang sedang mempersiapkan api seorang diri. Senyum Fianer tipis. Berdoa semoga semuanya bisa berakhir baik. --- Bara api dari arang akhirnya menyala. Erfan tetap mempertahankannya dengan kipas angin di samping bara. Tiba-tiba saja seseorang ada di sampingnya lalu memasukkan beberapa arang di sana. Sejak awal kedatangan, Erfan tahu itu Egar. Maka dari itu dia tidak menoleh. “Om ...” Egar mengawali pembicaraan. “Saya bantu.” Erfan membiarkan Egar membantunya. Egar diam saja, tanpa mengatakan apapun. Kesempatan yang dia punya tak dipakai dengan begitu berlebihan. Dia cenderung mengimbangi diamnya Erfan. Berkomunikasi senatural mungkin. Memang sedikit pembicaraan, tapi itulah Egar. Dari sana dia bisa mendengar suara tawa dan celoteh dari patio. Saat menoleh, dia bisa melihat Fianer dan Lilian sedang tertawa bersama. Erfan juga memperhatikan. Tapi dia tak mengatakan apapun. Mereka hanya bekerja bersama untuk memanggang daging yang sudah ditusuk rapi. Egar tersenyum saat menyadari dia bekerja bersama Erfan. Sesekali dia melirik dan tersenyum padanya. Seperti mimpi, rasanya ini pun dia sudah senang sekali. --- Malam itu, Erfan memanggang daging itu berdua Egar. Anak itu hanya diam di sampingnya. Tak seperti dugaannya. Dia pikir Egar akan m******t, akan membuatnya terkesan, atau akan menyombongkan diri tentang sesuatu seperti biasanya. Namun anak itu hanya diam di sampingnya. Dia tahu bahwa keluarganya bersekongkol dalam rencana ini. Beberapa keadaan tak mengenakkan yang datang untuk menciptakan kesempatan dia hanya berdua Egar membuatnya mau tak mau curiga. Seperti juga Egar, Fianer, Fiandra, Fier dan Rafan yang merencanakan ini semua, diam-diam Erfan pun sudah punya rencana tersendiri. Erfan tersenyum. Dia tak suka dipermainkan. Mereka sudah lama mempermainkannya dalam ketidaktahuan. Kini, dia ingin mengambil kendali kembali. Saat malam semakin larut, seorang tamu datang dan pastinya membuat semua orang terkejut. Dan saat Erfan menoleh pada Egar, senyumnya berubah sinis. Anak itu menyipit tajam memandang tamu mereka. Jelas sekali tergambar ketidaksukaan di wajahnya. “Kamu tadi bilang kalau kamu yang sekarang bukan kamu yang dulu lagi bukan? Kita buktikan, apa benar kamu sudah berubah.” Kata-kata Erfan diucapkan dengan santai. Namun Egar menoleh serta merta dengan kekagetan luar biasa.        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD