Malam ini, Egar mengajak Fianer makan malam di luar. Egar hanya menyuruhnya memakai gaun semi formal dan berdandan cantik. Fianer menebak, Egar akan mengajaknya candle light dinner.
Makan malam romantis entah di mana. Fianer tak peduli. Bahkan walaupun Egar mengajaknya ke hutan belantara ataupun ke kolong jembatan Fianer tetap menginginkannya.
Matanya yang bengkak hanya bisa diselamatkan oleh riasan tebal di mata untuk menutupinya. Meskipun begitu Fianer memilih warna paling minimalis agar tetap terlihat natural.
Jujur saja, Fianer tak begitu suka memakai make up, tapi Fiandra pernah mengatakan bahwa tangan Fianer ahli menonjolkan bagian-bagian wajah lewat sapuan make up agar terlihat lebih cantik.
Gaun yang Fianer pilih adalah gaun malam warna putih. Bentuknya jatuh. Seksi namun tetap simple. Tetap terkesan anggun karena bagian d**a dan leher yang tertutup sedangkan bagian tangan terbuka.
Fianer menggerai rambutnya dan membuat ujungnya ikal. Dia menjepit rambut di belakang telinga kirinya. Selesai.
Jam 7 tepat, bel apartemen Fianer berbunyi. Fianer tahu dia masih kecewa dengan keputusan Egar. Tapi Fianer ingin menikmati tiap detik bersamanya.
---
Egar menutup pintu mobil dengan tenang. Dia tidak sendiri. Kedua anak buahnya juga keluar dari mobil yang sama. Hitam, kekar, dan tinggi besar. Menakutkan.
Keduanya berjalan di belakang Egar, layaknya seorang bodyguard yang siap siaga melindungi bosnya. Semua yang melihat pasti akan berjingkat ketakutan.
Tapi Egar tidak peduli dengan mereka. Karena fokus pandangannya adalah security apartemen Fianer yang terus menatap mobilnya sejak awal kedatangan.
Sesaat setelah Egar tatap, security itu salah tingkah dan menatap ke manapun dan kini dia sedang sibuk entah melakukan apa dengan radio panggilnya.
Egar tak mau mengambil resiko.
Dia menghampiri security itu. Masih bersikap profesional, security itu tersenyum pada Egar, tapi Egar tak membalasnya sama sekali. Tatapan Egar cenderung dingin, jauh lebih menakutkan dari pada orang-orang dibelakangnya.
Egar dan kedua anak buahnya, berdiri tepat di depannya. Menatapnya tajam-tajam hingga Security itu ketakutan.
Sengaja, karena memang itulah yang Egar cari. Dengan menatap security itu lurus-lurus, Egar bisa menggali rasa takut korban dan bisa mengendalikannya.
“Ada apa Pak?” tanyanya mulai terdengar tak yakin. Sesekali dia melirik orang di belakang Egar yang hitam kekar menyeramkan.
“Awasi dia.” kata Egar dingin pada kedua pengawalnya. “Kalau sampai dia telpon seseorang atau terlihat mencurigakan, bunuh saja.”
“Siap Bos.”
Security di hadapannya terkejut. Tapi Egar sedang tak ingin menjelaskan apapun. Karena itu, dia langsung melanjutkan langkahnya.
Malam ini dia tak ingin di ganggu. Dia sudah mempersiapkan rencana untuk Fianer untuk malam ini. Mungkin dia akan melanggar puluhan peraturan dari keluarga wanita itu. Termasuk jam malam.
Dia menginginkan malam ini sempurna. Dia juga menginginkan namanya di depan Erfan tak lebih buruk lagi. Dia menginginkan keduanya. Jadi, jalan satu-satunya adalah dia harus mengamankan security itu. Dengan begini, dia tak perlu was-was security itu akan lapor ke Rafan.
Egar masuk ke lift, dan saat lift membawanya naik, dia merenung memikirkan keputusannya tadi. Keputusan untuk tak menikah sebelum dia benar-benar bisa membuat Erfan menyukainya.
Keputusan atas dasar emosi, tapi tak dapat dia tarik kembali.
Egar tak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia memang sangat marah. Tapi bagaimanapun juga, keputusan kemarin adalah keputusan paling tepat. Dia yakin, usaha sekeras apapun nanti ... akan sepadan dengan hasilnya.
Berat, tapi ini adalah hal yang paling benar yang bisa dia lakukan. Dia harus berusaha keras membuat Erfan menyukainya. Baru dia bisa memiliki Fianer dengan tenang.
Lift berdenting dan terbuka. Egar melangkah dengan cepat. Saat sampai di depan apartemen wanita itu, Egar memencet bel.
Tak sampai satu menit, pintu terbuka dan Egar langsung tertegun di tempat.
Wanita di hadapannya luar biasa cantiknya. Rambutnya tergerai indah, tubuhnya tinggi, ramping, dan gaun itu tampak pas membalut tubuhnya.
Egar tersenyum. Dia menangkup sebelah rahang Fianer, lalu perlahan mencium pipinya. Ciuman singkat ini membuat Fianer tersenyum.
Pipi itu mengembang saat Egar melepaskan ciumannya di sana. Melihatnya tersenyum, d**a Egar berdesir pelan. Tidak ada satu hal pun yang lebih cantik dari ini.
“Ayo,” ajak Egar. Setelah memastikan pintu terkunci, Fianer memeluk lengan Egar dan mereka melangkah bersama.
“Kita mau kemana?” tanya Fianer.
“Nanti juga tahu.”
Saat sampai di lobi, Egar sudah tak melihat security itu lagi. Semoga tak ada yang sadar karena dia hanya ingin menahannya semalam saja.
Tak lama, mereka sampai di mobil Egar. Setelah bunyi bip-bip terdengar, mereka berdua masuk.
Mobil meluncur pelan. AC menyala dan Egar tahu kalau gaun Fianer yang agak terbuka itu tak akan bisa mengcover tubuh itu agar tetap hangat. Maka dari itu Egar berinisiatif mengambil tangan Fianer dan menggenggamnya.
Satu sentuhan, tak akan pernah bisa membuat Fianer terbiasa. Entah kenapa, setiap kali sentuhan kecil selalu membuat Fianer merasa ini adalah sentuhan pertama mereka. Ini hanya genggaman tangan. Namun kehangatan dan kenyamanan yang dia rasakan sama kadarnya seperti mendapatkan sebuah pelukan.
“Katakan padaku, kamu sudah punya rencana bagus kan?” tanya Fianer serius.
“Belum.”
Fianer mendengus kecewa. Dia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Egar.
“Maaf,” sesal Egar. “Aku memang tak punya rencana agar Om Erfan menyukaiku. Tapi aku punya rencana agar kamu tidak tidur sendiri malam ini.”
Seketika Fianer menoleh. “Maksudnya?”
Egar tak menjawabnya. Tidak, sampai Fianer tahu dengan sendirinya.
---
Mata Fianer berbinar saat menyadari jalan yang Egar lalui. Egar memang tak mengatakan apapun. Sedari tadi masih kuekuh tak mengatakan tujuan mereka. Namun, Fianer tahu sekarang jalan ini akan berujung ke mana.
Bibirnya dia gigit gugup. Saat menoleh menatap Egar, laki-laki itu hanya tersenyum tipis.
“Om dan tante tahu aku datang?” tanyanya.
“Tahu. Mereka yang minta aku membawamu ke rumah.”
Senyum Fianer makin lebar. “Kamu cerita apa saja?”
“Tidak banyak.” jawabnya. “Hanya memberitahu aku telah melamarmu dan kamu memintaku untuk membuat Om Erfan menyukaiku.”
Mata Fianer melebar. “Itu namanya kamu cerita semuanya!” katanya dongkol. Tapi Egar hanya terkekeh.
Mobil sampai di depan gerbang mewah dan tinggi. Masih sama seperti tujuh tahun lalu. Hanya dengan klakson dua kali, pintu gerbang terbuka. Dan mobil meluncur melewati jalan aspal yang membawanya masuk ke sebuah rumah mewah di depan sana.
Mata Fianer menyapu seluruh bangunan rumah yang bisa dia lihat. Hatinya berdebar bisa ke tempat ini lagi. Senyumnya masih terkembang lebar saat Egar membukakan pintu mobil untuknya. Matanya masih menatap ke rumah itu saat tangannya menyambut uluran tangan Egar yang membantunya turun.
Bahkan saat Egar menggandengnya ke teras, Fianer masih melihat sekeliling rumah itu.
“Kali ini, kamu tidak perlu memakai gergaji mesin untuk masuk.” Egar sudah membuka pintu rumah lebar-lebar untuknya.
Kata-kata Egar menyentak Fianer. Fianer mendengus mendengar ledekan Egar. Ingatannya saat dia teramat marah hingga masuk dengan menggergaji pintu membuatnya malu. Pasti dulu dia terlihat menakutkan sekali. Entah apa yang dipikirkan orang rumah ini tentangnya melihatnya dulu.
Pikiran itu teralihkan karena perhatian Fianer tersita setelah melihat sekeliling ruangan dengan bergumam takjub. Rumah besar yang dulu terasa sangat dingin ini sekarang berubah baik warna wallpaper maupun furniturnya.
Dulu putih bersih sekarang menjadi wallpaper vintage nuansa emas. Terasa hangat.
Fianer belum sempat melihat lebih banyak saat Egar menghentikan langkah dan otomatis langkahnya juga berhenti.
“Ann!!!”
Satu seruan membuat Fianer menoleh kaget. Tapi kekagetan itu berubah keterkejutan saat melihat siapa yang memanggilnya. Mulutnya ternganga bahagia.
“Kak Fourline???” seru Fianer.
Keduanya saling menatap dengan binar bahagia lalu berpelukan. Fianer memeluk Fourline dengan erat. Sudah terlalu lama dia tak melihat Fourline lagi. Wanita ini menghilang tepat saat dia tak bisa melihat Egar.
“Gimana kabar kamu?” tanya Fourline setelah pelukan itu lepas.
“Baik kak. Kakak gimana? Kok kakak bisa di sini? Gimana ceritanya?” tanya Fianer bertubi.
Mulut Fourline terbuka ingin menjawab, namun dengusan Egar membuat Fourline urung bicara.
“Kemarin reaksimu tak seheboh ini setelah bertemu denganku?” tanya Egar sinis.
Fianer tertawa. Bagaimana bisa? Dia nyaris tak bisa bernafas karena bahagia. Tapi bahkan kebahagiaan itu sulit sekali untuk diekspresikan.
“Apa kabar?”
Pertanyaan itu datang dari arah lain. Dan saat Fianer menoleh, air matanya sudah nyaris merembes keluar. Rudolf.
Di depannya, dia bisa melihat Rudolf yang makin menua tapi raut wajahnya terlihat berbeda, lebih bahagia.
Dia berdiri memakai setelan jas rapi. Menatap Fianer tenang. Perseturuan mereka, adalah hal terakhir yang Fianer ingat. Saat-saat di mana laki-laki ini hampir membunuhnya. Hampir, karena Fianer berhasil selamat walaupun harus patah kaki dan dirawat selama 3 bulan penuh di rumah sakit.
Dulu mereka musuh, tapi pada akhirnya mereka bekerja sama untuk membuat Egar sadar. Tak berhasil sepenuhnya, tapi sejak saat itu persepsinya tentang Rudolf berubah total.
Fianer pernah dekat dengan laki-laki paruh baya itu, merasakan saat-saat Rudolf terbuka dan menerima kehangatan orang lain. Walaupun sekilas mereka berbaikan, tapi Fianer juga merindukannya.
Tak terasa, matanya berkaca. Fianer melangkah ke arahnya dan langsung memeluk Rudolf.
“Om,” sapanya dengan haru.
“Cengeng,” ejek Rudolf. Fianer tersedak tertawa. Dia juga mengingat bagaimana hebohnya dia menangis meminta Rudolf membantunya menyadarkan Egar. Itu adalah satu-satunya moment dia menangis di depan Rudolf, tapi tangisnya saat itu benar-benar terlihat dramatis.
“Om saja yang dipeluk?” Itu suara baru lagi. Fianer melepaskan pelukan Rudolf dan menoleh ke suara itu. Tante Mariana.
Air mata Fianer makin mengalir. Dia tak mengatakan apapun selain memeluk Mariana dengan erat.
“Tante,” lirihnya. Mariana mengusap punggung Fianer. Entah kenapa, Fianer bisa menangis sesenggukan seperti ini, seakan mengadu. Betapa sedihnya dia selama ini.
Egar hanya bisa menatap tunangan dan Ibunya berpelukan dengan nanar.
“Baik-baik saja kan?” bisiknya. Fianer mengangguk. Hanya mengangguk karena dia tak ingin mengatakan sesuatu yang akan memancing tangisnya pecah. Selama ini dia menyimpan lukanya sendiri. Lega rasanya saat dia bisa meluapkannya dan membaginya.
Fianer melepaskan pelukan itu karena sudah terlalu lama. Dia tersenyum pada Mariana yang merapikan anak rambut Fianer penuh sayang. Hingga ketika mata Fianer menatap seorang anak kecil yang sedari tadi berdiri diam di belakang Fourline.
Awalnya dia bingung, namun seakan ada yang membisikkan padanya, matanya pun melebar takjub.
“Alin ya?” tanyanya.
Alin, anak itu juga ikut melebar matanya. Lebih takjub karena tamu yang sudah menyedot perhatian keluarganya tahu namanya.
Fourline mengangguk singkat pada Fianer sebagai jawaban. d**a Fianer mengembang haru saat menatap gadis kecil itu. Perlahan Fianer mendekat lalu bersimpuh agar matanya sejajar dengan gadis kecil itu.
“Hai,” sapa Fianer ramah dengan senyum yang mengembang menyenangkan.
“Hai juga,” balas Alin. “Kok Tante tahu Alin?” tanyanya.
“Tahu dong. Dulu kan Mama Alin cerita banyak tentang Alin.“ kata Fianer.
Egar terkejut dengan informasi itu. Bahkan dia tahu keponakannya bernama Alin saja waktu pertama kali bertemu dengan anak ini. Bagaimana bisa, Fianer tahu lebih dulu?
“Alin juga tahu Tante. Tante kan yang ada di foto Opa.”
Kening Fianer berkerut. Dia tak mengerti dengan apa yang dibicarakan Alin. Namun saat dia menoleh ke arah Egar yang menunduk, Kak Fourline yang salah tingkah dan Rudolf yang tak mau menatapnya ... kecurigaan Fianer terbit. Wanita itu langsung menoleh lagi pada Alin.
“Foto Opa?” tanya Fianer ingin tahu.
Alin mengangguk. “Iya, Opa kemaren ngasih Om Egar fotonya tante banyaaaaaaak sekali.”
Dan seketika, Fianer mengerti. Dia menoleh dengan tatapan tajam pada Rudolf yang hanya menatapnya datar. Tak perlu penjelasan lain karena semuanya sudah jelas. Rudolf memata-matainya. Dan Egar turut serta!
“Oooo,” suara Fianer mengalun berbahaya. Membuat Egar mengerutkan dahi dan Rudolf berdehem. Sedangkan Fourline dan Mariana hanya tersenyum.
“Ayo, kita mulai saja makan malamnya.” Mariana mengalihkan suasana. Fourline setuju lalu membawa Alin masuk ke dalam.
Sedangkan Fianer menegakkan tubuhnya, setelah itu menoleh pada Rudolf dengan mata menyipit. Mau tak mau Rudolf berdehem lagi.
“Kalian berdua sudah berapa lama memata-mataiku?” tanya Fianer menyelidik.
Egar menatap Ayahnya yang juga menoleh padanya. Keduanya sepakat untuk berkonspirasi. Tapi sepertinya menyerah saat mata Fianer bergerak curiga. Tak ada yang bicara karena mereka terus sibuk memandang ke arah lain, tak mau menjelaskan.
“Tak ada yang mau bicara?” tanya Fianer makin berbahaya.
“Ayah yang melakukannya.” Egar menuding tak mau disalahkan.
Rudolf mengernyit tidak terima. “Egar yang menyuruh.” tuding Rudolf balik. Tuduhan itu membuat Egar terbelalak.
“Aku tidak tahu apa-apa sampai Ayah memberikan semua foto itu padaku.” Laki-laki itu membela diri.
“Tapi wajah depresimu yang menyuruh Ayah melakukan itu.” Rudolf berkata galak.
Gaya mereka bicara nyaris sama. Hingga membuat Fianer tersenyum dan kesulitan menahan tawa. “Dasar.” dengusnya.
Dia tak bisa mengeluh mempunyai calon ayah mertua mantan mafia. Fianer melingkarkan kedua tangannya ke lengan kedua laki-laki itu. “Kalau kalian melakukan ini lagi, habislah kalian!” ancamnya. “Ayo makan.” ajaknya.
Fianer bisa melihat dari sudut mata bahwa kedua laki-laki itu tersenyum. Dan itu membuatnya tersenyum juga.
---
Alin tertawa dan bercerita banyak hal pada Fianer. Sambil makan, Fianer menyimak cerita Alin.
“Tante tahu sekretarisnya Om? Itu lho yang seksi banget?” tanyanya.
Fianer mendengus. Fianer pernah bertemu dengan Paula kemarin saat ke kantor Egar. Dia melirik Egar yang berdehem kecil. Awas saja nanti kalau dia macam-macam.
“Alin nggak suka sama dia. Habis genit sih gayanya.”
“Hm ...” gumam Fianer. Kini Fianer benar-benar menatap Egar dengan mata menyipit curiga. Ya, masalah parfum di jas itu kalau mau diperpanjang masih bisa. Dulu laki-laki ini setuju untuk memecatnya. Tapi belum direalisasikan sampai sekarang.
“Apa?” tanya Egar tanpa rasa bersalah. ”Aku dan dia profesional. Tidak ada hubungan lain selain hubungan kerja.” elaknya.
Fianer mendengus. “Kalau dari mata anak kecil saja sudah jadi masalah, berarti memang ada yang salah.”
Egar terdiam menatap Fianer. Fianer balas menatapnya dengan berani.
“Sudahlah.” Fourline menengahi. Dia menoleh pada putrinya. “Alin juga, jangan jadi provokator.”
Alin mengernyit bingung. “Protaktor itu apa Ma?” tanyanya.
Dan seketika, ketegangan itu mencair sudah dengan tawa. Semuanya menoleh pada Alin dan tersenyum lebar.
“Provokator, sayang.” Fourline berpikir, memilih padanan kata yang tepat untuk kata itu. Mencari arti yang lebih sederhana.
“Provokator itu membuat orang jadi marah sama orang lain.” jelas Fourline. “Tuh lihat, Tante jadi marah sama Om kan karena kamu.”
Alin menoleh pada Fianer dan Egar bergantian dengan mata menyorot bersalah. Lalu mata itu berhenti pada Fianer. “Tante marah ya sama Om?” tanyanya.
Pertanyaan itu sangat polos sepolos pemiliknya. Fianer tak bisa tidak tersenyum mendengarnya. Dia lalu menggeleng. “Tante nggak pernah bisa marah sama Om.” katanya.
Egar tertegun. Dia menatap Fianer yang tak pernah menatapnya karena telalu sibuk dengan Alin. Namun jawaban itu membut Egar teremas. Benar ... wanita ini tak pernah bisa marah dalam jangka waktu lama padanya. Hanya sebentar ... sebesar apapun kesalahannya.
“Kenapa?” tanya Alin lagi.
Kini Fianer kebingungan sendiri menjawabannya. Dia sendiri pun tak tahu mengapa dia begitu lunak menghadapi Egar. Alasannya sangat kompleks. Banyak yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Entah bagaimana menjelaskan pada anak kecil ini.
“Karenaaa ... Om selalu bisa bikin Tante senyum lagi.” jawabnya sederhana.
Alin tersenyum lebar. ”Oh, gitu.”
Setelah itu Alin mengangguk mengerti. Membuat Fianer menghela nafas lega karena jawabannya tak membuat Alin bertanya lagi. Fianer tersenyum. Tapi senyum itu memudar saat menatap Egar.
Laki-laki itu juga sedang menatapnya. Lekat, intens, fokus. Jantung Fianer berdebar, karena dalam mata itu ada sesuatu yang membuatnya berdesir. Tatapan itu entah berarti apa, namun saat Fianer tak sanggup mengendalikan reaksi tubuhnya sendiri, Fianer memilih menghindar. Menoleh pada Mariana yang tersenyum hangat.
“Jadi, kapan kalian akan menikah?” tanyanya.
“Belum tahu ...” kata Fianer.
“Masih lama ...” kata Egar.
Keduanya menjawab bersamaan. Namun jawaban yang berbeda membuat keduanya menoleh. Fianer menatap Egar kesal.
Masih lama ....
Jawaban itu membuat Fianer tak bisa menahan diri untuk mendengus. Egar tak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Karena kalau Egar tahu, Fianer yakin laki-laki itu tak akan bersikap begitu kerasnya pada hubungan mereka.
Dia tahu Egar akan memegang teguh pendiriannya. Keputusannya. Tapi karena Fianer tak suka, Dia tak akan menurut begitu saja.
Fianer akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Walaupun itu berarti harus berhadapan dengan Egar.
---
Halaman belakang rumah Egar berupa kolam renang berbagai ukuran dan juga taman dengan ayunan rotan berbentuk setengah telur.
Setelah Alin tidur, semua anggota keluarga masuk ke kamar masing-masing. Hingga Egar mengajak Fianer ke taman belakang.
Laki-laki itu duduk di sofa rangka kayu berlapis busa merah di tepi kolam renang. Fianer mengikuti duduk di sampingnya. Terdiam lama menikmati malam yang dingin. Fianer memakai jas Egar yang kebesaran untuk membuatnya hangat. Indera penciumannya mencium aroma ini di mana-mana. Membuatnya rileks.
Egar sendiri sudah rebah di day bed. Terduduk 135 derajat. Kedua tangan terlipat di belakang kepala. Dengan kaki yang tertekuk. Terlihat rileks sekali.
“Alin ... sebenarnya dia dulu ada di mana?” tanya Fianer.
“Bukankah Kak Fourline menceritakan Alin padamu?”
Fianer menggeleng. “Dia hanya bercerita kalau alasan dia bertahan dulu adalah Alin. Alin yang buat dia kuat.” katanya. Fianer menoleh dan tersenyum pada Egar. “Kak Fourline menunjukkan foto Alin padaku. Tapi tidak pernah bercerita keberadaan Alin selama ini. Setiap aku tanya, Kak Fourline selalu menangis. Jadi aku putuskan untuk diam saja.”
“Dia di Perancis. Diambil neneknya.” Fianer mengerutkan dahi.
“Bagaimana kalian bisa mengambilnya?”
Egar tersenyum. “Hm, sedikit cara. Semua bisa diusahakan.”
Mendengar itu Fianer mendengus. Entah cara apa, yang jelas dia tak ingin dengar. Jika Rudolf menginginkan sesuatu, maka cara yang dinggap normal pastilah seram. Jadi lebih baik dia tak tahu.
“Kalau seandainya Kak Fourline jatuh cinta lagi, apa kalian akan mengijinkannya menikah?” tanya Fianer penasaran. Fianer takut Rudolf akan membunuh calon suami Fourline nanti.
“Aku pernah membicarakan ini dengan Kak Fourline. Dan kami sepakat tak akan membahasnya hingga dia bertemu laki-laki itu.” Fianer tersenyum mendengarnya.
Kehidupan laki-laki ini sudah lebih baik. Tertata. Fianer dulu memintanya agar bahagia. Dan laki-laki ini bahagia. Fianer menggigit bibirnya dan mendongak menatap langit. Malam dingin, namun langit tak begitu cerah. Bintang dan bulan tak terlihat sama sekali. Benar-benar gelap.
Dia memutuskan ikut rebah di samping Egar dan tidur di sampingnya. Sama-sama menatap langit. Sama-sama terdiam.
Entah kenapa, satu pertanyaan terlintas dan Fianer ingin sekali menanyakannya. “Pernah kamu berpikir untuk mencoba hubungan baru?”
Egar menghela nafas. “Tidak,”
“Kenapa?”
Tak ada waktu. Egar terlalu sibuk berusaha. Tiap harinya dia selalu ingin pantas di sisi wanita ini. Tak ada ruang untuk keinginan lain.
Egar menoleh. “Kamu pernah coba?” tanyanya.
Fianer sendiri terlalu sibuk dengan perasaannya hingga tak pernah berani mencoba. Tapi dia pun tak ingin mencoba.
“Malas.” jawabnya.
Egar tersenyum tipis. “Bagaimana kalau aku tidak datang? Kamu akan sendiri sampai kapan?”
Fianer tak pernah memikirkannya. Dia mempertahankan kenangan, mengingat setiap saat, hanya karena satu hal. “Kamu sudah berjanji untuk menjemput. Jadi aku menunggu.”
Egar mengernyit, dia menoleh karena tak mengerti. Namun saat dia menatap mata Fianer, dia teringat sesuatu. Mulutnya terbuka. Terkejut.
“Kamu ... kamu membaca ... “
Senyum Fianer dikulum. Dia mengangguk sebelum Egar melanjutkan kata-katanya. Ya, dia membaca pesan Egar di tembok belakang sekolah.
Egar tak sanggup berkata apa-apa. Dia pikir Fianer tak akan pernah tahu. Sambil menelan ludah, Egar memeluk Fianer. Merebahkan kepala Fianer di bahunya.
“Aku baru tahu kalau itu egois sekali.” bisiknya.
Fianer mendongak. Dahinya mengerut. “Kenapa berkata seperti itu?”
Egar menatap langit dan menghela nafas. Pembicaraannya dengan Erfan selalu terngiang di otaknya. Membuat dia tak tahu pembenaran macam apa yang harus dia katakan. Alasan apa yang mengharuskan mereka terpisah enam tahun lamanya. Argumen yang dia punya hanyalah karena dia berusaha untuk menjadi laki-laki yang pantas bagi wanita ini. Namun alasan terkuatnya itu telah terpatahkan begitu saja oleh Erfan.
“Aku baru sadar seberapa egoisnya aku. Demi bisa membuktikan pada ayahmu bahwa aku bukanlah laki-laki lemah, demi membuat ayahmu menyukaiku, aku telah membuat kita berpisah selama enam tahun.” Egar tersenyum lelah. Menyadari kebodohannya. “Apa kamu membenciku?”
Fianer mendongak perlahan. Menatap rahang dan ujung mata yang tetap menatap langit. Air mata Fianer jatuh karena dadanya sesak.
Penyesalan laki-laki ini membuat nyeri tersendiri untuknya. Egar berusaha terlalu keras, berpikir telalu banyak.
“Aku tidak pernah membencimu.” bisik Fianer. “Karena kamu tidak salah. Aku yang memutuskan untuk pergi. Aku yang meninggalkanmu.”
Tubuh Egar menegang. Dia menunduk dan menatap mata Fianer. Lalu Egar kecup dahi Fianer lembut.
Dadanya sesak. Namun yang bisa dia lakukan hanyalah memejamkan mata dan menyatukan dahinya dan dahi wanita itu.
Entah kenapa masa lalu mereka terasa begitu salah. Setelah dirinya dewasa, dia bisa menyadari betapa pikiran labil mereka membuat keadaan begitu sulit dulu.
Andai mereka bisa mengulang waktu, Egar ingin mengulang setiap percakapan, setiap sikapnya pada wanita ini, setiap keputusan yang seharusnya dia ambil. Dia ingin memperbaiki semuanya.
Rasanya sesak menyadari jika enam tahun itu bisa diperbaiki, mungkin tak akan ada sesak dan luka yang teramat sangat. Tak ada kerinduan yang membuat gila. Mungkin mereka akan sangat bahagia. Mungkin juga Erfan sudah menyukainya.
Mungkin. Terlalu banyak kemungkinan moment bahagia yang terlewat begitu saja.
Begitu banyak pengandaian hingga dirinya sesak. Karena waktu tak bisa terulang. Waktu hanya bisa di sesali. Sesal yang tak akan pernah ada penebusnya.
Erfan benar ... jika dirinya tak pergi, mungkin segalanya tak sesulit ini untuk mereka. Erfan benar ... sejauh ini, laki-laki itu benar. Karena itulah Egar tak bisa berhenti kali ini.
“Saat Ayahmu bilang bahwa aku sudah pantas bersamamu, artinya aku memang pantas untukmu.” lirihnya. “Aku menginginkan restunya bukan karena syarat darimu. Tapi karena aku memang mengharapkannya.”
Jantung Fianer teremas. Dia merinding mendengarnya. Rasanya bulu kuduknya meremang.
Egar membuat Ayahnya begitu penting.
Fianer menjauhkan dahinya dan mereka kembali bertatapan. Fianer tak tahan untuk tak menyentuh pipi Egar. mengusapnya di sana.
Keinginan mereka sama dan sama besarnya. Mereka sama-sama mengharapkan restu Erfan. Tapi saat sadar bahwa itu tak pernah mudah, Egar memeluk Fianer erat. Kembali menenangkannya.
“Jangan khawatir. Aku yang akan berusaha. Kamu cukup melihat dari jauh. Berdoa.”
Fianer balas memeluk Egar. Dia mengangguk. Mulai berdoa semoga apapun yang Egar lakukan akan berbuah manis. Berdoa agar Tuhan melunakkan hati ayahnya dan berdoa semua akan bahagia pada akhirnya.
Lama mereka terdiam hingga kesedihan dan rasa sesak menghilang untuk sementara.
Malam makin dingin namun mereka masih bertahan di sana. Egar memeluk wanita ini agar tak kedinginan. Dan Fianer tak keberatan sama sekali dengan kehangatan dari pelukan Egar.
“Tadi kamu bilang punya cara agar aku tidak tidur sendirian.” bisik Fianer.
Egar mengangguk. “Tidur di sini, di kamarku.” pelan Egar.
“Bersamamu?” tanya Fianer kaget.
Di sampingnya, laki-laki itu terkekeh. “Aku di ruang kerja. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.”
Seketika Fianer terduduk. “Lalu sedang apa kita di sini?” tanya Fianer heran. “Ayo, kita ke kamar saja.” ajaknya. Karena Egar tak langsung bergerak, dia pun menarik tangan Egar hingga berdiri. Mereka berjalan ke ruang kerja Egar. “Bawa semua filenya. Kerjakan di kamar.”
Mendengar itu, Egar terkekeh. “Kamarku ada di sebelah. Kamu tinggal memanggilku kalau butuh apa-apa.” katanya menenangkan.
Mata Fianer menyipit. Saat dia menatap mata Egar, dia tekankan kalau dia sedang tak ingin di bantah. “Aku tunggu di kamar.” katanya. Lalu melangkah pergi dari sana.
Kamar Egar memang ada di samping ruang kerja. Tapi akan sama saja kalau Fianer tak bisa melihatnya. Walaupun terpisah sekat tembok sekalipun, rasanya tetap berbeda.
Fianer membuka kamar Egar dan sedikit kaget dengan perubahan suasana di sana. Dia tak melihat kamar nuansa dark itu lagi. Segalanya berubah di sini. Di d******i warna putih yang netral dan hitam untuk tiap polanya. Artistik dan tetap maskulin.
Melihat itu, Fianer tersenyum. Hanya ada satu masalah sekarang. Karena Fianer sama sekali tak diberi tahu akan menginap, dia sama sekali tak punya baju untuk tidur.
Tepat setelah dia selesai berpikir begitu, satu ketukan mengagetkannya. Fianer langsung buka pintu karena tahu itu bukan Egar. Laki-laki itu tak akan ketuk pintu di kamarnya sendiri.
Dan benar, Fourline yang ada di sana. “Kak ...”
“Kakak tahu kamu tidak bawa baju ganti. Ini, pakai baju tidur kakak. Baru beli kemarin, sudah di cuci, tapi belum pernah kakak pakai. Untukmu saja.”
Fianer menatap satu kantung di tangan Fourline. Dia menerima dengan senyum karena Fianer memang membutuhkannya. “Makasih Kak.”
“Oke, have a rest.” katanya. Fianer mengangguk sambil tersenyum. Saat Fourline menjauh dan menghilang, dia menutup pintu kamar. Dengan riang, Fianer membawa kantong itu masuk ke walk ini closet kamar Egar.
Tapi kesenangannya berakhir saat kantong itu dibuka dan hanya ada baju tidur semi transparan yang sangat seksi di sana. Fianer menutup matanya dan menghela nafas.
Baju ini sangat tipis dan tak mungkin juga dia berani memakai baju ini di hadapan Egar. Fianer menyingkirkan jauh-jauh baju itu dan membuka lemari Egar satu persatu. Memilih kaus atau kemeja Egar yang bisa dia pakai.
Tapi saat Fianer hampir menyentuh tumpukan kaus teratas, satu pikiran terlintas di kepalanya. Kalau seandainya Egar lepas kontrol ... kalau seandainya Egar tak bisa menahan diri ... kalau seandainya mereka keluar batas ... laki-laki itu tak akan punya alasan lagi untuk menunda pernikahan, bukan?
Fianer menggigit bibir, masih ragu. Matanya tertancap pada baju tidur tipis yang tergeletak di atas puff hitam di tengah ruangan. Ini gila, tapi Fianer pun tak akan memaafkan dirinya sendiri kalau harus mengikuti permintaan laki-laki itu dan menunggu tanpa ada kepastian.
Karena Fianer tahu, Egar benar-benar bersungguh-sungguh menunggu ayahnya memberikan restu. Dan Fianer begitu khawatir mereka membutuhkan waktu yang sangat lama untuk restu itu.
Fianer menghela nafas lalu terduduk di puff. Berpikir sekali lagi. Namun setelah menimbang dua kali, dia justru tak punya keraguan lagi. Dia mengganti bajunya dengan baju tidur tipis itu.
Saat dia berkaca, ruangan terang itu membuat baju itu lebih tembus pandang. Fianer mengeluh karena lekukan tubuhnya terlihat sangat jelas.
Wajahnya memerah malu. Tapi entah kenapa rasa malu itu tak cukup kuat untuk menghentikan niatnya kali ini. Saat Fianer selesai memeriksa bajunya terpasang dengan tepat, dia keluar.
Egar sudah ada di sana. Sedang menaruh file dan membuka laptopnya, memunggungi ranjang. Laki-laki itu tak menoleh sama sekali, bahkan saat Fianer berjalan ke tempat tidur. Fianer rebah di sana dengan posisi menyamping, matanya tak lepas dari punggung lebar Egar.
Fianer tersenyum. Memandang punggung lebar itu adalah hal yang paling dia suka. Dia bahkan bisa memandang punggung itu berlama-lama hingga berjam-jam.
Entah sampai hitungan keberapa, matanya tak bisa menahan kantuk. Pemandangan terakhir yang dia lihat adalah punggung itu. Dan akhirnya, dia tertidur.
---
Pekerjaan Egar selesai ketika jam sudah menunjukkan jam 2 lebih dini hari. Dia memijat pangkal hidungnya dan meregangkan semua otot leher yang kaku.
Egar membereskan file dan mematikan laptop. Saat Egar berdiri dan berbalik, dia tertegun di sana lama.
Apa-apaan ini?
Dia ... apa yang dia lakukan? Apa yang dia pakai?
Mata Egar terpejam dan beralih ke tempat lain, karena dia tak akan bisa menahan diri lebih jauh jika terus menatap wanita itu di atas tempat tidur dengan baju yang menerawang jelas.
Wanita ini gila kalau berpikir dia bisa menahan diri! Nafas Egar sudah memburu dan jantung menderu. Dia harus mengepalkan tangan untuk meredam segala gairah yang muncul entah dari mana saja. Dia harus pergi sebelum menyesali malam ini.
Cepat, Egar melangkah ke pintu. Dia harus pergi jauh! Tapi saat suara handle terdengar, Fianer terbangun dan menoleh. Jantung Egar mencelos.
“Mau ke mana?” tanyanya setelah terduduk.
“Ke kamar tamu.” jawab Egar dingin.
Wajah Fianer kini berubah sedih. “Tidak bisakah kamu di sini saja? Aku tak bisa tidur kalau kamu tak ada.”
Wajah Egar mengeras. Tidur di sana, dalam satu tempat tidur yang sama, itu tak mungkin! Dia harus cepat pergi. Tapi saat dia menyentuh gagang itu lagi, air mata Fianer menetes. Membuatnya urung. Dan saat dia masih ragu, air mata Fianer makin menderas.
Egar mengerang keras.
Mau tak mau dia berjalan ke tempat tidur dan naik ke sisi wanita itu. Fianer menyembunyikan senyumnya karena bersyukur air matanya berguna sekali kali ini. Dia tidur kembali.
Egar rebah di samping Fianer, menutup mata rapat-rapat. Berusaha tidur cepat. Tapi usahanya gagal total saat tempat tidur mulai bergerak dan ada yang menekan lengannya. Aroma anggrek liar itu tercium jelas. Membuat semua inderanya lebih peka. Sentuhannya lebih terasa.
Egar membuka mata. Saat dia menoleh ke samping, Fianer memang sedang tidur di lengannya. Memunggunginya.
Rambutnya tergerai jatuh ke belakang dan sebagian ke depan. Egar tak bisa menahan diri untuk tak menyibak rambut di depan itu agar terkumpul di belakang. Sentuhan ini tak seberapa, tapi efeknya ... dia nyaris gila.
Karena saat rambutnya tergerai ke belakang semua, leher itu terekspose sempurna. Jenjang, indah. Egar mencoba mengalihkan pandangannya dari leher itu. Namun yang dia lihat adalah bahu Fianer yang bertali. Ada keinginan kuat untuk menurunkan talinya dan melucuti baju yang tak berfungsi sama sekali itu. Tapi dia mengepalkan tangan agar tangan itu tetap diam di tempatnya. Tak merambat lagi ke mana-mana.
Egar makin frustasi saat melihat lekukan pinggul wanita itu. Dia mendesah, menyerah. Akhirnya menarik selimut yang terhampar di kaki tempat tidur, lalu dia menutupi tubuh wanita ini.
“Tidur,” bisiknya serak.
Egar mendengus karena tahu Fianer tersenyum sekarang. Melihat tubuh Fianer tertutup, Egar merasa aman hingga berani memeluk perutnya. Tubuhnya merapat ke punggung Fianer dan hidungnya tepat di belakang kepala Fianer.
Memeluknya, Egar bisa merasakan lapisan tipis kain itu sebelum menyentuh kulitnya. Nyaris seperti Egar menyentuh perutnya langsung. Egar tahu, dengan posisi seintim ini, dengan indera yang bekerja 2 kali lebih tajam, dia tak akan bisa tidur sisa malam ini.
Egar menghela nafas lagi, lalu mencium rambut Fianer sekali. Tangannya menarik diri dari perut wanita ini, lalu naik ke rambut wanita ini. Mengusapnya, agar Fianer cepat tertidur.
Entah kesalahan atau bukan. Tapi Fianer meringkuk makin dekat padanya. Dan Egar menerimanya dengan sepenuh hati. Lengan laki-laki itu dijadikan bantalan namun tangan melintang memeluk bahu Fianer. Sedangkan satu tangannya tetap mengusap rambut Fianer penuh sayang.
Egar tak tahu kapan bisa memiliki wanita ini sepenuhnya. Walaupun sangat ingin, tapi dia lebih ingin membuat wanita ini bahagia dengan benar.
Entah bagaimana caranya, dia ingin keinginan Fianer untuk membuat Erfan menyukainya terkabul. Dan dia berjanji itu tak akan lama.
Fianer hanya akan menunggu sebentar saja. Dan Egar akan menikahinya. Membuat wanita ini jauh lebih bahagia.
Egar tersenyum tipis dan mencium rambut Fianer lagi, kali ini lebih lama. Menghirup dalam-dalam aroma anggrek liar itu. Enam tahun dia merindukannya setengah mati. Dia merindukan wanita ini dengan sangat. Entah kenapa perutnya bergejolak menyadari bahwa wanita yang selalu dia rindukan ada di sini, di tempat tidurnya, di dekapannya.
Nafasnya memburu saat menghirup aroma anggrek liar itu dengan cara yang berbeda. Lebih menikmati dari pada sebelumnya. Kepalanya turun ke belakang telinga Fianer, menyusup perlahan. Dia menciumnya di sana.
Egar mendengar Fianer merintih pelan. Saat itulah dia tahu bahwa keadaan Fianer tak jauh berbeda dengannya dan Egar tahu dia harus menghentikan ini. Tapi entah kenapa dia tak bisa berhenti.
Ciumannya makin bawah hingga sampai di lehernya. Fianer memalingkan wajah hingga leher jenjang itu terbuka. Memberi akses pada Egar untuk menyusuri leher itu dengan bibirnya, tiap sentinya, dia tak ingin berhenti. Dia ekspos leher jenjang itu hingga nafasnya makin memburu.
Tangannya menyentuh tali di bahu Fianer saat dia mencium bahunya. Tali itu turun di lengan dan tetap terhenti di sana. Ciuman itu ikut terhenti. Egar melihat tangan Fianer menahan tali bajunya. Fianer masih punya kesadaran itu, tapi dia sudah tidak.
Egar kembali memeluknya dari belakang. Menenggelamkan kepalanya ke kehangatan leher itu. Berlama-lama di sana, dan membujuknya untuk melonggarkan pertahanan diri dan mengijinkannya menyentuh lebih jauh.
Tapi Fianer tetap mempertahankan baju itu tetap di tempatnya. Egar menggeram marah. “Lepas,” pintanya serak.
“Asal kamu menikah denganku.”
“Aku memang berencana menikahimu.”
“Sekarang.”
Ciuman Egar di bahu Fianer terlepas. Yang ada hanya nafas memburu namun ragu. Sekejap, Fianer berbalik, menatapnya. Menggodanya.
“Kamu tak perlu menunggu lama lagi untuk memilikiku.” tawarnya. “Jika kita menikah, kamu tak perlu menahan diri.”
Egar mendengarkan, tapi dia tak menjawab. Matanya terus menatap iris cokelat terlalu muda itu, menatapnya hingga dia bisa meredam apa yang sudah dimulai dan sulit untuk menggantung begitu saja. Tawaran itu begitu menggiurkan.
Tapi itu hanya berarti dia harus melupakan niatnya untuk membuat Erfan menyukainya. Dan seketika, ancaman Erfan, Fier dan Rafan terngiang kembali. Kalau seandainya, dia lepas kontrol sekarang, dia tak akan punya kesempatan untuk memiliki wanita ini lagi.
Pikiran itu yang membuatnya menarik diri. Dia melepaskan tubuh Fianer dan turun dari tempat tidur.
Fianer menatapnya nanar. Tapi tak mengatakan apapun. Yang dia tahu, Egar masuk ke kamar mandi dan suara shower terdengar.
---
Pagi ini Fianer dan Egar saling diam. Mereka tak mengatakan apapun sejak kejadian semalam. Setelah keluar dari kamar mandi, laki-laki itu keluar kamar dan tak kembali. Mereka baru bertemu lagi di meja makan saat sarapan bersama keluarga Egar.
Fianer seakan masih linglung menyadari Egar meninggalkannya sendiri malam itu, tanpa kata-kata, tanpa penjelasan .... just go!
Apa yang salah? Apa yang membuatnya berubah pikiran? Apa hipotalamus di otaknya tidak aktif? Atau apa ada yang lebih penting dari pada hormon testoteron yang sudah banjir tak bisa dikendalikan?
Fianer tak tahu. Dan entah kenapa dia memilih diam dari pada membahasnya. Dia tak akan minta penjelasan. Jika Egar terlalu sayang untuk memberitahunya, maka dia tak akan memaksa.
Marah, memang. Tapi dia tahu, kemarahan bukanlah sikap yang diperlukan saat Egar merasa nyaman dalam diamnya. Fianer tidak bisa merengek seperti anak kecil ketika Egar bersikap tenang dan terlihat dewasa.
“Gimana tidurnya, nyenyak?” tanya Mariana. Fianer berusaha tersenyum senatural mungkin.
“Nyenyak tante.” katanya berbohong. Mariana tak perlu tahu bahwa dia tak bisa tidur semalam setelah Egar pergi.
“Om kok tidur di sofa?” tanya Alin.
Fianer menghela nafas. Menatap nasi goreng di piring dengan dingin.
“Kamarnya dipakai Tante. Jadi Om tidur di sofa, Lin.” kata Fianer.
“Kenapa nggak tidur di kamar tamu aja, Om? Kan banyak kamar kosong?” kejarnya lagi. Kali ini, Fianer diam. Tak ingin menjawabnya. Sepertinya Egar juga memilih diam, tak ingin membahasnya.
Mereka sama-sama diam. Tak saling menatap, tak saling bicara, bahkan di depan keluarganya sekalipun. Sempurna!
“Sudah, jangan tanya terus,” kata Fourline yang langsung tanggap dengan situasi yang mendingin. “Ayo dimakan sarapannya.”
“Oke, Ma,” jawab anak itu.
Rudolf menatap keduanya tajam. Fianer tahu itu, tapi pura-pura tak melihat. Mereka sama-sama makan dalam diam. Fianer bersyukur, mereka tak bertanya apa-apa. Tidak tahu kenapa, dia tak ingin bicara lagi saat ini.
---
Dari awal, saat Egar menawarkan diri mengantarnya pulang, Fianer sudah menolak. Dia lebih memilih memakai taksi dari pada diantar laki-laki itu. Entahlah, dia masih sakit hati.
Tapi Egar bersikeras dan dia menang. Fianer tak bisa menolak hingga akhirnya di sinilah dia, di dalam mobil laki-laki itu.
Sejak masuk hingga hampir sampai apartemen, Egar tak mengatakan apapun. Apalagi permintaan maaf. Fianer mendengus. Apa yang aku harapkan?
Mobil berhenti di parkiran. Fianer tak menawarkannya untuk masuk seperti biasa. Dia membuka pintu dengan tenang. “Terima kasih.” katanya.
Lalu Fianer turun. Dia menutup pintu dan pergi dengan langkah yang tetap tenang. Dadanya sakit. Saat dia menyentuh d**a tepat di atas jantungnya berada, dia mendengar langkah di belakangnya. Dan Fianer tak perlu menoleh untuk tahu langkah siapa itu.
Sampai lift, dia menekan tombolnya, menunggu hingga lift terbuka. Laki-laki itu masih berdiri di belakangnya dan tetap tak bicara. Fianer pun membiarkannya.
Bahkan saat Fianer masuk ke dalam lift, Egar ikut masuk. Hanya ada mereka berdua. Sunyi itu makin terasa, kosong dan hampa.
Lift berdenting dan terbuka. Fianer berjalan dan Egar tetap berjalan di belakangnya. Egar tak berusaha sama sekali untuk berjalan di sisinya. Seakan ingin mengawasinya, menjaganya dari jauh. Dalam hati Fianer, sekali saja dia berharap Egar mempercepat langkah dan menggenggam tangannya seperti biasa. Karena Fianer lebih nyaman melihat Egar di sampingnya.
Langkah Fianer terhenti di depan pintu apartemen. Dia membuka pintu dengan kartu, lalu masuk. Fianer sengaja membiarkan pintu terbuka. Karena dia tak tahu Egar akan ikut masuk atau tidak. Jika tidak, laki-laki itu bisa menutup pintunya dan pergi.
Tapi ternyata ... Egar ikut masuk. Dia tutup pintu dan melangkah ke dalam. Sedangkan Fianer bersikap seolah-olah dia hanya sendiri di apartemen ini. Wanita itu duduk di sofa dan melepas heelsnya. Sedangkan Egar tetap mengawasinya di tengah ruangan, tanpa satu katapun!
Fianerpun tak mengatakan apa-apa. Hanya menenteng heelsnya dan menaruhnya di lemari sepatu di meja pantri tersembunyi.
Dia tetap berpura-pura tak ada siapa-siapa. Tapi saat dia mau melangkah ke kamar untuk ganti baju, Egar akhirnya buka suara.
“Kamu marah?” tanyanya.
Fianer tersenyum sinis. Itu pertanyaan retoris untuknya. Tak perlu dia jawab. Fianer menutup pintu kamar.
Air matanya menetes tanpa sadar. Tapi Fianer menghapusnya dingin.
Fianer tahu dia salah. Dia mempersulit segalanya di awal. Tapi dia sudah minta maaf dan dia menyesal. Masih kurangkah?
Apa itu belum cukup, apa Egar ingin memberinya hukuman lebih berat lagi?!
Kenapa harus mempersulit semuanya? Egar yang bilang ingin menikahinya. Egar yang meyakinkannya untuk menikah. Egar yang membuatnya yakin bahwa ini kesempatan kedua mereka untuk bahagia. Egar membuatnya percaya padanya. Egar membuatnya berharap masa depan mereka akan jauh berbeda dari masa lalu.
Dan saat dia sudah percaya, sekarang justru Egar yang mempersulit segalanya! Membuat segala yang seharusnya mudah menjadi mustahil. Apa maunya?
Fianer membuka lemari bajunya dan mengambil satu kaos dan hotpants. Dia berganti baju dengan cepat. Saat dia keluar kamar, dia tertegun melihat Egar masih di tempat yang sama, tak bergerak seincipun sejak dia meninggalkannya ke kamar.
Fianer menatapnya dingin.
Dan tatapan balasan yang Fianer terima adalah tatapan tenang yang entah kenapa sangat dia benci sekarang. Ketenangan itu hanya menyembunyikan emosi yang ingin dia lihat. Rasanya ketenangan itu seperti tamengnya. Sedangkan dia ingin sekali tahu apa yang sedang Egar rasakan.
“Aku minta maaf.”
Satu kalimat itu meluncur lancar dari Egar. Fianer kaget. Tapi tatapannya masih dingin. Karena Fianer sama sekali tak tahu permintaan maaf itu untuk apa. Karena menyentuhnya atau karena meninggalkannya.
“Untuk?”
“Aku selalu melakukannya.” katanya pelan. Terdengar sedih. Saat Fianer menatap matanya, dia melihat ketenangan itu berangsur hilang dan hanya ada keraguan yang besar di sana. “Aku selalu berkata ingin membuatmu bahagia, tapi aku selalu gagal melakukannya.”
Air mata Fianer menetes tanpa sadar. Tapi dia tak mengacuhkannya karena dia masih menatap Egar dingin.
“Aku minta maaf.” katanya lagi.
“Kamu bisa membuatku bahagia dengan mudah.” Fianer memotong cepat. “Hentikan semua niatanmu. Lupakan semua keinginan konyolku dulu. Cukup menikahiku. Selesai!” katanya geram.
Jika dia tak menghentikan niatannya untuk menikah setelah membuat ayahnya menyukainya, jika dia melupakan keinginan konyolnya itu, Fianer akan bahagia!
“Tidak bisakah kamu memberikanku waktu?!” tanyanya.
Mata Fianer terpejam karena dia bisa merasakan amarah itu merayap naik. “Kamu yang bilang kalau kita sudah kehilangan banyak waktu!” akhirnya Fianer meledak juga.
“Tidak akan lama.”
Fianer menghela nafas. Apakah Egar tak tahu bagaimana sulit Ayahnya itu?
“Seberapa lama kamu pikir bisa melakukannya? Tidak akan lama itu seberapa lama?!” teriak Fianer.
“Bisakah kamu mempercayaiku sekali saja?!” Egar ikut berteriak. Dan Fianer terkejut mendengar teriakannya. Bibir Fianer terkatup rapat dan matanya menancap tajam ke mata Egar.
“Aku selalu mempercayaimu.” katanya tajam. “Bahkan saat kamu meragukan dirimu sendiri, aku masih mempercayaimu. Tapi kamu selalu menghancurkan kepercayaanku terus menerus. Remember?” Air mata Fianer makin menetes dengan dingin. “Aku hanya ingin di sisimu. Tapi kamu selalu membuat hal yang mudah ini menjadi sulit!!!” Air mata Fianer menetes lagi.
“Kenapa setiap kali kamu memutuskan sesuatu, aku tak pernah bisa mengubahnya? Dulu aku tak bisa membuatmu melepaskan niatanmu untuk menghancurkan diri sendiri, sekarangpun aku tidak bisa membuatmu melepaskan niatan untuk menikah sebelum Ayahku menyukaimu. Sekuat apapun aku memohon, kamu tidak pernah mau mendengarkan.”
Egar tertegun mendengarnya. Lelah karena laki-laki itu tak mengatakan apapun, akhirnya Fianer berbalik ingin masuk ke kamar. Tapi lengan itu menahannya. Mengungkungnya dalam pelukan. Air mata Fianer kembali menetes namun rahangnya masih mengatup rapat.
“Tidak bisakah kamu mendengarkanku? Aku harus bagaimana agar kamu mau mendengarku?” lirih Fianer putus asa.
Pelukan di bahunya makin mengetat. Tapi dia serasa mati rasa. Tak merasakan apapun.
---
Egar sudah ada di sebuah gudang tua. Dia tak membuang waktu untuk masuk. Di sebuah pintu yang terlihat kumuh, ada beberapa orang-orangnya yang berjaga. Mereka mengangguk hormat.
“Buka,” suruhnya.
Tak perlu disuruh dua kali, salah seorang membukanya. Egar masuk dan pintu di tutup. Di dalam, dia bisa melihat security apartemen Fianer duduk dalam posisi tangan terikat ke belakang. Matanya ditutup kain hitam. Di samping orang itu ada seseorang lagi yang menjaganya.
“Bos,” sapanya sambil berdiri.
Egar bergerak. Dia duduk di depan security itu. “Buka ikatan matanya.” suruhnya lagi. Dan tak lama, penutup mata itu terbuka. Mata security itu menatap Egar ketakutan.
“Sa ... saya mau di ... diapakan?!” tanyanya gemetar.
“Jawab pertanyaan-pertanyaanku dan kamu akan aku biarkan hidup.” kata Egar tenang. Jenis ketenangan yang mengancam. Security itu menelan ludah dan mengangguk kooperatif. Ya, setelah di kurung di dalam gudang semalaman, diikat dengan penjagaan yang ketat, otaknya ditanam kepercayaan kalau dia bisa mati kapan saja di tangan mereka.
“Siapa yang menyuruhmu memata-mataiku?” Egar memulai interogasinya.
Security itu menelan ludah, serba salah. Orang yang menyuruhnya juga bisa melakukan hal yang sama padanya. Tapi di bawah tatapan tajam Egar, ketakutannya lebih nyata. “Pak Rafan,” desahnya putus asa.
Egar tersenyum sinis. Dia sudah menduganya. “Apa tepatnya yang dia suruh?”
“Lapor jam berapa anda datang dan jam berapa anda pulang.”
Egar berdecak. Anak itu terlalu ikut campur. “Berapa dia membayarmu?” tanyanya langsung. “Aku akan bayar 2 kali lipat, asal kamu mau ganti haluan.”
Security itu menelan ludah. Ganti haluan, pergantian atasan, pembelokan kesetiaan. Dia dituntut untuk berkhianat.
Uang tak masalah untuknya saat ini. Tapi nyawanya yang dia jadikan prioritas utama. Akhirnya, dia mengangguk. Dan Egar mengangguk puas.
“Lepaskan dia.”
---
Malam itu, Fianer memutuskan untuk datang ke rumah. Kepalanya pusing jika keadaan begini terus berlanjut. Egar tak mau mendengarkannya. Jadi dirinya juga harus bertindak.
Bi Ijah yang membukakan pintu saat dia datang.
“Non, a ... “
“Ayah di mana?” tanya Fianer cepat.
Bi Ijah mengerjap bingung dengan pertanyaan tiba-tiba itu. Tapi Fianer membutuhkan jawaban cepat.
“Kamar non.”
Tanpa buang waktu, Fianer langsung masuk ke dalam. Dia bertemu dengan Fier dan Rafan yang sedang berbincang di ruang TV, tapi dia tak berniat menyapa sama sekali.
Keduanya menoleh dan heran melihat Fianer yang naik begitu saja, bahkan dengan tergesa. Tahu ada yang akan terjadi, mereka akhirnya memutuskan mengikuti.
Fianer sedang mengetuk pintu kamar orang tua mereka saat kedua saudara laki-lakinya datang. Pintu dibuka oleh Fiandra.
“Loh, Ann?”
“Ayah di dalam Bun?” tanya Fianer. Fiandra mengangguk ragu. Tapi dia diam saja saat Fianer masuk ke dalam.
Erfan langsung menyorot waspada sejak awal kedatangan Fianer. Putrinya itu membalas tatapannya dengan begitu tenang.
Langkah Fianer berhenti di depan meja Ayahnya. Tatapan gadis itu nanar. Tak yakin dan begitu tergesa. Erfan tak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap putrinya dengan tenang hingga Fianer duduk di depannya.
“Ayah ... “ Fianer buka suara dengan mata yang menatap Ayahnya sedih. “Ann ingin tanya sesuatu.”
“Apa?” tanya Erfan.
“Tentang Egar.” kata Fianer. Satu kata itu membuat Erfan terdiam. Dan karena Ayahnya tak mengatakan apapun, Fianer melanjutkannya. “Apa sampai sekarang Ayah masih tidak menyukainya?”
Erfan menghela nafas. Dia melirik ke arah istri dan kedua putranya yang masih bertahan di ambang pintu. Juga sama sepertinya, masih kaget dengan kedatangan Faner yang tiba-tiba. Istrinya menatapnya penuh peringatan. Tapi kali ini dia abaikan.
“Ya.” jawab Erfan jujur. Dan jawaban itu membuat jantung Fianer mencelos.
Fiandra melangkah ingin masuk tapi Fier menahannya. Tanpa kata Fier membiarkan Erfan dan Fianer bicara.
Untuk sejenak, Fianer hanya tertegun. Dia menatap Ayahnya dengan pandangan teramat tenang. Seakan dia menatap orang lain. Seakan di hadapannya bukanlah sang Ayah ...
Siapapun yang melihat akan tahu medan. Ini bukan lagi pembicaraan seorang Ayah dan putrinya. Tapi pembicaran 2 orang dewasa.
“Boleh Ann tahu alasannya?”
Wajah Erfan mengatup kaku. Nada dingin itu tak begitu asing. Namun dia masih belum terbiasa.
“Hanya satu pertanyaan.” kata Erfan. Matanya menyorot lurus hingga Fianer terkejut dengan tatapan yang tiba-tiba menajam itu. “Enam tahun lalu ... saat pabrik terbakar ... pernah kamu berpikir untuk berhenti demi perusahaan keluarga kita?”
Mata Fianer melebar. Keterkejutan Fianer ditanggapi dingin oleh Erfan. Karena itu, Erfan mengulang pertanyaannya kembali.
“Ayah tanya sekali lagi, apa kamu pernah mempertimbangkan untuk berhenti?” tanya Erfan tajam.
Air mata Fianer menetes. Dia bisa merasakan tangannya gemetaran. Dan Erfan tak perlu bertanya lagi jawabannya. Dia sungguh kecewa.
“Kamu tahu ... perusahaan terbakar itu memang membuat Ayah marah. Tapi tidak ada apa-apanya dibandingkan saat melihat kamu nyaris mati.” Suaranya memang lirih tapi menukik tajam. “Kamu tahu bagaimana perasaan Ayah saat menunggumu di depan ruang ICU? Kamu tahu apa yang Ayah rasakan saat memikirkan kemungkinan kamu akan pergi? Apa kamu pernah sekali saja memikirkan perasaan Ayah?”
Air mata Fianer menetes lagi.
“Apa kamu pernah memikirkan dirimu sendiri?” lirih Ayahnya sekali lagi.
Erfan menggeleng tak percaya menatap putrinya sebegini gilanya. Logika tertutup sempurna hingga segala tindakannya sangat tak masuk akal. Dia mengharap Fianer bisa memberikan penjelasan. Namun ternyata tak ada jawaban. Dan itu membuat Erfan tak ingin melanjutkan pembicaraan.
Dia kembali membuka dokumen dengan dingin. membacanya tanpa melihat putrinya yang sudah pucat pasi di hadapannya.
Pertanyaan tanpa jawab. Dan itu membuat Fianer bukan hanya terpukul. Tapi juga kehilangan keberanian untuk memberontak.
Dia sudah pernah dibentak dengan hal yang sama oleh Fier. Dulu dia tak sanggup mengatakan apapun. Sekarangpun dia tidak.
Tapi Fianer pun tak sanggup berdiri untuk pergi. Dia terus menatap Ayahnya dengan pandangan sedih.
“Enam tahun lalu ... kami berhenti.” bisiknya pelan. Suara Fianer lirih terdengar. Seakan dia tak sanggup mengeluarkan suara lagi.
Gerakan Erfan membolak-balikkan dokumen terhenti. Dia mendongak menatap mata putrinya yang sudah berkaca.
“Kami memutuskan berhenti untuk Ayah.” lanjut Fianer lagi. Perih itu terdengar jelas. Terlihat Fianer menatap Ayahnya nanar. Erfan mengerjap kaget.
Fianer begitu pasrah. Air mata mengalir sedari tadi. Erfan menghela nafas menatap putrinya putus asa.
“Tidak bisakah kamu mencari laki-laki yang lebih pantas?” lirih Erfan dengan nada melunak.
Fianer tersedak dalam tawa yang lebih putus asa. Dihapusnya air mata yang tak berhenti mengalir. “Lebih pantas?” tanya Fianer heran. Lalu ditatapnya Erfan dengan tatapan berbinar bahagia. “Enam tahun dia berusaha di luar sana. Menjadi laki-laki kuat agar Ayah bisa melihatnya pantas untuk Ann. Mungkin bagi Ayah dia belum sesempurna yang Ayah mau. Mungkin Ayah masih melihatnya kurang pantas. Tapi Ann ... “ Air mata Fianer menderas. “Ann bangga sama dia.”
Bukan hanya Erfan, tapi Fiandra, Fier dan Rafan terhenyak dengan kata-kata Fianer. Karena bukan hanya dengan kata-kata, tapi kebanggaan itu terdengar sangat jelas dalam suaranya.
“Tidak akan ada yang lebih pantas Yah ...” pelan Fianer lagi. “Dia satu-satunya laki-laki yang Ann percaya. Kalau Ann diminta untuk menyerahkan seluruh hidup Ann pada seseorang ... kepada dialah orangnya.”
Itu penekanan terakhir yang Fianer katakan. Dan konfrontasi itu memanas saat Erfan tak sanggup berkata-kata.
“Insting Ayah tidak bilang begitu. Jika kamu mempercayai Ayah, sebaiknya pertimbangkan lagi keinginanmu untuk bersamanya.” katanya. Dia menatap Fianer yang balas menatapnya dengan ketenangan yang sama.
Satu alis Fianer terangkat satu. “Bagaimana kalau kali ini Ayah salah?” tanyanya.
Pertanyaan itu menyentak Erfan. Dia terkejut dengan keyakinan Fianer saat meragukan dirinya. Begitu telak.
Mata Fianer tak goyah sama sekali. Kali ini, Erfan benar-benar terdiam. Karena dia belum memikirkan kemungkinan itu.
---
Ketiga anak-anaknya pergi. Dan Fiandra menutup pintu kamar dengan helaan nafas yang panjang.
Erfan menoleh karena terganggu. “Kenapa? Kamu mau menyalahkanku lagi?” tanyanya.
Fiandra menatap suaminya dingin. “Aku tidak mengatakan apapun.”
“Kamu menghela nafas.” kata Erfan singkat.
Fiandra memejamkan mata lalu kembali menatap suaminya lelah. Entah kenapa dia marah sekali sekarang. “Kamu tahu alasanku menyukai Egar?” tanya Fiandra. Erfan diam. “Mungkin dulu Egar melakukan kesalahan, dia membuat Ann hancur, dan membuat hubungan mereka berakhir buruk.
Apa kamu pernah berpikir, hubungan mereka saat SMA jauh dari kata serius? Egar bisa saja pergi dan tak pernah kembali. Dia bisa melupakan semuanya, melupakan Ann, dan membuka lembaran baru dengan wanita manapun yang dia suka!
Dan kalau itu terjadi, KAU akan melihat putrimu hidup dalam kebohongan seumur hidup! Pura-pura bahagia, berakting baik-baik saja, dan memilih menjauh karena dia merasa tak aman lagi bersama kita!” Fiandra akhirnya meledak.
Nafasnya terengah dan matanya menatap suaminya sengit. Erfan terkejut mendengar emosi istrinya meluap. Namun Fiandra sedang tak peduli dengan apa yang Erfan pikirkan sekarang. Dia menggeleng perlahan.
“Tidak! Aku tidak akan biarkan kamu mengacau untuk kedua kalinya!” pelannya lebih pada dirinya sendiri.
“Apapun alasan Egar kembali, aku tidak peduli! Kalau kamu masih sibuk bertanya apa dia pantas, aku sudah tidak mau mendengar karena aku tak butuh jawaban! Untukku pribadi, Egar berani datang lagi, menawarkan sebuah ikatan untuk Ann, berkomitmen untuk membuat putri kita bahagia, itu jauh membuktikan bahwa Egar sudah pantas.
Karena langsung meminta padamu di depan semua mata, itu membutuhkan ribuan keberanian yang tak semua orang punya!”
Erfan kembali terkejut. Dia menatap Fiandra kaget. Tapi Fiandra tak mau memperpanjang pembicaraan lagi. Karena itu, dia pergi keluar kamar. Meninggalkan suaminya yang tertegun sendirian.
---
Fianer di tarik oleh Fier dan dimasukkan ke kamar laki-laki itu seusai berbicara dengan Ayah mereka. Rafan ikut masuk dan ketiganya terkurung di kamar Fier yang dikunci Rafan dari dalam.
Fier mendudukkan adiknya dengan gusar.
Fianer beberapa kali menyeka air matanya dan diam saat kedua saudara laki-lakinya justru cemas di hadapannya.
Karena tak menemukan kata, akhirnya Fier memilih duduk di samping Fianer dan diam di sana. Rafan juga sepertinya sudah kehilangan minat untuk mengacau saat melihat mata kakaknya sembab.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Rafan. Pertanyaan bodoh. Karena di depannya, keadaan Fianer jauh dari kata baik-baik saja. Fianer tersenyum tipis.
Dia memeluk lengan Rafan lalu bersandar di bahu adik laki-lakinya. Senyumnya tertarik tipis saat Rafan tak mengelak saat dipeluk, cenderung membiarkannya.
“Capek ...” lirih Fianer. Suaranya memang terdengar lelah. dia memejamkan mata merasakan sesaknya d**a. Dia berusaha meredam air matanya. Tapi yang terjadi, air matanya justru mengalir lagi. “Kenapa ya ... ingin hidup tenang dengan Egar saja susaaaaaaah sekali.” katanya menerawang.
Rasanya Rafan dan Fier tak tega mendengarnya. Namun keduanya tak tahu harus berkata apa. Rafan mengalungkan tangannya ke bahu Fianer sedangkan Fier mengusap rambut Fianer lembut.
Di kelilingi oleh kedua saudaranya, air mata Fianer jatuh lagi. Dia tetap memejamkan mata dengan senyum terkembang bahagia.
Sesak yang ada terobati dengan kehangatan keduanya. Ini untuk pertama kalinya dia menunjukkan lelahnya setelah berpura-pura kuat.
Kali ini dia ingin istirahat.